Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergandengan Tangan dan Pandangan yang Bertanya: Antara Kebahagiaan canggung
Setelah terungkap semuanya, Ning Hana juga Gus Rasel kembali ke ndalem dg bergandengan tangan dan sampai di ndalem pun mereka masih. bergandengan tangan sehingga membuat tamu dari mbak" alumni bingung ada apa, dan juga uti, akung,Abi Haikal, Gus Rama juga Gus Wildan lega akhirnya Ning Hana mengetahui kalau Gus Rasel itu suaminya.
- (Setelah semua rahasia terungkap, Ning Hana dan Gus Rasel kembali ke ndalem dengan bergandengan tangan. Mereka berjalan dengan hati-hati, mencoba untuk menyembunyikan rasa canggung yang masih tersisa.)
- (Sesampainya di ndalem, mereka disambut oleh pandangan bingung dari para alumni. Mereka terkejut melihat Ning Hana dan Gus Rasel bergandengan tangan.)
- Mbak Firda (berbisik): "Eh, itu Ning Hana sama Gus Rasel kenapa gandengan tangan ya?"
- Mbak Gendis (berbisik): "Iya, aneh banget. Jangan-jangan mereka..."
- (Uti, Akung, Abi Haikal, Gus Rama, dan Gus Wildan yang melihat kedatangan Ning Hana dan Gus Rasel juga merasa lega. Akhirnya, Ning Hana sudah mengetahui yang sebenarnya.)
Hingga akhirnya waktu sholat dhuhur tiba akung juga uti mengajak santri alumni disini untuk sholat berjamaah di masjid pondok dan mereka juga setuju karena mereka juga kangen suasana di pondok dan kangen menjadi santri di pondok ini lagi tp sekarang sudah tidak bisa karena mereka sudah lulus dan alumni. setelah sholat berjamaah semuanya kembali ke ndalem dan mbak ndalem menyuguhkan makanan ke ruang tamu, para santri alumni juga keluarga ndalem makan bersama di ruang tamu ndalem dengan menggelar tikar (lesehan) dan Ning Hana merasakan badannya tidak enak, jadi ia tidak ikut makan tp Gus Rasel tetap mengambilkan makanan dan menyuapi sang istri meskipun dgn cara dipaksa karena pas dipegang Gus Rasel badannya hangat sekali.
- (Saat waktu sholat Dhuhur tiba, Akung dan Uti mengajak para alumni untuk sholat berjamaah di masjid pondok. Mereka setuju dengan senang hati, karena mereka merindukan suasana pondok dan ingin kembali menjadi santri.)
- (Setelah sholat berjamaah, semuanya kembali ke ndalem. Mbak Ndalem menyuguhkan makanan ke ruang tamu. Para alumni dan keluarga ndalem makan bersama dengan lesehan.)
- (Ning Hana merasa tidak enak badan, jadi ia tidak ikut makan. Namun, Gus Rasel tetap mengambilkan makanan dan menyuapi Ning Hana, meskipun dengan sedikit paksaan. Ia merasa khawatir karena tubuh Ning Hana terasa hangat.)
Setelah selesai makan siang Gus Rasel izin ke aku, uti juga Abi untuk membawa Ning Hana ke kamar agar istirahat. setelah mengantarkan istrinya istirahat, akung dan uti ingin berbicara dgn rasel
- (Setelah selesai makan siang, Gus Rasel meminta izin kepada Akung, Uti, dan Abi untuk membawa Ning Hana ke kamar agar istirahat.)
- Gus Rasel: "Akung, Uti, Abi, Rasel izin membawa Ning Hana ke kamar dulu ya. Badannya kayaknya nggak enak."
- Abah Yai: "Iya, Rasel. Bawa saja. Biar dia istirahat."
- (Setelah mengantarkan Ning Hana ke kamar, Akung dan Uti ingin berbicara dengan Gus Rasel.)
Akung, uti juga Abi di ruang keluarga ndalem ingin membahas tentang pernikahan Rasel juga Hana. dan akung juga uti meminta Rasel agar menempati ndalem punya Abi haikal bagian timur dia area pondok putra. karena sudah dibagi di area pondok putra nanti ditempati oleh Rasel juga Hana, ndalem yg bagian barat di area pondok putri akan ditempati Wildan dan istrinya suatu saat dan ndalem tengah yg dekat dg area asrama tahfidz putri akan dipegang oleh Abi Haikal juga Gus Rama, semua anaknya mendapat bagian masing masing begitupun dgn Gus Rasel ketika dipondok keluarganya sendiri juga sudah mempunyai rumah sendiri di area pondok putra.
- (Akung, Uti, dan Abi Haikal duduk di ruang keluarga, membahas tentang pernikahan Gus Rasel dan Ning Hana.)
- Abah Yai: "Rasel, Akung mau bicara soal rumah untuk kamu sama Hana."
- Gus Rasel: "Iya, Yai. Ada apa?"
- Uti: "Akung sama Abi sudah sepakat, kamu sama Hana nanti tinggal di ndalem punya Abi Haikal bagian timur, yang ada di area pondok putra."
- Abi Haikal: "Iya, Rasel. Sudah kami bagi semua. Ndalem yang bagian barat di area pondok putri nanti untuk Wildan sama istrinya kelak. Kalau ndalem tengah yang dekat asrama tahfidz putri tetap Abi sama Rama yang pegang."
- Abah Yai: "Kamu juga sudah punya rumah sendiri di area pondok putra, tapi kan lebih baik kalau kamu sama Hana tinggal di ndalem timur ini."
Dan disitu Gus Rasel juga bilang kalau ia harus memikirkan tp Abi bilang tdk usah memikirkan lagi nanti sore aja langsung pindah kesana karena rumahnya juga lama nggk ditempati, di sana juga sudah ada satpam 2, mbak ndalem 2 dg art (pembantu) 2. begitupun dgn ndalem timur juga sudah lengkap fasilitasnya
- Gus Rasel: "Tapi Yai, Abi, Rasel harus pikirkan dulu..."
- Abi Haikal (memotong): "Nggak usah dipikirkan lagi, Rasel. Nanti sore kamu langsung pindah ke sana saja. Rumahnya juga sudah lama nggak ditempati. Di sana juga sudah ada satpam 2, Mbak Ndalem 2, sama ART (pembantu) 2. Ndalem timur juga sudah lengkap fasilitasnya."