Di temukan oleh seseorang di pinggir jalan dengan keadaan sangat kurus dan lemas Senia di bawa pulang dan di rawat dan dibesarkan dengan kasih sayang dan perhatian .
Ketika suatu hari kedua orang tuanya secara paksa membawanya pulang ke rumah dengan berbagai macam alasan membuat Senia merasa bingung antara bertahan bersama keluarga baru atau kembali bersama kedua orang tuanya .
Kejadian demi kejadian kembali teringat dipikirannya dan menyadarkannya akan perbuatan kedua orang tuanya di masa lalu tapi ia mempunyai rencana sendiri .
Ikuti terus kisahnya sampai selesai .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. DUKA MENDALAM
Senia sadar dari pingsan kepalanya terasa sakit , suster yang menemaninya mendekat dan memeriksanya .
"Kalau masih sakit lebih baik nona istirahat dulu jangan di paksa ,“ kata suster .
"Bagaimana kondisi ibu saya , Suster ?" tanya Senia .
"Ibu anda masih dalam penanganan dokter ,"jawab suster kemudian keluar dari ruangan .
Senia turun dari tempat tidur berjalan keluar dengan pelan-pelan . Ia menuju ruangan dimana ibunya berada .
Adit dan Imran sedang berdebat di luar ruang UGD . Keduanya saling mengalahkan mengenai kondisi ibu mereka .
"Kamu pergi dari rumah karena tidak mau mengurus ibu , iya kan !" bentak Adit .
Imran tidak terima mendengar perkataan Adit . "Jangan asal bicara , kamu tahu apa kamu soal ibu . Aku tidak pernah ngurusi kehidupanmu dan kamulah yang membuat ibu sampai seperti ini ," balas Imran dengan nada keras .
Senia melihat Adit dan Imran berkelahi menghampiri .
"Apakah dengan berantem akan membuat ibu membaik , sadar tidak kalau saat ini ibu membutuhkan doa kita ,"kata Senia dengan suara lemah namun menekan .
Adit cuek melihat Senia mengalihkan pandangannya, , ia tidak peduli dengan Senia . Rasa tidak suka pada Senia sejak dulu sampai sekarang masih tetap sama .
"Kak Senia sudah baikkan ?" tanya Imran , begitu sadar dari pingsan langsung pergi ke ruang UGD .
"Aku hanya syok aja ," jawab Senia memijat pelipisnya yang terasa sakit .
"Lebih baik kalian makan dulu nih aku belikan kalian makanan ," Ranka datang membawa sekantong makanan diberikan kepada suami dan kedua adik iparnya .
Mereka menikmati makan bersama di ruang tunggu . Dokter Irgi keluar melihat mereka dengan wajah lelah dan sedih .
Senia beserta kakak dan adiknya berdiri menghampiri Dokter merasa penasaran.
“Bagaimana Dokter ?" tanya Senia khawatir .
"Bisa bicara dengan salah satu dengan kalian ," kata Dokter Irgi melihat semua orang didepannya .
"Bisa dokter , saya bersedia ," kata Senia menunjukkan dirinya .
“Saya anaknya ,Dok . Saya juga ingin tahu keadaan ibu saya ," sela Adit .
"Ya sudah kalian berdua ikut ke ruangan saya ," ajak dokter Irgi berjalan lebih dulu lalu diikuti Senia dan Adit .
Di dalam ruangan Dokter Irgi menjelaskan tentang penyakit ibu mereka .
"Apa dok , kanker serviks stadium akhir ?" Senia merasa sangat syok mendengar penjelasan Dokter .
Adit pun demikian sama halnya dengan Senia , tubuhnya lemas ia menangis sambil menutup wajahnya .
Pikiran mereka tertuju pada peristiwa beberapa tahun lalu . Pada saat Aluna berselingkuh teryata Adit mengetahui semua yang ibunya lakukan diluar sana .
Sebenarnya anak-anaknya sudah tahu hanya saja takut jika melarang ibu mereka pergi . Karena Aluna orangnya sangat keras kepala dan mementingkan dirinya sendiri .
"Apa ibu kami bisa sembuh , Dok?" tanya Senia menatap dokter dengan lekat .
"Maafkan kami , kemungkinan sembuh sangat tipis obat saja tidak cukup , harus dengan berbagai macam terapi dan makanan yang mendukung perlu diperhatikan juga ," jawab Dokter .
"Terimakasih banyak , Dok atas penjelasannya . Kami permisi," Senia dan Adit keluar dari ruangan dengan langkah gontai .
"Ini semua gara-gara kamu , Senia . Kamu datang membawa bencana di keluarga kami ," bentak Adit sambil memegang bahu Senia dengan kuat .
Senia menatap Adit dengan sorot tajam , hatinya merasa panas mendengar perkataan Adit yang selalu menyalahkannya .
" Baik, baik kalau itu kesalahanku . Aku akui salahku dan aku yang membawa bencana di dalam keluarga tapi apakah kamu merasa tanpa kehadiranku apakah ibu baik-baik saja ? Dan bagaimana selama aku tidak di rumah ? Pernahkah kamu berpikir siapa yang membantu ibu selama ini , pikir sekali lagi , Aditya . Pikir secara logika ," bentak Senia sambil menjejakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Adit .
" Senia tunggu jangan pergi kamu . Kamu harus bertanggung jawab pada ibu ," panggil Adit sambil mengejar Senia .
Dari jauh Senia dan Adit melihat pintu ruang rawat ibunya terbuka sedangkan Imran dan Ranka berdiri di samping brangkar sambil menangis .
Imran memeluk tubuh ibunya yang sudah tertutup kain yang akan segera di bawa ke ruangan khusus untuk melakukan pemandian .
Senia berlari menghampiri mereka . Saat berdiri di samping brangkar Senia membuka kain yng menutupi wajah ibunya . Ia menangis histeris sambil memeluk ibunya .
Begitu juga dengan Adit , ia belum percaya kalau ibunya sudah meninggal .
" Ibu jangan tinggalin Adit . Bangun Bu , bangun . Kumohon sama ibu bangun buka mata ibu ," kata Adit .
"Maaf ya kakak-kakak kami akan mengurus jenazah ibu kalian dulu sebelum di bawa pulang ke rumah ," kata suster mengusir Adit dan Senia dengan halus .
Para suster membawa jenazah untuk dimandikan di ruang khusus . Setelah itu jenazah dishalatkan dan di makamkan di rumah duka .
Para tetangga datang ke rumah Aluna mengucapkan belasungkawa kepada anak-anak Aluna . Tidak hanya tetangga saja yang datang teman-teman Senia , Adit dan juga Imran datang .
Keluarga Bu ayu datang ke pemakaman Aluna dan Bian . Mereka berdoa untuk jenazah kedua orang tua Senia .
Kabar berita meninggalnya Aluna sampai di keluarga Prambudi . Pria yang menjadi selingkuhan Aluna terkejut mendengar kabar duka tersebut .
Aira yang sedang menunggu berita tentang peristiwa masa lalunya pun penasaran . Ia mendapat berita tersebut dari orang suruhannya .
"Kenapa meninggal padahal ada yang ingin aku tanyakan pada perempuan itu ," gumam Air duduk di sisi tempat tidur kamar nya.
Bertahun-tahun lamanya ia mencurigai seseorang yang menukar bayinya yang baru dilahirkan kini justru sudah meninggal .
Prambudi masuk ke dalam kamar melihat istrinya menangis mendekat dan duduk di samping sambil memeluk .
"Ada apa menangis ?" tanya Prambudi membelai punggung istrinya .
"Kamu tahu berita tadi , perempuan itu yng sudah mengambil anakku yang batu saja lahir dan di tukar dengan bayi yng sudah meninggal ," jawab Aira dalam pelukan suaminya .
Prambudi melepas pelukannya menatap istrinya .
" Katakan sekali lagi ! " pinta Prambudi
"Perempuan yang menjadi selingkuhanmu sudah mengambil anakku , ” kata Aira sambil memukul dada suaminya .
Prambudi terkejut mendengar penjelasan istrinya , ia ingin tidak percaya namun ternyata mampu membuatnya sangat terpukul .
Beberapa tahun belakangan ia melakukan berhubungan secara sembunyi namun ternyata sudah diketahui oleh istrinya . Prambudi menjauh dari istrinya berdiri di dekat jendela memandang lurus keluar .
Airmatanya mengalir mengingat pertemuan dengan Aluna . Ternyata ia menjadi alat untuk membalas rasa sakit hati Aluna .
Prambudi baru menyadari hal itu sekarang , tiba-tiba ia teringat dengan gadis kecil yang pernah ia tolong waktu di jalanan sedang mengambil botol bekas, lalu gadis kecil itu berlari mengejar seorang perempuan yang sedang membeli sesuatu di sebuah toko .
Gadis itu memanggil perempuan itu dengan menyebut ibu , Aluna . Prambudi tidak salah dengar gadis itu sangat senang membantu membawakan barang belanjaan .
Prambudi merasa menyesal juga sakit hati , ia tersenyum getir mengingatnya .
semasa hidup aja bian tak pernah kasih uang jajan sm mu tak pernah sayang pada mu 🤭🤣🤣🤣