"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kehancurannya. Bisakah ia tetap mencintaiku setelah tahu akulah penghancurnya?"
Hania, pewaris tunggal keluarga kaya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Meskipun seluruh sumber daya dan koneksi dikerahkan untuk mencarinya, Hania tetap tak ditemukan. Tidak ada yang tahu, ia menyamar sebagai perawat sederhana untuk merawat Ziyo, seorang pria buta dan lumpuh yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
Di tengah kebersamaan, cinta diam-diam tumbuh di hati mereka. Namun, Hania menyimpan rahasia besar yang tak termaafkan, ia adalah alasan Ziyo kehilangan penglihatannya dan kemampuannya untuk berjalan. Saat kebenaran terungkap, apakah cinta mampu mengalahkan rasa benci? Ataukah Ziyo akan membalas dendam pada wanita yang telah menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Seperti Dimarahi Suami
Jantungnya berdetak lebih cepat. Jika mereka tahu Ziyo sedang menjalani terapi di rumah sakit ini, apakah mereka datang untuk menemuinya? Atau mungkin... ada alasan lain?
Perasaan gelisah menyelimutinya. Ia tahu betul siapa Bryan. Pria itu bukan tipe yang akan datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk seseorang, apalagi Ziyo—pria yang dulu seharusnya menjadi tunangan Clara.
Lalu, jika bukan karena Ziyo… apa alasan mereka ada di sini?
Hania mengeratkan genggamannya. Rasa penasaran dan kecemasan bercampur dalam dirinya. Apa pun alasannya, ia harus mencari tahu.
Apa yang mereka lakukan di sini?
Hania mengikuti keduanya, menjaga jarak agar tidak ketahuan. Matanya terus mengawasi mereka, memerhatikan bagaimana Bryan menggenggam lengan Clara dengan erat—seolah memastikan wanita itu tidak pergi ke mana-mana.
Ada sesuatu di sini.
Sesuatu yang tidak biasa.
Langkah mereka berhenti di depan salah satu ruangan rumah sakit—poli kandungan.
Mata Hania membulat.
Poli kandungan?
Clara dan Bryan masuk ke dalam tanpa ragu.
Dada Hania terasa sesak. Tangannya mengepal erat, pikirannya berputar liar.
Clara datang ke poli kandungan… dengan Bryan?
Kemungkinan itu menghantamnya begitu keras, membuatnya sulit bernapas. Ia tahu Clara adalah mantan tunangan Ziyo, dan Bryan adalah pria yang dulu ia cintai. Jadi… jika mereka ada di poli kandungan bersama-sama, itu hanya bisa berarti satu hal.
Hania berdiri terpaku di tempatnya, hatinya berdenyut nyeri.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi perasaan gelisah merayapi tubuhnya. Semua ini terasa salah.
Namun, sekarang bukan waktunya untuk mencari tahu.
Menarik napas panjang, Hania akhirnya memilih untuk melangkah pergi. Ziyo sedang menunggunya.
Bagaimanapun juga, Ziyo adalah prioritasnya sekarang.
Hania bergegas menuju ruang terapi. Saat dokter terapis melihat Hania masuk, ia memberikan anggukan kecil sebelum berkata, "Terapi Tuan Ziyo sudah selesai. Saya sudah menuliskan resep obatnya, nanti bisa Anda tebus di apotek."
Hania mengangguk, menerima lembar resep itu. "Baik, terima kasih, Dok."
Setelah dokter keluar, Hania menoleh ke arah Ziyo—dan seketika langkahnya terhenti.
Pria itu duduk di kursi roda dengan ekspresi wajah yang… sulit ia baca.
Matanya yang kosong menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Hania menelan ludah.
Kenapa suasana di ruangan ini terasa berbeda?
Ia tidak bisa menjelaskan secara pasti, tetapi Ziyo terlihat tidak senang.
Apakah karena ia pergi terlalu lama?
Atau… ada alasan lain?
Hania mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, menunggu. Ia tahu Ziyo akan berbicara lebih dulu.
Dan benar saja—sesaat kemudian, suara rendah pria itu terdengar.
"Kau pergi cukup lama."
Bukan pertanyaan. Bukan sapaan.
Lebih seperti… pernyataan yang menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang membuat Hania merasakan hawa dingin yang berbeda dari sebelumnya.
Hania terdiam sejenak.
Apa Ziyo marah?
"Maaf, saya hanya keluar sebentar," jawabnya hati-hati, melangkah mendekat.
"Sebentar?" Ziyo mengulang dengan nada rendah. "Aku sudah menunggu cukup lama."
Jari-jari Hania mencengkeram ujung bajunya. Kenapa rasanya seperti sedang dimarahi oleh suami yang istrinya pulang terlambat?
"Saya tidak bermaksud lama."
Ziyo tidak langsung merespons, tapi Hania bisa merasakan atmosfer di antara mereka berubah.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya pria itu mendesah pelan. "Lain kali, beri tahu aku kalau kau harus pergi lama."
Hania mengerjap, tidak menyangka Ziyo akan mengatakan hal seperti itu.
"Aku hanya… tidak suka menunggu terlalu lama," lanjut Ziyo, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Hania menatapnya tanpa berkedip.
Apa ini?
Apa ini artinya Ziyo mulai bergantung padanya?
Perasaan hangat menjalar di dada Hania. Ia menggenggam erat ujung bajunya, mencoba menekan senyuman kecil yang hampir terbentuk.
Ziyo memang belum menyadari perasaannya sendiri. Tapi tanpa sadar, ia sudah mulai menginginkannya tetap di sisi.
Hania menggigit bibirnya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Saya akan pergi sebentar untuk menebus obat Anda."
Ia berusaha terdengar biasa saja, meskipun ada kegelisahan yang masih menggantung di udara.
Ziyo tidak langsung merespons. Pria itu tetap diam, seolah mempertimbangkan sesuatu.
Hania menarik napas pelan, lalu menambahkan, "Anda tetap di sini saja, ya? Supaya lebih nyaman. Lagipula, kalau keluar, Anda pasti akan terganggu dengan keramaian di luar."
Kali ini, mata Ziyo yang buta itu sedikit mengarah padanya, meski tetap kosong. Rahangnya mengencang sebelum akhirnya ia berucap, "Cepat kembali."
Hania menelan ludah. Ia tahu, meski Ziyo tidak mengatakannya secara langsung, pria itu jelas tidak suka ditinggalkan terlalu lama.
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Hania segera melangkah pergi.
Namun, baru beberapa langkah di luar ruangan, ia menghela napas panjang.
Kenapa rasanya seperti ada yang mengikatnya setiap kali harus menjauh dari Ziyo?
***
Clara duduk di atas ranjang pemeriksaan dengan jantung berdebar kencang. Tangannya mencengkeram ujung gaunnya dengan gugup. Di sampingnya, Bryan berdiri dengan wajah tegang, menunggu dokter menyampaikan hasilnya.
Dokter yang duduk di meja akhirnya menatap keduanya, lalu tersenyum tipis sebelum membuka suara.
"Selamat, Clara. Kamu hamil."
Seakan dunia berhenti berputar, Clara membelalakkan mata, tubuhnya menegang seketika. "A-apa?"
"Hamil?" Bryan juga ikut terkejut, meskipun hanya sepersekian detik. Setelahnya, ekspresi wajahnya berubah, bibirnya perlahan tertarik membentuk senyum puas.
Sementara itu, Clara merasakan dadanya sesak. Ini bukan sesuatu yang ia harapkan, setidaknya belum sekarang. Ia menoleh ke arah Bryan, mencoba mencari reaksi lain di wajah pria itu, tetapi yang ia lihat hanyalah tatapan tajam yang sulit diartikan.
"Kamu dengar sendiri, 'kan?" Bryan berujar pelan, nadanya terdengar... puas. Ia lalu berjongkok di depan Clara, menggenggam tangannya erat. "Ini luar biasa, Clara. Kita akan menjadi orang tua."
Clara menelan ludah. Matanya bergetar. Ia tidak tahu harus merasa senang atau justru takut.
"Aku... aku butuh waktu." suaranya bergetar, terlalu banyak yang berkecamuk dalam pikirannya.
Namun, Bryan menggeleng tegas. "Tidak ada waktu untuk ragu, Clara. Ini sudah takdir kita. Kita harus menikah."
Clara merasa semakin sulit bernapas. Ini terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba. Tapi melihat tatapan Bryan yang begitu intens, ia tahu—pria ini tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
***
Setelah menebus obat, Hania melangkah cepat di lorong rumah sakit, pikirannya masih dipenuhi bayangan Bryan dan Clara yang masuk ke poli kandungan.
Ia mencoba menepis rasa penasaran itu. Bukan urusannya. Ia harus kembali ke Ziyo. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat seseorang menabraknya dari samping.
"Aduh!"
Seorang perawat menjatuhkan map berisi dokumen-dokumen medis. Kertas-kertas berserakan di lantai. Hania langsung berjongkok, refleks membantu.
"Maaf, saya tidak melihat jalan," ucap perawat itu canggung sambil mengumpulkan berkasnya dengan cepat.
Hania ikut membantu mengambil beberapa lembar yang tercecer, tetapi tiba-tiba matanya membeku pada satu nama yang familiar.
— Clara Aurelia —
— Kehamilan usia 6 minggu —
Dada Hania terasa menghantam sesuatu yang dingin. Tangannya menegang, matanya terpaku pada tulisan itu.
Clara… hamil?
Jadi, itulah alasan Clara dan Bryan datang ke poli kandungan?
Hania segera menyerahkan kertas itu kepada perawat, tapi dalam kepalanya, pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa henti.
Tangannya mengepal. Ia tidak tahu harus merasa bagaimana. Marah? Kecewa? Atau seharusnya tidak peduli?
Tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak.
Bryan dulu mengabaikannya, meninggalkannya. Dan sekarang, Clara—mantan tunangan Ziyo—sedang mengandung anak pria itu?
Ini bukan lagi hanya tentang masa lalu, ini bisa berdampak pada Ziyo juga.
Menelan rasa gemetar di dadanya, Hania menghela napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya kembali ke ruang terapi. Tapi kali ini, ia tahu ia tidak bisa mengabaikan semuanya begitu saja.
...🔸"Kita seringkali adalah misteri bagi diri sendiri, tetapi bukan bagi orang lain. Sikap dan tingkah laku adalah jendela yang tak sengaja kita buka, memperlihatkan perasaan yang kita sembunyikan di balik tirai kesadaran."🔸...
...🍁💦🍁...
.
To be continued
Tinggal bersama kakak ziyo dan hania...
Diva dilaporkan ke polisi...
Demi ambisimu ingin menguasai perusahaan Clara tega selingkuh dengan Clara...