NovelToon NovelToon
Jejak Janda Di Jantung Duda

Jejak Janda Di Jantung Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Duda
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Elena A

Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.

Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.

Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.

Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reset Agung

Bab 33. Reset Agung

Langit kota tahu Sumedang berubah warna menjadi merah tembaga yang mengerikan. Di atas sana, pilar cahaya merah dari satelit Adrian-01 masih mengunci tubuh Panji dan Elena, menarik esensi kehidupan mereka ke dalam jaringan global Thomas. Namun, jauh di atas lapisan eksosfer, sebuah kapsul tua meluncur seperti peluru perak, membawa sisa-sisa kemanusiaan yang paling murni.

"Ayah...?" bisik Elena.

 Suaranya bukan lagi melalui frekuensi mesin, melainkan bisikan lirih dari bibirnya yang kini mulai membeku menjadi kristal.

Panji, yang terikat di sampingnya dalam salib energi yang sama, menatap ke atas dengan mata yang kabur. Dia bisa melihat video di jam tangan Sari yang masih terproyeksi secara holografik. Pria di video itu adalah Ayah Elena yang tampak jauh lebih tua, dengan janggut putih yang tidak teratur, tapi matanya... mata itu persis seperti mata Elena saat dia sedang bertekad menyelamatkan seseorang.

"Elena, sayangku," suara pria itu terdengar tenang di tengah deru gesekan atmosfer. "Maafkan Ayah karena membiarkanmu tumbuh dalam bayang-bayang monster ciptaan kami. Kami pikir kami sedang membangun masa depan, ternyata kami hanya membangun penjara digital. Tapi hari ini, Ayah akan membuka kuncinya."

Thomas, yang kini sudah menyatu hampir sepenuhnya dengan sistem satelit, mengaum melalui suara ribuan pengeras suara di seluruh kota. 

"Profesor Widjaja! Kamu seharusnya sudah mati di laboratorium itu! Berhentilah! Kamu akan menghancurkan semua data yang telah kita kumpulkan selama tiga puluh tahun!"

"Data itu sampah, Thomas!" teriak sang Profesor. Tangannya mantap memegang sebuah tuas besar di dalam kapsulnya. "Manusia bukan barisan kode. Manusia adalah kesalahan, kekacauan, dan air mata. Dan itulah yang membuatnya indah. Aku membawa virus kejujuran, yaitu sebuah reset magnetik yang akan menghapus semua sirkuit Phoenix di muka bumi, termasuk kesadaranmu!"

"Kalau kamu melakukan itu, kamu akan membunuh putrimu sendiri!" Thomas mencoba menggertak.

Panji menoleh ke arah Elena. Mereka saling menatap di tengah jaring-jaring energi merah. Di titik ini, mereka tidak butuh kata-kata. Panji bisa merasakan getaran jiwa Elena. Elena tidak takut. Dia justru tersenyum, sebuah senyuman yang menyakitkan sekaligus melegakan.

"Lakukan saja, Ayah!" teriak Elena sekuat tenaga. "Hapus kami! Dan jangan biarkan dia memiliki dunia ini!"

Sari dan Bram di bawah sana hanya bisa terpaku. Mereka melihat kapsul itu meledak di atmosfer, tapi bukan ledakan api biasa. Itu adalah ledakan gelombang elektromagnetik (EMP) berwarna putih keunguan yang meluas secara sferis, menyapu langit dan memadamkan pilar cahaya merah milik Thomas seketika.

ZAP!

Jaring-jaring energi yang mengikat Panji dan Elena putus. Mereka jatuh bebas dari ketinggian tiga puluh meter menuju landasan pacu.

"Panji! Elena!" Sari berlari sekuat tenaga, mencoba menggapai mereka sebelum tubuh mereka menghantam beton.

Namun, sebelum mereka menyentuh tanah, logam cair dari rahim Icarus yang tersisa secara insting membentuk bantalan empuk, menyelamatkan mereka dari kematian instan. Panji terbatuk, memuntahkan cairan perak dari parunya, sementara Elena terengah-engah, merasakan kulitnya kembali menjadi daging manusia sepenuhnya.

Dunia mendadak menjadi sangat gelap. Semua lampu kota mati. Semua bayi bermata safir di kejauhan mendadak pingsan. Kesadaran kolektif itu terputus paksa.

"Berhasil?" tanya Bram dengan suara gemetar.

"Belum," jawab Panji sambil menunjuk ke langit.

Satelit Adrian-01 tidak meledak. Meskipun sinyalnya kacau akibat EMP, satelit itu masih berfungsi karena menggunakan teknologi nuklir kuno yang tahan terhadap EMP. Dan sekarang, satelit itu mulai menukik turun secara manual. Thomas tidak lagi ingin menguasai dunia melalui jaringan, dia ingin menabrakkan dirinya sebagai meteor raksasa tepat ke jantung kota tahu Sumedang.

"Kalau satelit itu jatuh, ledakannya setara dengan bom hidrogen," Sari mengecek alat deteksinya yang mulai menyala kembali secara darurat. "Dia ingin membawa kita semua mati bersamanya."

Thomas tertawa, suaranya kini terdengar seperti logam yang digosokkan ke batu.

 "Jika aku tidak bisa menjadi Tuhan, maka aku akan menjadi kiamat. Selamat datang di reset agung yang sesungguhnya!"

Panji berdiri, sementara kakinya masih goyah. Dia melihat Elena yang juga sedang berusaha bangkit. Elena memegang liontin kuncinya.

"Masih ada satu cara," kata Elena. 

Matanya kembali berwarna coklat murni, tapi ada kilatan keberanian yang luar biasa di sana.

 "Satelit itu punya protokol pemisahan darurat jika ada ancaman benturan. Tapi protokol itu harus diaktifkan secara manual dari dalam ruang kendalinya."

"Tapi satelit itu ada di ketinggian ribuan kaki dan sedang jatuh!" seru Bram.

"Nggak semuanya," Elena menunjuk ke arah klon Panji sempurna yang tadi lumpuh akibat overload emosi. Klon itu masih terbaring di tanah, tapi tubuhnya mulai beregenerasi.

 "Klon itu punya pendorong jet di punggungnya. Dan dia terhubung langsung dengan sistem satelit."

Panji mendekati klon dirinya tersebut. Dia melihat wajahnya sendiri yang tanpa dosa itu. Klon itu membuka mata, namun cahayanya redup.

"Kamu... kamu menang," bisik klon itu. 

"Rasa sakitmu... terlalu berat untuk kupikul."

"Aku butuh bantuanmu," kata Panji. 

"Bukan sebagai budak Thomas, tapi sebagai manusia. Selamatkanlah wanita ini. Selamatkan ayahmu yang sudah memberikan segalanya di atas sana."

Klon itu menatap Elena, lalu menatap langit. Entah algoritma apa yang berjalan di otaknya, atau mungkin sisa-sisa emosi Panji yang tertinggal di sana mulai mengambil alih. Klon itu berdiri, armor logamnya berdenting.

"Aku akan membawamu ke sana, Elena," kata si Klon. "Tapi hanya satu orang yang bisa masuk ke ruang kendali melalui celah pembuangan panas."

"Aku yang akan pergi," kata Elena mantap.

"Nggak! Dek Aninl, itu namanya bunuh diri!" Panji menarik tangan Elena. "Biarkan aku yang pergi!"

"Enggak, Aa. Kunci itu ada di dalam darahku. Sidik jari genetiku adalah satu-satunya yang bisa melewati firewall terakhir Thomas. Kamu harus tetap di sini. Pastikan Sari dan Bram selamat."

Elena memeluk Panji. Sebuah pelukan yang terasa seperti selamanya. Dia mencium kening Panji, lalu membisikkan sesuatu yang membuat jantung Panji seolah berhenti berdetak.

"Jaga dunia ini untukku. Dan temukan Ayah di puing-puing kapsul itu jika dia selamat."

Elena melompat ke punggung klon Panji. Dengan satu dentuman sonik, klon itu melesat ke langit, mengejar satelit raksasa yang sedang membara.

Panji hanya bisa menatap jejak api di langit. Dia melihat klon itu berhasil menembus lapisan pelindung satelit tepat sebelum satelit itu mencapai ketinggian kritis.

Melalui frekuensi radio darurat yang masih aktif di helm Bram, mereka mendengar suara Elena. Suaranya penuh perjuangan di tengah kebisingan api.

"Aku sudah di dalam... Thomas mencoba mengunci pintunya... Argh!"

"Dek Anin! Keluar dari sana!" teriak Arsya.

"Aku sudah menekan tombol pemisahannya! Satelit ini akan pecah menjadi ribuan bagian kecil yang akan terbakar di atmosfer! Sumedang aman!" suara Elena terdengar lega, tapi kemudian berubah menjadi kepanikan. "Thomas... dia mengunci sistem pelontarnya! Aku nggak bisa keluar!"

"Gunakan klon itu! Suruh dia membawamu keluar!"

"Dia sudah hancur, Panji... dia menggunakan tubuhnya untuk menahan pintu reaktor supaya aku bisa masuk... Dia tersenyum padaku tadi... Dia bilang, sekarang dia tahu rasanya menjadi nyata..."

Suara ledakan besar terdengar dari langit. Satelit Adrian-01 pecah berkeping-keping. Langit kota Sumedang dipenuhi oleh kembang api raksasa yang menyilaukan mata.

Panji jatuh berlutut, menatap puing-puing satelit yang terbakar habis di udara. Air matanya mengalir tanpa henti. Dia kehilangan Elena. Lagi dan lagi.

Namun, di tengah puing-puing yang berjatuhan, sebuah benda kecil bercahaya jatuh perlahan dengan parasut darurat yang robek. Benda itu mendarat hanya beberapa meter dari Panji.

Bukan Elena. Itu adalah kotak hitam dari satelit tersebut. Panji membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada sebuah rekaman audio terakhir yang otomatis terputar.

"Panji... jika kamu mendengar ini, berarti aku sudah nggak ada. Tapi lihatlah ke arah laut. Ayah nggak hanya membawa virus EMP. Dia membawa sesuatu yang lain. Sesuatu yang akan mengubah pengertian kita tentang kematian."

Panji menoleh ke arah laut Utara kota Sumedang. Di sana, dari balik kabut, ribuan sosok mulai berjalan keluar dari air. Mereka bukan robot. Mereka bukan bayi bermata safir. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya sudah meninggal selama sepuluh tahun terakhir akibat proyek Phoenix, termasuk Andre yang asli, yang tampak bingung namun sangat nyata.

Dan di antara kerumunan orang-orang yang bangkit itu, seorang wanita berjalan paling depan dengan gaun putih yang compang-camping, memegang sebuah liontin kunci yang bersinar.

Wanita itu berhenti, menatap Panji, lalu tersenyum dingin. 

"Halo, Panji. Terima kasih sudah membuka pintu gerbang menuju dunia bawah. Sekarang, mari kita bicarakan tentang siapa musuh yang sebenarnya."

Panji hanya mematung. Wanita itu memiliki wajah Elena, tapi suaranya... suaranya adalah suara Renata.

1
Elena A
Kamu adalah tubuh baruku.....
Elena A
Je
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!