NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:133.1k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Sore itu udara terasa berat di ruang tengah rumah keluarga Haris. Di meja makan, secangkir teh sudah lama dingin tanpa tersentuh. Maya duduk dengan tangan terlipat di dada, wajahnya penuh emosi yang sulit disembunyikan. Sementara Pak Haris tampak tenang, tapi ada garis lelah di wajahnya.

“Aku enggak nyangka, Mas. Karma bisa datang secepat ini,” suara Maya pelan tapi tajam.

Pak Haris menoleh, menurunkan koran dari tangan. “Karma apa, May?”

Maya menghela napas. “Itu si Rava. Kecelakaan. Kakinya retak, kepalanya luka. Katanya cukup parah.”

Pak Haris terdiam sejenak, menatap istrinya. “Oh, yang itu… semoga aja Rava lekas sembuh, ya.”

Namun Maya justru menggeleng cepat, matanya menyipit. “Mas, jangan terlalu lembek. Ini tuh karma! Karma karena sudah mempermalukan keluarga kita dulu. itu balasan, Mas. Dia tiba-tiba nggak datang, ninggalin Citra begitu aja di depan banyak orang. Karena Zolim, akhirnya kena karma juga?!”

Suara Maya meninggi, membuat udara di ruang makan kian tegang. Pak Haris menatap istrinya lekat-lekat. “May, jangan begitu. Walau dia salah, bukan berarti kita boleh bersyukur atas musibah orang. Siapa tahu ini jalan Allah untuk memperingatkan. Sudahlah, jangan diperpanjang.”

Maya berdecak, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan kesal. “Mas ini selalu aja ngebelain orang lain. Anak kita udah dipermalukan, masih aja ngomong baik-baik.”

Hening sejenak. Dari arah kamar, Hengki—adik Citra yang masih SMA—muncul dengan wajah penasaran. “Ada apa, Bun? Yah? Serius bener?”

Maya menatapnya cepat. “Rava kecelakaan!"

"Mas Rava? Yang sekarang jadi suaminya Mbak Cantika?"

"Iya, si itu."

"Mati?"

"Hush!" sela pak Haris menegur,"Jangan gitu, Ki." Hengki langsung menggulum bibir.

"Sudah, kamu telepon Citra. Kasih tahu, biar dia tahu mantannya kena batunya,” suruh Maya pada Hengki.

Pak Haris langsung menoleh tajam. “May! Sudahlah. Jangan ajari anak ikut-ikutan gosip.”

Namun Maya tak peduli. “Nggak apa-apa, Mas. Biar Citra tahu, Tuhan nggak tidur.”

Dengan ragu, Hengki mengambil ponsel dan mencoba menelepon kakaknya. Tapi nada sambung terus berulang tanpa jawaban. Ia menatap ibunya. “Nggak diangkat, Bun.”

Pak Haris tersenyum tipis. “Ya mungkin dia lagi sibuk, Ki. Sudah, biar saja. Nanti juga dengar sendiri.”

Hengki hanya mengangguk pelan, namun tetap mengirim pesan singkat:

Mbak, dengar kabar Rava kecelakaan. Katanya lumayan parah. kata Bunda karma, menurut Mbak gimana?

 

Keesokan paginya, kabar kecelakaan Rava menyebar seperti angin di kampung itu. Dari warung ke warung, dari pagar ke pagar, semua bibir membicarakan hal yang sama.

Di depan rumah, Yani—ibu Cantika—sedang membeli sayur dari pedagang keliling. Beberapa tetangga ikut berkerumun, pura-pura belanja tapi sebenarnya ingin tahu lebih banyak.

“Bu Yani, itu bener Rava kecelakaan?” tanya Bu Mira sambil memilih cabai.

Yani mengangguk seadanya. “Iya, kakinya retak, kepalanya luka. Masih di rumah sakit.”

“Walah, pantes! Itu pasti karma,” seru Bu Mira, matanya melotot seperti sedang mengabarkan hal penting. “Udah menzalimi keluarga Pak Haris, ninggalin pengantin di pelaminan. Dosa besar itu. Harusnya dia minta ampun, melebur dosa di Pantai Selatan!”

Beberapa ibu lain tertawa kecil, menimpali.

“Ya ampun, sampai ke pantai segala, Bu.”

“Biar sekalian, dosa berat katanya begitu.”

Yani mengerutkan kening. “Lho, kok jadi gitu? Masa harus ke Pantai Selatan segala?”

Bu Mira justru menepuk pundaknya. “Ya supaya bersih, Bu. Jangan-jangan nanti keluarga Ibu juga kena sial kalau nggak hati-hati. Kan Cantika dulu yang ‘ngambil’ calon suami sepupunya sendiri.”

Nada itu membuat darah Yani naik ke kepala. Ia langsung menatap tajam. “Bu Mira, omongan itu dijaga ya. Anak saya nggak merebut siapa pun. Jodoh itu takdir!”

Tapi Bu Mira hanya terkekeh. “Iya, iya, saya cuma ngomong aja. Jangan marah gitu, Bu. Kangkungnya jadi layu nanti.”

Yani hampir saja melempar ikatan kangkung di tangannya ke arah Bu Mira kalau saja pedagang sayur tidak cepat menengahi.

“Sudah-sudah, Bu. Nanti sayurnya tumpah semua.”

Yani akhirnya pergi sambil menggerutu, membawa 1 papan tempe, seikat kangkung, dan setengah kilo ikan—semuanya diutang. Saat ia melangkah pergi, terdengar tawa kecil dari belakang.

“Utang lagi tuh, Bu Yani!”

Yani menoleh dengan tatapan membara, tapi memilih menahan diri. “Dasar mulut ember semua,” gumamnya keras.

 

Begitu sampai di rumah, Yani langsung menggebrak meja dapur. “Aku yakin, ini pasti ulah Maya! Siapa lagi yang suka nyebar-nyebar kabar kayak gini. Baru semalam dengar, besok paginya udah satu kampung tahu!”

Ibra, suaminya, yang sedang duduk di kursi ruang tamu, hanya menghela napas. “Yani, jangan berprasangka buruk. Mungkin orang lain yang dengar dari rumah sakit. Jangan nuduh.”

Yani menatapnya dengan mata membulat. “Mas ini kenapa sih? Selalu aja bela orang lain! Kalau aku yang ngomong, pasti salah!”

“Bukan begitu, Yan. Aku cuma nggak mau kita tambah dosa karena suudzon.”

Yani menutup kupingnya dengan kedua tangan, seperti anak kecil yang ngambek. “Sudah, Mas diam aja. Aku males dengerin.”

Suasana rumah pun kembali hening, hanya terdengar suara kipas angin yang berputar lambat.

 

Sementara itu, di rumah sakit, Lani—ibu Rava—duduk di tepi ranjang anaknya. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap tajam dan menyimpan banyak hal yang belum selesai.

“Dokter bilang kamu bisa pulang besok, Nak,” katanya, menyibak rambut Rava yang menutupi dahi berperban.

Rava mengangguk lemah. “Ma, Papa udah ke sini belum?”

Pertanyaan itu membuat rahang Lani menegang. “Papa kamu? Pasti sekarang lagi enak-enakan sama Citra. Anak sendiri luka begini aja nggak peduli.”

Nada getir itu membuat dada Rava terasa sesak. Ia sendiri masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Rama—ayahnya—menikah dengan Citra, mantan tunangannya sendiri.

“Ma, jangan ngomong begitu. Papa juga manusia,” ucap Rava lirih.

Lani menatap anaknya dalam-dalam, lalu berdiri. “Kamu selalu bela dia. Padahal kalau bukan karena Papa kamu, kita nggak akan serumit ini!”

Lani terus uring-uringan, dia memang masih menyimpan cinta yang belum selesai. Dulu, justru Lani-lah yang berselingkuh, tapi kini ia seolah melupakan itu semua dan menjadikan Rava alasan untuk menyalahkan Citra.

Setelah membantu menyiapkan makan malam ringan untuk Rava, Lani pamit pulang dengan wajah muram.

“Jaga dirimu. Jangan banyak gerak. Mama pulang dulu.”

“Ma…” panggil Rava, tapi Lani sudah berlalu, langkahnya cepat dan suaranya menggema di lorong rumah sakit.

 

Sore mulai merayap. Rava menatap langit jingga dari balik jendela kamarnya. Bosan dan gelisah. Ia ingin keluar sejenak, merasakan udara. Cantika yang tengah hamil tiga bulan masuk membawa buah tangan.

“Yang mau apa? Aku beliin es krim, tapi dokter bilang jangan kebanyakan manis,” katanya sambil tersenyum lembut.

Rava tersenyum tipis. “Aku pengin keluar bentar. Jalan-jalan aja di lorong.”

“Boleh, tapi aku temani.”

“Udah, kamu istirahat aja. Nanti capek. Aku bisa sendiri kok pakai kursi roda.”

Cantika menggeleng cepat. “Aku ikut. Jangan keras kepala.”

Akhirnya, mereka berdua keluar pelan-pelan dari kamar. Rava duduk di kursi roda, sementara Cantika mendorongnya. Lampu lorong rumah sakit mulai menyala, menciptakan bayangan panjang di lantai putih.

Dalam hati, Rava masih berharap—barangkali Citra akan muncul di balik pintu, menatapnya seperti dulu, walau hanya sebentar. Tapi harapan itu buyar ketika ia melihat sosok lain di ujung lorong: Rama, ayahnya sendiri.

“Pa?”

Rama mendekat, membawa kantong buah. Senyumnya tenang. “Kata perawat, kamu boleh dijenguk sebentar.”

Rava menelan ludah, sedikit kecewa karena bukan sosok yang ia harapkan. Tapi ia menahannya rapat-rapat.

Mereka masuk ke kamar, Cantika pamit keluar sebentar.

Rama duduk di samping tempat tidur. “Gimana? Masih sakit?”

“Sedikit. Tapi udah mendingan, Pa.”

Hening sebentar. Rama menatap anaknya, lalu menghela napas. “Jangan banyak dipikir, Nak. Ini ujian. Bapak tahu kamu kuat.”

Rava memandangi ayahnya lama. Lalu dengan suara lirih, ia berkata, “Pa… aku boleh nggak… ikut tinggal di rumah Papa aja?”

1
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!