"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Pulang Bernama Sahabat
Dua tahun berlalu begitu saja.
Rara kini duduk di bangku kelas enam. Tubuhnya lebih tinggi, suaranya tak lagi setipis dulu, namun beban di dadanya justru bertambah.
Rara tak lagi tinggal bersama ibu tirinya. Kini ia hidup di rumah ibu dari ibu tirinya—nenek Alea.
Bukan berarti hidupnya menjadi lebih ringan. Luka itu hanya berpindah tempat, berganti wajah, dan cara.
“Sudah dibilang, sambal itu bukan untukmu!”
Suara lantang itu menggema di telinga Rara. Ia merunduk, jemarinya gemetar saat mengambil sepotong daging sesuai perintah. Namun, seperti biasa, ia kembali dituduh atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
“Tapi Rara cuma ambil sepotong, Nek,” ucapnya terbata. Matanya berkaca-kaca.
“Mana ada maling yang mengaku,” bentak wanita tua itu dingin.
Rara tak lagi berani menjawab. Ia bertanya dalam hati—kenapa orang dewasa selalu menuduh tanpa pernah mencari kebenaran.
Ia kembali melakukan tugasnya, memasak air panas untuk minum satu keluarga itu. Dadanya sesak. Membela diri selalu terasa sia-sia.
“Kamu ini, kalau kerja yang becus!” hardik seorang wanita muda—tante Alea yang paling kecil.
“Tapi aku sudah mengerjakannya dengan baik, Tante,” jawab Rara pelan.
Puk!
Pukulan kecil itu membuat tubuh Rara tersentak. Ia tidak membangkang. Ia hanya mencoba bertahan. Namun rasa sakitnya tetap menjalar, membuatnya meringis.
Sore harinya, saat semua pekerjaan selesai, Rara bersiap pergi mengaji. Namun langkahnya terhenti oleh percakapan yang menusuk.
“Sambal tadi tinggal beberapa potong,” gumam nenek itu.
“Oh itu? Sambalnya enak, jadi saya ambil beberapa potong,” sahut pria tua di sampingnya sambil terkekeh.
Dada Rara bergemuruh. Ia sudah menjadi tersangka, padahal bukan pelakunya.
Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya—hangat, perih, dan tak pernah ditanya sebabnya.
Kakinya melangkah dengan berat. Orang itu melihatnya tanpa rasa bersalah.
“Nek, Rara mau mengaji dulu,” ucapnya sambil menoleh pada setiap wajah yang menatapnya.
“Iya, pulangnya tepat waktu. Jangan keluyuran sebelum magrib.”
Rara hanya mengangguk, lalu melangkah meninggalkan sumber kekacauan itu.
Dalam perjalanan menuju mushola kecil—tempat ia belajar huruf-huruf Al-Qur’an—pikirannya masih dipenuhi ribuan pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Kenapa hidupnya serumit ini?
“Hei, Rara!”
Suara Arini membuatnya berhenti sejenak.
“Matamu merah, kenapa?” tanya Arini sambil menoleh.
Rara menggeleng pelan.
“Kamu kena marah lagi ya, Ra?”
Rara menggigit bibir. Getir.
“Cerita aja, Ra. Aku selalu siap mendengar keluh kesahmu.”
Rara melengkungkan senyum tipis, melirik Arini sejenak. Dadanya naik turun, lalu tangisnya membuncah tanpa aba-aba.
Arini mengusap bahu sahabatnya, seakan ikut merasakan luka yang Rara rasakan.
“Yang sabar ya, Ra. Aku yakin suatu saat kamu akan sukses,” ujar Arini mencoba menghibur.
“Terima kasih, Arini. Sudah selalu ada buat aku. Kamu satu-satunya yang aku punya saat ini,” ucap Rara getir. Ia menggigit bibir, mencoba mengatur napas perlahan.
“Sama-sama, Ra. Aku juga bangga punya sahabat sepintar kamu,” balas Arini sambil mengerling manja.
“Kamu adalah bintang di antara lumpur hitam, Ra. Semangatmu adalah inspirasiku. Di segala keterbatasanmu, kamu tetap berjuang jadi juara.”
Rara memeluk Arini erat-erat. Pelukan itu membuat gemuruh di dadanya perlahan mereda.
Ia tak punya tempat bersandar, tapi ia selalu punya Arini—satu-satunya sahabat yang mengerti dirinya lebih dari siapa pun dalam hidupnya.
Percakapan hangat itu akhirnya mengantarkan mereka ke sebuah mushola kecil, tempat Rara menimba ilmu agama.