Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Gugatan Balik 10 Triliun
Udara di ruang sidang sementara yang bertempat di balai kota kabupaten terasa sangat berat. Pendingin ruangan yang menderu tidak mampu mendinginkan suasana panas antara dua kubu. Di satu sisi, jajaran pengacara elit pimpinan Elias Tan dengan jas ribuan dolar mereka; di sisi lain, Arum yang hanya mengenakan kemeja putih sederhana, duduk bersama Kepala Desa Muara Biru dan Jaka.
"Kami menuntut pencemaran nama baik sebesar satu triliun rupiah," Elias memulai pembukaannya dengan suara yang menggelegar. "Tindakan tergugat telah menyebabkan saham klien kami anjlok 15% di pasar bursa dan menghentikan operasional objek vital nasional secara ilegal."
Hakim menoleh ke arah Arum. "Nyonya Arum, apakah Anda memiliki pembelaan?"
Arum berdiri pelan. Ia tidak membawa tumpukan map tebal. Ia hanya membawa sebuah flashdisk kecil dan sebotol sampel air laut yang berwarna agak keabu-abuan.
"Yang Mulia, saya tidak datang untuk membela diri. Saya datang untuk melakukan Audit Valuasi Kerugian Negara dan Ekosistem," ujar Arum. Ia menekan tombol di laptopnya, dan sebuah layar besar di belakangnya menampilkan angka-angka yang berdenyut merah.
"Gugatan satu triliun Tuan Elias hanyalah angka imajiner berdasarkan ego korporasi. Namun, angka sepuluh triliun yang saya ajukan dalam gugatan balik ini adalah fakta sains," lanjut Arum. "Kami menghitung hilangnya potensi ekonomi laut Muara Biru untuk 25 tahun ke depan akibat kontaminasi logam berat yang permanen pada terumbu karang."
Elias tertawa mengejek. "Itu hanya teori lingkungan, Yang Mulia! Tidak ada bukti bahwa logam berat itu berasal dari klien kami."
Arum tersenyum. Inilah saat yang ia tunggu. "Tuan Elias, setiap tambang memiliki 'sidik jari' geokimia yang unik. Berdasarkan hasil uji spektroskopi yang dilakukan tim laboratorium kami dan dikonfirmasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup, unsur radioaktif sisa nikel di dasar laut Muara Biru memiliki kecocokan 99,9% dengan limbah dari tangki pemurnian klien Anda."
"Yang Mulia," Arum menyambung, "ini bukan sekadar limbah. Ini adalah tindakan pemiskinan struktural. Dengan meracuni laut, mereka memaksa nelayan untuk berhenti melaut dan akhirnya terpaksa menjual tanah mereka dengan harga murah kepada perusahaan. Ini adalah siklus pencurian aset yang terencana."
Suasana sidang menjadi riuh. Wartawan mulai sibuk mengetik berita utama mereka. Elias tampak berkeringat, ia membisikkan sesuatu kepada asistennya dengan wajah tegang.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian rapi namun dengan tatapan mata yang dingin masuk ke ruang sidang dan memberikan sebuah amplop kepada Hakim. Hakim membukanya, wajahnya berubah pucat.
"Sidang ditunda selama 30 menit karena ada intervensi dokumen dari otoritas pusat," ujar Hakim sambil mengetuk palu dengan ragu.
Arum merasakan firasat buruk. Ia segera keluar ke koridor untuk mencari udara segar, namun ia dihadang oleh sosok pria yang ia lihat di bukit tempo hari. Pria itu bukan pengacara. Ia adalah Mayor Darmadi, mantan perwira intelijen yang kini menjadi "pembersih" bagi konsorsium tambang.
"Nyonya Arum, Anda benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti," bisik Darmadi sambil bersandar di pilar gedung. "Gugatan sepuluh triliun itu akan membangkrutkan perusahaan ini. Dan jika perusahaan ini bangkrut, banyak orang besar di Jakarta akan kehilangan tabungan hari tua mereka. Anda sedang bermain dengan nyawa banyak orang."
"Nyawa warga Muara Biru juga nyawa, Mayor," balas Arum tajam.
"Bedanya, nyawa mereka tidak punya harga di bursa saham. Sedangkan nyawa Anda... harganya mulai menurun setiap detik Anda berada di ruangan ini."
Darmadi menyodorkan sebuah foto di ponselnya. Foto itu menunjukkan rumah dinas di Navasari, dengan garis merah yang dilingkarkan di sekitar jendela kamar tidur Arum.
"Pilihannya simpel. Cabut gugatan balik itu, terima kompensasi satu miliar untuk 'biaya perjalanan' Anda, dan pulanglah ke Navasari sebagai pahlawan kecil. Atau, tetaplah di sini dan saksikan Navasari terbakar untuk kedua kalinya."
Arum menatap foto itu. Jantungnya berdegup kencang, namun otaknya tetap bekerja seperti mesin hitung. Ia tahu ini bukan sekadar gertakan. Namun, ia juga tahu sesuatu yang Darmadi tidak tahu.
"Mayor," Arum mendekat, suaranya sedingin es. "Anda pikir saya datang ke sini tanpa pengamanan? Saat ini, Baskara sedang bersama tim dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kantor pusat perusahaan Anda di Jakarta. Dokumen yang saya serahkan di sidang tadi hanya sebagian kecil. Data aslinya... sudah berada di tangan penyidik pemerintah."
Wajah Darmadi menegang.
"Gugatan 10 triliun ini bukan tujuan akhir saya," lanjut Arum. "Ini adalah umpan agar kalian semua berkumpul di satu tempat sementara kami mengaudit 'jantung' kalian di Jakarta."
Suara palu hakim terdengar kembali dari dalam ruang sidang. Arum merapikan kemejanya dan menatap Darmadi dengan kemenangan. "Silakan masuk, Mayor. Sepertinya acara utamanya baru saja dimulai."
Suasana di koridor pengadilan yang semula tegang kini berubah menjadi sunyi yang mencekam. Mayor Darmadi menatap Arum dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara amarah murni dan rasa hormat yang terpaksa. Ia baru saja menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang aktivis emosional, melainkan seorang Arsitek Krisis.
"Kau mempertaruhkan Navasari untuk desa nelayan yang bahkan tidak tahu cara mengeja nama mereka sendiri?" desis Darmadi.
"Saya mempertaruhkan Navasari untuk memastikan tidak ada lagi desa yang nasibnya ditentukan oleh orang-orang seperti Anda," jawab Arum tanpa berkedip.
Arum melangkah kembali ke dalam ruang sidang. Hakim sudah duduk di kursinya, namun wajahnya kini tidak lagi pucat. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja menerima beban berat namun tak terelakkan.
"Sidang dilanjutkan," ujar Hakim. "Berdasarkan bukti tambahan yang diterima melalui sistem integrasi data nasional, pengadilan menemukan adanya indikasi kuat pelanggaran Pasal 98 UU PPLH tentang perusakan lingkungan hidup secara sengaja. Namun, pihak penggugat—perusahaan tambang—telah mengajukan permohonan perlindungan aset strategis."
Elias Tan berdiri dengan senyum tipis yang kembali muncul. "Yang Mulia, aset ini dilindungi oleh Keputusan Presiden tentang Objek Vital Nasional. Investigasi lingkungan tidak boleh menghentikan operasional tanpa persetujuan Dewan Energi."
Arum tidak membiarkan Elias menyelesaikan kalimatnya. Ia langsung mengangkat tangannya.
"Interupsi, Yang Mulia. Berdasarkan Audit Kepatuhan Objek Vital, sebuah perusahaan hanya bisa mendapatkan status perlindungan tersebut jika memenuhi kriteria integritas lingkungan dan sosial. Saya memiliki data satelit terbaru yang menunjukkan bahwa klien Tuan Elias telah memalsukan laporan reklamasi lahan mereka sejak tiga tahun lalu."
Arum membuka folder baru di laptopnya yang terhubung ke proyektor. "Angka sepuluh triliun dalam gugatan balik kami bukan hanya biaya pemulihan, tetapi juga pengembalian dana subsidi negara yang mereka telan secara ilegal. Ini bukan lagi soal Muara Biru melawan perusahaan. Ini adalah soal Negara melawan Parasit Anggaran."
Di layar, Arum menampilkan skema pencucian uang yang sangat rumit. Dana yang seharusnya digunakan untuk membangun sistem pengolahan limbah (tailing) ternyata dialirkan ke perusahaan-perusahaan cangkang di luar negeri untuk menyuap oknum-oknum pengawas.
"Setiap sen yang mereka klaim sebagai kerugian operasional adalah sen yang mereka curi dari masa depan nelayan ini," Arum menutup argumennya dengan suara yang menggetarkan ruangan.
Hakim mengetuk palu tiga kali. "Mengingat beratnya bukti yang diajukan, pengadilan memerintahkan pembekuan sementara seluruh aset operasional perusahaan di wilayah Muara Biru. Selain itu, diperintahkan audit forensik menyeluruh yang akan dipimpin oleh tim independen dari Navasari Institute di bawah pengawasan KPK."
Elias Tan jatuh terduduk. Wajahnya yang biasanya licin kini tampak layu. Sementara itu, di barisan kursi penonton, warga Muara Biru bersorak tanpa suara, air mata haru mengalir di wajah Jaka dan sang Kepala Desa.
Namun, saat Arum merapikan laptopnya, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari Baskara di Jakarta.
"Rum, bukti di kantor pusat sudah kami amankan. Tapi ada satu hal... kami menemukan kontrak 'Aset No. 05'. Target berikutnya bukan desa, tapi hutan lindung di Kalimantan. Dan nama pemegang saham utamanya disamarkan dengan kode yang hanya kau yang bisa pecahkan."
Arum menarik napas panjang. Kemenangan di Muara Biru barulah satu pertempuran kecil dalam perang besar yang baru saja terbuka lebar. Ia menoleh ke arah jendela, melihat Mayor Darmadi yang sedang berbicara di telepon dengan wajah kalut.
"Audit belum berakhir," gumam Arum pada dirinya sendiri.
menegangkan ..
lanjut thor..