"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skakmat Tanpa Ratu
Pukul 08.00 pagi, suasana di ruang rapat direksi Bagaskara Corp terasa mencekam. AC sentral yang dingin seolah tak mampu mendinginkan keringat dingin yang mengucur di dahi para manajer senior.
Di ujung meja panjang, William Bagaskara duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Di hadapannya, Rudi—asisten barunya—sedang membacakan laporan dengan suara gemetar.
"D-dan pagi ini, pukul 07.30, kami menerima surat resmi dari Bank Sentosa. Mereka... mereka membekukan fasilitas kredit untuk Proyek Green City di PIK 2. Alasannya adalah... 'evaluasi ulang risiko portofolio'."
Ruangan menjadi riuh. Bisik-bisik panik terdengar.
"Ini gila!" seru Direktur Keuangan. "Proyek itu sudah berjalan 40%. Kalau dana macet sekarang, kontraktor akan mogok kerja minggu depan. Kita bisa rugi ratusan miliar!"
William mengangkat satu jari. Keheningan langsung tercipta.
"Alasannya bukan risiko portofolio," kata William tenang. Matanya menatap tajam ke arah layar proyeksi. "Alasannya karena CEO Bank Sentosa adalah calon mertua yang gagal. Dan Komisaris Utama kita—ayah saya sendiri—sedang mencoba memberi saya pelajaran tentang 'kepatuhan'."
William tahu ini akan terjadi. Penolakannya terhadap Celine bukan tanpa konsekuensi. Ayahnya, Edward Bagaskara, sedang menggunakan koneksinya untuk mencekik arus kas perusahaan, memaksa William untuk datang merangkak dan memohon ampun (serta menerima perjodohan itu).
Ponsel William bergetar. Sebuah pesan masuk dari ayahnya.
Pesan: "Dingin di luar sana, Nak? Pintu rumah selalu terbuka kalau kau mau berubah pikiran soal Celine."
William tersenyum miring. Senyum yang membuat nyali Rudi menciut. Itu bukan senyum kekalahan. Itu senyum serigala yang baru saja melihat mangsa.
"Pak Rudi," panggil William.
"Y-ya, Pak?"
"Siapkan pesawat pribadi. Kita ke Singapura jam sepuluh nanti. Dan hubungi Mr. Tanaka dari SoftBank Tokyo. Bilang saya setuju dengan tawaran makan siangnya yang tertunda bulan lalu."
"Tapi Pak... Bank Sentosa adalah bank lokal terbesar. Kalau kita di-blacklist mereka, bank lokal lain akan takut memberi pinjaman."
William berdiri, mengancingkan jasnya dengan gerakan elegan.
"Siapa bilang kita butuh uang lokal?" William menatap seluruh direksinya. "Ayah saya berpikir dia bisa mematikan keran air saya. Dia lupa bahwa saya bisa menggali samudra."
Tiga hari berikutnya adalah maraton bisnis yang brutal.
William tidak tidur. Ia terbang ke Singapura, lalu melakukan video conference dengan Zurich, dan berakhir dengan pertemuan tertutup di Tokyo. Ia menggunakan taktik negosiasi agresif yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.
Ia tidak menjual proposal dengan memohon. Ia menjual visi. Ia mempresentasikan data pertumbuhan Bagaskara Corp di bawah kepemimpinannya—yang jauh melampaui era ayahnya. Ia meyakinkan investor asing bahwa membuang Bank Sentosa justru adalah langkah strategis untuk lepas dari "bisnis dinasti" yang kuno.
Di sisi lain, di Jakarta, Edward Bagaskara duduk tenang di klub golfnya, yakin bahwa William akan segera menelepon dan menyerah.
Namun, telepon itu tidak pernah datang.
Hari kelima. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa.
Tuan Edward Bagaskara hadir sebagai pemegang saham mayoritas. Ia duduk di kursi kehormatan dengan wajah penuh kemenangan. Ia yakin hari ini William akan mengumumkan penundaan proyek dan meminta bantuan keluarga.
Pintu ruangan terbuka. William masuk.
Penampilannya rapi, segar, dan... berbahaya. Tidak ada tanda-tanda kelelahan atau kekalahan.
"Selamat pagi, para pemegang saham," sapa William percaya diri.
"Langsung saja, William," potong Edward. "Jelaskan kenapa Proyek Green City mangkrak. Dan jelaskan solusimu—yang saya asumsikan melibatkan permintaan maaf kepada Bank Sentosa."
William menatap ayahnya. Tatapan itu bukan tatapan seorang anak, melainkan tatapan seorang CEO kepada kompetitornya.
"Proyek Green City tidak mangkrak, Tuan Komisaris," jawab William.
Ia memberi isyarat pada Rudi. Layar besar di belakangnya menyala. Menampilkan logo sebuah konsorsium investasi global dari Swiss dan Jepang.
"Dengan bangga saya umumkan bahwa pagi ini, dana segar sebesar 2 triliun rupiah telah masuk ke rekening escrow perusahaan. Kita tidak lagi bekerja sama dengan Bank Sentosa."
Suara kaget memenuhi ruangan. Edward terbelalak, cerutunya nyaris jatuh.
"Kita mendapatkan pendanaan Seri-B dari Global Ventures Zurich dan Tanaka Holdings," lanjut William lantang. "Bunganya 2% lebih rendah dari Bank Sentosa. Tenornya lebih panjang. Dan yang terpenting... tidak ada syarat politik atau perjodohan yang menyertainya."
Wajah Edward memerah padam. Ia tidak menyangka William punya koneksi sejauh itu. Ia meremehkan anaknya sendiri.
"Ini... ini berisiko!" bantah Edward. "Asing bisa mengambil alih aset kita!"
"Perjanjiannya non-equity, Ayah," balas William tenang. "Saham Bagaskara tetap aman. Kendali tetap di tangan saya. Saya baru saja menyelamatkan perusahaan ini dari ketergantungan pada bank lokal yang tidak profesional yang mencampuradukkan urusan bisnis dan pribadi."
Para pemegang saham lain mulai bertepuk tangan. Awalnya ragu, lalu semakin keras. Mereka peduli pada profit, dan William baru saja memberikan mereka profit yang lebih besar.
William berjalan mendekati ayahnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit, berbisik hanya agar didengar oleh Edward.
"Pelajaran selesai, Yah. Jangan pernah mencoba menyandera perusahaan saya lagi hanya karena ego Ayah terluka. Saya bukan boneka. Saya William Bagaskara."
Edward terdiam seribu bahasa. Ia melihat sosok di depannya bukan lagi putranya yang penurut, melainkan monster bisnis yang ia ciptakan sendiri.
Malam harinya, di ruang kerja CEO lantai 45.
Suasana sepi. William berdiri menghadap jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta. Di tangannya ada segelas whisky perayaan—yang diminumnya sendiri.
Ia menang. Ia berhasil mengalahkan ayahnya, menolak perjodohan, dan mengamankan perusahaannya.
Namun, kemenangan ini terasa sunyi.
Biasanya, di momen seperti ini, ia akan menoleh ke arah sofa sudut dan melihat Adinda duduk siaga. Ia akan pamer pada gadis itu, "Lihat, saya jenius kan?" dan Adinda akan menjawab dengan wajah datar, "Hebat, Pak. Tapi saham Bapak tidak bisa menangkis peluru."
William merindukan komentar pedas itu. Ia merindukan realitas yang dibawa Adinda.
William mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri foto yang tersembunyi. Menatap foto candid punggung Adinda saat gadis itu berjalan keluar dari ruangannya tiga bulan lalu.
"Aku berhasil, Dinda," bisik William pada kaca jendela yang dingin. "Aku berhasil berdiri di atas kakiku sendiri, seperti yang kau lakukan."
William menyadari satu hal. Keberaniannya melawan ayahnya hari ini bukan datang dari ijazah bisnisnya. Keberanian itu menular dari Adinda. Melihat gadis itu berjuang sendirian di dunia yang keras, memberikan William kekuatan untuk tidak menyerah pada intimidasi siapa pun.
"Kau perisai hatiku, bahkan saat kau tidak ada di sini," gumam William.
Pintu ruangan diketuk pelan. Rudi masuk.
"Pak, mobil sudah siap di lobi. Bapak mau langsung pulang ke penthouse?"
William berbalik, meletakkan gelasnya. Topeng dinginnya kembali terpasang.
"Ya, Rudi. Kita pulang. Besok ada perang lain yang harus kita menangkan."
William berjalan keluar dengan langkah tegap. Ia mungkin kesepian, tapi ia tidak lagi lemah. Ia akan terus membangun kerajaannya, membuatnya begitu tinggi dan kuat, hingga suatu hari nanti... ia cukup kuat untuk menjemput ratunya kembali tanpa rasa takut.
Bersambung...
terimakasih