Karmila gadis yatim piatu yang mencoba peruntungan di ibukota karena mendapatkan beasiswa di salah satu universitas ternama. Suatu malam tanpa sengaja ia bertemu pria mabuk dan menolongnya.
Tapi sayang, niat baiknya justru membuat dirinya berakhir dengan kehilangan kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 PERIKSA KANDUNGAN
Rayyan memandangi wajah istrinya dengan khawatir.
"Masih mual?" Karmila menggeleng, kemudian meraih gelas berisi teh hangat yang diberikan Rayyan.
"Kita ke dokter ya?" Karmila kembali menggeleng.
"Sekalian periksa kandungan kamu, Cinta." Rayyan sedikit memaksa. Akhirnya Karmila mengangguk pasrah, saat ini ia lagi tidak ingin berdebat dengan suaminya karena tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
Rayyan membantu istrinya bersiap-siap, ia sungguh tidak tega melihat Karmila yang terlihat lemah dan wajahnya begitu pucat.
Karmila pun tidak menolak saat Rayyan membantu menyisir rambutnya bahkan memakaikan sepatu di kakinya, karena Karmila tidak punya tenaga untuk memarahi Rayyan saat ini.
Bi Sumi mendekati Rayyan dan Karmila yang sudah siap berangkat ke rumah sakit. Bi Sumi mengelus kepala Karmila dengan rasa sayang.
"Kamu nggak apa-apa kan, Mil?"
"Mila nggak apa-apa, Bu, cuma lemes." Karmila meraih tangan Bi Sumi.
"Ibu tidak usah khawatir."
Bi Sumi mengangguk sambil tersenyum.
"Kita berangkat dulu, Bu," ucap Rayyan sambil mencium punggung tangan Bi Sumi diikuti oleh Karmila.
Kemudian Rayyan menggendong Karmila meski Karmila sempat berontak, tetapi Rayyan tetap memaksa.
Bi Sumi tersenyum melihat mereka berdua.
'Mudah-mudahan kamu bisa menerima suamimu secepatnya, Mil, karena Ibu yakin, sebenarnya Rayyan adalah orang yang baik.'
Bi Sumi membalas lambaian tangan Karmila di dalam mobil yang sudah mulai melaju menuju rumah sakit.
*****
"Ibu Cynthia Karmila."
Rayyan bernapas lega saat nama istrinya akhirnya dipanggil ke ruang dokter, setelah menunggu cukup lama di ruang tunggu bersama ibu-ibu hamil lainnya, yang juga menunggu giliran namanya dipanggil untuk diperiksa sang dokter.
Karmila dan Rayyan masuk ke dalam ruangan disambut dengan senyuman manis dari dokter cantik di depannya.
"Silakan naik ke ranjang, Bu," ucap dokter, setelah sesaat sebelumnya membaca berkas yang ditulis oleh perawat saat Karmila melakukan pendaftaran tadi.
Karmila naik ke atas ranjang dibantu Rayyan dan seorang perawat. Kemudian Dokter mengoleskan gel di atas perut Karmila, setelah perawat tadi membantu membuka baju Karmila yang menutupi bagian perutnya.
Dokter cantik itu kemudian meletakkan alat di atas perut Karmila dan mulai memeriksanya.
Rayyan dengan serius melihat ke arah layar, saat sang dokter menjelaskan dan memperlihatkan kondisi janin di perut istrinya.
Rayyan merasa terharu, hampir saja dia menangis saking bahagianya. Rayyan tidak menyangka diusianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, ia sudah menjadi calon Ayah.
Selesai memeriksa Karmila, sang dokter menulis resep untuk perempuan hamil itu.
"Kondisi janinnya baik, usianya baru sekitar tujuh minggu," jelas dokter, membuat Rayyan dan Karmila tersenyum.
"Istrinya dijaga ya, jangan sampai kelelahan apalagi stres, karena itu bisa mempengaruhi kondisi calon bayinya."
Rayyan mengangguk paham, kemudian menerima resep yang diberikan dokter tersebut. Setelah itu Rayyan dan Karmila keluar dari ruangan.
Rayyan menggandeng tangan Karmila di sepanjang koridor rumah sakit. Hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan.
Rayyan melirik ke arah Karmila yang terlihat cemberut.
"Kamu nggak seneng ya, kita mau punya anak," ucap Rayyan pelan.
Karmila melirik tajam ke arah Rayyan sambil menunjukkan tangannya yang digenggam Rayyan, membuat Rayyan langsung melepaskan tangan Karmila.
"Maaf, jangan marah yah! Kamu inget, kan kata dokter tadi, kamu nggak boleh stres." Karmila terdiam tak menanggapi ucapan Rayyan.
"Dasar menyebalkan! Padahal sendirinya yang bikin aku stres, tapi sok menasehati!" gerutu Karmila dalam hati.
******
Karmila menautkan alisnya saat menyadari kalau mobil yang dikendarai Rayyan tidak mengarah ke arah jalan menuju rumahnya.
"Kita mampir ke kafe bentar, aku ada urusan sama Refan," ucap Rayyan saat Karmila belum sempat menyelesaikan
kalimat yang sedang ia ketik di ponselnya. Merasa mendapat jawaban, akhirnya Karmila kembali terdiam.
Sebenarnya Karmila ingin menolak ajakan Rayyan, tetapi mendengar suaminya mengatakan ada urusan sama Refan, Karmila memilih diam. Dia sadar, mungkin saat ini Rayyan mau membahas soal pekerjaan dengan Refan.
Sesampainya di kafe, Rayyan mengajak Karmila masuk menuju ruang kerjanya. Di sana terlihat Refan yang sedari tadi sudah menunggunya.
"Tunggu bentar di sini ya, ada yang mau aku bahas dengan Refan." Rayyan menyuruh Karmila duduk di sofa, sementara dia langsung duduk bergabung dengan Refan.
Karmila menyandarkan kepalanya sambil menatap Rayyan yang sedang serius berdiskusi masalah pekerjaan dengan Refan.
Karmila, gadis sederhana dari desa yang datang ke kota karena mendapatkan beasiswa di universitas ternama di ibukota.
Awalnya kehidupannya sangat bahagia, menjalani dunia perkuliahan dengan penuh semangat demi mewujudkan impiannya. Meskipun dia harus bekerja paruh waktu demi biaya hidupnya, tetapi perempuan itu tidak menyerah, apalagi mengeluh.
Kebahagiaannya semakin berwarna saat dirinya bertemu dengan Noah dan menjadi kekasihnya. Namun, kebahagiaannya tiba-tiba saja terenggut begitu saja karena pria itu, pria tampan yang saat ini sedang dia perhatikan secara diam-diam.
Impiannya hancur, rasa trauma yang dideritanya membuat dia memutuskan berhenti kuliah dan merelakan beasiswa yang diraih dengan susah payah dicabut oleh pihak kampus.
Awalnya Karmila memang sangat membencinya, bahkan sampai saat inipun ia meyakinkan dirinya untuk membenci pria itu. Apalagi, mengetahui kenyataan kalau dirinya saat ini sedang mengandung anaknya, sungguh!Semua itu membuat Karmila frustasi.
Kesal, marah, benci, campur aduk! Akan tetapi ... Karmila sadar, ia tidak boleh egois. Demi anak ini, anak yang tadinya tidak pernah dia inginkan!
Mungkin semua ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya. Karmila sangat mencintai Noah dan ingin sekali hidup bahagia bersamanya. Namun, ternyata takdir malah berkata lain.
Hampir dua tahun menjalin kasih dengan Noah, tetapi malah berakhir menikah dengan orang asing yang bahkan belum genap satu minggu dikenalnya. Sungguh! Rasanya itu tidak adil baginya, tetapi, bukankah manusia hanya bisa berencana?
Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Karmila.
"Masuk!" seru Refan.
Pintu pun terbuka, menampilkan wajah Rosa dengan nampan berisi minuman ditangannya.
"Hai, Mil!"
Rosa meletakkan minuman itu di atas meja.
Sementara, Karmila menatap gadis itu dengan heran.
"Kok kamu jam segini udah mulai kerja."
Sewaktu ia pergi ke rumah sakit tadi pagi, ibu mengatakan kalau Rosa baru saja berangkat ke kampus.
"Aku baru aja datang, eh! Pak Bos bilang, kamu mau ke sini sama Kak Rayyan," sahut Rosa. Rayyan mendekati Karmila.
"Sayang ... sekalian makan siang di sini aja ya, habis makan siang kita pulang." Karmila mengangguk. Saat ini perutnya memang terasa sangat lapar.
"Pesan sama Rosa makanan yang kamu suka, aku kelarin dulu urusanku sama Refan," lanjut Rayyan sambil mengelus kepala Karmila kemudian mengecup keningnya. Karmila melotot kesal, sementara Rayyan menutup mulutnya.
"Ups! Maaf sayang ... kelepasan!"
Rayyan tersenyum, kemudian buru-buru melangkah mendekati Refan yang ikut tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Karmila mengepalkan tangannya dengan perasaan kesal. Ingin rasanya dia memukul bibir Rayyan yang sudah seenaknya saja menciumnya.
Akan tetapi, saat ini sedang ada Rosa dan Refan, jadi Karmila harus bersabar.
'Saat sampai di rumah nanti, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu.'
Karmila masih menatap Rayyan dengan tatapan kesal, tetapi Rayyan pura-pura tidak melihat. Sementara Rosa menahan tawanya melihat muka Karmila yang memerah menahan amarah.
"Udah, Mil, dicium suami sendiri masa marah, dosa loh nolak suami," goda Rosa
"Rosaaa ...!"
*
*
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, komen, dan votenya ya teman-teman 🙏
kalau judul awalanya NYIDAM..pak su mah gak bisa protes.. 🤭🤭
bar bar lg