Hidup satu atap dengan pria yang berstatus sebagai suami namun sikapnya dingin dan mungkin tidak menganggap kita ada itu rasanya sakit.
Humaira seorang gadis yang setuju di jodohkan dengan pria pilihan orang tuanya. Humaira setuju di jodohkan agar semua orang yakin dan percaya lagi pada dirinya dengan apa yang telah dia lakukan pada istri sang om.
Namun nasib berkata lain, pria yang dia nikahi adalah pria yang sangat membencinya karena tau kelakuan Humaira.
Namun Humaira berusaha untuk menjadi istri baik hingga dirinya jatuh cinta pada sang pria namun sikapnya masih sama seperti pertama mereka menikah.
Apa Humaira sanggup bertahan atau memilih mundur?.
Yu baca ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyebaran Rumor.
Aku merasa aneh dengan semua ini, berawal dari munculnya Rivaldi yang sangat mirip dengan Renaldi lalu tadi di pasar aku malah bertemu Amelia.
"Apa yang sebenarnya terjadi? " bingung ku.
"Kamu lagi apa? " tanya mama tiba-tiba menepuk pundak ku membuat aku terkejut.
"Mama" ucap ku.
"Kamu lagi mikirin apa sih sampai bengong gitu? " tanya mama setelah duduk di samping ku karena saat ini aku sedang santai di gazebo belakang rumah sambil nungguin Arka main air.
"Gak ada mah cuman mikirin kerjaan saja" jawab ku berbohong karena aku gak mau mama khawatir tentang ku.
"Mau sampai kapan kamu sendiri seperti ini? " tanya sang mama.
"Maksud mama? " tanya ku melirik mama.
"Kamu gak iri apa lihat Dira Naira punya pasangan? " jawab sang mama.
"Ngapain iri ma, toh aku bisa sendiri" jawab ku dengan santai.
"Mama tau sayang dan mama bangga sama kamu karena kamu bisa buktikan kalau kamu bisa jadi pengganti papa yang mulai sakit" ujar mama.
"Tapi mama mama gak mau saat mama dan papa gak ada kamu gak ada orang yang menemani" lanjut k mama.
"Ma aku kan ada Arka yang akan temani aku" balas ku.
"Arka akan dewasa dia akan punya pasangan dan saat itu kamu akan sendiri" ucap sang mama.
Aku berbalik menghadap mama lalu berkata "nenek saja sendiri sampai akhir hayat nya tapi dia punya anak dan menantu seperti mama yang selalu menemaninya dan aku akan minta Arka seperti kalian".
Tak terasa air mata ku menetes begitu saja karena apa ya g aku ucapkan tidak sama dengan isi hatiku karena kalau aku bisa memilih aku ingin hidup seperti kedua orang tuaku yang sampai tua selalu bersama tapi jika takdirku harus sendiri sampai aku tua nanti aku ikhlas.
Mama memeluk ku dan itu membuat aku semakin banyak mengeluarkan air mata dan menangis di pelukan sang mama.
"Mama tau kamu sedih karena kamu merasa kamu tidak bisa hidup bahagia seperti saudaramu karena mereka hidup bahagia dengan orang-orang yang mereka cintai tapi kamu selalu gagal" ucap mama.
Aku pun melepaskan pelukan mama lalu menatap mama.
"Aku sudah ikhlas ma mungkin ini memang takdirku harus seperti ini karena hidup gak selalu berjalan mulus" ucap ku dan tersenyum sama mama.
Arka mendekati karena dia ingin mandi dan lapar jadi dia selesai mandinya. Aku pun segera membawa Arka ke dalam untuk mandi lalu minta bibi untuk bikin makan buat Arka. Selesai mandi aku langsung menyuapi Arka dan setiap menatap Arka rasa rindu ku pada Renaldi semakin jadi karena wajahnya Arka hampir mirip dengan Renaldi.
Sebulan sudah sejak pertemuan ku dengan Renaldi pimpinan grup Wj dan hari ini aku harus menghadiri rapat untuk membahas lebih lanjut kerjasama itu. Aku baru saja tiba di perusahaan grup WJ dan aku pun masuk dan memberitahu resepsionis untuk bertemu dengan ketua mereka.
Saat aku sedang menunggu dan bicara dengan asisten ku aku di buat terkejut saat melihat Tria adik dari Renaldi sedang berjalan ke luar. Aku yang penasaran langsung menanyakan pada OB yang sedang membersihkan lantai.
"Pak maaf aku boleh tanya kalau yang barusan keluar itu siapa? " tanya ku sambil menunjuk Tria.
"Oh itu, itu pak Tria manager perusahaan ini" jawab nya.
"Pimpinannya siapa? " tanya ku lagi.
"Pak Rivaldi dan pak Tria itu adik nya" jawab nya lagi membuat aku semakin kaget dengan semau ini.
Namun saat hendak akan bertanya lebih dalam lagi aku malah di minta ke ruang rapat karena sudah di tunggu. Aku pun akhirnya naik, lagi dan lagi aku berhadapan dengan orang yang sangat mirip dengan Renaldi orang yang sangat aku cintai.
Aku berusaha bersikap tegar dan bekerja dengan serius sampai semuanya selesai namun saat di mobil tubuhku langsung ambruk dan membuat aku harus masuk rumah sakit.
Aku melihat mama di sampingku dan dia tersenyum saat melihat ku sadar.
"Kamu jangan terlalu capek sayang" ucap mama.
"Aku gak capek ma, cuman aku merasa akhir-akhir ini terlalu banyak kejutan buat ku" jawab ku.
"Apa yang membuat kamu terkejut? " tanya mama.
"Setelah hampir lima tahu aku bertemu lagi dengan salah satu keluarga Renaldi dan aku merasa itu sangat janggal dan membuat aku terlalu lelah berpikir" jawab ku.
"Memang kamu ketemu siapa? " tanya mama dengan wajah terkejut.
"Amelia dan Tria walau hanya dari jarak jauh" jawab ku dengan tidak memberitahu jika pimpinan Grup WJ wajahnya mirip dengan Renaldi.
"Ya wajar kamu bertemu dengan mereka karena mereka masih di tinggal di daerah sini" balas mama.
"Ya tapi kenapa baru sekarang aku melihat mereka, lima tahun kebelakang mereka kemana? " tanya ku sama mama membuat kepalaku sakit lagi.
"Sayang, sudah kamu jangan pikirkan itu" ucap mama dan aku pun berusaha untuk berbaring agar kepala ku tidak sakit.
Dua hari aku di rawat dan hari ini aku di perbolehkan pulang dan istirahat di rumah karena dokter melarang ku untuk banyak pikiran. Selama di rumah aku hanya bermain dengan Arka karena hanya dia yang bisa membuat aku semangat untuk melanjutkan hidupku.
Malam ini aku keluar kamar setelah seharian diam di kamar karena jenuh juga namun saat melewati ruang kerja papa aku tak sengaja mendengar pembicaraan papa dengan om Faiz.
"Bang sekarang gimana? proyek itu batal karena ada orang yang menyebarkan rumor jika Maira pasien depresi" ucap om Faiz membuat aku kaget siapa yang menyebarkan rumor itu.
"Aku udah pasrah Faiz, jika memang perusahan ini harus berakhir maka biarkan lah karena yang terpenting saat ini Maira baik-baik saja" balas papa membuat aku kaget.
Aku pun melangkah ke dapur dan di sana aku melihat mama sedang menyisakan kopi buat papa. Aku pun mendekati mama lalu bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi? ".
" Maksud kamu? "tanya mama bingung.
" Om Faiz sedang bahas apa sama papa? "tanya ku balik.
" Mama gak tau sayang"jawab mama menyembunyikan sesuatu.
"Apa proyek dengan Grup WJ batal? " tebak ku dan mama terdiam menandakan itu semua benar.
Aku pun kembali ke kamar dan aku duduk termenung di tempat tidur memikirkan apa yang harus aku lakukan.
Apa kejadian kemarin saat aku masuk rumah sakit mempengaruhi kerjasama itu dan ada orang yang tau kenapa aku masuk rumah sakit. Aku harus menemui perusahaan itu dan menjelaskan semuanya jika rumor itu salah karena aku baik-baik saja.