Baskara—menantu sampah dengan Sukma hancur—dibuang ke Jurang Larangan untuk mati. Namun darahnya membangunkan Sistem Naga Penelan, warisan terlarang yang membuatnya bisa menyerap kekuatan setiap musuh yang ia bunuh. Kini ia kembali sebagai predator yang menyamar menjadi domba, siap menagih hutang darah dan membuat seluruh kahyangan berlutut. Dari sampah terhina menjadi Dewa Perang—inilah perjalanan balas dendam yang akan mengguncang sembilan langit!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: NAGA YANG DIINCAR (3)
[RUANG PERTEMUAN UTAMA - EMPAT HARI SEBELUMNYA]
Suasana di ruangan itu sangat berat, tekanan dari berbagai sisi menimpa Keluarga Cakrawala.
Patriark Dharma duduk di ujung meja—wajah pucat—tangan gemetar memegang gulungan surat dengan segel emas yang sudah terbuka.
Di sekelilingnya, tujuh Tetua senior berdiri dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Tetua Satriya—senyum tipis yang tersembunyi.
Tetua Ento—wajah cemas.
Tetua Wira, Zaki, Ibad—ekspresi khawatir tapi waspada.
Dan yang lainnya—ketakutan murni.
"Ini..." suara Patriark bergetar, "ini bencana."
Dia melempar surat ke tengah meja—semua Tetua menatapnya—membaca kata-kata yang ditulis dengan tinta merah di bagian akhir:
“....Karena kecerobohan kalian, kultivasiku berjalan lebih lambat. Jika, Baskara masih ada saat aku menginjak tanah kalian, siapkan peti mati untuk seluruh anggota Klan Cakrawala.”
Dan di bawahnya—cap segel dengan lambang matahari terbit yang menyala.
Lambang Adipati Lesmana.
Tetua Wira menelan ludah.
"Adipati Lesmana... datang sendiri?"
"Dalam sepuluh hari," jawab Patriark dengan suara yang hampir putus asa. "Dan menurut utusan yang kemarin datang..." dia menatap sekeliling dengan mata yang kosong, "dia sudah mencapai Ranah Inti Emas Bintang 7."
Hening mutlak.
Semua Tetua pucat.
Bintang 7.
Itu berarti Adipati Lesmana sekarang jauh lebih kuat dari Patriark Dharma yang hanya Bintang 5 di Ranah yang sama.
"Bukan hanya itu," tambah Tetua Satriya dengan nada yang terdengar khawatir tapi matanya berkilat dengan kepuasan tersembunyi. "Aku dengar kabar dari pedagang yang datang dari Kota Waja Kencana. Adipati Lesmana selalu ditemani oleh tangan kanannya—Tetua Kong."
Beberapa Tetua tersentak.
"Tetua Kong..." bisik Tetua Ento dengan suara yang gemetar. "Kultivator legenda yang sudah pensiun dari medan perang... Ranah Inti Emas Bintang 8..."
Patriark menutup mata—menarik napas panjang yang bergetar.
"Adipati Lesmana Bintang 7. Tetua Kong Bintang 8. Dan mereka datang dalam sepuluh hari." Dia membuka mata—menatap sekeliling dengan tatapan yang putus asa. "Jika Baskara tidak pergi... jika dia melawan... kita semua akan MATI."
"Maka kita harus membujuknya untuk pergi!" seru Tetua Zaki.
"Atau..." Tetua Satriya tersenyum tipis, "kita bujuk Larasati untuk meninggalkan Baskara. Menikah dengan Adipati. Menyelamatkan kita semua."
Semua Tetua menatapnya—lalu perlahan mengangguk.
Itu... mungkin satu-satunya jalan.
"Panggil Larasati," perintah Patriark dengan suara yang lelah. "Sekarang."
“Aku akan memanggilnya.” Tetua Ibad beranjak dari kursinya berjalan cepat menuju tempat Larasati.
[1 JAM KEMUDIAN]
Pintu terbuka.
Larasati masuk—mengenakan gaun putih sederhana—rambut hitam panjang dikepang—wajah cantik tapi lelah.
Dia sudah tahu kenapa dia dipanggil.
Dia sudah tahu apa yang akan mereka katakan.
Dan dia sudah mempersiapkan jawabannya.
"Larasati," Patriark berdiri—menatap putrinya dengan tatapan yang kompleks—campuran amarah, keputusasaan, dan... harapan. "Kau tahu kenapa kau dipanggil?"
"Aku tahu," jawab Larasati dengan nada datar.
Patriark menarik napas—lalu MELEDAK.
"INI SEMUA SALAH SUAMIMU!" teriaknya dengan wajah merah padam. "KOTA WAJA KENCANA AKAN MENGHANCURKAN KITA KARENA ULAHMU! KARENA KAU MEMILIH SAMPAH ITU!"
Larasati tidak bergeming—hanya menatap ayahnya dengan tenang.
"Sejak awal aku menolak perjodohan dengan Adipati kejam itu, Ayah," ucapnya dengan suara yang bergetar tapi tetap kuat. "Tapi kalian memaksaku. Kalian yang menjualku seperti barang dagangan!"
"DEMI KELUARGA!" teriak Patriark. "Semua yang kami lakukan demi keluarga!"
"Demi KEKUASAAN," koreksi Larasati dengan nada dingin. "Jangan berpura-pura ini tentang keluarga."
Tetua Satriya melangkah maju—menatap Larasati dengan tatapan yang terlihat simpatik tapi penuh manipulasi.
"Larasati, dengar," ucapnya dengan nada yang terdengar pengertian. "Adipati Lesmana jauh lebih kuat dari Baskara. Dia Bintang 7. Ditambah Pusaka Badik Singo Edan yang mengerikan. Dan tangan kanannya Tetua Kong yang selalu menemaninya—Bintang 8."
Dia melangkah lebih dekat.
"Baskara tidak ada kesempatan menang." Tetua Satriya memegang pundak Larasati. "Tapi jika kau menikah dengan Adipati Lesmana... jika kau membujuk suamimu untuk mengalah dan pergi... demi keselamatan semua keluarga—termasuk suamimu—semuanya bisa diselesaikan dengan damai."
Larasati menepis tangannya lalu menatapnya tajam—kemudian TERTAWA.
Tawa yang pahit.
Tawa yang penuh dengan kekecewaan.
"Kalian pikir aku bodoh?" ucapnya dengan nada yang tajam. "Kalian pikir aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku menikah dengan Adipati?"
Dia menatap sekeliling—menatap semua Tetua satu per satu.
"Dia akan menggunakanku. Menyiksaku. Menjadikanku mainan. Dan Baskara akan diburu sampai mati. Jadi jangan berpura-pura ini tentang keselamatan kami. Ini tentang keselamatan KALIAN."
Patriark menggertakkan gigi—lalu melempar tangan dengan frustrasi.
"Kalau begitu biarkan Baskara melawan Adipati SENDIRIAN!" teriaknya. "Kami tidak akan memberi bantuan apapun! Karena ini semua SALAH DIRINYA!"
Semua mata Tetua beralih ke Larasati—penuh dengan amarah—penuh dengan menyalahkan—
Menatapnya seperti dia adalah sumber dari semua masalah mereka.
Larasati merasakan tekanan itu—tekanan dari tatapan yang penuh kebencian—
Tapi dia tidak mundur.
Malah dia TERSENYUM.
Senyum yang dingin.
Senyum yang membuat beberapa Tetua merinding.
"Aku percaya dengan suamiku," ucapnya dengan suara yang rendah tapi penuh keyakinan. "Aku percaya dia bisa membunuh Adipati Lesmana."
Dia melangkah maju—menatap Patriark langsung.
"Dan aku percaya... dia juga bisa menyingkirkan kalian semua."
Hening mutlak.
Ancaman itu jelas.
Tidak tersirat.
Tapi EKSPLISIT.
Patriark tersentak—wajahnya berubah dari merah menjadi pucat.
Tetua Satriya menyipitkan mata—tapi tidak berkomentar.
Larasati berbalik—berjalan ke pintu—lalu berhenti sejenak.
"Oh, dan satu hal lagi," ucapnya tanpa menoleh. "Jika ada yang mencoba menyakiti Baskara saat dia pergi berburu di utara..." tatapannya melirik ke belakang—mata bersinar dengan ancaman, "aku akan memastikan Sekte Langit Biru mengetahui keterlibatan kalian."
Lalu dia keluar—menutup pintu dengan keras.
BLAM!
Meninggalkan ruangan dalam keheningan yang mencekam.
[KORIDOR KEDIAMAN CAKRAWALA - SIANG HARI]
Larasati berjalan di koridor dengan langkah yang sedikit gontai—kelelahan emosional mulai terasa.
Tapi yang membuatnya lebih sakit adalah... tatapan.
Pelayan yang berpapasan dengannya—dulu selalu tersenyum ramah, membungkuk hormat, menyapanya dengan hangat—
Sekarang...
Mereka MENGHINDAR.
Mata mereka penuh dengan kebencian.
Wajah mereka penuh dengan ketakutan dan menyalahkan.
Dua pelayan wanita yang sedang membersihkan koridor—saat Larasati lewat—mereka berbisik cukup keras agar Larasati dengar.
"Ini semua salahnya... karena dia dan suaminya yang sampah itu, kita semua akan mati..."
"Adipati Lesmana akan membantai kita semua... aku dengar dia sangat kejam..."
"Seharusnya dia menikah saja dengan Adipati... kenapa dia harus membuat kita semua dalam bahaya..."
Larasati berhenti—menatap dua pelayan itu dengan tatapan yang terluka.
Pelayan itu tersentak—lalu cepat menunduk dan berlari pergi.
Larasati merasakan sesuatu PATAH di dadanya.
Dulu... mereka semua menjulukinya "Bidadari Surga" karena kecantikannya, keramahannya, dan sering menolong pelayan yang membutuhkan.
Dia selalu tersenyum pada mereka.
Selalu membantu jika ada yang sakit.
Selalu memberikan uang tambahan jika mereka butuh.
Tapi sekarang...
Karena nyawa mereka terancam—karena ketakutan akan Adipati Lesmana yang terkenal kejam—
Mereka menganggap sumber masalahnya adalah DIRINYA DAN BASKARA.
Air mata mulai menggenang di mata Larasati—tapi dia tidak membiarkan jatuh.
Tidak.
Dia tidak akan menangis.
Dia tidak akan lemah.
Baskara butuh dia kuat.
Dia menarik napas panjang—lalu melanjutkan berjalan—
Sampai dia bertemu dengan sosok yang sudah menunggunya di depan kamarnya.
Ki Gareng.
Pelayan tua setia yang selalu membantu Baskara.
Wajahnya penuh kekhawatiran—tapi juga kehangatan.
"Nona," bisiknya pelan saat Larasati mendekat. "Aku... aku dengar kabar."
Larasati menatapnya—lalu tersenyum lemah.
"Kabar apa, Ki Gareng?"
Ki Gareng menatap sekeliling—memastikan tidak ada yang mendengar—lalu berbisik lebih pelan.
"Adipati Lesmana sangat kejam, Nona. Gosipnya dia telah membunuh lebih dari 300 kultivator, baik dalam perang maupun perkara sepele, dan di antara 300 orang itu 100 lebih Ranah Inti Emas Bintang 4 ke atas. Tidak ada yang selamat."
Larasati pucat.
‘100 kultivator...Inti Emas..’
"Dan dia..." Ki Gareng menelan ludah, "dia mengumpulkan wanita cantik sebagai piala. Seperti koleksi. Dia menyiksa mereka... memaksa mereka menjadi budak seks... lalu membuangnya saat bosan."
Larasati merasakan mual di perutnya.
‘Monster...’
Ki Gareng menatapnya dengan mata yang penuh simpati.
"Nona harus memperingatkan Tuan Muda. Harus memberitahunya betapa berbahayanya Adipati Lesmana. Mungkin yang terbaik adalah kalian pergi jauh dari sini, mumpung Adipati belum datang.”
Larasati mengangguk—namun hatinya mulai ragu.
Ia tak ragu pada suaminya yang meyakinkannya. Namun, mendengar kengerian Adipati membuat rasa takut muncul kembali, rasa takut kehilangan suaminya—Baskara.
"Baik... Aku akan pergi sekarang. Ke hutan. Mencari Baskara."
Ki Gareng tersentak.
"Tapi Nona, hutan di utara kota sangat luas dan berbahaya. Hari sudah senja. Lebih baik esok hari—"
"Tidak," potong Larasati dengan tegas. "Aku harus pergi sekarang."
Dia tersenyum pada Ki Gareng.
"Walaupun tidak sekuat Baskara, aku tetaplah seorang kultivator Ranah Pengumpulan Prana Bintang 5. Aku bisa mendeteksi keberadaan Baskara. Jadi tidak perlu khawatir."
Ki Gareng masih ragu—tapi akhirnya mengangguk.
"Hati-hati, Nona."
Larasati tersenyum—lalu masuk ke kamar untuk bersiap.
[RUANG BAWAH TANAH - SAAT INI]
Empat hari berlalu sejak Baskara pergi berburu, hingga akhirnya sang pemburu naga telah datang.
Tetua Satriya berdiri di ruangan gelap yang hanya diterangi oleh beberapa lilin.
Di hadapannya berdiri dua sosok berjubah hitam dengan tudung.
Joko dan Jodi.
Anggota Aliansi Pemburu Naga.
Tetua Satriya membungkuk sedikit—bukan hormat, tapi sopan-santun formal.
"Terima kasih sudah datang dengan cepat," ucapnya.
Joko—yang jangkung dengan rambut panjang—TERKEKEH dengan suara yang mengerikan.
"Tentu saja kami datang cepat. Pewaris Naga adalah prioritas tertinggi kami."
Jodi—yang gempal dengan rambut cepak dan bekas luka di wajah—hanya menatap dengan ekspresi DATAR. Tidak bicara. Tidak menunjukkan emosi apapun.
Tetua Satriya mulai menjelaskan—dengan nada yang terdengar khawatir tapi sebenarnya penuh kebohongan yang halus.
"Baskara... dia sangat aneh. Dulu dia tidak memiliki Prana sama sekali. Sukma hancur. Kultivasi nol. Sampah total."
Joko mengangguk—mendengarkan dengan antusias.
"Tapi setelah dia merangkak keluar dari Jurang Larangan—tempat yang seharusnya membunuhnya—dia tiba-tiba menjadi sangat kuat. Dalam hitungan minggu, dia naik dari tidak ada menjadi Ranah Inti Emas."
Joko bersiul—terkesan.
"Itu... tidak wajar."
"Sangat tidak wajar," setuju Satriya. "Dan ada lagi."
Dia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya—
Sepotong sisik.
Sisik yang bersinar dengan cahaya hitam-metalik di bawah cahaya lilin—pola yang kompleks—tekstur yang kasar tapi halus—
Sisik yang terlihat sangat... KUNO.
"Ini," ucap Satriya dengan nada serius, "ditemukan di kamar Baskara."
Joko merebut sisik itu dari tangan Satriya dengan gerakan cepat—mata bersinar dengan antisipasi—
Lalu dia... MENJILAT-nya.
Lidah panjang seperti ular menjulur—menjilat permukaan sisik—merasakan—menganalisis—
Tetua Satriya bergidik ngeri.
‘Menjijikkan...’
Tapi Joko TERSENYUM LEBAR—senyum yang gila.
"Ini ASLI!" teriaknya dengan suara yang penuh kegembiraan. "Sisik Naga asli! Usia... minimal 500 tahun!"
Dia menatap Satriya dengan mata yang bersinar.
"Kau bilang ini ditemukan di kamar pria itu?"
Satriya mengangguk—berusaha tidak terlihat gugup.
‘Padahal aku baru saja membelinya dari keluarga dagang pinggir kota dengan harga yang sangat mahal untuk memfitnah Baskara...’
Jodi—yang selama ini diam—tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
Cangkir kecil.
Terbuat dari giok hitam dengan ukiran simbol yang aneh—simbol yang membuat mata Satriya sakit jika dia menatapnya terlalu lama.
Joko menatap cangkir itu—lalu menatap Satriya.
"Kami butuh air."
Satriya cepat memanggil pelayan—membawa mangkuk air—menuangkan ke cangkir hingga penuh.
Joko menaruh cangkir di lantai—lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Jarum emas.
Panjang—tipis—dengan ukiran rune di sepanjang batangnya.
Dia meletakkan jarum emas itu di atas permukaan air—jarum mengapung—stabil—
Lalu Joko mulai MENIUP sambil MERAPAL.
Suara rendah—bahasa yang tidak dimengerti Satriya—bahasa yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Hai Dewa-dewa... beri petunjukmu... dimana aura Naga itu berada... dimana musuh abadimu itu bersembunyi..."
Angin bertiup di ruangan tertutup—lilin bergoyang—bayangan menari di dinding—
Dan jarum emas mulai BERPUTAR.
Cepat.
Sangat cepat.
Seperti roda yang berputar tanpa henti—
Sampai akhirnya—
BERHENTI.
Menunjuk ke satu arah.
UTARA.
Joko tersenyum lebar.
"Ditemukan. Target berada di utara kota. Di hutan."
‘Itu alat pendeteksi kekuatan Naga?’ tanya Satriya dalam hati.
Joko menatap Jodi—Jodi mengangguk pelan.
Keduanya berdiri—bersiap untuk pergi.
Tapi Joko berbalik sejenak—menatap Tetua Satriya dengan senyum yang mengerikan.
"Terima kasih atas informasinya. Jika kami berhasil membunuh Pewaris Naga..." dia terkekeh, "kami akan memberitahu para Dewa bahwa kau yang membantu kami."
Tetua Satriya kebingungan, dia hanya berbohong bahwa Baskara adalah Pewaris Naga. Namun alat mereka mendeteksi arah Baskara berburu, itu berarti...
‘Baskara adalah... Pewaris Naga sungguhan?’
Satriya bergidik ngeri.
“Sekarang semua masuk akal bagaimana dia bisa membantai semua orang dengan mudah,” gumam Satriya saat kedua Pemburu Naga pergi.
Sedetik kemudian, Satriya tersenyum—meski di dalam hatinya dia bergidik.
‘Sempurna. Semuanya berjalan sesuai rencana. Kau akan mati Baskara!’
[BERSAMBUNG KE BAB 33]