Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pitaloka berdiri di ambang ruang keluarga dengan ransel kecil di pundaknya. Jam dinding sudah menunjukkan lewat pukul sepuluh malam. Suasana rumah terasa lebih tenang setelah hiruk pikuk seharian, hanya suara televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton.
"Ayah, Bunda ..." Pitaloka membuka suara, ragu-ragu.
Zainal menoleh dari layar ipad yang sedang dibacanya. "Kenapa, Nak?"
"Aku mau kembali ke apartemen malam ini. Besok pagi ada kuliah, nggak mungkin kalau berangkat subuh dari sini," katanya pelan, berusaha terdengar meyakinkan meski sorot matanya menyimpan lelah.
Lastri langsung mengernyit. "Sekarang sudah malam, Nak. Apa nggak bisa berangkat besok pagi saja atau kamu izin nggak usah masuk kuliah?"
Pitaloka menggeleng. "Jam kuliahku pagi banget, Bun. Aku nggak bisa izin, ada presentasi juga. Nanti aku nggak dapat nilai."
Zainal bangkit dari duduknya. Ia menatap putri bungsunya itu lama, seperti menimbang antara rasa khawatir dan kepercayaan. "Ya sudah. Kamu berangkat sama Pak Jalil saja."
Pitaloka menggeleng cepat. "Nggak usah. Aku udah telanjur pesan taksi online. Dan taksinya udah di depan."
Lastri menghela napas pelan. Kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya. "Telepon Bunda begitu sampai. Jangan matiin ponsel."
Pitaloka tersenyum lega. "Siap, Bun."
Zainal mendekat, merapikan tali ransel di bahu putrinya. "Hati-hati di jalan. Jaga diri kamu. Jangan membuat ulah. Ingat, kita harus membangun citra yang bagus di hadapan masyarakat. Ayahmu ini calon pemimpin provinsi. Calon orang penting."
"Iya, Yah. Tenang. Aku kan anak baik." Pitaloka memeluk ayahnya sebentar, lalu beralih memeluk Lastri lebih lama. "Aku berangkat sekarang ya?"
Lastri mengusap punggung anaknya. "Iya."
Pitaloka melambaikan tangan. Ia melangkah menuju pintu, menoleh sekali lagi sebelum keluar. "Dadah!"
Pintu tertutup perlahan. Zainal dan Lastri berdiri berdampingan di ambang pintu depan, menyaksikan mobil yang perlahan menjauh.
Begitu berada di dalam mobil, wajah Pitaloka langsung berubah. Senyum lembut yang ia tunjukkan pada ayah dan ibunya lenyap, digantikan senyum lebar penuh gairah yang tak sempat ia sembunyikan. "Ngebut, Don!" serunya riang.
Pria di balik kemudi tertawa kecil. "Santai, Pita. Malam masih panjang."
Mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah Zainal. Tak ada logo taksi online. Tak ada aplikasi yang menyala. Yang ada hanya Doni ... teman kencannya, teman pelariannya, sekaligus pintu menuju dunia yang selama ini Pitaloka sembunyikan rapat-rapat dari keluarganya.
Ia menyandarkan punggung, menatap lampu-lampu jalan yang berlarian mundur di balik kaca. Ponselnya bergetar ... nama Sherly muncul di layar.
Sherly: Tempat sudah siap. Jangan telat.
Pitaloka tersenyum makin lebar membaca pesan itu. "Malam ini bakal seru," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.
Doni meliriknya sekilas. "Yakin aman? Awas aja ada mata-mata dari rival bokap lo!"
"Bodo amat lah, Don. Gue nggak peduli. Yang jelas, malam ini ... gue mau party sampai pagi," jawab Pitaloka enteng.
"Cakep!" Doni mengacungkan jempolnya.
Mobil berbelok ke arah pusat kota. Musik diputar lebih keras. Udara di dalam kabin terasa sesak oleh antusiasme yang berbahaya.
Malam ini, Pitaloka, Doni, dan Sherly dan beberapa lelaki telah merencanakan pelarian ... pesta yang tak hanya mengaburkan batas, tapi juga nurani.
Tak ada rasa bersalah di wajah Pitaloka. Yang ada hanya kegembiraan yang membutakan, seolah dunia esok hari tak perlu dipikirkan. Seolah keputusan malam ini tak akan menuntut harga apa pun.
Mobil yang dikemudikan Doni sampai di kawasan apartemen yang luas. Ia dan Pitaloka segera turun dari mobil. Dan langsung menuju lantai tiga puluh lima, di mana unit apartemen Sherly berada.
Lampu-lampu kota berkelip di balik jendela kaca lebar, memantulkan kemewahan semu yang dingin.
Musik berdentum berat begitu pintu dibuka ... irama cepat, memekakkan, seolah sengaja dibuat untuk menenggelamkan pikiran.
Pitaloka melangkah masuk lebih dulu. Jaketnya ia lepaskan, dilempar sembarangan ke sofa. Di dalam, beberapa orang sudah berkumpul.
Tawa keras, botol-botol minuman di atas meja, dan aroma asing yang menyengat bercampur menjadi satu.
Sherly menyambutnya dengan pelukan singkat. "Akhirnya kalian datang juga," katanya, matanya berbinar.
Lampu diredupkan. Musik dinaikkan. Segalanya bergerak cepat ... terlalu cepat untuk dipikirkan dengan jernih.
Pitaloka berdiri di dekat jendela, memandangi kota yang terasa jauh dan tak peduli. Ia menenggak minuman yang disodorkan Sherly tanpa bertanya.
Sensasi hangat menjalar, mengaburkan batas yang selama ini ia jaga rapi di hadapan keluarganya. "Ini baru hidup," teriaknya di tengah musik.
Tawa pecah. Tubuh-tubuh bergerak mengikuti irama, dekat ... terlalu dekat.
Pitaloka membiarkan dirinya larut. Malam ini, ia ingin lupa. Tentang kuliah. Tentang rumah. Tentang kepercayaan yang baru saja ia khianati.
Doni mendekat, merangkul pinggang Pitaloka sambil membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.
Pitaloka tertawa, "Up to you, Don. Mau sampai pagi pun aku siap melayanimu."
"Really?" Doni menumpukan dagunya di bahu Pitaloka.
"Tentu. Aku milikmu malam ini."
Doni memutar tubuh Pitaloka, meraup bibir bergincu merah muda itu. Mereka berciuman mesra, tanpa memedulikan kehadiran yang lainnya.
Di sudut ruangan, Sherly menutup tirai, mengunci pintu balkon. Dunia luar dipisahkan. Yang tersisa hanya malam, musik, dan keputusan-keputusan yang tak akan mudah ditarik kembali.
______
Malam belum benar-benar habis ketika Lingga memacu mobilnya menuju apartemen pribadinya di ibu kota.
Jalanan lengang, lampu-lampu kota memantul di kaca depan seperti kilatan emosi yang tak kunjung reda. Setiap kilometer terasa seperti pelarian dari rumah, dari penolakan, dari luka pada egonya sendiri.
Begitu sampai, ia langsung masuk tanpa menyalakan lampu utama. Apartemen itu dingin, rapi, dan sunyi. Tempat yang selama ini ia gunakan untuk satu hal: melupakan.
Ponselnya menyala di tangan. Jari-jarinya bergerak cepat, tanpa ragu, tanpa pikir panjang. Nama-nama dan foto-foto muncul di layar ... pilihan yang sudah terlalu ia kenal.
Ini bukan hal baru. Setiap kali amarah menguasai dirinya, ia memilih jalan yang sama. Jalan singkat yang tak pernah menyembuhkan apa pun.
Pesan terkirim. Balasan datang nyaris seketika.
Lingga melempar ponselnya ke sofa, lalu menuang minuman ke dalam gelas. Cairan itu diteguk sekali napas. Di balik jendela, kota terus hidup, seolah tak peduli pada kekacauan batin seorang lelaki yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Ia berdiri memandangi pantulan wajahnya di kaca. Mata itu ... tajam dan gelap tak menunjukkan penyesalan.
Yang ada hanya kebutuhan untuk merasa berkuasa kembali, meski sesaat.
Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi. Lingga tak terkejut. Ia melangkah menuju pintu dengan langkah berat namun mantap, seakan ini adalah ritual yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Saat pintu terbuka, senyum asing menyambutnya. Lingga membalasnya singkat, datar. Bukan kehangatan yang ia cari melainkan pelarian.
Dan malam itu, sekali lagi, Lingga memilih tenggelam lebih dalam. Bukan untuk lupa, melainkan untuk menunda kehancuran yang kian mendekat.
Lampu di ruangan itu menyala redup, dua monitor besar yang ada di ruangan itu menampilkan adegan demi adegan dari dua tempat yang berbeda.
Shankara duduk santai di kursinya, kaki disilangkan, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Di sampingnya, Freya berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya datar, nyaris tanpa emosi.
"Lihat, Freya." Shankara terkekeh pelan. "Dia tak pernah berubah. Selalu memberi kita bahan."
Freya tak menjawab. Tatapannya tak lepas dari layar. Ada kepuasan yang ia tekan dalam-dalam ... bukan kegembiraan, melainkan keadilan yang merangkak perlahan.
Shankara memiringkan kepalanya. "Seminggu sebelum pemilihan," katanya tenang, seolah sedang membicarakan cuaca, "Kita unggah semua rekaman Lingga. Biar publik melihat siapa sebenarnya anak kebanggaan Zainal Buana." Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. "Dan bukan cuma Lingga."
Freya akhirnya menoleh.
"Anak bungsunya," lanjut Shankara, suaranya rendah namun penuh racun, "Pitaloka. Dia sedang menggali kuburnya sendiri. Kita hanya perlu menunggu. Sedikit lagi, dan kelakuannya akan mempermalukan kedua orang tuanya tanpa kita perlu menyentuh apa pun."
Freya menghela napas perlahan. "Iya, Tuan."
"Sebentar lagi, dendammu akan terbalaskan, Freya." Shankara bangkit, dan mencium Freya tanpa aba-aba.
satu keluarga bejat smua tinggal usir smua warga yg kerja d perkebunanmu fre mereka juga tega sama kamu.