NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : AWAL DARI BADAI BARU

Tiga bulan telah berlalu sejak insiden kebakaran di rumah Bibi Siti. Dunia mengenal Aluna Seraphine sebagai "Ratu yang Menghilang". Setelah menyerahkan kendali operasional kepada dewan buruh dan yayasan transparan, Luna benar-benar menghapus jejaknya dari gemerlapnya Jakarta.

Sekarang, di sebuah desa kecil di pesisir Jawa Tengah yang tenang, Luna duduk di depan sebuah kedai kopi kecil miliknya sendiri. Tidak ada lagi gaun sutra, hanya kaos katun sederhana dan celemek cokelat. Ia sedang menuangkan kopi untuk seorang nelayan tua saat Xavier muncul dari balik pintu belakang.

Xavier kini terlihat lebih santai dengan kemeja flanel, namun matanya tetap waspada, memindai setiap orang asing yang masuk ke desa itu.

"Luna," panggil Xavier pelan. "Ada kiriman paket dari Jakarta. Tanpa nama pengirim, tapi segelnya... segel lilin merah tua."

Tangan Luna berhenti menuang. Segel lilin merah tua adalah kode rahasia yang hanya digunakan oleh unit intelijen tertinggi keluarga Seraphine di Eropa. Kode yang bahkan Madam Celine pun jarang menggunakannya.

"Bawa ke dalam," bisik Luna. Perasaan damai yang ia bangun selama tiga bulan ini seketika menguap, digantikan oleh firasat buruk yang dingin.

Di dalam ruang tamu kecil yang hangat, Luna membuka paket itu dengan pisau dapur. Di dalamnya terdapat sebuah jam saku perak tua dan sebuah dokumen yang ditulis dalam bahasa Jerman kuno.

Mata Luna membelalak saat membaca baris demi baris dokumen itu. "Xavier... ini bukan tentang perusahaan. Ini tentang ayahku."

Selama ini, Luna hanya tahu ayahnya adalah pria biasa yang dicintai ibunya lalu meninggal dalam kemiskinan. Namun, dokumen ini mengungkapkan hal lain. Ayah Luna, Adrian, ternyata bukan orang biasa. Dia adalah putra dari salah satu keluarga perbankan tertua di Swiss yang memiliki perselisihan berdarah dengan keluarga Seraphine sejak Perang Dunia II.

"Pernikahan ibu dan ayahmu bukan sekadar cinta, Luna," Xavier membaca dokumen itu melalui bahu Luna. "Ini adalah upaya penyatuan dua dinasti terbesar yang gagal. Dan alasan ibumu diusir bukan hanya karena fitnah Paman Hendra... tapi karena dewan bayangan di Eropa menganggap darahmu sebagai ancaman bagi kemurnian kedua silsilah."

Tiba-tiba, suara deru mobil-mobil hitam terdengar mendekat ke kedai kopi mereka. Suaranya berbeda dengan mobil polisi atau preman pelabuhan. Ini adalah suara mesin mobil taktis yang sangat halus dan mahal.

"Mereka menemukan kita," desis Xavier. Ia langsung menarik laci meja dan mengeluarkan senjata yang selama tiga bulan ini ia simpan rapat-rapat. "Dan mereka bukan orang-orang Aris atau Valerie. Ini adalah The Council."

Pintu kedai kopi terbuka dengan kasar. Lima orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu masuk, mengosongkan ruangan dalam sekejap. Di tengah-tengah mereka, muncul seorang wanita tua yang terlihat jauh lebih berkuasa dan menyeramkan daripada Madam Celine.

Dia adalah Grand Dame Sophia, kakak kandung Madam Celine yang selama ini memimpin Seraphine cabang Eropa dari balik layar.

"Aluna," suara Sophia terdengar seperti gesekan logam, dingin dan tanpa ampun. "Kamu pikir dengan membagikan harta Seraphine kepada rakyat jelata, kamu bisa keluar dari permainan ini? Kamu memiliki darah Adrian di nadimu. Kamu adalah kunci dari brankas rahasia di Bank Zurich yang bisa menjatuhkan ekonomi tiga negara."

Luna berdiri tegak, melindungi Bibi Siti yang ketakutan di belakangnya. "Aku tidak peduli dengan brankas atau ekonomi kalian. Aku sudah melepaskan namaku!"

"Kamu tidak bisa melepaskan apa yang sudah tertulis di kodratmu," Sophia memberi isyarat pada anak buahnya. "Bawa dia. Dan habisi asistennya jika dia mencoba melawan. Kita tidak butuh saksi dari kalangan pelayan."

Xavier langsung berdiri di depan Luna, moncong senjatanya mengarah tepat ke kepala Sophia. "Satu langkah lagi, dan sejarah Seraphine Eropa akan berakhir di kedai kopi kecil ini."

Pertarungan baru saja dimulai. Musuh Luna bukan lagi remaja sekolah yang iri atau sepupu yang serakah, melainkan organisasi global yang telah mengatur dunia selama ratusan tahun.

Kedai kopi kecil yang tadinya tenang itu kini berubah menjadi panggung negosiasi maut. Udara terasa berat oleh aroma mesiu yang belum dilepaskan dan ketegangan yang menyengat. Grand Dame Sophia berdiri di tengah ruangan dengan keanggunan yang mengerikan, menatap moncong senjata Xavier tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Bagi wanita yang telah melihat jatuh bangunnya rezim di Eropa, ancaman senjata Xavier hanyalah gangguan kecil.

"Xavier, Xavier..." Sophia mendesah, suaranya terdengar seperti angin musim dingin yang menusuk. "Kesetiaanmu sungguh menyentuh, namun sangat sia-sia. Kamu pikir kamu sedang melindungi seorang gadis malang? Kamu sedang melindungi hulu ledak nuklir yang bisa menghancurkan stabilitas perbankan dunia. Aluna bukan lagi hanya cucu Celine yang pemberontak. Dia adalah pemegang otoritas tunggal atas 'Protocol 1945' milik keluarga perbankan von Hess."

Luna menatap Sophia dengan sorot mata yang mencoba mencari kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah keyakinan yang dingin. "Protocol 1945? Apa yang kamu bicarakan? Ayahku hanyalah seorang pria yang mencintai ibuku sampai akhir hayatnya!"

Sophia tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak asing di wajahnya yang kaku. "Adrian von Hess bukan pria biasa, Aluna. Dia adalah pemberontak dari dinasti perbankan yang paling ditakuti. Dia mencuri kode akses ke aset-aset rahasia Seraphine dan von Hess yang digabung selama perang. Aset yang berisi data korupsi para pemimpin dunia yang disimpan di Bank Zurich. Dia menyembunyikan kode itu di dalam darahnya secara harfiah. Kamu adalah 'kunci' biologis itu, Aluna."

Luna merasakan mual yang luar biasa. Ia teringat kembali semua penderitaannya selama ini. Apakah semua itu perundungan di sekolah, pengusiran ibunya, hingga pengejaran Aris hanyalah skenario kecil untuk memicunya agar "aktif" dan kembali ke radar mereka?

"Aku bukan kunci siapa pun!" teriak Luna. Ia meraih pisau dapur di atas meja, menggenggamnya dengan tangan gemetar namun penuh tekad. "Aku adalah Luna! Dan jika darahku adalah masalah bagi kalian, aku akan mengakhiri semuanya di sini!"

"Nona, jangan!" Xavier berteriak, tetap waspada pada para pengawal Sophia.

"Lakukanlah, jika kamu pikir kematianmu akan mengakhiri ini," tantang Sophia tenang. "Jika kamu mati, Dewan akan langsung menghabisi setiap orang yang pernah berhubungan denganmu untuk menghapus jejak. Termasuk bibimu yang malang di dapur itu, dan pria setia di sampingmu ini. Kematianmu bukan akhir, Aluna. Itu adalah perintah eksekusi bagi semua orang yang kamu cintai."

Luna menurunkan pisaunya perlahan. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan, melarikan diri ke desa kecil ini bukan memberinya kedamaian, melainkan memberikan target statis bagi musuh-musuhnya. Ia tidak bisa lagi bersembunyi.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Luna dengan suara yang mendadak kering.

"Ikutlah ke Swiss. Masuklah ke Brankas Zurich. Berikan kami data itu, dan aku berjanji akan membiarkan Xavier dan bibimu hidup dalam kemewahan sampai ajal menjemput mereka," ucap Sophia. "Tapi jika tidak... desa ini akan menjadi kuburan massal sebelum matahari terbenam."

Xavier merasakan adrenalin mengalir deras di nadinya. Ia tahu bahwa meskipun ia adalah salah satu agen terbaik yang pernah dilatih Seraphine, melawan lima unit elit "The Council" secara bersamaan di ruang sempit ini adalah tindakan bunuh diri. Namun, melihat Luna yang mulai goyah oleh ancaman Sophia, hatinya terasa terbakar.

"Jangan dengarkan dia, Luna," bisik Xavier, suaranya tetap stabil meskipun keringat dingin mengalir di punggungnya. "Sekali Anda masuk ke brankas itu dan memberikan apa yang mereka mau, Anda tidak akan lagi berguna bagi mereka. Mereka akan melenyapkan Anda dan kami semua untuk memastikan tidak ada saksi yang tersisa. Itulah cara kerja The Council selama ratusan tahun."

Sophia melirik Xavier dengan tatapan jijik. "Kamu hanyalah pelayan yang tahu terlalu banyak, Xavier. Seharusnya kamu sudah dibersihkan sejak di Zurich."

"Saya bukan lagi pelayan Seraphine," balas Xavier. Ia menggeser posisinya, berdiri tepat di depan Luna, menutupi tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri. "Saya adalah pelindungnya. Dan selama saya masih bernapas, Anda tidak akan membawanya ke mana pun tanpa melewati mayat saya."

Tiba-tiba, salah satu pengawal Sophia bergerak. Gerakannya begitu cepat, hampir tidak tertangkap mata manusia. Dia mencoba menghantam pergelangan tangan Xavier, namun Xavier sudah memprediksinya.

Brakkk!

Meja kopi kayu itu hancur saat Xavier menendangnya ke arah pengawal tersebut sebagai pengalih perhatian. Xavier menarik Luna ke balik lemari tua dan mulai melepaskan tembakan presisi. Kedai kopi yang tadinya hangat kini dipenuhi oleh suara dentuman senjata dan pecahan kaca yang terbang ke segala arah.

"Kevin! Sekarang!" Xavier berteriak ke arah earpiece-nya.

Di luar kedai, Kevin yang bersembunyi di dalam van tua segera mengaktifkan perangkat pengacak frekuensi radio tingkat tinggi. Lampu-lampu jalan di desa itu mendadak meledak, dan sistem komunikasi para pengawal Sophia berdengung keras, membuat mereka memegangi telinga karena kesakitan.

"Nona, lewat pintu belakang! Sekarang!" Xavier menarik tangan Luna.

Mereka berlari menembus dapur yang gelap. Bibi Siti sudah menunggu di sana, wajahnya pucat pasi namun ia memegang tas kecil berisi kenangan mereka. Mereka berlari menuju dermaga kecil di belakang kedai, tempat sebuah perahu motor nelayan yang sudah disiapkan Xavier sejak hari pertama mereka tiba di desa ini sedang menderu pelan.

"Xavier, bagaimana denganmu?" Luna bertanya saat mereka melompat ke atas perahu.

"Saya akan menahan mereka sebentar lagi. Pergilah dengan Kevin! Dia punya paspor palsu dan jalur laut menuju pelabuhan internasional!" Xavier bersiap kembali ke kedai.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" Luna mencengkeram kerah baju Xavier. Matanya memancarkan ketegasan yang sama saat ia menghadapi Aris. "Kita pergi bersama, atau kita mati bersama di sini. Pilih, Xavier!"

Xavier menatap mata Luna, melihat api Seraphine yang kembali menyala. Ia tersenyum getir, menyadari bahwa gadis ini tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh rasa takut. Ia melompat ke atas perahu, memutar tuas mesin, dan perahu itu melesat membelah air laut yang hitam menuju kegelapan samudera.

Angin laut yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun Luna tidak merasakannya. Ia menatap ke arah pantai, di mana kedai kopi kecilnya perlahan-lahan menghilang di balik kabut malam. Di sana, ia melihat kilatan lampu-lampu mobil taktis yang mulai menyisir dermaga. Ia baru saja kehilangan "rumah" untuk yang kesekian kalinya.

"Luna, Anda baik-baik saja?" Kevin bertanya dari balik kemudi perahu. Wajahnya diterangi oleh cahaya remang dari layar tablet yang terus memantau pergerakan radar musuh.

"Aku baik-baik saja, Kevin. Hanya saja... aku merasa seperti kutukan," bisik Luna. Ia menatap tangannya. "Ke mana pun aku pergi, kematian selalu mengikuti. Ibu, ayah, rumah Bibi Siti, dan sekarang kedai itu. Semuanya hancur karena namaku."

"Ini bukan salah Anda, Luna," Xavier duduk di sampingnya, sedang membalut luka gores di lengannya sendiri. "Ini adalah kesalahan sistem yang menganggap manusia sebagai properti. Sophia tidak mengincar Anda karena dia membenci Anda. Dia mengincar Anda karena dia takut. Takut jika rahasia di Zurich itu jatuh ke tangan orang yang salah atau tangan orang yang benar."

Luna menarik napas dalam, membiarkan udara laut yang asin membersihkan paru-parunya dari sisa asap gas air mata. "Siapa sebenarnya Adrian von Hess, Xavier? Kenapa dokumen itu menyebutkan dia menyembunyikan kode di dalam darahku?"

Xavier terdiam sejenak, menatap gelombang laut yang menghantam lambung perahu. "Ayahmu adalah seorang ilmuwan jenius sebelum dia dipaksa masuk ke bisnis keluarga. Selama di Zurich, saya pernah mendengar rumor tentang penelitian DNA yang digabungkan dengan kriptografi. Adrian tidak ingin harta itu jatuh ke tangan Seraphine atau von Hess karena dia tahu itu akan digunakan untuk mengendalikan politik dunia. Dia mengkodekan aksesnya ke dalam rangkaian DNA unik yang hanya diturunkan pada keturunannya."

"Jadi... jika mereka ingin membuka brankas itu, mereka tidak butuh sidik jariku atau mataku?" tanya Luna dengan kengerian yang mendalam.

"Mereka butuh darah Anda. Sejumlah besar darah Anda, Luna," jawab Xavier berat. "Itulah sebabnya Sophia tidak membunuh Anda di sana. Dia butuh Anda tetap hidup sampai Anda berada di depan pintu brankas itu."

Luna mengepalkan tangannya. Rasa takutnya kini berubah menjadi kemarahan yang dingin dan terarah. Jika dunia menginginkan darahnya untuk membuka kotak pandora yang penuh dengan dosa, maka ia akan memberikan mereka sesuatu yang lebih dari itu. Ia akan memberikan mereka kehancuran sistem mereka sendiri.

"Kita tidak akan bersembunyi di Indonesia lagi, Xavier," ucap Luna tiba-tiba. Suaranya terdengar begitu berwibawa, jauh lebih kuat dari saat ia masih menjadi CEO Seraphine.

"Lalu ke mana kita akan pergi, Nona?"

"Kita pergi ke Zurich. Kita masuk ke jantung pertahanan mereka," Luna menatap lurus ke cakrawala. "Jika mereka menginginkan 'Kunci' ini begitu besar, maka aku akan membuka pintunya sendiri dan membiarkan semua setan di dalamnya keluar menghancurkan mereka semua."

Xavier menatap Luna dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. Sang Ratu telah kembali, namun kali ini ia tidak mengenakan mahkota berlian. Ia mengenakan mahkota yang terbuat dari tekad dan keberanian yang murni.

Perahu motor nelayan itu membelah ombak Selat Jawa dengan raungan mesin yang diredam. Di bawah langit yang tak berbintang, Luna menatap air laut yang hitam pekat, seolah melihat cerminan masa depannya yang penuh ketidakpastian. Di dalam perahu, Bibi Siti telah tertidur karena kelelahan dan syok, kepalanya bersandar pada tas lusuh yang berisi seluruh sisa hidup mereka. Sementara itu, Xavier dan Kevin masih sibuk di depan layar monitor yang memancarkan cahaya biru pucat di tengah kegelapan.

"Luna, kita harus berpindah kapal di koordinat 105," bisik Xavier, memecah kesunyian. "Kapal kargo milik jaringan bawah tanah yang pernah saya gunakan di masa lalu sedang menunggu. Mereka tidak akan bertanya, dan mereka tidak akan mencatat nama kita di manifes."

Luna mendekat, duduk di antara tumpukan jaring ikan. "Xavier, kamu bilang Sophia butuh darahku untuk membuka brankas di Zurich. Jika itu benar, maka setiap detik aku hidup adalah ancaman bagi kalian. Kenapa kamu tidak meninggalkanku di pantai tadi? Kamu bisa lari, memulai hidup baru dengan identitas yang diberikan Kevin."

Xavier menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap Luna dengan sorot mata yang dalam, sebuah tatapan yang melampaui tugas seorang pengawal. "Dunia ini sangat luas, Luna, tapi sangat sedikit tempat bagi orang-orang seperti kita untuk benar-benar merasa 'pulang'. Selama sepuluh tahun saya mencari Anda atas perintah Madam Celine, saya pikir saya hanya menjalankan tugas. Tapi saat saya melihat Anda berdiri tegak di atas panggung sekolah itu, saya sadar... saya tidak sedang mencari seorang ahli waris. Saya sedang mencari alasan mengapa saya harus tetap menjadi manusia di tengah dunia yang kejam ini."

"Aku bukan pahlawanmu, Xavier," sahut Luna pahit.

"Memang bukan. Tapi Anda adalah kebenaran saya," balas Xavier tenang.

Tiba-tiba, Kevin memberikan kode peringatan. "Sinyal radar! Ada dua kapal cepat mendekat dari arah belakang. Mereka tidak menggunakan lampu navigasi. Itu pasti tim taktis Sophia."

Luna merasakan adrenalin kembali memicu jantungnya. "Mereka lebih cepat dari yang kita duga."

"Mereka menggunakan satelit pelacak termal," jelas Kevin, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. "Aku akan mencoba meluncurkan beberapa decoy elektronik ke arah timur, tapi kita butuh waktu tiga menit untuk sampai ke kapal kargo."

Xavier segera berdiri, memeriksa senjatanya. "Luna, pegangan pada tiang penyangga. Saya akan melakukan manuver tajam. Kevin, matikan semua sistem elektronik kita kecuali mesin. Kita akan melakukan silent run."

Dalam sekejap, perahu itu menjadi gelap total. Xavier memutar kemudi dengan gerakan agresif, membiarkan perahu mereka terombang-ambing oleh ombak besar untuk menyamarkan tanda panas mesin. Di belakang mereka, suara mesin kapal cepat musuh semakin menderu, membelah kesunyian malam seperti pemangsa yang mengendus darah. Luna memejamkan mata, memeluk foto ibunya erat-erat, bersiap untuk konfrontasi yang mungkin akan menjadi akhir dari pelarian ini.

Kapal kargo "The Black Albatross" tampak seperti raksasa besi yang sekarat di tengah laut. Berkarat, gelap, dan berbau minyak mentah. Namun bagi Luna, kapal ini adalah satu-satunya jembatan menuju Zurich. Saat mereka berhasil naik melalui tangga monyet di tengah ombak yang ganas, Luna disambut oleh aroma rokok murah dan wajah-wajah kasar para pelaut bayaran.

Xavier menyerahkan sekantong berlian mentah aset terakhir yang ia simpan dari Zurich kepada kapten kapal, seorang pria bertato dengan mata satu. Kesepakatan tercapai tanpa kata-kata. Mereka diberikan sebuah kabin sempit di dek paling bawah, dekat dengan ruang mesin yang berisik.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan satu jam.

Saat Luna mencoba memejamkan mata, ia mendengar suara langkah kaki yang terlalu teratur untuk ukuran seorang pelaut mabuk di koridor logam. Langkah itu ritmis, ringan, dan mematikan. Ia segera menyentuh lengan Xavier yang sedang berjaga di depan pintu. Xavier langsung waspada, meletakkan jari di bibirnya.

"Ada penyusup," bisik Xavier hampir tak terdengar.

Pintu kabin tiba-tiba meledak dari engselnya. Bukan oleh bahan peledak, tapi oleh tendangan yang sangat kuat. Sesosok pria dengan pakaian taktis hitam dan topeng karbon masuk, memegang pisau komando yang dilapisi racun. Xavier langsung menerjang, terjadi perkelahian jarak pendek yang brutal di ruang yang sangat sempit. Suara benturan daging dan logam bergema di dinding besi.

Luna tidak tinggal diam. Ia mengambil botol kaca berisi air minum dan menghantamkannya ke kepala penyusup itu saat Xavier sedang mengunci lengannya. Penyerang itu terhuyung, memberikan celah bagi Xavier untuk melumpuhkannya dengan satu pukulan telak ke saraf leher.

"Sophia mengirim pembunuh bayaran ke kapal ini?" Luna bertanya dengan napas tersengal.

Xavier memeriksa tubuh penyusup itu, mencari tanda pengenal. Ia menemukan sebuah tato kecil di balik telinga penyerang, sebuah simbol salib terbalik di dalam lingkaran.

"Ini bukan orang Sophia," bisik Xavier dengan wajah yang mendadak sangat pucat. "Ini adalah The Purifiers. Kelompok radikal yang percaya bahwa darah von Hess adalah kutukan yang harus dimurnikan dari dunia. Jika Sophia menginginkan darah Anda untuk kekuasaan, kelompok ini menginginkan kematian Anda untuk 'pembersihan' dunia."

Luna terjatuh duduk di tempat tidur yang keras. "Jadi... aku diburu oleh orang yang ingin memanfaatkanku, dan orang yang ingin melenyapkanku hanya karena aku ada?"

"Selamat datang di perang yang sesungguhnya, Luna," ucap Xavier sambil menatap ke luar lubang palka yang gelap. "Di Zurich nanti, musuh kita bukan lagi manusia yang bisa diajak bicara. Kita akan masuk ke dalam sarang monster yang menganggap hidup kita tidak lebih dari sekadar statistik di atas kertas."

Setelah malam yang penuh darah di atas kapal kargo, fajar mulai menyingsing di cakrawala, menyemburatkan warna jingga yang menyakitkan di atas permukaan laut yang tenang. Kapal "The Black Albatross" kini telah memasuki perairan internasional, menjauh dari jangkauan hukum Indonesia namun mendekat ke wilayah di mana pengaruh The Council jauh lebih absolut.

Luna berdiri di dek kapal, membiarkan angin laut yang kencang menghempas wajahnya yang lelah. Di sampingnya, Kevin sedang mencoba memperbaiki sistem komunikasi satelit mereka yang rusak.

"Luna," panggil Kevin lembut. "Aku berhasil memulihkan sebagian data dari paket yang dikirim tanpa nama itu. Ada pesan suara yang tersembunyi di dalam jam saku perak ayahmu."

Luna segera mengambil jam saku itu. Kevin menempelkan sebuah alat pendengar kecil ke permukaan logam jam tersebut. Suara statis terdengar sejenak, diikuti oleh suara pria yang sangat lembut, berwibawa, namun penuh dengan kesedihan.

"Aluna... putri kecilku... jika kamu mendengar ini, berarti aku sudah gagal melindungimu dari dunia luar. Maafkan ayah karena meninggalkanmu dalam kegelapan. Jangan mencari harta di Zurich untuk menjadi kaya. Carilah untuk menghentikan mereka. Kunci itu bukan hanya di darahmu, tapi di dalam jiwamu. Ingatlah lagu pengantar tidur yang sering ibu nyanyikan... itu adalah petunjuk terakhir."

Suara itu menghilang, meninggalkan Luna dalam tangisan yang tak bersuara. Ia mengingat lagu itu sebuah melodi sederhana tentang pegunungan salju yang ia kira hanyalah dongeng pengantar tidur di masa kecilnya yang miskin.

Xavier mendekat, meletakkan mantel tebal di bahu Luna. "Kita akan sampai di pelabuhan Marseille dalam dua hari, lalu kita akan menempuh jalur darat menuju Zurich. Anda siap?"

Luna menghapus air matanya, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang kini sekeras berlian. "Aku tidak hanya siap, Xavier. Aku haus akan jawaban. Jika mereka ingin darahku, mereka akan mendapatkannya... bersama dengan kehancuran yang sudah lama tertunda bagi mereka semua."

Di kejauhan, bayangan benua Eropa mulai terlihat samar-samar di balik kabut pagi. Perjalanan ini bukan lagi tentang melarikan diri dari masa lalu, melainkan tentang menantang masa depan yang sudah ditentukan oleh orang lain. Sang Ratu telah meninggalkan mahkotanya di Jakarta, dan kini ia datang ke Eropa sebagai badai yang akan meruntuhkan gunung-gunung salju yang kaku itu.

Babak baru telah dimulai! Luna menuju Zurich dengan membawa rahasia lagu pengantar tidur dan diburu oleh dua organisasi mematikan The Council dan The Purifiers. Mampukah Xavier menjaga Luna di tanah asing yang dingin? Dan apa sebenarnya arti dari "kunci di dalam jiwa" yang dikatakan ayahnya?

🔥 LIKEjika kalian merinding mendengar suara ayah Luna untuk pertama kalinya!

💬 KOMENApa menurut kalian isi lagu pengantar tidur itu? Apakah itu koordinat rahasia atau kode akses biometrik?

📢 SHAREpenutup Bab ini! Perjalanan menuju Zurich akan menjadi arc yang paling berbahaya dan penuh konspirasi!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!