NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Berbulan-bulan setelah malam nahas yang nyaris merenggut nyawanya, kediaman Wijaksana kini berubah menjadi pusat rehabilitasi bagi sang putra bungsu. Ares Mahendra Wijaksana sang idola layar kaca yang biasanya memancarkan energi tak terbatas, kini harus berdamai dengan realitas barunya di atas kursi roda elektrik yang mengkilap.

​Di dunia luar, nama Ares Wijaksana tak pernah absen dari tajuk utama berita hiburan. Tim manajemennya, didukung oleh pengaruh besar Andrew dan kekuatan finansial Papi Adrian, telah melakukan damage control yang sangat rapi. Narasi yang sampai ke telinga publik adalah "Kecelakaan Murni Akibat Kelelahan karena Syuting". Tidak ada satu pun media yang mencium bau pengkhianatan di ruang kantor Andrew, atau drama pelarian Ares di malam berhujan itu.

​Hampir setiap hari, halaman depan rumah mereka dipenuhi oleh karangan bunga dari penggemar dan rekan sesama artis. Manajemen Ares menunjukkan sikap yang sangat suportif, mereka menunda dua proyek film besar dan satu kontrak brand ambassador internasional tanpa menuntut ganti rugi, sebuah kemewahan yang hanya didapat karena reputasi Ares dan pengaruh keluarga Wijaksana.

​Namun, di dalam tembok rumah yang megah itu, suasananya jauh dari sorot lampu kamera.

​Sore itu, ruang tengah keluarga terasa seperti sebuah set syuting yang ramai. Beberapa teman artis Ares dari kalangan papan atas datang berkunjung. Suara tawa mereka yang lantang sesekali memecah keheningan, namun seringkali terdengar dipaksakan di telinga Andrew yang hanya memantau dari kejauhan.

​"Res, tenang aja. Sutradara Danu bilang peran itu bakal tetep buat lo. Mereka mau nunggu sampai lo bisa berdiri lagi," ucap salah satu aktor lawan main Ares sambil menepuk bahu Ares.

​Ares hanya tersenyum tipis, senyum yang tak lagi mencapai matanya. Ia duduk tegak di kursi rodanya, kakinya yang dulu lincah kini tertutup oleh selimut kasmir pemberian Mommy Revana. "Thanks, bro. Gue usahain secepatnya balik."

​Andrew, yang berdiri di balkon lantai dua, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia melihat adiknya harus berpura-pura baik-baik saja di depan kolega-koleganya, padahal ia tahu setiap kali tamu-tamu itu pulang, Ares akan kembali menjadi sosok yang murung dan pendiam.

​Setelah para tamu pulang, ruang tengah kembali sunyi. Hanya ada suara denting sendok saat perawat menyiapkan vitamin untuk Ares. Andrew perlahan menurun tangga, mendekati adiknya.

​"Gimana terapi fisik hari ini, Res?" tanya Andrew hati-hati.

​Ares menoleh. Tidak ada kemarahan meledak-ledak seperti malam kejadian itu, namun ada jarak dingin yang membentang di antara mereka. "Biasa aja, Kak. Masih belum ada kemajuan berarti di kaki kanan."

​Andrew berjongkok di samping kursi roda Ares, mencoba menyentuh lutut adiknya, namun Ares sedikit menggeser posisinya, sebuah penolakan halus yang menyakitkan bagi Andrew.

​"Dokter dan Kak Alesya bilang progres lo bagus. Lo cuma butuh waktu," Andrew mencoba menyemangati.

​Ares menatap kakaknya dengan tatapan yang sangat dalam. "Waktu nggak akan bisa balikin semuanya jadi kayak dulu, kan Kak? Bukan cuma soal kaki gue, tapi soal... segalanya."

​Andrew terdiam. Ia tahu Ares tidak sedang membicarakan saraf atau otot, melainkan tentang kepercayaan yang telah retak dan bayang-bayang Alana yang masih menghantui rumah ini, meski namanya sudah menjadi tabu untuk diucapkan.

​Mommy Revana masuk ke ruangan membawa nampan berisi jus buah kesukaan Ares. Ia segera mengambil posisi di samping Ares, mengusap rambut putranya dengan penuh kasih. Sejak kecelakaan itu, Revana seolah menjadi perisai hidup bagi Ares. Ia membatasi siapa saja yang boleh bicara terlalu lama dengan Ares, dan ia memastikan tidak ada satu pun barang atau berita yang bisa memicu ingatan Ares tentang malam itu.

​"Sudah, jangan terlalu banyak bicara soal pekerjaan," ucap Revana lembut pada Andrew, namun matanya memberikan isyarat agar Andrew tidak menekan adiknya lebih jauh. "Ares butuh istirahat. Besok dia ada jadwal kontrol ke rumah sakit."

​Andrew berdiri, mengangguk patuh. Ia merasa seperti orang asing di tengah kehangatan ibu dan adiknya. Ia menyadari satu hal, meskipun media tidak tahu kebenarannya, dan meskipun dunia mengira Ares adalah korban kecelakaan murni, namun bagi keluarganya, Andrew adalah pelaku yang membuat adiknya kini harus duduk di kursi roda tersebut.

​Di saat yang sama, berita di televisi yang sedang menyala di pojok ruangan menampilkan wajah Ares dengan tulisan besar: "ARES WIJAKSANA: SANG BINTANG YANG TETAP BERSINAR DI TENGAH COBAAN."

​Ironisnya, saat dunia melihat Ares sebagai pahlawan yang tabah, Ares justru merasa dirinya adalah pria yang kehilangan segalanya, wanitanya, kakaknya, dan kini... kakinya sendiri.

 

Bagi Andrew, penebusan dosa bukanlah tentang kata-kata maaf yang diucapkan berulang kali, melainkan tentang pengabdian tanpa batas. Selama berbulan-bulan, Andrew telah mentransformasi dirinya. Sosok CEO yang biasanya gila kerja dan perfeksionis itu kini lebih sering terlihat di koridor rumah sakit atau di ruang fisioterapi, dengan lengan kemeja yang digulung dan tatapan yang hanya tertuju pada satu titik, pemulihan dan perawatan Ares.

​Andrew benar-benar menarik diri dari sorot lampu bisnis. Ia menyerahkan sebagian besar operasional harian Wijaksana Group kepada wakilnya dan Papi Adrian kembali, sesuatu yang dulu mustahil ia lakukan. Fokusnya kini hanya untuk kesembuhan Ares.

Secara diam-diam, Andrew telah menyusun rencana besar. Ia tidak hanya mengandalkan rumah sakit di indonesia, ia telah menghubungi tim ahli bedah saraf dan spesialis rehabilitasi medik terbaik di National University Hospital Singapura.

​Ia menyiapkan segala sesuatunya dengan detail yang luar biasa, mulai dari jet pribadi yang dilengkapi peralatan medis, hingga apartemen khusus di dekat rumah sakit yang aksesibel untuk kursi roda. Andrew rela menyampingkan ambisinya, proyek-proyek bernilai miliaran, demi satu tujuan, melihat Ares berdiri kembali.

​Bagi Andrew, Alana bukan lagi sebuah nama yang istimewa, melainkan sebuah pelajaran pahit yang telah ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya. Ia telah memilih untuk mematikan rasa itu. Keluarganya adalah poros hidupnya sekarang, dan ia tidak akan membiarkan ego atau nafsu merusaknya lagi.

​Sore itu di ruang fisioterapi pribadi mereka, Andrew membantu perawat memindahkan Ares dari kursi roda ke matras latihan. Meskipun ada dua perawat pria yang sigap, Andrew selalu ingin turun tangan langsung. Ia ingin Ares merasakan bahwa tangan yang dulu pernah mengkhianatinya, kini adalah tangan yang akan selalu menyangganya.

​"Pelan-pelan, Res. Tumpukan berat badan lo ke lengan gue," ucap Andrew lembut, menyisipkan lengannya yang kokoh di bawah ketiak Ares.

​Ares terdiam, ia bisa merasakan napas Andrew di dekat bahunya. Ada aroma parfum maskulin yang akrab dan kehangatan yang jujur dari tubuh kakaknya. Ares tidak lagi menepis. Meski luka batinnya belum sepenuhnya sembuh, ia tidak bisa menutup mata terhadap perubahan drastis Andrew. Kakaknya yang dulu gengsi untuk sekadar menyentuh hal-hal "kecil", kini rela memijat kakinya yang mati rasa atau menyuapinya saat ia terlalu lelah untuk memegang sendok.

​"Lo nggak capek, Kak? Papi bilang ada rapat penting sama investor Jepang hari ini," tanya Ares dengan nada yang masih sedikit datar, namun jauh lebih lembut dari sebelumnya.

​Andrew tersenyum, senyum tulus yang jarang terlihat. "Investor bisa nunggu kapanpun, Res. Tapi jadwal latihan lo nggak bisa. Gue udah bilang sama Papi, urusan lo adalah prioritas utama gue sekarang."

​Setelah sesi latihan yang melelahkan, Andrew duduk di lantai di samping kursi roda Ares, memberikan botol air minum.

​"Res," panggil Andrew pelan. "Gue udah urus semuanya di Singapura. Minggu depan kita berangkat. Gue udah dapet izin dari tim dokter Kak Alesya. Di sana ada teknologi robotik terbaru buat stimulasi saraf kaki. Gue bakal dampingi lo di sana selama enam bulan... atau setahun kalau perlu. Gue bakal pindah kantor ke sana sementara."

​Ares menatap kakaknya dengan tertegun. "Enam bulan? Lo mau ninggalin perusahaan cuma buat jagain gue?"

​"Gue nggak ninggalin perusahaan, gue cuma milih apa yang lebih berharga," jawab Andrew mantap. Ia menatap mata Ares dengan penuh kejujuran. "Gue pernah gagal jadi kakak yang baik buat lo, Res. Gue pernah egois. Tapi gue mohon, kasih gue kesempatan buat bayar itu semua. Bukan karena gue merasa bersalah aja, tapi karena gue sayang sama lo. Lo adik gue satu-satunya."

​Mata Ares berkaca-kaca. Ia melihat Andrew yang sekarang, Andrew yang tidak lagi mengenakan baju style keangkuhan. Ia melihat seorang kakak yang sedang hancur namun mencoba membangun kembali puing-puing hubungan mereka dengan kesabaran luar biasa.

​"Gue... gue mau, Kak," bisik Ares akhirnya. "Thanks."

​Kalimat singkat itu terasa seperti kemenangan terbesar bagi Andrew, lebih besar dari kontrak bisnis mana pun yang pernah ia tanda tangani.

​----

​Beberapa hari berikutnya, persiapan keberangkatan dimulai. Mommy Revana dan Papi Adrian melihat perubahan atmosfer ini dengan rasa syukur yang tak terhingga. Meskipun mereka tahu jalan menuju kesembuhan total masih sangat panjang, baik secara fisik maupun emosional, setidaknya tembok raksasa di antara kedua putra mereka mulai retak.

​Andrew membuktikan bahwa cinta pada keluarga bisa mengubah seseorang menjadi sosok yang lebih baik. Ia telah belajar dari badai, dan kini ia siap menjadi nakhoda yang membawa adiknya menuju pelabuhan kesembuhan.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!