NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Dimas Resign Dari SMA Al-Ikhlas

Memasuki bulan ke 6 Dimas mengajar di SMA Al-Ikhlas namun aturan sekolah semakin aneh khususnya terkait potongan penerimaan honorarium. Guru yang telat selama lebih dari 5 menit akan di potong gajinya 10 ribu. Selain itu, honorarium guru setiap bulan di pangkas untuk iuran BPJS kesehatan, sedekah dan koperasi.

Jika biasanya Dimas menerima honorarium sebesar 875 ribu setelah ada potongan menjadi 750 ribu. Di tambah lagi honor mengajar ekstrakulikuler yang tak kunjung cair membuat semangat mengajarnya semakin mengendur.

"Pak, makin hari kok makin aneh yah aturan sekolah, gaji bukannya naik malah sekarang banyak potongan" ujar Dimas kepada pak Fuad di ruang guru.

"Iya benar pak Dimas, BPJS itu kan harusnya yang bayar pihak sekolah bukan malah memotong gaji guru" sahut pak Fuad.

"Yang bikin aneh lagi, gaji kita kan udah minim ya pak, eh malah di bebankan potongan sedekah 15 ribu sebulan" gerutu Dimas kembali.

"Uangnya beneran untuk sedekah gak sih pak ?" tanya Dimas ke pak Fuad.

"Wah saya kurang tau ya pak karna selama ini pihak sekolah gak transparan terkait itu" ujar pak Fuad kembali.

"Pak Dimas sih masih single mungkin gak begitu beban, gak kaya saya, anak udah 3, terasa sekali dengan aturan yang sekarang" kata pak Fuad lebih lanjut.

"Kenapa ya pak, gak ada satu pun guru yang protes ?" tanya Dimas ke Fuad.

"Bukan gak ada pak tapi sebagian besar takut di pecat, lah kalau udah di pecat mau kerja apa ? jadi ya mau gak mau harus mau" respon pak Fuad.

"Iya juga ya pak" sahut Dimas.

"Mestinya sih kalau ada sistem potong gaji harus ada juga sistem bonus, lah di sekolah kita kan mau nya motong gaji tapi ngasih bonusnya gak mau" ujar pak Fuad.

Saat mereka sedang berbincang, suara panggilan telpon berdering di handphone Dimas. Bapak kepala sekolah menelponnya.

"Assalamualaikum, pak Dimas, bisa ke ruangan saya sekarang ?" kata bapak kepala sekolah di telpon.

"Baik pak" respon Dimas.

Dimas melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah.

Sampai di depan ruang itu, ia mengetuk pintu.

"Tok..tok ..tok.. Assalamualaikum" ucap Dimas.

"Silakan masuk pak !" seru bapak kepala sekolah.

"Silakan duduk !"

Dimas duduk di kursi depan meja kepala sekolah.

"Maaf pak Dimas, saya dengar anda menghasut para guru supaya menolak aturan dan kebijakan sekolah terkait potongan honor mengajar, apa itu benar pak ?"

"Saya tidak pernah melakukan hal itu pak, bapak dapat info dari mana ?" tanya Dimas penasaran.

"Ada salah satu guru yang cerita ke saya" jawab kepala sekolah.

"Itu hoax dan itu gak benar pak"

"Tapi kalau terkait aturan pemotongan gaji, saya salah satu guru yang gak setuju pak" jawab Dimas.

"Pak, honor guru di sini itu sangat minim pak, dengan adanya pemotongan honor jadi tambah minim pak, apa gak bisa di pertimbangkan lagi pak aturan tersebut ?" tanya Dimas menatap wajah kepala sekolah.

"Terkait hal tersebut, sebenarnya sudah keputusan dan kebijakan dari yayasan pak Dimas" kilah kepala sekolah.

"Berarti keputusan itu sudah gak bisa di tarik ya pak ?" tanya Dimas kembali.

"Betul pak, karna itu sepenuhnya wewenang yayasan" ujar bapak kepala sekolah lebih lanjut.

"Baik lah pak Dimas, saya cuma mau memastikan saja benar tidak nya info yang beredar"

"Jika pak Dimas merasa tidak pernah melakukan hal itu, saya minta maaf" ucap kepala sekolah.

"Silakan, pak Dimas boleh kembali bekerja"

"Nggih pak, terimakasih" sahut Dimas.

Titik Jenuh mulai menyerang hati Dimas. Ia merasa semakin tidak di apresiasi menjadi seorang guru. Banyak hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Jika dulu ada Nayla yang selalu jadi penyemangatnya namun sekarang sang penyemangat itu telah pergi. Hanya bu Ratih saja yang kini jadi semangat hidup Dimas.

Usai mengajar di sekolah, Dimas bersilaturahmi ke rumah sahabat lamanya sewaktu SMA yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari sekolah tempat dimana Dimas mengajar, namanya Fahri.

"Assalamualaikum" ucap Dimas sembari mengetuk pintu.

Seorang wanita tua membukakan pintu.

"Walaikum sallam" jawab wanita tua itu.

"Maaf Bu, fahrinya ada ?  saya Dimas teman Fahri waktu SMA" ujar Dimas.

"Oh Dimas yang dulu sering main kesini yah, ya Allah Dimas lama yah ibu gak jumpa" ujar ibunya Fahri.

"Fahri sekarang sudah punya rumah sendiri, itu rumahnya" ujarnya sambil mengacungkan jarinya ke arah rumah tersebut.

"Oh rumah yang bagus itu ya bu, yang ada mobilnya ?" tanya Dimas.

"Betul nak Dimas"

"Ya udah bu, kalau begitu saya kesana dulu bu, permisi bu" kata Dimas.

"Nggih monggoh" respon ibunya Fahri.

Dimas melangkah ke rumah Fahri lalu mengetok pintu rumahnya.

"Assalamualaikum" ucap Dimas.

Seseorang membukakan pintu rumahnya lalu tercengang saat melihat Dimas.

"Walaikum sallam, Dimas yah ? Apa kabar ? lama gak berjumpa" responnya.

"Alhamdulillah baik, Fahri apa kabar ?" tanya balik Dimas.

"Alhamdulillah baik juga, kamu sekarang kerja dimana mas ?" tanya Fahri.

"Saya ngajar di SMA Al-Ikhlas yang di sebrang sana".

"Oh iya iya dekat yah kalau dari sini" sahut Fahri.

"Kalau kamu kerja dimana ri sekarang ?" tanya Dimas kepada sahabat lamanya.

"Saya sekarang bisnis properti mas, bangun rumah di suatu tempat nanti di jual" ujar Fahri.

"Wah hebat sekarang udah sukses, gak kaya aku yang masih jadi guru honorer" kata Dimas.

"Semua butuh proses mas, pertama kali lulus SMA, saya merantau ke Jakarta, di mulai jadi office boy di sebuah perusahaan" ujar Fahri.

"Kalau kamu pengin kerja yang gajinya lumayan ya di Jakarta mas, kerja disini UMR nya sedikit" ujar Fahri kembali.

Sepulang dari rumah Fahri, Dimas masih memikirkan perkataan Fahri. Ia seolah termotivasi untuk resign dari pekerjaannya sebagai guru swasta yang gajinya tidak menentu lalu merantau ke Jakarta. Namun di satu sisi, ia juga memikirkan ibunya jika harus di tinggal merantau ke luar kota. Di dalam rumah, ia bergegas menemui sang ibu.

"Bu, bagaimana pendapat ibu kalau Dimas keluar mengajar dan Dimas merantau ke Jakarta ?" tanya Dimas kepada sang ibu.

"Emangnya kamu mau keluar mengajar di sekolah yah ?" tanya bu Ratih.

"Masih ragu sih bu, tapi ngajar di sekolah gajinya ga seberapa bu udah gitu sekarang ada potongannya lagi" respon Dimas.

"Sebaiknya kamu sholat istikharah dulu nak, apa pun keputusan kamu, ibu selalu dukung" ucap bu Ratih.

"Kalau Dimas merantau ke Jakarta, apa gak papa ibu di rumah sendirian ? kan sekarang Diana ikut suaminya" tanya Dimas dengan hati yang berat.

"Ibu gak papa nak, lagian ibu udah biasa melakukan segala sesuatunya sendiri" respon bu Ratih.

Esok hari dengan cuaca mendung, Dimas menemui bapak kepala sekolah di ruangannya. Tekatnya sudah bulat ingin mengundurkan diri sebagai guru di SMA Al-Ikhlas.

"Mohon maaf pak, mengganggu waktunya" ucap Dimas.

"Silakan duduk dulu pak Dimas, ada perlu apa yah ?" tanya bapak kepala sekolah.

"Begini pak, setelah saya pertimbangkan, saya berniat mau resign pak dari sekolah ini" ujar Dimas.

"Kalau boleh tau kenapa ya pak ?" tanya pak kepsek.

"Saya ada rencana mau merantau ke Jakarta pak" kilah Dimas.

"Baik, kalau itu sudah keputusan pak Dimas, saya hormati itu, saya cuma bisa mendoakan semoga pak Dimas sukses di perantauan" ucap kepala sekolah kembali.

"Aamiin, terimakasih banyak pak sudah di kasih kesempatan mengajar disini dan mohon maaf untuk segala kekurangan saya" ucap Dimas.

"Sama-sama ya pak Dimas, saya atas nama kepala sekolah juga mengucapkan terimakasih buat pak Dimas yang sudah mendedikasikan ilmunya selama 6 bulan ini sekaligus kami minta maaf bila dari pihak sekolah ada kesalahan serta kekurangan" respon bapak kepsek lebih lanjut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!