Novel kesebelas💚
Nabila Althafunisa tiba-tiba saja harus menikah dengan seorang pria bernama Dzaki Elrumi Adyatama, seorang pria yang usianya 10 tahun lebih muda darinya yang masih berstatus mahasiswa di usianya yang sudah menginjak 25 tahun. Dzaki tiba-tiba saja ada di kamar hotel yang Nabila tempati saat Nabila menghadiri pernikahan sahabatnya yang diadakan di hotel tersebut.
Anehnya, saat mereka akan dinikahkan, Dzaki sama sekali tidak keberatan, ia malah terlihat senang harus menikahi Nabila. Padahal wanita yang akan dinikahinya itu adalah seorang janda yang memiliki satu putra yang baru saja menjadi mahasiswa sama seperti dirinya.
Siapakah Dzaki sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Akal-akalan Dzaki
Dzaki bersama Nabila duduk di salah satu tempat lesehan di restoran itu. Mereka menikmati makan siang bersama. Sambil makan, mereka mengobrol banyak hal.
"Oh iya, Yang, tadi aku ketemu sama Hazel di sekre," Dzaki mengumumkan.
"Terus ngobrol apa aja, Mas?"
Dzaki pun menceritakan semuanya pada Nabila.
"Jadi perempuan yang kemarin dateng ke rumah Mas, itu Leoni?" tanya Nabila tak percaya bahwa perempuan yang terlihat sedikit 'ofensif' terhadap sang suami adalah kekasih anaknya sendiri.
"Iya. Hazel cerita sama kamu kalau dia punya pacar?"
"Iya, Mas. Hazel selalu cerita tentang apapun sama aku. Cuma aku memang belum pernah lihat Leoni itu yang mana. Jadi menurut Mas gimana? Apa Leoni itu baik?"
"Aku sih saranin ke Hazel buat putus aja. Hazel terlalu baik, Yang. Leoni gak akan cocok juga sama kamu. "
Nabila terlihat khawatir. "Iya sih, Mas. Waktu tahu Leoni gak berhijab aja, aku udah gak setuju, Mas. Aku sebenernya gak setuju Hazel pacaran. Tapi aku juga gak enak kalau harus ngelarang Hazel. Jadi aku cuma bisa mantau dia dan ngingetin aja supaya dia gak kebablasan."
"Lebih baik Hazel dilarang aja sekalian, Yang. Kecuali kamu udah ngizinin dia buat nikah muda, itu akan lebih baik. Walaupun kamu mantau dan selalu ngingetin dia, yang namanya syaiton itu gak akan diam gitu aja."
"Mas bener. Gimana bagusnya ya, Mas?" tanya Nabila bingung. "Kalau aku larang tiba-tiba, kayaknya malah Hazel nanti gak terbuka lagi sama aku nantinya."
"Ya udah kamu gak usah terlalu mikirin itu. Tadi pas aku sama Hazel ngobrol kelihatan kok dia udah mulai terbuka dan percaya sama aku. Dia bahkan gak bilang apa-apa lagi pas aku saranin dia buat putus sama Leoni. Dia kayak yang setuju sama saran aku, tapi masih bingung gitu. Kamu tenang aja, di kampus aku pasti pantau dia. Lagian aku percaya sama Hazel. Dia bisa membentengi diri. Dia bahkan ngajakin aku buat sholat dhuha sebelum kita ke fakultas masing-masing tadi."
Nabila sedikit lega. "Iya, Mas. Alhamdulillah. Tolong ya, Mas, titip Hazel kalau di kampus."
"Kamu tenang aja. Aku sama Hazel bakal jadi bestie. Dan aku kagum sama kamu, Yang. Kamu berhasil mendidik Hazel. Padahal kamu cuma sendirian, single parent."
Nabila hanya tersenyum simpul. "Bukan karena aku, Mas. Allah yang udah selalu jaga aku sama Hazel selama ini."
"Aku juga akan makin deketin diri aku sama Allah. Aku takut Allah misahin kita karena aku gak sepadan buat kamu."
Nabila terkekeh gemas. "Aamiin. Semoga suami aku semakin sholeh."
Makanan mereka pun habis. Tepat saat itu datang pelayan membawakan jus melon. "Mas pesen jus melon?"
"Iya. Kesukaan kamu, 'kan?"
"Makasih, Mas." Nabila senang, bahkan hal-hal sepele seperti ini Dzaki begitu peka. Nabila tak pernah mengatakan bahwa ia memang menyukai buah berwarna hijau itu. Tapi ternyata Dzaki memperhatikan hal sekecil itu dari Nabila.
"Yang, barang-barang yang udah kita beli udah ditata di rumah kita, loh. Maaf ya aku gak bilang kalau aku nge-hire interior desainer buat nata furnitur-furniturnya."
"Serius, Mas? Gak apa-apa sih, Mas. Aku yakin nanti posisi dan segala macemnya pasti bagus banget karena ditata sama profesionalnya langsung."
"Mau lihat gak?"
"Tapi aku masih harus balik ke kantor, Mas."
"Gak sekarang. Nanti pas kamu pulang aja gimana?"
"Boleh. Nanti pulang kita ketemu di rumah ya. Mas share loc aja nanti ketemu di sana."
"Ya udah. Karena Hazel udah tahu kamu udah punya suami lagi, kapan-kapan boleh dong kita nginep tanpa harus bohongin Hazel?"
"Boleh aja sih, Mas. Cuma kalau memang kebetulan Hazelnya lagi gak di rumah ya. Aku gak enak kalau ninggalin Hazel sendiri di rumah."
"Iya. Ya udah kalau gitu."
Sebelum pergi, mereka menunaikan sholat zhuhur di mushola yang memang terdapat di restoran itu. Kemudian Nabila izin ke toilet sedangkan Dzaki kembali ke mobil lebih dulu. Ia mencari kontak salah satu juniornya di klub motor.
"Bro, anak-anak lagi ngumpul? Nanti malam ada tandingnya Barca sama MU 'kan? Gua udah nyiapin infocus di basecamp. Suruh pada nginep, kita nobar."
Padahal, tujuan Dzaki mengadakan nobar sebenarnya adalah untuk menahan Hazel agar ia tidak pulang dan bersama teman-temannya menonton pertandingan sepak bola bersama malam itu, agar Dzaki bisa membawa Nabila tidur di rumah baru mereka malam ini juga.