NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ketukan pintu

Ibunya Dewi memeluk putrinya erat, mencium kepalanya. "Jangan menangis, anakku. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Mari kita masuk ke dalam, bicara baik-baik dengan Arif sebelum apa-apa," ujar Ibunya dengan suara lembut tapi tegas.

Dewi mengangguk, meskipun hatinya masih ragu. Mereka masuk rumah dan melihat Arif masih berdiri di depan pintu, tangan memegang pegangan pintu dengan kencang. Ibunya Dewi mendekat ke Arif dan berkata: "Arif, kamu dan Dewi butuh bicara dengan tenang. Dia adalah istri mu, sudah tiga tahun menikah – tidak boleh sembarangan meminta dia pergi tanpa memikirkan lagi."

Arif menunduk, wajahnya terlihat malu. "Maaf, Bu. Aku cuma marah dan tidak bisa mengontrol diri."

"Baiklah, sekarang duduk berdua di sana. Aku akan menunggu di luar, biarkan kamu berdua bicara," kata Ibunya Dewi, menunjuk ke kursi di ruang tamu. Dia keluar rumah dan menutup pintu perlahan.

Dewi dan Arif duduk berdampingan, saling tidak melihat. Senyapan terasa sangat tebal. Setelah beberapa menit, Arif membuka mulutnya: "Dewi, maaf banget atas semua yang aku lakukan. Maaf udah menuduh mu, maaf udah main judi, maaf udah meminta mu pergi. Aku akan berubah, janji. Aku tidak akan main judi lagi, akan lebih perhatian padamu, dan akan membantu kebutuhan rumah."

Dewi melihat Arif, mata nya masih basah karena menangis. Dia melihat wajah Arif yang tampak tulus. Hatinya yang penuh kesedihan seolah sedikit melemah. "Kamu yakin akan berubah, Arif?"

"Aku yakin, Dewi. Ini kalinya terakhir aku membuat mu sedih. Aku akan buktikan padamu," jawab Arif, menggenggam tangan Dewi dengan lembut.

Dewi merasakan sentuhan tangannya, dan rasa harapan yang lama hilang seolah kembali muncul. Dia mengangguk. "Baiklah, Arif. Aku mau memaafkan mu. Tapi kamu harus buktikan itu."

Arif tersenyum, wajahnya terlihat lega. "Terima kasih, Dewi. Aku akan buktikan. Mulai hari ini, aku akan berubah."

Hari itu sore, Arif membantu Dewi memasak. Dia bahkan meminta Dewi memasak bubur tanpa micin, katanya mau cobain yang sehat. Malam itu, dia tidak keluar rumah – hanya duduk di ruang tamu bersama Dewi, menonton televisi dan berbicara tentang hal-hal sehari-hari. Dewi merasa senang, berpikir bahwa ini adalah awal dari perubahan yang baik.

Tapi harapan itu tidak bertahan lama.

Hanya seminggu kemudian, Arif kembali pergi pagi dan pulang larut malam. Ketika Dewi tanya kemana dia pergi, dia berkata: "Cuma bertemu temen kerja aja, Dewi. Jangan khawatir."

Sampai suatu sore, Dewi yang kebetulan ke pasar untuk membeli sayuran, tidak sengaja mendengar percakapan dua teman Arif yang duduk di warung samping pasar. “Wah, lu kalah banget sama Arif, ya,” ujar salah satunya, sambil tertawa lebar. “Dia bisa punya istri yang sabar banget, padahal dia sering keluar bareng kita, Kalo gue, istri gue udah ngamuk lama lagi kalo gue keluar tanpa kabar.”

“Ya dong, lu gak tahu deh,” jawab temannya yang lain. “Arif itu pinter banget, bikin istri nya ngeyel sendiri mau tetep sama dia. Padahal dia udah sering bikin istri nya sedih, tapi dia tetep gak berubah. Keren banget deh!”

Suara tawa mereka seperti duri yang menusuk hati Dewi. Ia menyembunyikan diri di balik rak sayuran, tangisnya mulai menggenangi pipinya. Betapa sakitnya mendengar bahwa dirinya yang selalu menahan semuanya, dianggap sebagai tanda kelemahan oleh teman-teman suaminya. Hatinya rasanya hancur, tapi ia tak bisa apa-apa. Ia tak berani menghadapi mereka, tak berani menyalahkan Arif di depan orang lain. Ia hanya menyembunyikan perasaannya, membayar sayuran yang sudah ia pilih, dan berjalan pulang dengan langkah yang lambat dan pusing.

Sampai di rumah, Dewi langsung ke kamar dan berbaring di kasur. Tangannya secara otomatis menyentuh bagian perutnya yang mulai terasa nyeri—tempat di mana tumornya dulu dioperasi. Pikirannya melayang jauh, mengenang masa lalu yang dulu membuatnya begitu pusing dan lelah.

Beberapa tahun yang lalu, tepat beberapa hari setelah operasi tumor pertamanya, Dewi sangat ingin pisah rumah dengan mertuanya. Dokternya telah memperingati bahwa ia harus menjaga pola makan dengan ketat—tidak boleh makan terlalu pedas, terlalu manis, atau terlalu banyak minyak. Tapi di rumah mertuanya, Bu Siti selalu memasak makanan yang pedas dan banyak minyak, dan ketika Dewi tidak mau makan, ia langsung dikritik. “Kenapa gak mau makan? Masakanku enak banget lho,” ujar Bu Siti dengan nada yang menyakitkan. “Atau kamu nggak suka masakan mertua mu?”

Selain itu, Bu Siti juga suka mengomongin segala hal tentang Dewi ke siapa saja yang datang ke rumah. Kalau Dewi bangun telat sedikit, ia akan bilang ke tetangga bahwa istri anaknya malas. Kalau Dewi makan sedikit, ia akan katakan bahwa Dewi sombong dan tidak mau makan masakan rumah. Kalau Dewi istirahat bentar setelah selesai mencuci, memasak, dan membersihkan rumah, ia akan bilang bahwa Dewi malas dan hanya mau tidur. Padahal hampir semua pekerjaan rumah itu adalah tanggung jawab Dewi—Arif dan Bu Siti hanya duduk santai dan menonton televisi.

Karena itu, Dewi selalu mengajak Arif untuk pisah rumah. “Sayang, aku butuh tempat yang tenang, tempat aku bisa menjaga pola makan dan kesehatanku,” katanya beberapa kali. Tapi Arif selalu ngeyel. “Gak bisa, sayang. Aku gak mau pisah dari ibuku. Dia sendirian sekarang, ayahku udah meninggal. Dia butuh aku.”

Dewi memahami perasaan Arif, tapi ia juga butuh perhatian dan keamanan untuk dirinya sendiri. Selama beberapa bulan, ia semakin kesakitan di bagian perut yang sudah dioperasi. Ia kira hanya karena efek samping operasi, tapi ketika ia ke dokter lagi untuk diperiksa, hasilnya membuatnya terkejut. Tumornya tumbuh lagi, dan kali ini lebih besar dari sebelumnya.

Perasaan Dewi campur aduk saat mendengar berita itu. Sedih, takut, dan juga marah—marah pada dirinya sendiri yang terlalu sabar, marah pada Arif yang tidak pernah peduli, marah pada Bu Siti yang selalu membuatnya sedih. Ketika ia memberi tau Arif tentang tumor yang tumbuh lagi, barulah Arif sepertinya sadar. Matanya memerah, tangannya memegang tangan Dewi dengan erat. “Maaf, sayang,” ujarnya dengan suaranya lemah. “Aku gak pernah peduli padamu. Aku lupa bahwa dokter pernah memperingati tentang pola makanmu. Aku terlalu fokus pada ibuku dan temanku.”

Tetapi kesadaran itu tidak langsung mengubah segalanya. Arif mengakui bahwa mereka butuh pisah rumah, tapi ia bilang bahwa mereka tidak punya biaya untuk menyewa rumah baru. “Aku gak punya uang banyak, sayang,” katanya. “Gaji ku cuma cukup buat kebutuhan sehari-hari.”

Dewi hanya mengangguk. Ia sudah mengharapkan hal itu. “Jangan khawatir,” katanya dengan tenang. “Aku sudah mencari tempat tinggal. Ada rumah kosong di sebelah lorong orang tuaku. Pemiliknya hanya ingin agar rumah itu selalu dibersihkan dan tidak jadi rumah kosong terlalu lama. Kita tidak perlu menyewa.”

Arif terkejut. “Benarkah? Tapi bagaimana dengan perabotan?”

“Aku masih punya simpanan,” jawab Dewi. “Cukup untuk beli perabotan sederhana dan biaya pindah rumah.”

Meskipun begitu, mereka butuh beberapa hari lagi untuk menyiapkan semua. Selama menunggu, tumor di perut Dewi semakin membesar, membuatnya merasakan kesakitan yang lebih parah. Kadang-kadang ia harus duduk santai seharian, tidak bisa melakukan apapun. Arif coba membantu, tapi ia masih sering keluar dengan temannya, sehingga Dewi sering sendirian di rumah sambil menahan sakit.

Akhirnya, hari pindah tiba. Arif minta bantuan teman-temannya untuk membawa barang-barang mereka ke rumah baru. Dewi hanya duduk di kursi, menonton mereka bekerja, sambil menahan nyeri yang terasa di perutnya. Ketika semua barang sudah tiba dan diatur, Arif mengucapkan terima kasih kepada temannya dan mereka pun pulang.

Setelah itu, Dewi duduk di teras rumah baru, melihat pemandangan lorong yang tenang. Hatinya terasa lebih ringan, seolah beban yang selama ini menekannya sudah hilang. Sejak pindah rumah, hari-hari Dewi menjadi lebih baik dan lebih tenang. Meskipun masih ada gosip-gosip tetangga yang membicarakan dia—beberapa bilang dia sombong karena mau pisah rumah dengan mertua, beberapa bilang dia tidak sabar—Dewi tak peduli. Ia hanya mau hidup damai dan sehat.

Karena rumah baru mereka dekat dengan rumah orang tuanya, Dewi sering mengunjunginya. Ayahnya yang suka membuat jamu, selalu membuat jamu khas untuknya—jamu yang dipercaya bisa menyembuhkan sakit dan menjaga kesehatan. Setiap hari, Dewi minum jamu itu, dan perlahan-lahan, sakitnya mulai berkurang. Tumornya tidak hilang sepenuhnya, tapi pertumbuhannya lambat, dan Dewi bisa merasa lebih nyaman. Beberapa minggu kemudian, ia bahkan bisa kembali bekerja di toko kain yang dulu ia kerjakan sebelum menikah, pekerjaan yang membuatnya bahagia .Namun

Suara ketukan pintu yang kuat membuat Dewi tersadar dari lamunannya. Ia terkejut, karena jarang ada orang yang mengunjungi rumahnya di sore hari. Ia bangkit perlahan dari kasur, menahan nyeri yang masih terasa di perutnya, dan menuju pintu. Ketika ia membuka pintu, wajah seseorang yang ia kenal muncul di depannya—wajah yang membuat hatinya berdebar-debar, tak tahu apakah itu kebahagiaan atau kesedihan.

“Dewi,” ujar orang itu dengan suaranya lemah.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!