NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar digerbang Hijau 27

Langit di atas rumah desa Panda berwarna kelabu lembut, menjanjikan hujan yang tak kunjung turun. Suasana di dalam rumah terasa sunyi, hanya dipecah oleh suara ketukan lembut jarum yang beradu dengan bingkai kayu. Valaria duduk di sudut ruangan yang paling tenang, tempat sinar matahari sore masih bisa menyentuh meja kerjanya. Di depannya, dua bundel naskah yang baru dikirim ke penerbit"Jendela di Ujung Kota" dan "Senja yang Tersisa"kini hanya tinggal kenangan. Prosesnya sudah selesai di tangannya; sekarang, giliran takdir dan peninjau. Jantungnya berdebar pelan, bukan karena cemas, melainkan karena kelegaan yang berselang-seling dengan ketegangan penantian.

Di tengah penantian besar itu, Valaria kembali membumi. Uang simpanan dari penjualan naskah pertamanya telah digunakan untuk membeli bahan-bahan sederhana. Beberapa lembar kain polos berbahan katun lembut, sekeranjang kecil benang berwarna yang berkilauan seperti pelangi dalam kotak, dan jarum-jarum sulam yang ujungnya runcing dan berkilau.

Valaria menumpahkan isi pikirannya ke atas selembar kertas gambar yang sudah lusuh. Garis-garis halus pensil membentuk desain bunga mawar merambat dan siluet burung kecil yang sedang hinggap semuanya dirancang untuk menjadi hiasan di atas sapu tangan.

"Nak," suara Ratri, ibunya, terdengar hangat di belakangnya. Valaria mendongak, matanya yang teduh bertemu pandangan lembut sang ibu.

Ratri mendekat, meletakkan tangannya di bahu Valaria, dan mengintip ke lembar desain. Ekspresinya seketika berubah. "Astaga, Valaria. Ini... ini sangat indah. Kamu benar-benar punya bakat, tidak hanya dengan kata-kata, tapi dengan sentuhan tanganmu juga."

Valaria tersenyum tipis. "Hanya coba-coba, Bu. Dulu saat kecil aku sering melihat Ibu menyulam, jadi aku ingin mencoba membuat sesuatu yang bisa dijual di kedai juga. Sapu tangan berhias. Mungkin orang-orang akan menyukainya." Ia menunjuk kain polos dan benang di meja. "Aku ingin membuat pola bunga dan binatang. Sesuatu yang ringan dan membawa kebahagiaan."

Ratri meraih sapu tangan kosong itu, membelainya. "Setengah meter kain, dan benang-benang ini... Jadi, kamu ingin menyulam ini menjadi barang dagangan? Sebuah sapu tangan yang cantik bisa menjadi hadiah yang manis. Aku tak sabar melihat sapu tangan buatanmu ini selesai. Cepatlah, Ibu ingin melihat hasilnya!" Ratri beranjak, matanya memancarkan rasa bangga yang tulus. "Tapi jangan sampai lupa, hidanganmu sudah menunggu untuk disajikan di kedai!"

Tak jauh dari tempat duduk, aroma gurih bumbu dapur Valaria menguasai udara. Kedai kecil mereka, yang baru saja dibuka kembali dengan resep-resep andalan Valaria kerang sawah yang kaya rempah, sambal terasi yang pedasnya menggigit, dan sayur lodeh yang creamy kini ramai dikunjungi orang. Suara dentingan piring, tawa pelanggan, dan panggilan pesanan menciptakan suasana yang sibuk namun ceria.

Di balik meja kasir yang sederhana, Jaya, Tirta tampak membantu melayani. Ekspresinya sedikit canggung namun penuh tekad. Beberapa hari lalu, ia telah dipecat dari pekerjaan lamanya karena alasan tidak efesian dalam bekerja. Kehilangan pekerjaan itu memukul harga dirinya, tetapi kini ia bisa membantu orang tuanya di ladang maupun membantu keluarga Arjun berjualan bersama ibunya Tirta, ada perasaan damai yang merangkul kegagalan itu.

"Ibu, sambal terasi porsi dua, jangan terlalu pedas!" teriak Eko, yang sedang liburan sekolah dan kini menjadi pelayan andalan. Tubuhnya yang mungil lincah bergerak di antara meja-meja.

Di pojok lain, Tirta, Ratri, menghitung uang dengan wajah penuh syukur. "Satu juta rupiah. Kita berhasil kumpulkan. Terima kasih Ratri karena bukan kamu dan putrimu, aku tidak tahu harus melunasi uang itu bagaimana?.”

Jaya menghela napas, menyeka keringat di pelipisnya. “Di sini aku merasa... berguna, tidak seperti di sana, terperangkap dalam kepalsuan. Aku akan bantu membesarkan kedai ini. Kita mulai dari awal, dengan keringat yang jujur. Apa lagi keluarga Arjun baik dengan kita, bu."

Jauh dari hiruk pikuk penuh harapan di kedai Valaria, di sebuah rumah yang terasa dingin dan gelap, Laksmin sedang terlibat dalam pertengkaran sengit dengan suaminya, Damian. Suara mereka meninggi, memecah kesunyian malam.

"Kau lihat dia, Damian?! Lihat Valaria sekarang! Dia punya kedai yang ramai, dia punya harapan, dia punya uang dari bukunya! Dan kita? Kita hanya punya debat!" Laksmin berteriak, suaranya bergetar antara amarah dan rasa iri yang membakar.

Damian berdiri membelakangi Laksmin, rahangnya mengeras. Rasa penyesalan mencengkeramnya seperti cakar yang tajam. Keputusan terburuk dalam hidupnya adalah memilih Laksmin yang ia pikir akan memberinya keuntungan, dan meninggalkan Valaria yang tulus.

"Diam, Laksmin! Aku muak mendengar namamu menyebut Valaria terus-menerus! Kau kira aku tidak tahu mengapa kedai kita sepi?! Resepmu tidak seenak resepnya! Kenapa kau tidak pernah bisa seperti dia?!" Damian berbalik tiba-tiba, matanya menyala.

"Aku seperti dia?!" Laksmin terhuyung mundur. "Kau yang bodoh! Kau yang menyesal tidak memilihnya! Kau terus membandingkanku dengan wanita sok suci itu! Kau membuatku jijik!"

"Setidaknya Valaria tidak akan membuat hidupku sebusuk ini!" balas Damian tajam, kata-katanya menusuk seperti belati.

Laksmin terdiam, napasnya tersengal. Wajahnya memerah karena penghinaan. Dendam dan cemburu kini telah berubah menjadi racun mematikan yang menyebar ke seluruh hidupnya. Ia telah mencoba mengirim orang untuk membuat dagangan Valaria hancur, namun entah bagaimana, setiap upaya selalu gagal. Seolah-olah takdir sedang melindunginya

Saat Laksmin sedang merenung dalam keputusasaan dan kebencian, bel pintu berbunyi. Di ambang pintu berdiri dua sosok yang dikenalnya: Leto, sepupunya yang terlihat licik, dan adik perempuannya, Miranda, yang bersekolah di kelas yang sama dengan Eko.

"Ada apa, Leto? Apa yang kau inginkan?" tanya Laksmin, nadanya masam.

Leto menyeringai, matanya yang tajam menatap ke sekeliling rumah Laksmin. "Tentu saja aku ingin membantu, sepupu. Aku mendengar bisik-bisik. Kedai Valaria itu sangat sukses. Kita harus mendapatkan bagian dari kesuksesan itu. Kenapa harus repot-repot menghancurkannya, kalau kita bisa meniru?"

Laksmin mengerutkan kening. "Meniru? Bagaimana? Resepnya adalah kuncinya. Aku bahkan tidak tahu apa saja yang ia gunakan! Aku mencoba menyabotase, tapi selalu gagal. Wanita itu punya aura keberuntungan yang menjijikkan!"

Miranda, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar dingin dan terencana. "Aku bersekolah dengan adiknya, Eko. Bocah itu lumayan dekat denganku. Jika kita menggunakan Eko, atau... mencari cara untuk membuat Valaria atau ibunya lengah saat menyiapkan bahan, mungkin kita bisa mencuri resepnya."

Leto mengangguk setuju, seringainya melebar. "Tepat sekali. Mencegah itu sulit, Laksmin. Tapi mencuri, itu seni. Kita harus mendapatkan daftar bahan dan cara pengolahannya. Sekali kita punya resep itu, kedai milikmu akan bisa bersaing, bahkan mengalahkannya. Kita akan mengklaim resep itu sebagai milik kita."

Mendengar kata "mencuri," Laksmin awalnya ragu. Rasa takut mencengkeram, tetapi rasa cemburu dan dendam yang sudah mendarah daging jauh lebih kuat. Ia membayangkan wajah Valaria yang muram karena dikalahkan oleh resepnya sendiri. Sebuah pemikiran yang manis dan memabukkan.

"Tapi... bagaimana caranya? Aku tidak mau berurusan dengan polisi. Aku hanya ingin mereka menderita," bisik Laksmin, matanya memancarkan cahaya gelap yang menyeramkan.

Leto mendekat, suaranya diturunkan menjadi bisikan konspiratif. "Jangan khawatir soal itu, Laksmin. Kita akan memulainya dengan cara yang paling halus. Kita akan mengamati rutinitas harian mereka. Ingat, Valaria sedang sibuk menyulam di rumah. Ibunya juga pasti sibuk di kedai. Itu adalah celah yang bisa kita gunakan."

Laksmin mengangguk pelan, rasa bersalahnya merayap mundur dan digantikan oleh gairah baru gairah untuk membalas dendam. Kepalanya mulai dipenuhi rencana jahat. Ia tidak tahu bagaimana cara mencuri resep itu secara detail, tetapi kini ia memiliki Leto dan Miranda, dua sekutu yang bersedia membantunya melancarkan ide gelap ini. Benang-benang kejahatan mulai ditenun di balik pintu yang tertutup rapat itu.

Sementara itu, Valaria terus menyulam, benang warna-warni perlahan membentuk kelopak bunga di atas kain polos. Ia tidak menyadari, bahwa di balik kesibukan dan kebahagiaan kecilnya, sepasang mata penuh kebencian sedang mengawasi, menunggu momen yang tepat untuk menusuk dari belakang

1
panjul man09
pak Arjun dan bu Ratri 👍👍
panjul man09
banyak hal2 yg kurang dipahami masalah tanah , berikan yg lebih menarik lagi
panjul man09
sayang tahunnya agak jauh seandainya di tahun yg belum pake drone untuk transportasi atau mundur 4 tahun dari 2030 kayaknya lebih cocok
panjul man09
sebaiknya untuk orang tua valaria gunakan kata ayah dan ibu supaya posisinya jelas
Herwanti: terima kasih sarannya. kalau yang baru saja di revisi itu bagaimna.baru tiga bab sih
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
anggita
ikut dukung ng👍like aja, 2👆👆iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!