NovelToon NovelToon
Berakhir Atau Bertahan

Berakhir Atau Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Scorpionzs

menceritakan sepasang kekasih yang mau menikah beberapa bulan lagi namun gagal karena suatu kesalahan pahaman , membuat pernikahan yang telah dinanti nanti hancur , membuat keduanya tidak seperti dulu .........

maukah Wanita itu Bertahan dengan sang pria atau Berakhir ................

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpionzs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

SHLUKK!

Vanya terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar saat bilah perak Altair menusuk jantungnya.

Altair menarik pedangnya, membiarkan tubuh Vanya terjatuh ke lantai dengan suara berdebum berat.

Lucien berjalan mendekat, menyeringai. “Selesai?”

Altair menatap tubuh Vanya yang tak bernyawa. “Untuk saat ini.”

Kieran menghampiri, menyeka keringat dari dahinya. “Apa maksudnya tadi? ‘Kekuatan yang lebih besar’?”

Altair menatap ke depan, ke dinding besi yang berlumuran darah. “Kita akan segera mengetahuinya.”

Selene berjalan mendekat, menekan tombol di tablet miliknya. “Kita harus segera pergi. Helikopter musuh sudah hampir tiba.”

Altair menyarungkan pedangnya dan berbalik. “Ledakkan fasilitas ini.”

Selene tersenyum dingin. “Dengan senang hati.”

Lucien menyeringai. “Dan kita kembali pulang?”

Altair melangkah melewati tubuh Vanya yang tak bernyawa. “Ya.”

“Tapi jangan beristirahat terlalu lama.”

Tatapannya mengeras.

“Karena ini… baru permulaan.”

BOOM!

Ledakan besar mengguncang markas Viper’s Fang. Api dan asap hitam membumbung ke langit saat Altair dan timnya berjalan keluar dari reruntuhan, dikelilingi oleh kobaran api dan suara sirene yang memekakkan telinga.

Altair berhenti sejenak, menatap kehancuran di belakangnya.

Tatapannya tajam seperti mata elang yang mengintai mangsa berikutnya.

“Aku akan menemukan siapa pun yang berada di balik ini…” bisik Altair pelan. “Dan aku akan menghancurkan mereka.”

Altair berbalik, melangkah ke dalam bayangan malam.

Dan neraka… baru saja dimulai.

•••

Markas Sementara ZEROUN – Malam Hari

Altair berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke lautan malam. Ombak bergulung pelan di bawah cahaya bulan, memantulkan sinar keperakan di permukaan air yang gelap.

Rambut putihnya yang sepinggang tergerai liar di punggungnya, berkilauan di bawah sinar remang-remang dari lampu kristal yang menggantung di langit-langit.

Di belakangnya, Lucien bersandar di dinding dengan tangan terlipat di dada. Tatapan emasnya berkilat di bawah cahaya redup.

Selene duduk di sofa kulit hitam, menyilangkan kaki, sembari memainkan belati di jarinya dengan gerakan yang nyaris hipnotis.

Kieran berdiri di dekat meja, menuangkan scotch ke dalam gelas kristal. Dia menyesapnya perlahan, lalu memecah keheningan. “Jadi… siapa menurutmu yang dimaksud Vanya?”

Altair tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada lautan di kejauhan, napasnya teratur meski pikirannya bekerja cepat.

“Kekuatan yang lebih besar…” gumam Lucien. “Bukan Viper’s Fang. Sesuatu yang lebih dalam, lebih tua.”

“Kau berpikir ini organisasi lain?” tanya Selene.

Altair berbalik, menatap mereka dengan tatapan dingin. “Tidak hanya organisasi.”

Lucien menyeringai tipis. “Jadi ini bisa jadi… seseorang?”

Altair mengangguk. “Atau sesuatu.”

Kieran meletakkan gelasnya di atas meja kaca dengan suara ringan. “Kalau memang ada kekuatan di balik semua ini, mereka pasti tahu kita sedang mencarinya.”

“Tentu saja mereka tahu.” Altair menatap Lucien dan Selene. “Karena kita baru saja menghancurkan Viper’s Fang — salah satu organisasi kriminal terbesar di dunia.”

Lucien tertawa kecil. “Dan kau pikir mereka tidak akan merespon?”

“Mereka pasti akan merespon,” jawab Altair dingin. “Dengan kekuatan penuh.”

Selene mengangkat alis. “Kalau begitu… kita harus bersiap?”

Altair menyipitkan mata. “Bukan hanya bersiap. Kita akan menyerang lebih dulu.”

Lucien tertawa kecil, sorot matanya penuh kegilaan yang mematikan. “Sekarang aku mulai menyukainya.”

“Tapi kita belum tahu siapa musuhnya,” sela Kieran, nada suaranya tenang namun penuh ketegasan.

Altair berjalan menuju meja, meletakkan peta dunia yang penuh dengan tanda dan lingkaran merah. “Kita tahu di mana harus memulai.”

Jarinya menunjuk ke sebuah wilayah di Eropa Timur. Sebuah kota kecil yang terisolasi di pegunungan.

“Ravka,” gumam Selene.

Altair mengangguk. “Vanya menyebutkan satu nama sebelum dia mati. Shadow Order.”

Lucien menyipitkan mata. “Shadow Order? Aku pikir itu hanya legenda.”

“Bukan legenda,” Altair menatap tajam ke arah Lucien. “Mereka nyata.”

Selene berdiri, menyilangkan tangan di dada. “Dan mereka jauh lebih berbahaya daripada Viper’s Fang?”

“Jauh lebih berbahaya,” jawab Altair dingin. “Karena Shadow Order… bukan hanya sekumpulan kriminal biasa.”

Tatapan Altair mengeras.

“Mereka adalah bayangan di balik semua kekacauan di dunia ini.”

Kieran menyipitkan mata. “Kalau mereka benar-benar sekuat itu, maka ini bisa jadi perang.”

“Ini akan menjadi perang.” Altair meraih pedangnya yang tergeletak di meja. Dia menyarungkannya di punggungnya dengan gerakan yang nyaris anggun.

“Tapi perang ini akan terjadi dengan atau tanpa izin mereka.”

Lucien tersenyum lebar, taringnya terlihat samar di bawah cahaya remang. “Jadi kapan kita berangkat?”

Altair berbalik, matanya bersinar di bawah cahaya malam.

“Malam ini.”

•••

Ravka – Pegunungan Salju – Malam Hari

Salju turun perlahan, menyelimuti jalanan berbatu di antara deretan rumah-rumah tua bergaya gothic.

Lampu jalan temaram berkedip-kedip di tengah dinginnya angin malam yang menusuk tulang.

Siluet Altair berdiri di atas atap sebuah bangunan tua, mantel hitam panjangnya berkibar ditiup angin.

Di bawahnya, Lucien, Selene, dan Kieran bergerak cepat di sepanjang gang sempit, bayangan mereka nyaris tak terlihat di tengah kegelapan malam.

“Kita masuk dari belakang,” suara Altair terdengar melalui alat komunikasi di telinga mereka. “Hancurkan siapa saja yang menghalangi.”

Selene menyeringai. “Dengan senang hati.”

Lucien berlutut, memeriksa sebuah pintu besi besar di ujung gang. “Kuncinya elektronik. Tapi ini cukup primitif.”

“Primitif atau tidak, buka sekarang,” perintah Altair.

Lucien mengaktifkan perangkat di pergelangan tangannya. Dalam hitungan detik, terdengar bunyi klik halus.

“Masuk.”

Kieran membuka pintu, dan mereka menyelinap ke dalam bangunan tua yang diterangi cahaya remang-remang dari lilin-lilin yang diletakkan di sepanjang dinding batu.

Langkah kaki terdengar di kejauhan. Suara dengungan rendah terdengar dari ruangan di depan mereka.

Altair berjalan paling depan, langkahnya ringan namun penuh kewaspadaan.

“Dua orang di depan,” bisik Selene.

Altair bergerak tanpa suara. Dia muncul dari balik bayangan, dan dalam satu gerakan cepat

SHHLIK!

Pedangnya menebas leher kedua penjaga itu sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Tubuh mereka terjatuh ke lantai, darah mengalir perlahan di atas batu dingin.

Lucien berbisik, “Kau makin cepat.”

Altair tidak menjawab. Dia terus bergerak ke depan, melewati lorong sempit yang berkelok-kelok seperti labirin.

Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu kayu tua yang dipenuhi ukiran simbol aneh.

Altair mendorong pintu itu perlahan.

Di dalam ruangan, seorang pria tua berjubah hitam duduk di atas singgasana kayu, diapit oleh enam orang bertopeng dengan jubah hitam.

Pria tua itu menatap Altair dengan senyum tipis. “Altair Akhtara.”

Altair tidak menunjukkan ekspresi. “Kau tahu siapa aku?”

“Tentu saja,” pria itu berdiri perlahan. “Karena aku sudah menunggumu.”

Selene menyipitkan mata. “Siapa kau?”

Pria itu tersenyum dingin. “Aku adalah Alaric, kepala dari Shadow Order.”

Altair mencabut pedangnya. “Kalau begitu, Alaric…”

Tatapannya mengeras.

“Aku di sini untuk menghancurkanmu.”

Alaric tertawa pelan. “Kau pikir itu akan semudah itu?”

Tiba-tiba, enam sosok bertopeng di sekitar Alaric bergerak. Suara gesekan logam terdengar saat mereka menghunus senjata.

“Jadi…” Alaric menyeringai. “Mari kita lihat… siapa yang bertahan hidup malam ini.”

Lucien tertawa kecil, matanya bersinar penuh kegilaan. “Akhirnya… mulai menyenangkan.”

Altair mengangkat pedangnya ke depan. Angin dingin berputar di sekitar ruangan, cahaya lilin bergetar hebat.

“Kalian ingin bertahan hidup?” suara Altair terdengar tajam.

“Tunggu saja.”

Dia berlari ke depan.

Dan malam itu… menjadi malam penuh darah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!