Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.31
Arsyila mengerjapkan matanya saat mendengar bunyi alarm dari ponsel miliknya.
"Ternyata sudah Adzan Maghrib," gumam Arsyila lalu ia melepaskan pelukan tangan suaminya.
Arsyila mencoba membangunkan suaminya. Adam langsung saja membuka mata saat merasakan usapan tangan di pipinya.
"Em masih ngantuk, sayang,"ucap Adam yang masih enggan untuk membuka mata.
"Mas, cepat bangun! Sudah adzan maghrib tuh. Kita harus mandi loh. Ya sudah kalau gitu aku mandi duluan." Arsyila beranjak dari atas tempat tidur.
Mendengar perkataan istrinya, Adam langsung bergegas turun dari atas kasur. "Sayang, kita mandi bersama ya biar cepat."
"Malu, Mas. Cila duluan saja nanti baru Mas Adam," kata Arsyila.
"Tidak ada penolakan! Tenang Mas nggak akan ngapa-ngapain kamu kok." Adam langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Benar yang Adam katakan, ia tak melakukan apa pun kepada istrinya. Bahkan ia menahan diri saat merasakan miliknya sudah mulai bereaksi.
Setelah selesai mandi, mereka bersiap untuk shalat berjama'ah. Kali ini Adam yang akan menjadi imam untuk yang pertama kalinya. Berbeda dengan tadi sore, mereka shalat sendiri-sendiri.
Keduanya tampak serius berdoa dalam hati.
'Terima kasih Ya Allah. Akhirnya aku bisa bersatu dengan lelaki yang tulus mencintaiku. Semoga saja Mas Adam bisa menjadi imam yang baik dan menjadi panutanku,' ucap Arsyila dalam doanya.
Setelah selesai berdoa, Arsyila menjabat tangan suaminya lalu mencium punggung tangan itu. Saat sedang membereskan alat shalat, mereka mendengar kwtukan pintu dari luar.
"Biar Mas yang buka pintunya." Lalu Adam melangkah mendekati pintu masuk
Cklek
Ternyata yang datang Bu Ratih. Bu Ratih menatap tajam anaknya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ada apa, Mah?" tanya Adam.
"Kamu ngapain saja sih di dalam? Mamah ketuk pintu dari sore nggak ada sahutan. Kalian dicari sama mertua kalian loh sore tadi."
"Maaf, Mah. Kami habis bikin cucu untuk Mamah," ucap Adam.
Bu Ratih menggelengkan kepalanya. "Dasar tidak sabaran. Malam juga masih ada waktu loh."
"Hehe namanya juga pengantin baru, Mah. Ya Adam nggak sabaran."
"Sekarang kalian bersiap! Kita makan malam sama-sama di restoran bawah," pinta Bu Ratih.
"Baik, Mah. Maaf ya karena menunggu kami, kalian jadi pada belum pulang." Adam merasa bersalah.
Rencananya keluarga Arsyila dan Adam memang akan langsung pulang sore tadi. Tetapi ternyata masih banyak tamu yang berdatangan, terutama dari pesantren Abah Ahmad. Jadi, setelah Maghrib barulah sepi tak ada tamu lagi.
"Bukan salah kalian kok. Hanya saja tadi ada santri yang nanyain kamu. Kasihan mereka baru datang nyariin kamu eh ternyata kamunya asyik bikin adonan."
"Hehe maaf, Mah. Nanti deh kalau senggang Adam sama Cila berkunjung ke pesantren," kata.
"Nah bagus itu. Udah gih siap-siap! Mamah duluan ya," ucap Bu Ratih lalu bergegas pergi.
Adam masuk ke dalam kamar lalu meminta istrinya untuk bersiap.
....
....
Sudah hampir jam tiga pagi tetapi Arsyila sama sekali belum memejamkan mata. Ia menatap suaminya yang berada di atasnya. Adam benar-benar sudah membut sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga. Entah besok masih bisa jalan atau tidak. Ini juga salahnya Adam yang mengkonsumsi obat kuat pemberian temannya. Dan akhirnya Arsyila yang menjadi korbannya.
"Mas, sudah dulu! Aku capek banget ingin tidur," keluh Arsyila dengan nada suara lemah.
"Maaf, sayang." Adam segera menyelesaikannya lalu ia ikut berbaring di sebelah istrinya.
"Alarm jam lima, Mas. Aku mau tidur bentar," ucap Arsyila.
"Siap, sayang."
Keduanya mulai memejamkan mata tanpa terlebih dahulu membersihkan diri. Mereka terlalu ngantuk dan lelah. Hanya dalam hitungan detik saja mereka sudah terlelap.
Arsyila terbangun saat mendengar bunyi alarm. Ia turun dari ranjang lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Arsyila pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arsyila membangunkan suaminya tetapi suaminya tak mau bangun juga.
"Mas, cepat bangun. Mas harus mandi loh terus kita Shalat berjamaah lagi." Arsyila menggoyangkan badan suaminya.
"Sebentar, Mas masih mengantuk, sayang." Adam menarim selimut lalu menutupi kepalanya dengan selimut itu.
"Mas, kalau nggak mau bangun nanti nggak dapat jatah loh," ancamnya.
Seketika Adam langsung bangun dengan semangat empat lima.
"Siap, sayang. Nih Mas sudah bangun, jadi nanti setelah Shalat Subuh dapat jatah ya." Adam mengedipkan sebelah matanya.
"Ini masih perih loh, Mas. Nanti malam saja ya."
"Siang saja ya kalau kita sudah sampai rumah." Adam terus memohon.
"Baiklah." Arsyila menghela napasnya.
Setelah selesai Shalat Subuh mereka langsung mencari sarapan di luar. Berhubung semalam habis kerja ekstra jadi masih pagi pun sudah sangat lapar. Mereka hanya berdua saja karena keluarganya sudah pulang tadi malam.
"Sayang, kamu mau makan apa?"
"Kita cari penjual bubur ayam saja, Mas. Cila lagi pengen makan bubur."
"Baiklah."
Mereka tampak mesra karena Adam yang terus menggandeng tangannya. Bahkan sesekali Adam menciumi punggung tangan iatrinya dan itu membuat istrinya malu-malu. Apalagi mereka di perhatikan oleh orang-orang sekitar.
...
...
Kepulangan Arsyila dan Adam di sambut hangat oleh Pak Wira dan Bu Fitri. Bahkan Bu Fitri sudah menyiapkan makan siang spesial untuk anak dan menantunya.
"Adam, Cila, akhirnya kalian pulang juga. Ayo makan siang dulu! Pasti kalian sudah lapar," ajak Bu Fitri.
"Iya, Mah. Cila mau taruh tas dulu ke kamar," ucap Arsyila.
"Biar aku saja, sayang. Kamar kamu yang sebelah mana?" tanya Adam.
"Di lantai atas yang paling pojok," ucap Arsyila.
Adam pergi membawa barang milik mereka dan menaruhnya di kamar Arsyila. Ia tak tega membiarkan Arsyila yang berjalan tampak kesusahan. Itu semua juga ulahnya yang tadi pagi kembali meminta haknya. Mau tidak mau tentu Arsyila menuruti keinginan suaminya.
Di ruang makan sudah ada Arsyila, Pak Wira, dam Bu Fitri. Mereka menunggu Adam sambil mengobrol.
"Mah, Kak Alvin kok nggak kelihatan?" tanya Arsyila.
"Kakakmu memilih mengurus proyek di luar kota. Lagian kalau disini nanti sakit hati," ucap Bu Fitri.
"Sakit hati kenapa, Mah?" tanya Arsyila yang tak mengerti.
"Alvin itu suka sama kamu loh. Em sudahlah, lagian dia juga sudah mulai move on. Semoga saja disana dia ketemu sama jodohnya," ucap Bu Fitri.
"Amin, Mah," jawab Arsyila.
Terlihat Adam yang baru bergabung dengan mereka. Ia menarik kursi yang ada di sebelah istrinya lalu duduk disana.
"Mas, biar Cila yang ambilkan." Arsyila mengambil piring kosong di hadapan Adam lalu ia mengisinya dengan nasi dan lauk. "Segini cukup?" tanya Arsyila.
"Cukup, terima kasih ya."
"Sama-sama, Mas."
"Nak Adam makanlah yang banyak," ujar Bu Fitri.
"Anggap saja seperti di rumah sendiri. Jangan sungkan!" sahut Pak Wira.
"Baik, Mah, Pah," ucap Adam sambil tersenyum menatap keduanya.
Mereka memulai makan siang tanpa ada yang bersuara. Setelah selesai makan siang, Pak Wira mengajak mereka mengobrol santai. Namun, Arsyila memilih beristirahat di kamar karena kecapean.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.