Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencegatan Berbuah Rencana
Adi rupanya belum menyerah dengan usahanya. Pantang mundur sebelum janur kuning melengkung, begitu prinsipnya meski sebenarnya janur itu sendiri sepertinya enggan melengkung untuknya.
Berbagai cara telah ia tempuh demi bisa bertatap muka, atau sekadar melempar senyum kepada Azalea. Tetapi hasilnya selalu nihil, zonk, alias tidak pernah gong. Bagaimana mau gong, kalau Azalea selalu dipagari dengan ketat oleh Hagia? Pria itu seperti tembok raksasa nan kokoh yang menghalangi Adi bahkan untuk sekadar menghirup udara yang sama dengan Azalea.
Seperti saat ini misalnya. Adi kembali memutar otak, memeras sel-sel kreativitasnya yang sebenarnya agak terbatas itu. Kali ini sebuah ide muncul, ua akan mencegat Azalea di tempat yang biasa dilalui gadis itu. Lokasinya strategis, banyak pepohonan rimbun. Adi memutuskan untuk nangkring di atas pohon.
Rencananya begini, saat Azalea lewat, ia akan memberi kode kepada kacungnya untuk keluar dari persembunyian dan mulai mengganggu atau menakut-nakuti Azalea.
Di saat Azalea merasa terpojok dan ketakutan, di saat itulah Adi akan beraksi. Ia akan terjun bebas dari dahan pohon, mendarat dengan gaya paling keren yang bisa ia lakukan (meski risikonya kaki terkilir), lalu berteriak, "Jangan takut, Azalea! Aku di sini!" Taraaa! Dia akan terlihat seperti pangeran penyelamat yang turun langsung dari langit, bukan sekadar pria yang jatuh dari pohon karena kurang kerjaan.
"Ide briliant. Pintar juga kau, Adi." gumamnya sendiri sembari senyam-senyum membayangkan Azalea akan menatapnya dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.
Tapi eh tapi, realita memang sering kali lebih pahit daripada empedu. Sudah beberapa jam Adi bertahan di atas dahan pohon, melawan gatal karena digigit semut merah dan pegal di sekujur badan, namun sosok Azalea tak kunjung tiba. Bagaimana mau tiba? Informasi yang Adi punya ternyata kkadaluwarsa
Azalea hari ini terjadwal tidak keluar dari lingkungan asrama sama sekali. Gadis itu sedang sibuk-sibuknya membantu para mahasiswa yang sedang menjalankan KKN. Mereka sedang asyik membuat pupuk organik, menyemai bibit tanaman, dan menyiapkan berbagai bibit pohon untuk dibagikan ke masyarakat sebagai bagian dari upaya melestarikan alam. Azalea sedang berkutat dengan tanah dan kompos, bukan sedang berjalan santai di bawah pepohonan tempat Adi nangkring.
Jadi, mau sampai malam pun Adi menunggu di tempat itu, sampai dia berlumut atau tumbuh akar sekalipun, Azalea tidak akan pernah lewat. Pikiran Adi memang hanya sebatas pada rencana teknis mencegat. Urusan mencari informasi detail apakah targetnya sedang keluar atau tidak, Adi sama sekali tidak terpikir sampai ke sana. Itulah kelemahannya, semangatnya tinggi, daya nalarnya nol besar.
Tiba-tiba, mata Adi yang sudah mulai mengantuk itu menangkap sebuah pergerakan dari arah selatan. Seorang wanita berjalan sendirian. Dari kejauhan, posturnya tampak samar, namun Adi yakin itu pasti target yang dinanti.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba." Gumam Adi dengan nada penuh kemenangan. Ia segera memberi komando dengan kode jari kepada kacungnya agar bersiap-siap melakukan akting preman gadungan.
Si kacung pun keluar dari persembunyian dengan wajah yang dibuat-buat garang. Ia segera menghadang langkah wanita itu. Namun saat jarak sudah sangat dekat, barulah mereka sadar bahwa wanita itu bukan Azalea. Dia adalah Suci, teman dekat Azalea.
Sialnya Adi dan kacungnya itu memang sebelas dua belas alias setali tiga uang dalam hal kecerobohan. Karena sudah terlanjur beraksi, kacung ini tetap mencoba menakuti-nakuti meski dengan keraguan. Suci yang saat itu hatinya memang sedang tidak karuan, merasa sangat terganggu.
Bukannya merasa takut, Suci justru berkacak pinggang. "Kamu itu apa-apaan, sih?! Kurang kerjaan ya?!" semprot Suci.
Melihat keadaan berantakan, Adi akhirnya turun dari pohon dengan gaya yang jauh dari kata pangeran. Ia justru mendarat dengan suara buk yang cukup keras karena kakinya tersangkut ranting. Suci langsung memberikan ceramah panjang lebar, sebuah wejangan yang mengalir seperti air bah. Ia mengomeli mereka tentang etika, tentang betapa konyolnya perbuatan mereka, dan betapa tidak bergunanya tindakan mengganggu orang lain demi sebuah rencana picisan.
Kebetulan, Suci sendiri memang sedang dirundung kesedihan. Ia merasa kecewa dengan Azalea karena ada sebuah kesalahpahaman kecil di antara mereka. Suci kecewa kepada Azalea karena merasa telah dibohongi sewaktu insiden nonton wayang. Rupanya Azalea malah berduaan dengan Hagia di asrama. Kemarahan Suci kepada Adi sebenarnya adalah pelampiasan dari rasa sesaknya sendiri.
Adi yang merasa terpojok akhirnya menyerah. Dengan wajah memelas, ia menjelaskan sejujurnya mengapa ia melakukan ini semua. Ia bercerita tentang betapa sulitnya mendekati Azalea, betapa ia merasa putus asa karena selalu ada penjagaan ketat di sekitar gadis itu. Mendengar penjelasan Adi yang tampak sangat tulus sekaligus menyedihkan itu, kemarahan Suci mereda.
"Dengar ya, Adi, kalau caramu seperti ini, sampai kiamat pun Azalea tidak akan melirikmu. Tapi aku ada cara buat kamu bisa dekat sama dia."
Wah!
Mata Adi seketika berbinar-binar. "Serius, Ci? Caranya gimana? Apa saja bakal kulakuin!"
Suci kemudian membeberkan sebuah rencana yang lebih masuk akal.
"Daripada kamu jadi pengintai seperti ini, mending kamu daftar masuk ke Sanggar saja. Azalea kan aktif di sana. Dengan begitu, kamu punya alasan yang sah untuk berada di dekatnya setiap hari."
"Memangnya bisa? Aku tiap ke sana saja sulit sekali buat menembus ke dalam. Pintunya selalu tertutup rapat buat orang kayak aku."
"Yang kamu lakukan selama ini itu cuma mengintai, Di. Kamu itu kayak penyusup. Ya jelas saja dipersulit. Ini beda, ini kamu mendaftar secara resmi untuk bergabung jadi anggota. Beda rasanya kalau kamu jadi bagian dari komunitas tersebut dibandingkan cuma jadi orang luar yang ingin menerobos masuk. Hasilnya pasti beda."
Adi tetap merasa ragu. "Tapi di sana ada Hagia. Melihat dia saja aku sudah jiper duluan."
Suci sebenarnya sudah tahu celah dan cara untuk mempermudah pendaftaran Adi tanpa terlalu mencolok di depan Hagia, lantas ia menyuruh Adi untuk mendekat.
"Sini, mendekat sedikit. Aku mau kasih tahu sesuatu tapi jangan sampai ada yang dengar."
Adi pun mendekat dengan penuh rasa ingin tahu.
...***...
Di sisi lain,
Hagia terpaksa mangkir lagi dari tugasnya membersamai Azalea. Alasannya cukup mendesak, ia mendapatkan panggilan darurat dari ayahnya yang membutuhkan bantuan segera. Begitu urusannya selesai, ia langsung tancap gas menuju tempat di mana Azalea tadi melakukan aktivitas bersama mahasiswa.
Sesampainya di sana, Hagia hanya menemukan sisa-sisa kegiatan. Azalea rupanya sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke asrama lebih awal. Hagia pun bergegas kembali ke asrama, namun sesampainya di sana, ia mendapat kabar bahwa Azalea sudah berada di dalam kamar. Hagia menghela napas panjang. Ia merasa tidak enak jika harus mengetuk pintu dan mengganggu istirahat gadis itu hanya untuk menanyakan kabarnya.
Akhirnya Hagia memutuskan untuk menyibukkan diri dengan hal lain, yaitu mempersiapkan tema untuk pentas penentuan juara nanti. Di sampingnya ada Cong.
"Lur," panggil Cong dengan logat khasnya yang kental. "Sebenarnya hubunganmu sama Azalea itu bagaimana? Jujur bae lah, aku tuh ora mudeng alias tidak paham sama sekali. Kalian itu kelihatan kayak pasangan, tapi kok nggak ada pengakuan atau status yang jelas?"
Hagia terdiam. Ia menyandarkan punggungnya di tembok. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu ia hindari, bahkan dari dirinya sendiri.
Ketika Cong mendesaknya lagi, Hagia akhirnya menjawab.
"Aku sayang sama dia, Cong. Tapi dia sayang sama orang lain."
Cong terbelalak kaget. "Lha, kok bisa begitu? Padahal kalau aku lihat-lihat kalian kalau lagi berdua, Azalea itu kayaknya suka juga sama kamu. Cara dia menatapmu, cara dia bersandar padamu, itu nggak bisa bohong, Lur."
Baru saja pembahasan mendalam mereka tentang perasaan akan berlanjut, tiba-tiba pembicaraan mereka terpotong. Salah satu anggota organisasi lainnya datang menghampiri Hagia.
"Ketua, maaf ganggu. Ini ada urusan penting. Di depan ada orang yang mau daftar masuk ke sanggar," lapor anggota tersebut.
Hagia mengerutkan kening.
"Terima sesuai prosedur biasanya aja." Jawab Hagia.
"Iya, tapi masalahnya orangnya itu Adi Riyanto."
Hagia langsung bangkit. Tidak pakai basa-basi lagi, ia pun melangkah menghampiri Adi dengan si Cong yang mengekor dibelakangnya.
.
.
Bersambung.
Adi sewaktu cegat Azalea.