Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau 28: Benang-Benang Harapan
Pagi merangkak naik dengan keanggunan yang tenang. Cahaya matahari yang masih muda menyaring masuk melalui celah-celah jendela kayu di kamar Valaria, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai. Di sudut ruangan yang kini beralih fungsi menjadi bengkel kerja mini, suasana terasa begitu kontras namun harmonis; aroma teh melati yang masih mengepul bersaing dengan bau khas kain katun linen yang baru dibuka dari kemasannya.
Valaria duduk dengan punggung tegak namun rileks. Di depannya, meja kayu tua telah disulap menjadi meja kerja yang sangat terorganisir. Ia menata perlengkapannya jarum berbagai ukuran, gunting kecil berujung lancip, dan tumpukan benang warna-warni dengan ketelitian seorang seniman yang sedang mempersiapkan ritual suci. Baginya, menyulam bukan sekadar hobi untuk membunuh waktu, melainkan cara untuk merajut kembali serpihan harga dirinya yang sempat hancur.
Ia mengambil selembar kain katun linen berkualitas tinggi, jenis yang memiliki serat rapat namun tetap lembut saat disentuh jarum. Dengan gerakan tangan yang mantap, ia mengukur dan memotong kain itu menjadi bentuk persegi sempurna berukuran 30 × 30 cm.
"Fokus pada kerapian," bisiknya pada diri sendiri, sebuah mantra untuk menjaga konsentrasi.
Jemarinya yang lentik mulai menggerakkan pensil sketsa di atas kain. Ia tidak menggambar pola yang rumit dan berlebihan, melainkan sulur-sulur tanaman merambat yang anggun dan kuncup mawar yang seolah sedang menanti waktu untuk mekar. Detailnya begitu halus, menjanjikan keindahan yang hanya bisa dicapai melalui kesabaran yang luar biasa.
Setelah sketsa selesai, ia memasang midangan kayu. Terdengar bunyi plethek yang memuaskan saat kain itu terjepit kencang, meregang rata hingga permukaannya tegang layaknya kulit drum. Ini adalah fondasi utama; tanpa ketegangan yang pas, setiap tusukan jarum hanya akan membuat kain mengerut dan merusak estetika keseluruhan. Valaria memilih benang merah marun yang pekat dan hijau zamrud yang elegan sebuah kombinasi warna klasik yang melambangkan kekuatan sekaligus kehidupan.
Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara ritmis: gesekan benang yang ditarik melalui serat kain. Srett... srett... Suara itu terasa seperti meditasi bagi Valaria. Setiap tusukan jarum adalah simbol ketekunan. Ia merenung sejenak, mengingat betapa hidupnya dahulu begitu kacau oleh gejolak emosi yang tak menentu. Namun kini, di bawah cahaya pagi yang lembut, wajahnya memancarkan ketenangan yang dalam. Ia bukan lagi Valaria yang rapuh; ia adalah wanita yang sedang membangun kembali pondasi hidupnya, helai demi helai benang.
Waktu seolah kehilangan maknanya saat seseorang tenggelam dalam kreativitas. Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, namun Valaria tidak mendengarnya. Ia hanya fokus pada bagaimana warna merah marun itu membentuk kelopak bunga yang timbul dan indah.
Tanpa ia sadari, sinar matahari telah bergeser menjadi warna keemasan yang hangat dan berat pertanda sore telah menyapa. Valaria meletakkan jarumnya, menghela napas panjang, dan meregangkan otot bahunya yang mulai terasa kaku. Ia menatap hasil pekerjaannya dengan binar mata puas. Separuh dari sapu tangan pertamanya telah terhias sempurna. Namun, ia tahu kapan harus berhenti. Ada janji lain yang harus ia penuhi. Dengan hati-hati, ia menyimpan pekerjaan yang setengah jadi itu ke dalam laci meja, melindunginya dari debu.
Ia melangkah keluar rumah, disambut oleh embusan angin sore yang membawa aroma tanah dan tanaman hijau dari ladang luas di depan rumahnya. Langit di ufuk barat mulai memamerkan spektrum warna senja ungu, oranye, dan merah muda yang saling tumpang tindih dengan megah.
"Kak Valaria! Kakak!"
Sebuah suara melengking memecah keheningan. Dari kejauhan, tampak Raka berlari kencang sambil mendekap seikat sayuran segar. Napasnya terengah-engah, namun wajahnya yang polos berseri-seri seperti baru saja menemukan harta karun.
"Raka, pelan-pelan. Nanti jatuh," tegur Valaria lembut sambil tersenyum.
Raka berhenti tepat di depan Valaria, berusaha mengatur napasnya yang memburu. "Aku... aku harus cepat-cepat bilang! Aku sudah hafal semua abjad yang Kakak ajarkan kemarin! Bahkan aku sudah bisa membedakan mana huruf besar dan mana huruf kecilnya!"
Hati Valaria menghangat. Ada kepuasan batin yang tak ternilai saat melihat binar kecerdasan di mata seorang anak yang haus akan ilmu. "Wah, luar biasa! Itu artinya, besok kita sudah bisa mulai merangkai kata dan belajar membaca dengan serius."
"Benarkah, Kak? Lalu bagaimana dengan hitung-hitungan? Kemarin aku sudah bisa penjumlahan yang banyak!"
Valaria tertawa kecil, mengacak rambut Raka dengan sayang. "Tentu saja. Kita akan masuk ke tahap yang lebih menantang. Eko bilang kamu ingin belajar perkalian dan pembagian, kan?"
"Iya! Kata Eko itu susah sekali," jawab Raka dengan nada menantang diri sendiri.
"Tidak ada yang susah kalau kita tahu kuncinya. Ingat ini, Raka: perkalian itu sebenarnya hanyalah penjumlahan yang dilakukan dengan cepat. Dan pembagian? Itu adalah seni berbagi makanan atau mainan secara adil kepada teman-temanmu. Kamu pasti bisa."
Saat mereka sedang asyik berbincang, dua sosok muncul dari arah kedai. Itu adalah Jaya dan Tirta. Di belakang mereka, Eko mengekor sambil mengipasi wajahnya dengan topi sekolah. Interaksi antara Valaria dan keluarga Jaya kini terasa jauh lebih cair. Tidak ada lagi kecanggungan yang menyesakkan seperti beberapa bulan lalu.
"Sore, Valaria. Sedang memberikan pelajaran tambahan untuk Raka?" sapa Jaya. Matanya yang teduh menatap Valaria dengan rasa hormat yang tidak ditutup-tutupi.
"Hanya berbincang ringan, Jaya," jawab Valaria ramah.
Raka menyela dengan bangga, "Kak Valaria mau mengajariku perkalian besok! Kalau aku sudah masuk sekolah nanti, aku pasti jadi yang paling pintar di kelas!"
Jaya tersenyum tipis, lalu menoleh pada Valaria. "Dia sangat mengagumimu. Sepertinya kamu memang punya bakat alami untuk mengajar."
Sebelum percakapan berlanjut, muncul Ayah dan Baskoro dari arah jalan setapak ladang. Mereka baru saja menyelesaikan urusan irigasi. Pertemuan tak sengaja itu berubah menjadi rombongan kecil yang berjalan pulang bersama. Suasana senja yang tenteram menjadi saksi bagaimana persahabatan baru mulai bersemi di antara dua keluarga yang dulu sempat memiliki jarak.
Malam tiba dengan ketenangan yang menyelimuti desa. Di rumah Baskoro, keluarga itu berkumpul di meja makan. Aroma nasi hangat dan ikan asin goreng menggugah selera. Eko, yang biasanya paling berisik, terus bercerita tentang betapa hebatnya cara Valaria mengajar.
"Ayah, Kak Jaya. Kakak Valaria itu pintarnya luar biasa. Dia bisa menjelaskan hal sulit menjadi sangat mudah. Aku tidak pernah merasa sebodoh dulu kalau belajar dengannya," seru Eko sambil menyuap nasi.
Jaya terdiam sejenak, memainkan sendoknya. "Benar yang dikatakan Eko. Valaria yang sekarang... seolah-olah adalah orang yang berbeda. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu atau ambisi buta terhadap Damian. Dia terlihat jauh lebih hidup dan mandiri."
Tirta, ayah dari Jaya, mengangguk setuju. "Bukan hanya sikapnya, Jaya. Lihatlah bagaimana resep-resep masakannya telah mengubah nasib kedai kita. Keajaiban tangannya telah memberikan kita jalan untuk melunasi utang-utang lama. Valaria adalah berkah bagi kita semua."
Baskoro, yang sejak tadi menyimak dengan wajah serius, akhirnya berdehem. Sebagai orang tua yang lebih pragmatis, ia melihat situasi ini dari sudut pandang yang lebih luas. "Kalau begitu, pesanku satu: jangan pernah mencari masalah dengan keluarga Arjun, apalagi dengan Valaria. Jaga hubungan ini sebaik mungkin. Selama kita berada di dekatnya, resep-resep itu akan tetap menjadi milik kita, dan keberuntungannya akan menular pada kita."
Jaya dan Tirta saling pandang. Meskipun alasan mereka menghargai Valaria berbeda Jaya karena kekaguman, Tirta karena rasa syukur, dan Baskoro karena keuntungan tujuan mereka kini selaras: memastikan Valaria tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Di sisi lain desa, di kamarnya yang diterangi lampu minyak, Valaria belum menyerah pada kantuk. Setelah makan malam yang hangat bersama ibunya, ia kembali ke meja kerja. Tekadnya sedang membara. Ia ingin menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
Tiga jam berlalu dalam keheningan yang produktif. Ketika malam sudah sangat larut dan sumbu lampu minyak mulai mengecil, Valaria akhirnya meletakkan jarum terakhirnya. Di atas meja, kini terhampar tiga lembar sapu tangan yang luar biasa cantik.
Sapu tangan pertama memiliki motif mawar merah marun yang tampak menonjol di atas kain linen putih. Sapu tangan kedua menggambarkan seekor burung kecil yang hinggap di dahan zaitun dengan benang biru muda yang lembut. Sapu tangan ketiga adalah simfoni warna ungu dari bunga-bunga kecil yang dipadukan dengan daun hijau segar. Semuanya berukuran presisi 30 × 30 cm.
"Indah sekali..." bisiknya pelan. Ia menyentuh permukaan sulaman itu; teksturnya terasa nyata di bawah ujung jarinya.
Valaria segera membawa hasil karyanya ke dapur, tempat ibunya sedang merapikan sisa makan malam. "Ibu, lihat ini."
Ibu menghentikan kegiatannya dan menerima kain-kain tersebut. Matanya membelalak tak percaya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, detail sulaman itu justru terlihat semakin hidup. "Ya Tuhan, Valaria... ini bukan sekadar sapu tangan. Ini karya seni! Bagaimana bisa kamu membuat jahitan sehalus ini dalam waktu singkat?"
Ibu mengusap-usap sulaman itu dengan penuh kebanggaan. "Ibu tidak menyangka bakatmu akan berkembang sejauh ini."
Valaria tersenyum malu-malu. "Menurut Ibu, apakah ini layak dijual di kedai? Aku berpikir untuk memasang harga sekitar Rp3.000 sampai Rp4.000 per lembar. Apakah menurut Ibu itu terlalu mahal?"
Ibu menggeleng dengan tegas. "Mahal? Sama sekali tidak! Untuk kualitas serapi ini, Rp4.000 adalah harga yang sangat pantas. Bahkan mungkin orang-orang kota akan berani membayar lebih. Besok pagi, kita akan pajang ini di baris terdepan kedai. Ibu yakin, sebelum siang, semuanya sudah habis terjual."
Malam itu, Valaria merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan hati yang ringan. Tiga lembar sapu tangan itu adalah bukti nyata bahwa ia telah berhasil memutus rantai keputusasaan masa lalu. Ia tidak lagi bergantung pada validasi orang lain, melainkan pada kemampuan tangannya sendiri untuk menciptakan keindahan dan masa depan yang lebih cerah.