Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Istriku, lakukan saja sesuai keinginanmu,” ucap Holdes dengan nada tenang namun berat. Ia menatap Janetta tanpa menghindar. “Kau tahu, sejak pertama kali aku menemukanmu… aku sudah membuat keputusan untuk selalu mendengarkanmu.”
Janetta menatapnya, seolah ingin menembus hingga ke dasar hatinya.
“Lagipula,” lanjut Holdes pelan, “semua asetku sudah atas namamu. Jadi walaupun Chimmy menjadi istriku sekalipun, dia tidak akan mendapatkan apa pun. Tidak satu sen pun darimu.”
Sudut bibir Janetta terangkat samar.
“Kau tidak sakit hati,” tanyanya lirih namun tajam, “alat mainanmu aku jadikan korban?”
Holdes menggeleng pelan. Tatapannya serius, tanpa jejak ragu.
“Aku lebih mengutamakan perasaan istriku. Karena aku yang bersalah, maka semua keputusan ada di tanganmu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, nyaris seperti permohonan,
“Aku hanya meminta satu hal… jangan sampai anak-anak kita ikut terluka karena perbuatanku.”
Janetta menarik napas dalam-dalam. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya menyimpan badai.
“Anak-anak sudah besar,” jawabnya. “Mereka bisa membedakan siapa yang salah dalam hal ini.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu—hening yang sarat makna, seolah keduanya memahami bahwa ini bukan sekadar soal pengkhianatan, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Di luar pintu, Lucy menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Urat di punggung tangannya menegang menahan emosi yang meluap.
“Ternyata semua hartanya sudah jatuh ke tangan istrinya…” gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Kalau begitu, walaupun aku mendekatinya, aku tidak akan mendapatkan apa-apa.”
***
Keesokan harinya.
Butik busana milik Janetta Lee berdiri anggun di pusat kota. Kaca etalasenya memantulkan kemewahan—gaun eksklusif, tas edisi terbatas, dan suasana yang jelas hanya ditujukan bagi kalangan atas.
Seorang wanita muda melangkah masuk. Dialah Chimmy.
Tatapan Chimmy menyapu seluruh butik dengan mata penuh keserakahan.
"Jadi inikah milik wanita itu? "batinnya. "Mewah sekali. Pasti semua ini dibeli dari uang Holdes. Tidak lama lagi… semuanya akan menjadi milikku."
“Selamat datang, Nona,” sapa seorang pelayan dengan sikap sopan dan profesional.
Chimmy mendongak, dagunya terangkat angkuh.
“Apakah bos kalian Janetta Lee?” tanyanya tanpa senyum.
“Benar, Nona. Apakah ada yang bisa kami bantu?”
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah sang pelayan, membuat butik mendadak sunyi. Beberapa pengunjung menoleh kaget.
“Beginikah pelayanan butik berkelas?” hardik Chimmy sinis. “Mengecewakan.”
Seorang wanita paruh baya—manajer butik—bergegas mendekat.
“Nona, ada apa? Kenapa Anda menampar karyawan kami?”
“Kau manajer?” Chimmy menyeringai meremehkan. “Di mana bos kalian? Seharusnya dia yang menyambutku, bukan bawahan seperti kalian.”
“Nona, mohon maaf. Bos kami sedang sibuk. Jika ada keperluan—”
“Kalian?” potong Chimmy kasar. “Aku calon pemilik butik ini. Siapa kalian berani-beraninya menghalangiku?”
Ia mengangkat ponselnya, menampilkan foto dirinya bersama Holdes di Paris.
“Aku akan segera menggantikan posisi istri Tuan Shen. Aku adalah calon istrinya. Bukan Janetta Lee.”
Suasana butik langsung membeku. Beberapa karyawan terdiam, pengunjung saling berpandangan.
“Tuan Shen adalah calon suamiku,” lanjut Chimmy dengan suara lantang. “Istri kesayangannya adalah aku.”
“Benarkah?”
Suara itu tenang… namun dingin.
Chimmy menoleh. Seorang wanita berdiri di sana—anggun, berwibawa, dengan tatapan tajam yang langsung membuat napas Chimmy tercekat.
Aura Janetta Lee menekan tanpa perlu teriak.
“Nyonya,” ujar manajer dengan gugup, “nona ini membuat keributan.”
Janetta melangkah mendekat, matanya beralih ke pelayan yang tertunduk.
“Dia menamparmu?” tanyanya singkat.
“Iya, Nyonya,” jawab pelayan itu lirih.
Tanpa ragu.
Tanpa peringatan.
Plak!
Tamparan Janetta mendarat jauh lebih keras. Kepala Chimmy terhempas ke samping, darah langsung mengalir di sudut bibirnya.
“Kau berani menamparku?!” jerit Chimmy. “Aku akan melaporkanmu!”
Janetta menatapnya datar, seolah melihat serangga.
“Melaporku?” ulangnya pelan. “Dengan apa? Modal tubuhmu?”
Ia mendekat setengah langkah, suaranya tetap rendah namun menghancurkan.
“Bocah, saat kau masih belajar merayu pria, aku sudah menghadapi orang-orang yang jauh lebih berbahaya darimu.”
Janetta menoleh ke sekeliling.
“Di setiap sudut butik ini ada CCTV. Aku bisa menyerahkan semua rekaman ke polisi—penyerangan, penghinaan, perusakan nama baik. Apakah kau sanggup membayar ganti rugi?”
Tatapan Janetta kembali mengunci Chimmy.
“Kau datang ke tempatku, menghina karyawanku, menampar orangku… lalu mengira bisa aku biarkan begitu saja?”
Senyum tipis muncul di bibir Janetta—dingin dan mematikan.
“Menghadapi selingkuhan sepertimu… bukan masalah besar bagiku.”
“Janetta Lee, kalau Holdes tahu kau menamparku,” ujar Chimmy dengan suara bergetar menahan amarah, “dia pasti akan marah besar padamu. Kali ini pun dia yang menyuruhku datang menemuimu—agar kau tahu diri dan mundur sendiri.”
Janetta perlahan mengangkat tangannya. Bekas tamparan masih terasa di telapak tangannya, namun wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa emosi.
Ia mengambil sapu tangan, mengusap jemarinya dengan gerakan elegan, lalu—tanpa ragu—melemparkannya ke dalam tong sampah.
“Wanita yang menjadi selingkuhan…” ucap Janetta dingin, “memang menjijikkan.”
Wajah Chimmy memerah. Dadanya naik turun menahan amarah yang makin membara.
“Kalau di tempat lain kau bisa menyebut nama Holdes,” lanjut Janetta sambil melangkah mendekat, “di sini—akulah yang berkuasa. Tidak perlu membawa-bawa namanya.”
Ia menatap Chimmy dari ujung kepala hingga kaki, sorot matanya penuh penilaian.
“Kau ingin menjadi istri Holdes? Maka kau juga harus mendapatkan persetujuanku.”
“Apa?” Chimmy tertawa mengejek. “Persetujuanmu? Yang akan menikahiku adalah Holdes, bukan kau.”
“Benar,” sahut Janetta tenang. “Karena itu aku memberimu kesempatan.”
Chimmy terdiam.
“Bagaimana jika aku memberimu sebuah ujian?” lanjut Janetta. “Jika kau lulus, aku akan dengan senang hati menerimamu. Tapi jika gagal—kau harus mengaku kalah dan pergi dengan terhormat.”
“Ujian?” Chimmy menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”
Janetta tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak ramah.
“Chimmy, kau hanyalah seorang gadis yang bahkan lebih tua dua tahun dari putriku.”
Wajah Chimmy menegang.
“Asal kau tahu,” lanjut Janetta pelan namun mematikan, “semua uang yang suamiku berikan padamu… adalah uangku juga. Seluruh asetnya sudah atas namaku.”
Ia mendekat satu langkah lagi.
“Kalau aku menolak, apakah dia masih bisa menikahimu? Dan kalau dia kehilangan semuanya—harta, kekuasaan, status—apakah kau masih bersedia menikahi seorang pria yang tidak memiliki apa-apa?”
Chimmy terdiam. Lidahnya kelu.
“Jadi,” Janetta menyimpulkan dengan suara dingin, “aku sudah cukup baik memberimu ujian.”
Ia menatap Chimmy lurus, tanpa berkedip.
“Jika kau lulus dari tantangan ini, kau boleh hidup bersama Holdes… selama yang kau mau.”