NovelToon NovelToon
Bukan Simpanan Biasa

Bukan Simpanan Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan orang dalam

"Aku tidak pernah merayu suami siapapun," jawab Starla yang menolak untuk difitnah.

"Jangan bohong! Kau pikir, aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan, hah? Kau itu terus menggoda suamiku agar dia mau kembali ke restoran mu lagi."

Wanita berusia 40 tahunan itu terus berbicara. Dia keukeuh dengan pendiriannya bahwa sang suami sudah digoda oleh Starla.

"Apa Anda punya bukti?" tanya Starla sambil menahan geram didalam hatinya.

Saat ini, banyak orang yang berkumpul menyaksikan. Suasana di depan restoran benar-benar sangat ramai. Entah, karena mereka ingin makan, atau justru datang karena tahu jika di restoran tersebut sedang ada masalah besar.

Perkara makanan yang ada cicaknya saja belum diselidiki dengan jelas. Sekarang, ditambah lagi dengan fitnahan baru bahwa Starla sengaja menggoda suami orang.

Starla yakin, dibalik semua ini pasti ada dalangnya. Seseorang sengaja menargetkan dirinya.

"Bukti? Heh, tentu saja ada," sahut wanita itu. "Eddie! Kemari kau!" teriaknya memanggil seseorang.

Tiba-tiba, seorang laki-laki berbadan pendek dengan tubuh gemuk menerobos kerumunan. Dia mendekat pada perempuan yang sedang marah-marah itu dengan ekspresi ketakutan.

"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya pria itu.

"Apa perempuan ini yang selalu menggodamu agar kamu betah datang ke restorannya setiap hari?" tanya perempuan itu kepada pria yang dia akui sebagai suami.

Pria berbadan pendek dan gemuk itu menoleh sesaat ke arah Starla. Tak lama, dia mengangguk.

"I-iya."

"Nah, kau dengar sendiri, kan?" kata perempuan itu dengan senyum penuh kemenangan.

Satu kata 'iya' yang menjadi jawaban dari pria itu sontak menjadi bola panas yang bergulir cepat.

Kasak-kusuk mulai terdengar di kalangan para penonton. Kebanyakan terdengar seperti mengatai dan menghina Starla.

"Wah, ini benar-benar keterlaluan. Aku pikir, restoran ini ramai karena makanannya memang enak. Ternyata... Karena pemiliknya tukang penggoda, ya?"

"Jadi, ini rumah bordil yang berkedok restoran?"

"Sungguh keterlaluan! Perempuan penggoda seperti dia harusnya mati saja agar tidak meresahkan para istri sah."

"Ya, aku setuju. Perempuan seperti dia memang layak mati."

Starla menunduk sejenak. Air matanya mulai berlinang. Semudah itukah menyuruh seseorang untuk mati?

Hanya karena satu tuduhan tak berdasar, lantas nyawa orang lain sudah dianggap tak berarti lagi?

"Anda yakin, kalau Anda sering makan di sini?" tanya Starla kemudian.

"Te-tentu saja. Biasanya... kamu juga yang melayani aku, kan?" sahut pria itu.

"Biasanya, Anda memesan apa?" tanya Starla lagi.

Pria itu tampak kebingungan. Dia garuk-garuk kepala. Mencoba menoleh ke arah nama restoran untuk menebak-nebak menu apa saja yang dijual di tempat itu.

Sayangnya, tidak ada petunjuk apapun.

"Bi-biasanya, aku pesan..." dia berpikir lama sekali. "... Hotpot."

"Apa Anda datang setiap hari?"

"Tentu saja. Kamu juga sering memaksa untuk menyuapi aku."

Senyum sinis Starla seketika tersungging di sudut bibirnya.

"Maaf, Tuan! Sepertinya, Anda salah restoran. Di sini, tidak menjual hotpot," ujar Starla penuh penekanan.

Sepasang manusia yang mengaku sebagai suami-istri itu tampak saling pandang dengan perasaan gugup. Bagaimana ini? Akankah sandiwara mereka terbongkar?

"Starla, apa kau benar-benar menggoda suami orang?"

Kanaya mendadak muncul. Perempuan itu sepertinya sudah menunggu dan mengawasi sejak tadi.

"Kenapa kau di sini?" tanya Starla dengan sinis.

"Aku ke sini karena aku mendengar bahwa kau sedang kesulitan. Aku berniat untuk datang membantu mu," jawab Kanaya.

Kemudian, perempuan licik yang selalu berpura-pura lemah itu berjalan menghampiri sepasang suami-istri yang tadi memfitnah Starla.

Kanaya membungkuk dihadapan keduanya dengan tampang memelas. "Tuan, Nyonya... Atas nama adikku, aku minta maaf. Aku berjanji, ini terakhir kalinya adikku menggoda suami Anda."

"Apa yang kau katakan!?" tanya Starla tak habis pikir.

"Adik..." lirih Kanaya. "Sekalipun kamu bersalah, tapi aku tahu jika kamu hanya khilaf sesaat. Sekarang, minta maaflah pada Nyonya ini! Aku yakin, dia pasti akan memaafkan kamu asal kamu bersedia berjanji untuk menjauhi suaminya di masa depan. Benar begitu, Nyonya?"

Tatapan Kanaya pada wanita itu seolah menyiratkan sesuatu. Ada komunikasi batin yang hanya keduanya yang bisa mengerti.

"Be-betul," angguk wanita itu. "Asal kau bersedia berlutut dan meminta maaf, aku akan mempertimbangkan untuk memaafkan kamu."

Kanaya sangat senang sekali. Bola panas yang bergulir semakin membesar saja apinya. Sedikit lagi, Starla pasti akan terbakar sampai habis.

"Tidak perlu," tolak Starla. "Kita serahkan semua masalah ini pada penegak hukum saja. Siapa yang bersalah, pasti akan segera terungkap," ucap Starla.

Wajah senang Kanaya langsung berubah panik. Kalau melibatkan polisi, maka semuanya pasti akan ketahuan. Dan, mau tidak mau, dia pun pasti akan ikut diselidiki.

"Tidak usah melibatkan polisi, Starla. Masalah ini sebenarnya sangat sederhana. Kamu cukup minta maaf dan semuanya selesai. Bagaimana?" bujuk Kanaya.

Starla tersenyum sinis. Dia benar-benar muak pada Kanaya.

"Starla... Ayolah! Jangan keras kepala!" lanjut Kanaya seraya memegang lengan Starla.

Dia menyeringai licik kemudian dengan sengaja menekan kuku panjangnya ke permukaan kulit Starla hingga Starla reflek mendorongnya hingga jatuh.

"Starla, apa yang kau lakukan?" lirih Kanaya dengan ekspresi sedih. "Aku hanya berniat membantumu. Tapi, kenapa kamu malah marah?"

Starla menggeleng pelan. "Kau terlalu banyak drama, Kanaya. Kenapa tidak jadi aktris saja?"

Kanaya berdiri berkat bantuan beberapa orang.

"Starla... Apa meminta maaf terlalu sulit? Perlukah aku yang membantumu?"

Starla tak menjawab. Dia mengorek kupingnya dengan jari kelingkingnya.

"Baiklah! Aku akan berlutut pada mereka untuk mewakili kamu meminta maaf," lanjut Kanaya.

"Nona, jangan lakukan itu! Adikmu yang bersalah. Kamu tidak seharusnya menanggung kesalahan adikmu."

"Ya, itu benar. Adikmu sudah dewasa. Sudah seharusnya, dia bertanggung jawab dengan perbuatannya sendiri."

"Tidak apa-apa," sahut Kanaya. "Dia adikku. Wajar, jika seorang Kakak membantu adiknya."

"Kita ketemu di kantor polisi saja!" teriak Starla sambil membelah kerumunan untuk masuk ke dalam restoran miliknya.

"Hei, tunggu!" teriak perempuan yang mengaku suaminya digoda itu.

Sayangnya, Starla tidak peduli. Dia bergegas masuk ke dalam restoran lalu meminta para karyawannya untuk segera menutup pintu restoran.

"Kenapa semuanya jadi hancur begini?" tanya Starla kepada para karyawannya.

Kondisi didalam restoran benar-benar kacau. Banyak peralatan makan yang pecah. Pun, dengan beberapa furniture dan hiasan dinding.

"Tadi, banyak massa yang tiba-tiba datang kemari dan mengamuk. Mereka bilang, Anda adalah pelakor yang tidak tahu malu."

Starla duduk di salah satu kursi. Dia mengusap darah yang masih mengalir turun di pipinya dengan tisu yang tersedia diatas meja.

"Nona Starla, Anda terluka," kata seorang pelayan wanita dengan ekspresi cemas. "Biar saya obati dulu lukanya. Sebentar!"

Dia berlari untuk mengambil kotak obat. Setelah dapat, dia kembali ke depan untuk mengobati luka Starla.

"Luka Anda sepertinya harus dijahit," kata pelayan perempuan itu.

"Tidak apa-apa. Nanti saja," timpal Starla. "Sekarang, kita selidiki dulu soal pengunjung yang mengaku ada cicak di makanannya. Apa kalian sudah cek CCTV? Siapa tahu, ada sedikit petunjuk soal perbuatannya."

"Nona Starla..." panggil seorang pelayan pria dengan ekspresi sedih.

"Ada apa?" tanya Starla.

"Sebelum Anda datang, kami sudah cek CCTV-nya. Tapi, ada sesuatu yang ganjil yang kami temukan."

"Apa itu?"

"Semua kabel CCTV sudah terpotong entah sejak kapan."

Degh!

Starla merasakan jantungnya melewatkan satu debaran. Seseorang benar-benar menargetkan dirinya.

"Jadi, CCTV tidak merekam apapun?" tanya Starla memastikan.

"Iya," angguk pelayan itu.

Rahang Starla tampak mengerat. Dia memejamkan mata sejenak untuk mengusir kemarahan yang mulai mengambil alih akal sehatnya.

"Ada satu informasi penting lagi, Nona Starla," lanjut pelayan itu.

"Boris... tidak datang bekerja hari ini. Kami sudah menghubunginya berkali-kali tapi nomornya tidak aktif. Kami curiga, Boris ada hubungannya dengan kabel CCTV yang tiba-tiba terpotong."

Ya, Boris adalah cleaning service yang bekerja di restoran itu. Masalah CCTV, seringkali memang dirinya yang membersihkan dan memastikan jika semuanya berfungsi normal.

"Tadi pagi, Boris sebenarnya masih aktif di media sosial," tambah pelayan wanita yang tadi membantu Starla untuk mengobati lukanya.

"Dia sedang memposting dirinya yang sedang berlibur di sebuah pulau pribadi. Disampingnya, banyak sekali uang tunai yang dipamerkan. Tapi, setelah saya berkomentar menanyakan keberadaannya, dia langsung menghapus postingan itu."

Mendengar itu, Starla langsung tertawa kencang. Memang benar, dia tak boleh percaya pada siapapun. Termasuk, seseorang yang katanya bernasib begitu malang.

"Boris..." geram Starla. "Aku sudah berbaik hati untuk memungutmu dari jalan, memberimu pekerjaan, bahkan turut memberimu tempat tinggal. Tapi, ternyata balasanmu malah seperti ini, ya?"

1
Yulia Dhanty
bagus n menarik
mery harwati
Bagus Starla 👍
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
mery harwati
Nino sama tolol & bodohnya dengan Arlo bila cara berpikirnya Starla akan datang & minta pertolongan sama dia, padahal Starla jelas² sudah bilang tak mau barang bekas Kanaya (termasuk Nino)
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪
Wiwit Manies
mana ini lanjutan nya /Pooh-pooh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!