sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
4 tahun lalu.
Saat tauke ingin merencanakan perpindahan markas besar keluarga Thong di ibu kota, terdengar keributan dari halaman parkir utama.
aku yang kebetulan sedang tidur terbangun dan bergegas menuju halaman parkir utama. terdapat dua mobil jip yang menurunkan empat tubuh terluka parah. Dokter langsung mengecek keadaan mereka. Berdiri lantas menggeleng pelan. Nyawa mereka tak tertolong.
Satu diantara empat tukang pukul itu menjelaskan saat mereka bertugas mengurus pemberangkatan di ibu kota, secara tidak terduga pasukan Arab yang konon katanya sudah dibumi hanguskan hingga ke akar akarnya menyerang. Tukang pukul itu membawa ikat kepala mereka sebagai bukti mereka diserang oleh kelompok Arab.
Tauke menggeram. "keluarkan mobil jip, kejar mereka semua, dasar orang tidak sadar diri!"
Semua tukang pukul gesit berlarian sana sini, menyiapkan senjata lantas mengeluarkan mobil jip yang seharusnya sudah siap di pelabuhan. ratusan tukang pukul meninggalkan markas dan bergegas menyerbu, mengikuti jejak terakhir mereka sesuai informasi yang telah diberikan salah satu tukang pukul tersebut.
jam tujuh pagi.
Aku dan tauke sedang membereskan ruangan kerja utama. banyak yang harus diurus sebelum pindah ke ibu kota. Namun firasatku merasa ada yang aneh, sangat sepi sekali di sini.
Pukul delapan, barulah firasatku menunjukkan bahwa memang ada yang ganjil. Terdengar jeritan kencang dari luar. Menyusul suara alarm bahaya terdengar di seluruh benteng. Aku mendongak, ada apa? Sebagai jawabannya, terdengar suara berdentum kencang dua kali. Aku tiarap, berlindung, lantai ruangan terasa bergetar
Tauke refleks berdiri. Dia berpengalaman, segera tahu apa yang terjadi.
"aktifkan pintu besi." tauke berteriak, menyuruh seorang pelayan
Pelayan itu tergopoh gopoh hendak menekan tombol di dinding ruangan. Terlambat. Serangan itu mendadak sekali.
Pintu besi sudah diledakkan. pelayan yang hendak menekan tombol terhempas beberapa langkah kebelakang. Pintu besi hancur begitu saja.
jeritan jeritan panik terdengar.
"tenang semua tenang" tauke besar berseru.
Beberapa pelayan meringkuk gemetar di sekitarku, yang lain menjerit ketakutan. Ternyata kelompok Arab yang para tukang pukul kejar ada disini. Mereka terus maju, mulai masuk ke bangunan utama.
Aku berdiri, meletakkan tumpukan berkas, dan napasku mulai kencang. Cepat atau lambat, para penyerang akan tiba di ruangan ini. Tidak ada yang biasa menahan mereka.
Tauke bergegas melangkah ke mejanya, mendengus marah. Dia sudah terbiasa menghadapi serangan seperti ini. berpuluh tahun hidup di dunia hitam, ia tahu bahwa penyerbuan adalah hal biasa. Dia masih memiliki rencana cadangan selain mengaktifkan teralis besi.
tiga puluh anggota kelompok Arab itu sudah masuk ke lorong bangunan utama. Suara teriakan galak mereka terdengar. Susul menyusul dengan jeritan para pelayan di sepanjang lorong. Mereka mengacungkan pedang, merangsek menuju ruangan kami.
Tauke besar sudah menunggu. Persis saat mereka tiba di depan pintu, tauke menekan tombol di mejanya. Lorong itu meledak. Delapan dari anggota kelompok Arab tekapar seketika. Sebelum mereka sempat menoleh ke arah kami, tauke mencabut pistol dan menembak mereka. Dua peluru bersarang di dahi mereka, menyusul dua orang lagi terkapar. Tersisa dua puluh orang lagi. tauke terus menembak, hingga tersisa dua belas lagi. Hanya saja , amunisi pistol itu cuma enam, sedangkan dua peluru sisanya berhasil dihindari oleh mereka. Jarak mereka sudah semakin dekat, pedang teracung buas.
Aku menggeram, tanganku terkepal. Inilah waktu yang ku tunggu tunggu. Tauke tidak pernah memberikan izin kepadaku untuk melakukan tugas bersama tukang pukul lain. Tapi pagi ini, takdirku datang menjemput dengan sendirinya, aku lompat ke samping, ingat kotak kayu yang menyimpan pedang hadiah guru Bushi untuk tauke. Aku menendang tutup kotaknya, mengait pedang itu dengan kaki, melemparkannya ke atas, dan persis saat pedang itu mengambang di depanku, tanganku menyambarnya. Aku memegang kokoh hulunya, menyabetkannya ke depan.
delapan lawan satu. Aku sungguh tidak takut. Toh aku juga pernah berurusan dengan satu klan scarlet. Dengan teknik ninja yang sudah dimatangkan dengan latihan berbulan bulan oleh guru Bushi, aku menghunuskan pedang ke depan. Suara pedang yang bergesekan terdengar nyaring. gerakanku cepat, satu sudah tumbang terkena pedang di dadanya. Tinggal tujuh lagi. cepat sekali seranganku di tengah kepul debu. Tubuhku lincah bagai seorang ninja tak terlihat, membuat dua penyerang seketika tumbang. Tidak ada ampun, tidak ada keraguan dalam menebas musuh.
guru Bushi selalu bilang "ingat, Kenzy. Jika kau tidak membunuh mereka dulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. pertempuran adalah pertempuran. tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang."
Aku menggigit bibirku. Tubuhku meliuk menghindari dua sabetan pedang, menunduk menghindari tusukan berikutnya. aku lantas naik ke atas kursi, menggunakan ketinggian kursi itu untuk loncat ke depan, dan mendarat di belakang mereka. Masih dengan posisi membelakangi, tanpa melihat penyerang, pedangku menghujam dari bawah ke atas, dari depan ke belakang. Itu gerakan khas guru Bushi, baru kukuasai setelah enam Minggu berlatih. Penyerangku tumbang dengan luka menembus dadanya.
Tiga tewas, tersisa lima orang sekarang.
Lima penyerang yang terhenti gerakannya.
kelompok Arab itu menatapku jerih. Mereka seperti baru saja menyaksikan kengerian besar saat tiga temannya tewas dalam hitungan detik.
"siapa kau?" pemimpin Arab bertanya dengan suara serak. pedang mereka masih teracung padaku, kapan pun bisa menyerang
Aku mendesis, sebagai jawabannya balas mengacungkan pedang.
"siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu di antara tukang pukul keluarga Thong."
aku tetap tidak menjawab. Kaki ku bergeser, memasang kuda-kuda.
Adalah tauke besar yang akhirnya menjawab. Suaranya lantang di langit langit, penuh rasa bangga, "siapa dia? Dialah Kenzy! Jagal nomor satu di rumah ini."
Lima anggota kelompok Arab itu saling tatap tidak mengerti. Tauke terkekeh-tawa penuh kemenangan. "kalian benar benar keliru berhitung. Kalian pikir dengan berhasil masuk ke ruangan ini kalian bisa membunuhku? Rumah ini tidak mudah ditaklukkan. Kalian justru telah membangunkan monster keluarga ini."
"habisi mereka, Kenzy! Itu tugas pertamamu sebagai tukang pukul!"
Dadaku seperti mengembang mendengar perintah itu. Mataku berkaca kaca menahan rasa haru. pagi ini tauke besar telah memberikan tugas pertama untukku. Tidak akan kusia siakan, akan ku tunaikan tugas ini dengan baik.
Aku berteriak, pedangku bergerak. Sebelum mereka sempat menyadarinya, satu penyerang sudah tumbang dengan dada terluka, menyusul satu lagi yang paling dekat denganku.
Sisa perkelahian bisa ditebak dengan mudah. Tauke besar juga sudah berhasil mengisi pistol nya. Dua yang lain tumbang karena tembakan tauke. Yang terakhir , pemimpin kelompok Arab, sempat memberikan perlawanan selama tiga menit dan melukai lengan juga merobek bajuku. Tapi lewat gerakan cepat teknik shadow kill, aku merobohkannya.
delapan penyerang terkapar di lantai ruangan kerja tauke. Lengang.
pedang terlepas dari tanganku. Aku menyeka keringat dan debu di pelipis.
"kau baik baik saja, Kenzy?" tauke berlari mendekatiku.
Aku baik baik saja.
Aku tertunduk di lantai, menatap darah merah yang mengalir di atas marmer