NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Resepsi

Selama satu pekan Kiran belum dibolehkan masuk oleh Tuan Mahesa. Gadis itu dimintanya untuk menemani sang istri yang masih sangat berduka. Untuk sementara semua pekerjaan di handle oleh Radit dan Bara. Persahabatan mereka sudah kembali seperti sedia kala.

Setelah satu pekan berlalu barulah Kiran kembali bekerja. Tugasnya menumpuk. Persiapan RUPS menanti di depan mata. Tuan Mahesa ingin rapat itu dilaksanakan segera. Radit ia tunjuk sebagai pengganti Ari. Sebab ia tidak percaya pada orang lain. Sebelumnya ia sudah pernah menunjuk orang lain, atasan Kiran yang lama, Robin. Namun kinerjanya ternyata tidak sesuai seperti apa yang diharapkan Tuan Mahesa.

Perusahaan TJ bagi Tuan Mahesa sangatlah penting. Sebab perusahaan itu adalah warisan dari Bapak Makarim. Mertuanya, papa dari istrinya, Ariana. Maka Tuan Mahesa sangat berhati-hati dalam memilih penanggung jawab dari perusahaan itu.

Mama Ariana, meski setelah satu pekan berlalu namun ternyata keceriaannya belum kembali sebagaimana biasa. Kiran, atas permintaan Tuan Mahesa, selalu menguatkan mama mertuanya itu. Secara rutin Kiran mendatangi Mama Ariana untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Secara perlahan Mama Ariana merasa bahwa Kiran sudah seperti putrinya sendiri. Kiran pun yang memang sudah haus akan kasih sayang seorang ibu, sudah menganggap Ariana seperti ibu kandungnya sendiri.

❇❇❇

Rapat Umum Pemegang Saham digelar pada satu bulan setelah kematian Ari. Pada rapat itu, pengganti yang menduduki jabatan Ari pun diumumkan. Diharapkan saham TJ langsung naik setelah sebelumnya turun akibat berita kematian Ari menyebar.

Setelah rapat selesai, Tuan Mahesa yang ikut dalam rapat itu mengajak Radit berbicara di dalam ruang Direktur Utama, yang dahulunya ruang kerja Ari.

"Ada apa, Pa?" tanya Radit setelah mereka berdua sudah duduk di dalam ruangan. Tuan Mahesa menatap putranya dalam.

"Papa kira kau sudah kembali menjadi dirimu, Nak. Dugaan Papa benarkan?" katanya masih tak mengalihkan tatapannya dari Radit.

"Bukankah kita semua memang harus mengikhlaskannya, Pa. Seperti yang Papa harapkan," jawab Radit sembari menunduk sebab ia masih berusaha untuk itu.

"Jika sudah begitu, Papa bisa tenang sekarang. Rencana resepsimu sudah bisa kita laksanakan dua pekan mendatang."

Mata Radit membulat. "Resepsi?" tanyanya tak percaya.

"Iya. Resepsi pernikahananmu dengan Kiran. Kita sudah mengundurkannya dari jadwal seharusnya, kan?" sahut Tuan Mahesa tegas.

Radit tersenyum kecut. "Bukankah pernikahan kami tidak sah, Pa."

"Apanya yang tidak sah?" tanya Tuan Mahesa tak mengerti.

Radit berpikir sesaat. "Jadi namanya memang Karina. Dan dia benar dari keluarga Widjadja," ujarnya merasa tak percaya atas apa yang baru saja ia ucapkan. Dirinya terlalu sibuk dengan Ari hingga melupakan masalah nama itu.

"Ya. Dia memang Karina. Anak teman Papa, Kamil. Kamil itu yang telah membantu Papa membangun anak perusahaan kita. Dan satu lagi agar kau semakin paham. Kau ingatkan nama Kamil ini terkait dengan perusahaan TJ?" tanya Papa.

Radit mengingat-ingat. Ia pernah menanyakan hal ini pada sang papa. "Iya, Pa. Radit ingat. Dia pemilik saham terbesar di perusahaan ini kan, Pa."

"Kau benar. Kamil sekarang sudah meninggal dunia, Dit. Papa juga tidak tahu dividen itu mengalir kemana. Kita hanya rutin menyetorkan via bank kepada para pemegang saham. Papa pun belum menanyakan hal ini pada Kiran. Papa hanya ingin ia fokus menguatkan Mama dulu. Tapi prediksi Papa, dividen itu mengalir kepadanya. Dan namanya memang Karina Widjadja sehingga tentunya kau jadi tak malu akan itu. Dan menurut Papa memang dia sangat pantas bersanding untukmu."

"Dulu Papa dan Mama juga pernah berniat menjodohkanmu dengannya selagi kalian masih kecil. Tak disangka hal itu terjadi sekarang," ucap Tuan Mahesa menambahkan.

"Maaf, Pa. Sepertinya Radit tidak bisa." Radit menggeleng pelan. Ia begitu paham bagaimana Ari mencintai wanita itu. Apa mungkin ia sekarang akan menjadikannya sebagai istri? Selain ia pun memang membenci wanita itu.

Tuan Mahesa manarik sudut bibirnya. "Apa kau masih mencari Karina-mu itu? Kenapa tidak kau anggap saja ia sebagai Karina milikmu yang sudah meninggal itu?"

Mata Radit membulat. "Meski memiliki nama yang sama, tentu saja mereka adalah dua orang yang berbeda, Pa. Karina jauh melebihi Kiran dari segala-galanya. Dan ..., Radit tidak bisa karena Ari. Radit merasa bersalah pada Ari."

"Karina dan Ari sama-sama sudah meninggal. Kiran kan juga tidak terlalu buruk sebagai pengganti Karina-mu itu. Dia cantik, cerdas, dewasa dan sangat berkarakter. Ari juga pasti senang jika kau menggantikannya untuk menjaga Kiran."

Radit mendongak, menatap Tuan Mahesa, berusaha mencerna atas apa yang baru saja Papanya ucapkan. Perkataan Papa ada benarnya. Toh, ia juga sudah akad nikah dengan Kiran, meskipun iming-iming sebelumnya ia akan bercerai setelah Ari ditemukan. Tapi ini resepsi. Semua orang akan tahu bahwa ia dan Kiran sudah menikah. Pernikahan itu pun bukan sembarang sehingga nantinya bisa saja ia putuskan untuk berpisah kedepannya. Itu akan menjadi skandal dalam hidupnya, jika sampai terjadi. Sementara ia sendiri benci pada wanita itu. Lalu apa ia sanggup bersama dengan wanita itu sebagai suami istri? Radit menggeleng pelan.

"Tetap saja Pa ...." Radit menghentikan ucapannya, melihat sang Papa sudah menatapnya tajam.

"Cobalah mengerti, Dit. Bahagiakanlah Mamamu. Mungkin dengan pernikahanmu dia akan bahagia. Ingat kan ketika Ari menghilang kemarin. Dia begitu terluka. Namun dengan pernikahanmu dia kembali ceria. Tidakkah kau ingin Mama kembali ceria, Dit?"

Radit tak bisa menjawab, meski hatinya membenarkan apa yang barusan Papanya ucapkan. Masih teringat bagaimana sumringahnya wajah sang mama melihat dia di hari akad nikah kemarin. Apalagi saat teman-teman mamanya memujinya tampan, wajah sang mama kelihatan sangat bahagia. Radit menghela nafas pelan. Ia sepertinya memang harus berkorban.

"Baiklah, Pa. Lagian kami juga sudah menikah," ucap Radit pasrah.

Tuan Mahesa tersenyum. "Satu hal yang Papa senang darimu. Kau itu rasional, Radit. Kau tidak membawa perasaan dalam memecahkan masalah."

"Baik jika kau setuju. Berarti dua pekan ke depan kita adakan resepsi pernikahanmu. Karena Mamamu sedang dalam kondisi tidak mungkin menyiapkan segala sesuatunya, Papa akan minta Intan untuk membantu kita."

Radit mendengkus. "Terserah Papa. "

"Satu hal lagi. Papa sudah meminta Raisa untuk pulang pekan depan. Kuliahnya juga sedang libur. Jadi saat dia pulang nanti, Kiran akan pindah ke kamarmu."

Mata Radit membelalak kaget. " Hah?!"

"Itu bukan ekspresi orang dewasa." Tuan Mahesa tersenyum kecil melihat reaksi anak sulungnya itu.

"Jika kalian terus pisah kamar, mau sampai kapan pun kalian tidak akan pernah memberikan kami cucu." Tuan Mahesa menggeleng lucu.

"Terserah Papa aja lah." Radit sudah malas berdebat. Ia membuang muka.

"Baik kalau begitu. Papa mau kembali ke kantor," ucap Tuan Mahesa sembari melangkah keluar. Tiba-tiba langkahnya terhenti kemudian menoleh melirik Radit.

"Setelah satu kamar nanti, kalau mau digas, digas aja. Biar kami cepat punya cucu," ucap Tuan Mahesa sembari tersenyum dengan sorot mata yang membuat Radit kesal. Kemudian pria paruh baya itu kembali melangkah keluar ruangan. Di depan pintu ia berpapasan dengan Bara.

Bara yang merasa heran melihat Tuan Mahesa yang senyum-senyum sendiri langsung bertanya kepada Radit. "Papamu kenapa, Dit? Sumringah bener."

Radit tak menjawab. Ia hanya menatap Bara tajam. Membuat Bara merinding dengan tatapan sahabatnya.

Diparkiran ....

"Kita jadi mau ke kantor, Tuan?" tanya Pak Dimas melirik Tuan Mahesa dari kaca spion. Wajah Tuannya itu tampak muram.

"Kita ke kuburan Ari saja," katanya pelan sembari mengusap sudut matanya yang basah. Hatinya sedang perih sekarang. Sejujurnya ia merasa bersalah pada Ari setelah berbicara pada Radit tentang resepsi pernikahan tadi. Meskipun memang Ari sudah meninggal.

Selain itu, sejak kematian Ari, ia memang selalu dihantui perasaan bersalah. Selama ini ia terlalu keras pada putra keduanya itu.

Pak Dimas mengangguk kemudian melajukan kendaraannya sesuai permintaan Tuan Mahesa. Permintaan yang selalu diajukan tuannya itu setiap hari saat ada kesempatan.

❇❇❇

Setelah sholat isya, Kiran keluar dari kamarnya menuju lantai dua. Ia ingin mengunjungi kamar Ari. Entah kenapa, Kiran merasa bahwa ia bisa merasakan kehadiran Ari jika berada di sana. Minimal ia ingin melihat foto Ari lagi sembari mengadukan kegelisahan hatinya, setidaknya meminta maaf pada pria itu melalui fotonya.

Tuan Mahesa mengajaknya bicara sebentar selesai sholat maghrib tadi di ruang kerja ayah mertuanya itu. Tentang rencana resepsi pernikahannya dengan Radit. Meski hatinya merasa berat namun Kiran tak mampu juga menolak permintaan ayah mertuanya, apalagi dengan menjadikan kebahagian Mama Ariana sebagai jaminan. Ia mengalah. Toh, ia juga sudah menikah dengan Radit. Dan ia juga tidak ada pria lain untuk memberatkan semua itu terjadi. Maka ia pun menerima, termasuk sekamar dengan Radit jika Raisa telah kembali nanti.

Kiran melangkah pelan menuju kamar Ari. Secara perlahan pula ia membuka pintu kamar. Ruangan itu masih dalam keadaan gelap hanya sedikit cahaya dari celah pintu yang terbuka dan cahaya yang berasal dari dalam. Lampu di atas nakas menyala. Dan apa itu? Mata Kiran membulat seketika. Tampak sesosok pria sedang duduk di atas tempat tidur. Sosok pria tinggi besar itu kini telah berdiri sempurna. Kiran Terperangah.

"Ari!" pekik Kiran tanpa sadar sembari kemudian menutup mulutnya.

❤❤❤💖

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!