Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.
Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.
Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Langit London menggelap, diselimuti kabut tipis yang membuat lampu-lampu kota terlihat buram dan dingin.
Xerra sudah berdiri di depan Evans dengan mantel hitam panjang, tatapannya teguh terlalu teguh untuk seseorang yang baru saja menjadi nyonya Pattinson.
“Aku ikut,” katanya singkat.
Evans menghela napas pelan. “Tidak.”
“Aku tidak minta izin. Aku minta kau jujur padaku,” balas Xerra. “Aku ingin tahu caramu bekerja.”
Di sudut ruangan, Gerry dan Ben saling melirik.
Gerry berbisik, “Boss kita benar-benar akan repot sekarang.”
Ben mengangguk pelan. “Dan lebih protektif dari biasanya.”
Evans mendekat ke Xerra, suaranya diturunkan, serius.
“Ini berbahaya. Aku tidak akan memintamu ikut hanya demi rasa ingin tahu.”
Xerra menatap lurus ke matanya.
“Aku sudah hidup dalam bahaya sejak lama, Evans. Bedanya sekarang… aku tidak sendirian.”
Kalimat itu membuat Evans terdiam beberapa detik terlalu lama.
Akhirnya, ia mengusap wajahnya pelan.
“Kau keras kepala.”
Xerra mengangkat bahu. “Kau sudah menikahi wanita seperti itu.”
Evans menoleh pada anak buahnya.
“Siapkan satu mobil tambahan. Dia ikut.”
Gerry dan Ben membelalakkan mata.
“Boss...”
“Satu kata lagi,” potong Evans dingin, “kalian tinggal di sini.”
Tak ada yang berani membantah.
Gudang tua di pinggiran kota menjadi tujuan mereka malam itu.
Operasi sederhana tapi berisiko, merampas narkoba dari satu kelompok, lalu menjualnya kembali pada kelompok lain dengan harga dua kali lipat. Cepat, sunyi, dan tanpa jejak.
Sebelum turun dari mobil, Evans membuka sebuah kotak kecil. Di dalamnya, topeng sintetis berbahan dasar kulit nyaris menyatu dengan wajah.
Ia memakaikannya pada Xerra dengan tangannya sendiri, gerakannya hati-hati.
“Jangan lepaskan apa pun yang terjadi,” katanya tegas.
Xerra mengangguk. “Aku mengerti.”
Evans lalu menyodorkan sebuah pistol kecil. Magazin penuh.
“Hanya untuk berjaga-jaga,” ucapnya. “Jangan bertindak kecuali aku memerintahkan.”
Xerra menerima pistol itu. Tangannya sedikit gemetar, tapi genggamannya mantap.
“Kalau aku harus menembak… aku akan melindungi diriku.”
Evans menatapnya lama, lalu mengangguk satu kali.
“Itu jawaban yang benar.”
Mereka bergerak memasuki gudang.
Suara langkah kaki bergema di lantai beton. Bau besi, minyak, dan sesuatu yang lebih tajam menusuk hidung Xerra. Jantungnya berdetak cepat, tapi ia menahan napas, mengikuti Evans di belakangnya.
Tiba-tiba
DORRR!
Suara tembakan memecah keheningan.
“Kontak!” teriak Ben.
Kekacauan terjadi dalam hitungan detik. Teriakan, langkah berlari, dentingan logam. Evans bergerak cepat, menarik Xerra ke belakang sebuah kontainer.
“Diam di sini,” perintahnya. “Jangan bergerak.”
Xerra mengangguk, menekan punggung ke dinding dingin. Tangannya menggenggam pistol erat.
Dari kejauhan, terdengar suara seseorang mendekat. Langkah berat. Terlalu dekat.
Xerra menahan napas.
Bayangan muncul di balik kontainer.
Tanpa berpikir panjang
DOR!
Tembakan itu menggema.
Pria itu roboh.
Xerra terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Dadanya naik turun, telinganya berdenging.
Evans langsung muncul, menariknya ke dalam pelukan tanpa peduli keadaan sekitar.
“Kau tidak apa-apa?” suaranya rendah, tapi ada ketegangan yang jarang terdengar.
Xerra mengangguk, napasnya tersengal.
“Aku… aku hanya....”
“Kau selamat,” potong Evans. Tangannya mencengkeram bahu Xerra kuat, seolah memastikan ia nyata. “Itu saja yang penting.”
Operasi berakhir cepat setelah itu. Barang berhasil diamankan. Musuh dilumpuhkan.
Di dalam mobil, suasana hening.
Xerra menatap tangannya sendiri. Masih gemetar.
Evans menyelipkan jari-jari mereka, menggenggamnya erat.
“Kau tidak perlu membuktikan apa pun padaku,” katanya pelan.
Xerra menoleh.
“Aku tidak membuktikan. Aku hanya ingin berdiri di sampingmu… di dunia apa pun.”
Evans menatap ke depan, rahangnya mengeras.
Sejak malam itu dimulai, ia sadar
Membawa Xerra ke dunia gelapnya bukan lagi sekadar risiko.
Itu adalah titik lemahnya.
Mobil hitam melaju meninggalkan gudang, menembus jalanan London yang lengang. Lampu kota berkelebat di balik kaca, sementara di dalam kabin hanya ada suara napas yang belum sepenuhnya tenang.
Xerra masih terdiam. Pistol itu kini sudah berada di pangkuannya, jarinya dingin. Evans melirik sekilas, lalu meraih senjata itu dan menyimpannya kembali ke dalam kotak besi.
“Cukup untuk malam ini,” katanya tegas.
Xerra menelan ludah. “Aku… tidak menyangka akan seperti itu.”
Evans tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam setir, buku-buku jarinya memutih. Baru setelah beberapa detik, ia berkata pelan,
“Itulah alasan aku tidak ingin kau ikut.”
Xerra menoleh. “Tapi aku tidak menyesal.”
Evans menghentikan mobil mendadak di pinggir jalan yang sepi. Gerry dan Ben di mobil belakang ikut terkejut.
Evans menoleh penuh, menatap Xerra dalam-dalam.
“Jangan pernah bilang begitu lagi.”
Xerra terdiam.
“Aku bisa kehilangan segalanya,” lanjut Evans, suaranya tertahan. “Bisnis, kekuasaan, nyawa. Tapi kehilanganmu” Ia berhenti, menarik napas panjang. “Itu bukan sesuatu yang bisa kuterima.”
Xerra merasakan dadanya sesak. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Evans.
“Aku tidak ingin menjadi beban.”
“Kau bukan beban,” jawab Evans cepat. “Kau alasan.”
Mobil kembali berjalan. Tak ada yang berbicara sampai mereka tiba di mansion.
Mansion Pattinson tenggelam dalam keheningan malam. Lampu-lampu redup menyala, seolah menyambut mereka pulang dari dunia yang berbeda.
Begitu pintu tertutup, Evans langsung menanggalkan mantel dan topengnya. Xerra mengikutinya, meletakkan tas dan sepatu dengan gerakan kaku.
Baru saat itu tubuhnya benar-benar melemah.
Kakinya goyah.
Evans menangkapnya sebelum jatuh.
“Xerra.”
Ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke sofa. Xerra menggenggam kemeja Evans erat, napasnya mulai tersengal.
“Aku baik-baik saja,” gumamnya, meski suaranya bergetar.
Evans berlutut di depannya, menyentuh wajahnya dengan kedua tangan.
“Kau gemetar.”
“Itu… baru terasa sekarang,” akunya jujur.
Evans menarik Xerra ke dalam pelukan. Tidak keras, tidak tergesa hanya pelukan yang menenangkan. Tangannya mengusap punggung Xerra perlahan, ritmis.
“Kau aman,” bisiknya. “Kau di rumah.”
Xerra menutup mata. Aroma Evans dingin, maskulin, dan familiar,membuat dadanya sedikit lega. Tangis yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh tanpa suara.
“Aku menembak seseorang,” katanya lirih.
Evans tidak menyangkal. Tidak menghibur dengan kebohongan.
“Aku tahu.”
“Bagaimana kalau aku tidak bisa melupakannya?”
Evans mencium pelipisnya singkat.
“Maka aku akan ada sampai kau bisa bernapas tanpa ingatan itu.”
Xerra mengangkat wajah, menatapnya dengan mata basah.
“Kau tidak takut padaku?”
Evans menggeleng.
“Aku takut dunia ini menyentuhmu terlalu keras.”
Ia menggendong Xerra menuju kamar mereka. Kamar yang malam ini terasa berbeda lebih sunyi, lebih intim.
Evans meletakkannya di ranjang, membantu melepas mantel dan menyelimuti tubuhnya. Ia hendak bangkit, namun Xerra menahan lengannya.
“Jangan pergi.”
Evans berhenti.
“Aku di sini.”
Ia duduk di tepi ranjang. Xerra meraih wajahnya dengan kedua tangan, menatapnya lama seolah ingin memastikan pria ini nyata.
“Aku mencintaimu,” ucapnya pelan, tanpa ragu.
Evans membeku sesaat. Lalu ia menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Xerra.
“Aku tahu,” katanya. “Dan itu yang membuatku berbahaya.”
Xerra tersenyum kecil di balik lelah.
“Bagiku, kau aman.”
Evans akhirnya berbaring di sampingnya, memeluk tubuh Xerra erat, protektif.
Malam itu, tidak ada lagi senjata. Tidak ada darah. Tidak ada dunia gelap.
Hanya dua orang yang saling berpegangan
menyadari bahwa cinta mereka kini berdiri tepat di tengah bahaya.