Saat keadilan sudah tumpul, saat hukum tak lagi mampu bekerja, maka dia akan menciptakan keadilannya sendiri.
Dikhianati, diusir dari rumah sendiri, hidupnya yang berat bertambah berat ketika ujian menimpa anak semata wayangnya.
Viona mencari keadilan, tapi hukum tak mampu berbicara. Ia diam seribu bahasa, menutup mata dan telinga rapat-rapat.
Viona tak memerlukan mereka untuk menghukum orang-orang jahat. Dia menghukum dengan caranya sendiri.
Bagaimana kisah balas dendam Viona, seorang ibu tunggal yang memiliki identitas tersembunyi itu?
Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Plak!
Ghavin berdiri dengan murka, menampar keras wajah Dicky yang sudah tidak tahu sopan santun terhadap Viona. Ibu Merlia itu tersenyum dingin, masih duduk manis di tempatnya.
"Kenapa Paman menamparku!" protes Dicky tak terima.
"Kau sudah lancang. Kau tahu siapa dia? Jangan menuduhnya sembarangan tanpa bukti. Apa yang kau miliki untuk membuktikan tuduhan mu itu?" ucap Ghavin menggebu penuh emosi.
Dicky menggeram dalam diam, melirik Viona yang tengah menikmati kopi susu di cangkirnya tanpa peduli apapun. Tangannya mengepal, hati diliputi amarah dan kebencian. Dia yakin wanita yang ikut balapan tadi adalah sosok Viona.
"Aku memang tidak memiliki bukti, tapi aku yakin dia yang datang untuk balapan tadi. Entah mengapa dia bisa sampai di sini lebih cepat," ucap Dicky sembari melirik Viona tajam.
"Kau balapan?" desis Ghavin dengan mata memicing tajam.
Emosi Dicky sudah mencapai ubun-ubun sehingga tak mendengar apa yang ditanyakan Ghavin. Ia tak menyadari riak wajah Ghavin sudah berubah. Kulitnya memerah, mata menyala penuh amarah. Dengan pernyataan itu dia yakin Dicky melanggar perintahnya untuk tidak keluar malam itu.
"Aku tidak pergi ke manapun. Pamanmu tahu kapan aku ada di sini. Aku tidak perlu menjelaskan itu kepadamu, bukan?" ucap Viona mendelik malas.
Dicky melirik, bayangan tubuh Diaz yang hangus sebagian semakin membuatnya tak dapat menahan emosi.
"Aku tidak peduli dengan ucapanmu. Kau harus bertanggungjawab! Kau sudah membunuh temanku. Apa kau tahu dia punya keluarga? Dia punya ibu dan adik, tapi kau dengan tega membunuhnya!" geram Dicky menuding Viona yang tampak biasa saja.
Perbuatan kalian bahkan jauh lebih kejam. Kalian merusak kehormatan putriku, menghancurkan masa depannya. Lupakah kau apa yang sudah kau perbuat terhadap anakku?
Viona mengumpat di dalam hati, melirik sadis pada Dicky yang dikuasai emosi.
"Bercermin lah! Lihat dirimu sendiri, apa kau tidak pernah melakukan kejahatan terhadap seseorang? Setelah itu kau datang kembali padaku, dan hakimi aku dengan tuduhan itu!" ujar Viona sarkas. Ia bangkit dan pergi begitu saja.
Dicky membeku, jantungnya berdebar mendengar ucapan Viona. Mungkinkah dia tahu sesuatu? Lalu, bayangan kematian dua orang yang berdekatan menyadarkannya akan sesuatu. Aditya dan Diaz mati secara mengenaskan. Mereka pelaku kejahatan yang merusak kehormatan seorang gadis.
Tidak! Apa berikutnya adalah aku?
Dicky mulai bergetar, ketakutan merundung hati mengingat satu per satu dari mereka telah mati. Ia mendongak, menatap sang paman yang masih menahan diri agar tidak meledak.
Ghavin mencengkeram kerah pakaian Dicky, menyeretnya pergi dari cafe tersebut. Niatnya ingin berbincang ringan dengan Viona, hancur karena kedatangannya. Ia memberikan selembar uang dengan nominal besar sebelum menyeret Dicky keluar. Malu terhadap Viona.
Dengan geram Ghavin melempar tubuh Dicky hingga menabrak badan mobil.
"Masuk! Beraninya kau melanggar perintahku!' geram Ghavin seraya berjalan cepat ke sisi kemudi.
Gawat! Aku lupa jika Paman melarang keluar malam ini. Bagaimana caraku menghadapinya?
Dicky bergumam cemas, menggigit bibir berpikir keras mencari alasan untuk lolos dari hukuman Ghavin. Ia melirik pamannya yang fokus mengemudi meski wajah itu terlihat tegang dan keras. Ingin berbicara, rasanya tak mungkin. Ghavin akan meledak dan hal tersebut sangat membahayakan.
Jadilah ia memilih diam sampai mobil itu tiba di pelataran rumahnya, bukan kediaman Ghavin. Dicky membelalak, jantungnya berdebar semakin kencang tatkala melihat mobil kedua orang tuanya terparkir di halaman.
Gawat, gawat, gawat! Hari ini aku benar-benar tidak akan selamat. Bagaimana ini? Dicky bergumam cemas, bergetar tubuhnya mengingat hukuman yang akan dia terima.
"Paman! Apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah Paman saja?" ucap Dicky tersenyum takut saat bersitatap dengan Ghavin.
"Mereka harus tahu seperti apa kelakuan anaknya. Aku sudah lelah menutupi kenakalan mu dari mereka. Saatnya kau menjadi laki-laki dan hadapi masalahmu seorang diri!" tegas Ghavin seraya membuka pintu dan turun.
Ia berjalan memutar, menarik pintu mobil di sisi Dicky. Namun, pemuda itu enggan turun, sehingga terjadi tarik menarik antara mereka. Ghavin menghela napas, mengerahkan seluruh tenaga membuka pintu tersebut.
Tubuh Dicky terlempar ke luar, tersungkur pada sebuah tanaman bunga yang ada di halaman. Malam itu, Ghavin benar-benar tidak berbelas kasih kepada keponakannya. Satu yang dia khawatirkan, masalah yang dibuat Dicky akan mengancam nyawanya di luar sana.
"Tidak, Paman! Ampun! Aku akan menuruti perintah Paman, aku berjanji. Kumohon ampuni aku kali ini," mohon Dicky sembari menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
Ghavin menggeleng, menarik tangan itu dan kembali menyeret Dicky masuk ke rumahnya. Secara kebetulan, kedua orang Dicky ada di ruang tamu sedang membahas bisnis mereka.
Prang!
Bugh!
Mereka tersentak, mendengar bunyi barang pecah dan benda terjatuh keras.
"Ghavin?"
ok lah thor.. maaf lahir batin jg ya. 🙏🏼🥰