Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di keesokan harinya.
Inara memutuskan bangun pagi seperti biasa. Namun tidak dengan menyiapkan semua kebutuhan Brian ketika hendak pergi bekerja.
Ketika pria itu bangun.
Brian sudah tak melihat Inara lagi di sisinya.
Kemana wanita itu pergi?
Pikir Brian sembari melihat keseluruh ruangan yang terlihat sudah tampak kosong.
Brian menghembuskan nafas panjang sejenak. Dan bangkit menuruni ranjang.
Kedua kaki kokoh miliknya ia langkahkan ke arah jendela besar yang ada di kamar.
Dan benar saja tebakannya. Jika Inara sedang berada di kursi taman. Sembari menatapi bunga - bunga indah yang telah di tanam di hamparan taman luas itu.
Dari kemarin hal inilah yang selalu di lakukan Inara.
Bukannya membangunkan Brian dan sibuk menyiapkan semua keperluan Brian ketika akan berangkat kerja. Gadis itu malah lebih suka duduk dan melamun seorang diri di tengah taman.
Dan tentu saja hal ini lagi - lagi mengusik pandangan Brian. Yang entah kenapa ingin melihat sikap Inara seperti dulu lagi.
Tok.. Tok..
Pintu terdengar di ketuk dari luar. Hingga Brian yang berdiri di balik jendela dan memandangi Inara pun jadi langsung menoleh ke arah pintu itu.
" Siapa? " teriak Brian dengan suara tegas.
" Selamat pagi tuan. Saya Prita. Nyonya menyuruh saya untuk membantu menyiapkan semua kebutuhan anda."
Kening Brian seketika berkerut dalam. Dengan kondisi nafas memburu kasar. Brian pun berjalan cepat dengan kondisi hati marah menuju ke arah pintu.
Cklek.
Kriet!
Pintu di buka kasar oleh Brian. Dan menatap pelayan muda yang saat ini sudah berdiri di balik pintu dengan sangat dingin.
Aura yang di perlihatkan Brian benar - benar sungguh menyeramkan. Hingga membuat sang pelayan jadi langsung menunduk ketakutan. Tak berani menatap ke arah Brian langsung.
" A....ada apa dengannya? Kenapa dia menatapku seperti itu."
" Katakan padanya kalau aku tidak mau di urus oleh orang lain." tegas Brian. Menghunus tatapan tajam.
" Ya? " dengan refleks sang pelayan muda itu mengangkat kepala dan menatap Brian dengan raut wajah bingung.
Sampai suara berat dan tatapan tajam bak belati Brian membuat pelayan itu menundukan kepala lagi.
" Apa kau tuli? "
" Ah.. Ti.. Tidak tuan. Baik akan segera saya sampaikan kepada nyonya Inara." pelayan itu menunduk pergi.
Karena saking gemetarnya. Pelayan yang tengah berlari pergi itu , sampai terjatuh ke atas lantai karena tak sengaja menabrak tembok yang entah kenapa malah tak dilihatnya.
Sementara Brian sendiri.
Pria itu terlihat mendengus nafas kasar. Dengan rambut depan yang ia sugarkan ke arah belakang.
Hatinya mendadak semakin membara panas. Dan berniat memberikan hukuman jika sudah bertemu dengan Inara nanti.
" Aku akan membuatmu memperhatikanku lagi , Inara."
Tubuh tegap Brian berbalik arah.
Dan...
Brak!
Pintu kamar kembali di banting kasar oleh pria itu. Yang kini sudah semakin hampir dibuat gila karena tak di perhatikan Inara.
___
" Nyonya.."
Ujung jari Inara yang sedang mengelus seekor burung nampak berhenti. Dan menatap bingung ke arah pelayan, yang ia lihat berlari tersengal seperti habis di kejar setan.
" Ada apa Prita. Kenapa kau berteriak dan berlari seperti itu. Lihat.. Kau membuat Joy takut." Inara menatap ke arah burung pipit kecil yang sudah terbang menjauhinya.
Seekor burung pipit liar. Yang akhir - akhir ini selalu mencuri perhatian Inara. Dan membuat wanita itu berkeinginan untuk menjinakannya.
Dan perjuangan Inara itu nyatanya telah berhasil Inara lakukan.
Hari ini , untuk pertama kalinya burung pipit itu mau hinggap di tangannya yang telah ia isi dengan makanan burung.
Dan tentu saja pemandangan itu membuat hati Inara senang bukan main.
Bahkan kehadiran burung yang sempat hinggap di tangan wanita itu, membuat kegalauan Inara hilang sejenak.
Namun sayangnya burung itu malah terbang kembali karena terkejut akan kedatangan Prita yang berlari tergesa ke arahnya.
" Maafkan saya nona. Tapi tuan Brian tak mau jika saya yang melayani."
" Apa Katamu tadi? Dia tak mau jika kau melayani? "
" Iya nona. Bahkan tuan Brian menitip pesan jika tuan tak ingin di layani oleh siapa pun jika bukan dengan nona."
" Cih! "
Inara berdecih sinis.
Dan hal itu tentu saja membuat sang pelayan bernama Prita jadi semakin heran melihat tingkah majikannya.
Secara selama ini Inara terlihat begitu bucin dengan suaminya yang bernama Brian itu.
Bahkan Inara sampai mati - matian belajar masak hanya untuk menyenangkan hati Brian. Yang terkenal sebagai sosok pemilih makanan.
Tapi sekarang kenapa malah...
" Jika dia tak ingin di layani oleh pelayan. Maka biarkan saja ."
" Ya? " Prita mengerjap lucu.
Pelayan muda itu benar - benar penasaran dengan perubahan sikap Inara yang terlihat dingin sekarang terhadap Brian.
" Aku bilang biarkan saja , Prita. Kalau dia tidak ingin di layani oleh pelayan. Maka biarkan saja. Lagi pula dia sudah dewasa bukanlah anak - anak lagi yang apa - apa harus di urus oleh orang lain. Lebih baik sekarang kau tolong buatkan aku teh. Dan juga roti keju. Aku ingin sarapan di taman hari ini."
" Ba..baik nona." Prita berlalu pergi. Dengan membawa kebingungan di dalam benaknya.
Bahkan saking merasa bingungnya, pelayan muda itu berulang kali melihat ke arah Inara.
Seolah takut. Jika wanita yang ia layani saat ini bukanlah Inara asli. Melainkan Inara palsu yang sedang melakukan penyamaran.
Sampai pelayan itu tak sengaja menabrak pelayan lain di depannya karena Prita yang kurang fokus melihat jalan kedepan
Brug.
"Aduh!"
" Prita.. Kamu tidak apa - apa? "
" Ah i.. Iya.. Aku tidak apa - apa. Maafkan aku , ini salahku karena kurang fokus melihat jalan kedepan."
" Tidak apa - apa Prita.Tapi apa yang membuatmu sampai tak fokus seperti itu? " tanya pelayan lain bernama Inez.
" Itu... " Prita menatap ke arah Inara sejenak. Hingga membuat Inez pun jadi turut menatap ke arah majikannya itu.
" Apa kau merasa sikap nona Inara akhir - akhir ini berubah? "
Inara seketika menoleh ke arah Inez yang saat ini masih menatap Inara dari kejauhan.
" Kau merasakannya juga?"
Inez menganggukkan kepala sejenak. Dan berkata." hmm.. Akhir - akhir ini aku melihat jika sikap nona Inara banyak berubah. Terutama kepada tuan Brian. Apa mereka berdua sedang bertengkar? Tapi melihat bagaimana bucinnya nona Inara selama ini. Aku sedikit merasa ragu jika hal ini hanya di karenakan pertengkaran kecil belaka."
" Iya.. Aku juga merasa seperti itu. Aku merasa .. Jika nona Inara sengaja mengacuhkan tuan Brian. Dan ingin pergi jauh darinya."
Inez terkekeh kecil.
Pergi jauh dari Brian?
Mana mungkin wanita itu bisa melakukannya.
Mengingat bagaimana cintanya Inara kepada Brian.
Bahkan jika pria itu salah pun akan selalu benar di mata Inara yang sudah terkenal menjadi budak cinta di mata orang - orang.
" Jangan mengada. Mana mungkin nona Inara berniat pergi dari tuan Brian. Kau tahu sendiri kan, bagaimana cintanya nona Inara terhadap tuan Brian selama ini."
" Iya sih. Tapi...."
" Sudah. Jangan berpikiran aneh - aneh. Mending sekarang kita fokus kerja. Dari pada kita di marahi madam nanti , karena ketahuan mengobrol di jam kerja seperti ini. Apalagi yang kita obrolkan adalah nona Inara dan tuan Brian. Bisa - bisa nanti kita terkena hukuman."
" Benar juga katamu. Aku sampai jadi hampir lupa . Di perintahkan melakukan sesuatu oleh nona Inara tadi."
" Memangnya kau di perintahkan nona Inara melakukan apa? "
" Oh itu aku di minta untuk menyiapkan teh dan roti untuk nona Inara. Katanya dia ingin sarapan pagi di taman. Dah ya aku pergi dulu." Prita berlalu pergi. Meninggalkan Inez yang bengong sendiri sembari mengerjap pelan.
" Hah!? Apa tadi aku tak salah dengar? "
" Nona Inara mau sarapan di taman sendiri? "
Dalam kesendirian, Inez kembali di buat bingung akan sikap Inara yang tak seperti biasanya.
Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi semua orang.
Wanita yang biasanya selalu makan bersama di meja makan setiap pagi dan menempeli Brian kemana pun pria itu pergi. Kini malah terlihat menjauh dan tak ada lagi di sisi pria itu.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra