Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Satu Kamar, Dua Ego, Sejuta Rasa
Pukul 02.00 dini hari.
Honda Jazz silver yang sudah kembali sehat (berkat air mineral mahal dan tangan dingin Adrian) akhirnya merangkak masuk ke pelataran parkir hotel berbintang lima di kawasan Dago Pakar, Bandung.
Rania keluar dari kursi penumpang dengan mata setengah terpejam. Tangannya yang diperban terasa berdenyut-denyut nyeri. Adrian keluar dari kursi pengemudi, tampak segar bugar seolah dia baru saja tidur delapan jam, padahal dia baru saja menyetir di jalanan berkelok selama tiga jam.
Di meja resepsionis, seorang petugas dengan mata berkantung menyambut mereka.
"Selamat malam, Check in atas nama Dr. Adrian Bratadikara," kata Adrian sambil menyerahkan KTP dan kartu kredit platinumnya. "Satu Executive King Suite dan satu Deluxe Room atas nama Dr. Rania Wijaya."
Resepsionis itu mengetik di komputernya. Tik-tik-tik. Lalu keningnya berkerut. Tik-tik-tik lagi. Wajahnya memucat.
"Mohon maaf, Dok," kata resepsionis itu gugup. "Untuk Executive King Suite-nya sudah siap. Tapi untuk kamar Deluxe atas nama Ibu Rania... sepertinya tidak terdaftar di sistem reservasi panitia seminar."
Kantuk Rania langsung hilang. "Hah? Coba cek lagi, Mas. Saya pengganti Dr. Siska yang cuti melahirkan. Harusnya datanya udah di-update."
"Sudah kami cek tiga kali, Bu. Dan mohon maaf sekali, hotel kami full booked malam ini karena ada Seminar Nasional Kedokteran dan rombongan pernikahan keluarga Gubernur. Tidak ada kamar kosong satu pun. Bahkan kamar driver pun penuh."
Hening. Suara detak jam dinding terdengar seperti bom waktu.
Rania menatap Adrian. Adrian menatap resepsionis.
"Cari hotel lain?" usul Rania lemah. "Di sekitar sini banyak wisma, kan?"
Adrian melihat perban di tangan Rania, lalu melihat jam tangannya. "Ini jam 2 pagi, Rania. Kamu butuh istirahat, tangan kamu perlu ditinggikan biar nggak bengkak. Dan besok saya presentasi jam 8 pagi. Pindah hotel tidak efisien."
Adrian menghela napas, lalu menatap resepsionis dengan wibawa penuh. "Mas, di Suite saya ada sofa?"
"Ada, Pak. Sofa L-shape ukuran besar di ruang tamu."
"Bagus. Minta extra bed?"
"Habis juga, Pak."
Adrian memejamkan mata sejenak, berdoa pada dewa kesabaran. "Baiklah. Kami ambil kuncinya. Satu kamar saja."
Rania melotot. "Ad?! Lo gila? Kita sekamar? Bukan muhrim, woy!"
"Daripada kamu tidur di lobi?" Adrian menyambar kunci kamar. "Jangan berpikir yang aneh-aneh. Saya tidak tertarik pada wanita yang belum mandi dan tangannya bau salep."
Kamar 1018. Executive King Suite.
Kamarnya luar biasa mewah. Ada ruang tamu terpisah, balkon dengan pemandangan lampu kota Bandung, kamar mandi marmer dengan bathtub, dan sebuah tempat tidur King Size yang begitu besar, sepertinya bisa memuat lima orang Rania.
"Oke, aturan main," Adrian meletakkan tasnya. Dia melepas jasnya, menggantungnya dengan rapi di lemari. "Kamu tidur di kasur. Saya tidur di sofa ruang tamu."
"Eh, nggak bisa gitu dong," tolak Rania, merasa tidak enak. "Lo yang bayar, lo yang presentasi besok. Lo butuh tidur nyenyak. Gue aja di sofa. Badan gue fleksibel, bisa nekuk kayak udang."
"Rania, tangan kamu luka. Kalau tidur di sofa sempit, nanti ketindihan. Tidur di kasur, tinggikan tangan pakai bantal. Ini perintah medis," Adrian menatapnya tajam. Mode dokter otoriter aktif.
Rania akhirnya menurut. Dia terlalu lelah untuk berdebat.
"Gue mandi dulu," Rania mengambil handuk.
"Jangan basahi perbannya! Bungkus pakai plastik!" teriak Adrian saat Rania masuk kamar mandi.
20 menit kemudian, Rania keluar dengan piyama (kaos oblong gombrong dan celana training). Dia melihat Adrian sedang melakukan ritual malamnya.
Dan pemandangan itu membuat Rania harus menahan tawa mati-matian.
Adrian memakai piyama sutra. Ya, Sutra. Warna biru donker. Lengkap dengan eye mask yang disampirkan di dahi. Wajahnya mengkilap karena masker wajah (sheet mask) bergambar panda.
"Apa liat-liat?" tanya Adrian ketus, suaranya teredam masker panda itu.
"Enggak," Rania menggigit bibir, bahunya berguncang. "Cuma... lo unyu banget, Dok. Panda Glowing."
Adrian mendengus, melepas maskernya dan membuangnya. "Hidrasi kulit itu penting di ruangan ber-AC. Kamu harusnya coba, pori-pori kamu teriak minta tolong tuh."
"Udah ah, gue mau tidur." Rania melompat ke kasur empuk itu. "Lo beneran di sofa? Sofanya kayaknya keras lho."
Adrian berjalan ke ruang tamu sambil membawa bantal dari kasur. "Saya bisa tidur di mana saja. Selamat malam."
Pintu penghubung kamar tidur dan ruang tamu dibiarkan terbuka sedikit.
Lampu dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela.
Satu jam berlalu.
Rania tidak bisa tidur. Tangannya berdenyut makin kencang. Efek obat pereda nyeri mulai habis. Dia berguling ke kiri, sakit. Berguling ke kanan, posisi tangannya salah. Dia mendesis pelan. "Sshhh..."
Di ruang tamu, Adrian juga tidak bisa tidur. Sofa itu ternyata kependekan untuk kakinya yang panjang.
Mendengar desisan kesakitan dari kamar tidur, Adrian akhirnya menyerah. Dia bangun, membawa bantalnya kembali ke kamar tidur.
Rania kaget melihat siluet Adrian berdiri di samping kasur. "Ad? Ngapain?"
"Geser," perintah Adrian.
"Hah?"
"Geser ke kiri. Kasur ini lebarnya 2 meter. Kamu cuma butuh 80 cm. Sisanya mubazir."
Rania, yang sedang kesakitan, tidak punya tenaga untuk protes. Dia menggeser tubuhnya ke sisi kiri.
Adrian naik ke sisi kanan kasur. Tapi dia tidak langsung tidur. Dia mengambil guling panjang, meletakkannya tepat di tengah-tengah kasur sebagai pembatas. Tembok Berlin versi dakron.
"Ini batas teritorial," kata Adrian tegas. "Melewati batas ini berarti deklarasi perang."
"Siap, Bos," gumam Rania.
Tapi Adrian belum selesai. Dia melihat Rania yang memegangi tangannya sambil meringis.
"Sakit lagi?"
"Nyut-nyutan. Kayak ada jantungnya di tangan gue."
Adrian bangun lagi, duduk bersila menghadap Rania. Dalam remang cahaya, wajahnya terlihat serius. Dia mengambil satu bantal empuk, meletakkannya di atas perut Rania.
"Taruh tangan kamu di sini. Elevasi harus lebih tinggi dari jantung," instruksi Adrian.
Rania menurut. Adrian membetulkan posisi tangan Rania dengan sangat hati-hati. Lalu, alih-alih kembali tidur, Adrian tetap duduk di sana, memegangi pergelangan tangan Rania (di bagian yang tidak luka) agar posisinya stabil.
"Lo... nggak tidur?" bisik Rania. Jarak wajah mereka cukup dekat di atas satu bantal yang sama.
"Nanti kalau saya tidur, kamu pasti gerak-gerak lagi dan tangannya jatoh. Biar saya pegangin sampai kamu tidur," jawab Adrian datar.
"Tapi lo ngantuk..."
"Tidur saja, Rania. Anggap saya tiang infus."
Rania menatap wajah Adrian. Mata pria itu terlihat berat, tapi genggaman tangannya di pergelangan Rania terasa hangat dan stabil.
"Ad," panggil Rania pelan.
"Hm?"
"Lo sebenernya baik ya. Cuma gengsinya aja yang setinggi langit."
Adrian mendengus pelan. "Ini bukan baik. Ini investasi. Kalau tangan kamu sembuh cepet, kamu bisa kerja lagi, dan saya nggak perlu capek-capek jahit dahi pasien sendirian."
Rania tersenyum tipis. Matanya mulai memberat. Rasa nyerinya perlahan terlupakan, digantikan rasa nyaman yang aneh.
"Ceritain dong..." gumam Rania, mulai mengigau karena kantuk.
"Cerita apa?"
"Kenapa lo takut kuman..."
Adrian diam sejenak. Dia pikir Rania sudah tidur.
"Waktu kecil..." Adrian mulai bicara dengan suara rendah, nyaris berbisik, seperti lullaby. "Saya pernah kena infeksi parah gara-gara main di selokan. Hampir meninggal. Opname 2 bulan. Sejak itu, Ayah saya melarang saya kotor sedikit pun. Rumah disteril tiap hari. Saya tumbuh dengan ketakutan kalau kotor berarti mati."
Rania tidak merespons. Napasnya sudah teratur. Dia sudah tertidur pulas.
Adrian menatap wajah Rania yang damai saat tidur. Mulutnya sedikit terbuka, ada sedikit air liur menetes di bantal. Sangat tidak elegan.
Tapi Adrian tidak merasa jijik.
Dia mengambil tisu di nakas, mengelap sudut bibir Rania pelan-pelan.
"Selamat tidur, The Butcher," bisik Adrian.
Dia tidak melepaskan tangan Rania. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur (headboard), membiarkan dirinya tidur dalam posisi duduk sambil menjaga tangan musuhnya agar tetap aman.
Pagi itu, sinar matahari Bandung menyelinap masuk lewat celah gorden.
Rania bangun lebih dulu. Dia merasa segar. Tangannya tidak terlalu sakit.
Dia membuka mata dan melihat pemandangan di depannya.
Guling pembatas "Tembok Berlin" sudah jatuh ke lantai entah kapan.
Adrian tertidur dalam posisi miring menghadapnya. Dan tangan mereka... bukan lagi dalam posisi medis.
Tangan Adrian menggenggam erat tangan kiri Rania (tangan yang sehat), jari-jari mereka saling bertautan di atas dada Adrian. Seolah Adrian tidak mau Rania pergi.
Rania menahan napas. Jantungnya berdetak kencang sekali.
Dia menatap wajah tidur Adrian yang polos tanpa topeng arogansi. Bulu matanya panjang, bibirnya sedikit terbuka.
"Oke," batin Rania panik. "Ini masalah. Masalah besar. Gue rasa gue mulai suka sama dokter plastik ini."
Rania pelan-pelan mencoba menarik tangannya.
Tapi Adrian malah mengeratkan genggamannya dalam tidur, dan bergumam pelan.
"Jangan pergi... nanti kotor..."
Rania tersenyum, wajahnya memerah. Dia membiarkan tangannya di sana lima menit lagi.
"Dasar manja," bisik Rania lembut.
Catatan Penulis: Improvisasi Manis di sini adalah Adrian yang rela tidak tidur nyenyak demi menjaga posisi tangan Rania ("Anggap saya tiang infus"), dan plot twist kecil di pagi hari di mana Tembok Berlin runtuh dan mereka pegangan tangan (bukan tangan yang sakit, tapi tangan yang sehat, menyiratkan connection emosional).
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
betewe ini cerita bagus napa masih sepi ya?
ceritanya bagus banget