Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Esok harinya, Adit duduk di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponsel dengan sorot mata penuh perhitungan. Jika ingin Eka kembali, dia harus memulainya dari seseorang yang paling bisa mempengaruhinya—ayahnya.
Tanpa ragu, ia menekan nomor yang masih ia hafal di luar kepala.
“Hallo,” suara berat Suyoto terdengar di seberang sana, penuh kehangatan yang tak menyadari apa pun yang sebenarnya terjadi.
Adit tersenyum tipis. Sepertinya, Pak Suyoto belum mendengar kabar apa-apa. Ini akan lebih mudah.
“Pak, ini Adit,” sapanya dengan suara dibuat seramah mungkin. “Apa kabar?”
“Diiit! Wah, sudah lama sekali nggak dengar kabar kamu!” suara Suyoto terdengar antusias. “Kamu ke mana aja? Aku ini nungguin kamu datang, loh! Warga di sini juga masih tanya-tanya, kapan kamu dan Eka mau ngadain resepsi di kampung?”
Adit terkekeh pelan, menyembunyikan keterkejutannya. Jadi, Pak Suyoto masih mengira dia dan Eka baik-baik saja? Ini lebih menarik dari yang ia bayangkan.
“Iya, Pak. Saya juga rindu kampung,” ujarnya, menambahkan nada penuh kerinduan yang dibuat-buat. “Makanya, saya ingin ngobrol sama Bapak. Sebenarnya, saya juga pengin segera mewujudkan itu. Saya sadar, pasti Eka juga merasa nggak enak sama Bapak dan warga, ya?”
“Ya jelas! Masa pernikahan kalian cuma catatan di kertas doang? Harus ada pestanya, Dit. Biar orang-orang tahu, Eka itu udah jadi istri yang sah!”
Adit mengangguk kecil meskipun Suyoto tak bisa melihatnya. Ini berjalan lebih mudah dari yang ia perkirakan.
“Iya, Pak. Saya juga ingin menebus waktu yang terlewat,” lanjutnya dengan suara yang terdengar seolah tulus. “Tapi saya butuh bantuan Bapak.”
“Bantuan? Bantuan apa, Dit?” tanya Suyoto dengan nada penasaran.
“Gini, Pak,” Adit mengatur nada suaranya agar terdengar meyakinkan. “Saya ingin memberikan kejutan buat Eka. Saya ingin mempersiapkan resepsi ini diam-diam, jadi kalau bisa, Bapak telepon Eka dan suruh dia pulang ke kampung dulu.”
Namun, alih-alih langsung menyetujui, Suyoto justru terdengar sedikit bingung. “Loh, kemarin Eka bilang hari ini dia memang mau pulang. Katanya ada yang ingin dia bicarakan.”
Adit terdiam sejenak. Eka akan pulang?
Jangan-jangan dia membawa Kai dan menjelaskan semuanya?
Suyoto melanjutkan, kini suaranya terdengar lebih curiga. “Kalian ini kenapa? Sama-sama suami istri, tapi punya pemikiran berbeda kayak gini? Ada apa sebenarnya?”
Adit mengepalkan tangannya, menahan kesal. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya—bahwa ia telah membuang Eka dan sekarang ingin mengambilnya kembali, meskipun harus menjadikannya madu.
Tidak, itu terlalu berisiko.
Maka, dengan cepat, ia merangkai kebohongan lain.
“Oh, itu…” Adit tertawa kecil, terdengar santai. “Eka nggak cerita ke saya kalau dia mau pulang hari ini. Tapi nggak apa-apa, mungkin memang dia juga sudah kangen sama Bapak.”
“Ya, mungkin,” gumam Suyoto, meski nada suaranya masih menyimpan keraguan. “Tapi kalau kalian ada masalah, Dit, jangan didiemin. Istri itu harus dijaga, loh.”
Adit menarik napas, menekan perasaan sebal yang hampir muncul. “Iya, Pak. Makanya saya ingin buat kejutan buat dia.”
Suyoto terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas. “Ya sudah, nanti kalau Eka sampai rumah, biar saya bilangin. Kamu jangan lama-lama, ya.”
“Tentu, Pak. Terima kasih.”
Begitu panggilan berakhir, Adit menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang, memijat pelipisnya pelan. Eka tidak boleh bicara dulu. Aku harus lebih dulu sampai di sana!
Tanpa buang waktu, Adit segera beranjak, merapikan diri, lalu mengambil kunci mobil.
Saat ia melewati ruang tengah, Nadin yang melihatnya pergi buru-buru langsung curiga.
"Mas Adit mau ke mana?" tanyanya dengan nada tajam.
Yuli, yang kebetulan sedang duduk di sofa, ikut menyahut sebelum Adit sempat menjawab.
“Kamu itu sebagai istri gimana, sih? Suami pergi tapi kamu nggak tahu? Makanya, jadi istri tuh jangan cuma makan, tidur. Mentang-mentang lagi hamil!" sindir Yuli dengan nada mengejek.
Nadin mengangkat alisnya, menatap ibu mertuanya dengan tatapan tajam.
"Bu," ujarnya santai, tapi menusuk. "Aku ini hamil anak Mas Adit, keturunan Ibu. Jadi wajar kalau aku tinggal makan dan tidur. Di rumah ini, aku sekarang yang jadi ratunya. Sebagai ibu mertua, harusnya lebih pengertian."
Yuli terdiam sejenak, wajahnya berubah tegang. Sementara itu, Adit yang sudah setengah jalan menuju pintu hanya mengembuskan napas pelan.
Ini bukan waktunya berurusan dengan mereka. Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu dan melangkah pergi. Mobilnya melaju kencang.
Yuli menyeringai tipis saat melihat itu. "Suamimu sepertinya sudah tidak peduli padamu," ujarnya dengan nada menggoda.
"Ibu, jangan jadi kompor!" protes Nadin, mendengus kesal.
Yuli terkekeh kecil, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, namun sarat makna. "Enggak kok. Tapi, Nad, hari ini ibu harus ke apotek untuk ambil obat nenek. Rina juga ikut, sekalian bElanja keperluan dapur di pasar. Kamu jaga rumah, ya?"
Nadin menatap ibu mertuanya dengan curiga. Nada halus itu justru membuatnya waspada. Ia tahu betul, ibunya tidak pernah berbicara tanpa maksud tersembunyi.
***
Kakek Harjunot baru saja tiba di rumah Kai. Langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu ketika matanya menangkap pemandangan yang jarang—bahkan mungkin belum pernah—ia lihat sebelumnya. Cucunya, yang selama ini dikenal dingin dan tak acuh pada lawan jenis, kini tengah memeluk erat calon cucu mantunya.
Senyum lebar terukir di wajah lelaki tua itu. Sejak dulu, Kai selalu menolak setiap wanita yang dijodohkan dengannya, sering kali dengan alasan yang tak masuk akal. Namun, kali ini berbeda. Ada sesuatu dalam cara Kai merangkul Eka—sesuatu yang tak bisa dipalsukan.
Semakin dekat hari pernikahan mereka, semakin banyak yang harus ia persiapkan, termasuk bertemu dengan orang tua Eka. Tapi sebelum itu, ada hal lain yang menarik perhatiannya. Bukankah hari ini seharusnya Kai dan Eka sudah berangkat ke kampung halaman gadis itu? Namun, alih-alih sibuk berkemas, keduanya justru masih terlelap dalam tidur nyenyak.
"Kai, bangun!" Suara lantang Kakek Harjunot menggema di seluruh ruangan, membuat dua sosok di atas ranjang tersentak kaget.
Eka langsung melompat mundur, wajahnya memanas seperti kepiting rebus. Ia buru-buru merapikan rambut yang berantakan, sementara Kai hanya mengerjapkan mata dengan malas, tampak belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"K-Kakek?" suara Eka bergetar, nyaris berbisik, seolah baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang.
Sementara itu, Kai menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dengan ekspresi datar, seolah tak terganggu sedikit pun. Ia melirik jam di dinding, lalu mendesah pelan. "Masih pagi, Kek."
"Pagi apanya? Kamu lupa kalau hari ini harus ke kampung Eka?" Kakek Harjunot berkacak pinggang, tatapannya tajam namun penuh arti.
Eka menunduk semakin dalam, jemarinya meremas ujung pakaian dengan gelisah. Sementara itu, Kai tetap duduk dengan ekspresi datar, seolah tak terganggu sedikit pun. Mungkin lelaki itu masih marah dan memang tak ingin ikut pulang bersamanya.
Akhirnya, dengan suara lirih, Eka memberanikan diri, "Kek, sebenarnya aku dan Kai—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara Kai memotong tegas, nadanya dingin.
"Biar aku saja yang bicara pada Kakek."
Eka sontak menoleh, jantungnya berdebar kencang. Kakek Harjunot pun menaikkan alis, menunggu dengan penuh perhatian.