Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu di atas takhta naga
Dengan pedang hitam di pinggang dan jubah hitam yang berkibar, ia berjalan menuju gerbang utama ibu kota, siap untuk mengakhiri sebuah era.
Langit di atas Ibu Kota Chi Long tidak lagi menampakkan warna biru yang agung. Asap hitam membubung dari puncak Gunung Naga Membara, membawa serta abu dari sisa-sisa kejayaan Sekte Api Suci yang kini telah rata dengan tanah. Keheningan yang mencekam menyelimuti kota tersebut. Jalanan yang biasanya penuh dengan pedagang dan keriuhan warga kini sepi, seolah-olah seluruh kota sedang menahan napas, menunggu algojo melepaskan kapaknya.
Shang Zhi berjalan melewati gerbang utama ibu kota yang telah ditinggalkan oleh para penjaganya. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kulit hitam berdentum pelan di atas jalanan berbatu. Jubah hitam barunya, dengan sulaman naga perak yang seolah hidup di bawah cahaya senja yang memudar, berkibar tertiup angin kencang. Ia tidak terlihat seperti seorang penyerbu; ia terlihat seperti takdir yang datang menjemput.
Di ujung jalan utama yang luas, berdirilah Istana Naga Merah. Megah, angkuh, dan penuh dengan sejarah darah. Di sanalah Kaisar Chi Long, penguasa yang selama ini memerintah dengan tangan besi, sedang menunggu.
Pintu aula utama istana yang terbuat dari kayu gaharu berlapis emas terbuka perlahan sebelum Shang Zhi sempat menyentuhnya. Di dalam, ribuan lilin menyala, namun cahayanya terasa dingin. Di ujung aula, duduk seorang pria tua dengan jubah naga yang begitu berat oleh permata. Itulah Kaisar Chi Long. Di sampingnya, berdiri beberapa pengawal bayangan yang tersisa, wajah mereka tersembunyi di balik topeng besi, namun gemetar di tangan mereka tidak bisa disembunyikan.
"Kau akhirnya datang," suara Kaisar terdengar serak, bergema di aula yang luas. "Satu pemuda... menghancurkan bentengku, memusnahkan sekteku, dan kini berdiri di hadapanku. Katakan, Shang Zhi, apakah kehancuran ini sebanding dengan apa yang kau cari?"
Shang Zhi berhenti tepat di tengah aula. Cahaya lilin memantul di mata emasnya yang tajam. "Kehancuran ini bukan pilihanku, Kaisar. Ini adalah hasil tanammu sendiri. Kau membiarkan rakyatmu menderita, kau membiarkan sekte-sekte di bawahmu menindas yang lemah, dan kau menghalangi jalanku."
Shang Zhi menarik pedang hitamnya. Kali ini, pedang itu tidak mengeluarkan suara dengungan, melainkan hawa dingin yang luar biasa hingga api lilin di seluruh aula berubah menjadi biru dan kemudian padam satu per satu.
"Aku tidak datang untuk bertahta di kekaisaran sempit ini," lanjut Shang Zhi, suaranya sedingin es. "Aku datang untuk membersihkan jalan menuju tujuan ku sebagai penguasa seluruh dunia. Dan kau... adalah kerikil di jalan ini."
Pertempuran itu singkat namun menghancurkan. Para pengawal bayangan menyerbu dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, namun bagi Shang Zhi, mereka bergerak selambat tetesan air di musim dingin. Dengan satu putaran tubuh dan tebasan horizontal yang presisi, energi hitam membelah ruang dan waktu. Tidak ada darah yang tumpah; para pengawal itu membeku di tempat, menjadi patung es hitam yang kemudian pecah menjadi debu saat Shang Zhi melangkah melewati mereka.
Kaisar Chi Long berdiri, mencoba menghunuskan pedang pusaka kekaisaran, namun sebelum ujung pedangnya keluar dari sarung, tangan Shang Zhi sudah berada di gagangnya, menahannya dengan kekuatan yang tak tergoyahkan.
"Waktumu sudah habis," bisik Shang Zhi.
Malam itu, Kekaisaran Chi Long secara resmi runtuh.
Bukan karena diserbu oleh jutaan tentara, melainkan karena kehilangan jiwanya di tangan satu orang. Shang Zhi tidak membakar istana itu. Ia membiarkannya berdiri sebagai monumen peringatan akan kejatuhan sebuah kesombongan.
Dan malam itu juga menjadi pertanda bahwa penguasa dunia yang baru telah terbangun dari tidurnya
Shang Zhi berjalan keluar dari gerbang istana saat fajar mulai menyingsing. Di tangannya, ia memegang sebuah medali emas kekaisaran yang kini telah retak simbol kekuasaan yang kini tidak lebih dari sekadar logam sampah.
Kota mulai terbangun dalam ketakutan yang bercampur dengan kelegaan. Para penduduk mengintip dari balik jendela, melihat sosok tinggi berjubah hitam itu berjalan menjauh menuju arah matahari terbit. Shang Zhi tidak menoleh. Baginya, Chi Long sudah menjadi masa lalu. Pikirannya sudah melayang jauh melintasi perbatasan, menuju tiga kekaisaran besar lainnya yang masih berdiri kokoh di benua tersebut.
Ia berhenti sejenak di sebuah bukit yang menghadap ke lembah luas. Angin pagi memainkan ujung jubahnya. Shang Zhi mengambil napas dalam-dalam, merasakan udara yang tidak lagi mengandung aroma belerang dan api.
"Satu kekaisaran jatuh, tiga lagi tersisa," gumamnya pelan. Matanya menatap cakrawala dengan kerinduan yang mendalam. "Yun Xi... aku semakin dekat."
Sebelum benar-benar meninggalkan wilayah Chi Long, Shang Zhi melewati sebuah pasar kecil di pinggiran kota yang baru saja mulai berdenyut. Meskipun hatinya dipenuhi oleh misi besar, ia teringat bahwa perjalanannya masih panjang dan ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan spiritual.
Pasar itu mulai dipenuhi oleh para petani yang membawa hasil bumi dan pengrajin yang menjajakan barang-barang mereka. Di tengah hiruk-pikuk itu, Shang Zhi melihat sebuah kios kecil yang menjual pakaian berkualitas tinggi, namun tidak mencolok seperti jubah kebesarannya saat ini.
Ia menghampiri kios tersebut. Penjualnya, seorang pemuda yang tampak gugup melihat penampilan Shang Zhi yang luar biasa, segera membungkuk.
"Tuan... apakah ada yang Anda butuhkan?" tanya penjual itu.
Shang Zhi melihat sebuah jubah perjalanan berwarna biru tua yang terbuat dari kain linen tebal namun halus. Sangat cocok untuk perjalanan jauh di medan yang berubah-ubah. "Berapa harga jubah ini?"
"Untuk Anda, Tuan... berikan saja apa yang menurut Anda pantas," jawab sang penjual, takut menaruh harga tinggi pada pria yang memancarkan aura sedahsyat itu.
Shang Zhi meletakkan sekantong perak kecil di atas meja nilai yang jauh lebih besar dari harga jubah tersebut. Ia mengambil jubah itu, merasakannya di tangannya. Jubah ini akan menutupi identitasnya sejenak, melindunginya dari mata-mata kekaisaran lain saat ia bergerak dalam bayang-bayang.
Setelah mengenakan jubah biru tua di atas pakaian hitamnya, Shang Zhi berjalan menuju sebuah kedai makanan sederhana di pojok pasar. Ia membeli beberapa bekal perjalanan dan sebuah ikat kepala baru untuk merapikan rambut hitamnya yang panjang.
Saat ia berjalan keluar dari pasar, seorang gadis kecil secara tidak sengaja menabrak kakinya. Gadis itu terjatuh dan menatap Shang Zhi dengan mata bulat yang ketakutan. Shang Zhi terdiam sejenak. Ia berlutut, tangannya yang biasanya digunakan untuk menghancurkan gunung kini dengan lembut membantu gadis itu berdiri.
Ia memberikan sebuah koin emas kecil ke tangan gadis itu. "Pergilah beli sesuatu yang manis," ucapnya dengan senyum tipis yang sangat jarang terlihat.
Gadis itu terpaku, namun kemudian tersenyum lebar dan lari menuju ibunya. Shang Zhi berdiri kembali, menatap punggung gadis itu sejenak sebelum berbalik menuju jalan setapak yang mengarah ke luar wilayah Chi Long.
Langkahnya kini lebih ringan. jubah barunya memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, di balik ketenangan itu, badai besar sedang bersiap untuk kembali mengamuk. Kekaisaran berikutnya, Kekaisaran Wang long, sudah menunggunya di balik pegunungan salju.
Sesaat dalam perjalan Shang Zhi merasakan gelombang berderu di belakang tubuhnya,
Di bawah langit kelabu yang menyelimuti reruntuhan Benteng Naga Api, sisa-sisa pasukan elit Kekaisaran Chi Long berdiri dengan lutut gemetar. Di depan mereka, Shang Zhi berdiri tegak, pedang hitamnya masih menyisakan hawa dingin yang mematikan. Ribuan nyawa kavaleri telah sirna dalam satu tebasan, namun pemuda itu tidak menunjukkan kehausan darah ia hanya menunjukkan kekuatan yang melampaui logika manusia.
Jenderal Huo, dengan zirah yang retak dan harga diri yang hancur, adalah yang pertama menjatuhkan tombaknya ke tanah. Suara dentuman logam itu bergema di keheningan gurun. Ia bersujud, diikuti oleh para perwira lainnya yang masih tersisa.
"Kami telah melayani naga yang salah," ucap Huo dengan suara parau namun penuh keyakinan. "Kekaisaran Chi Long bicara tentang kehormatan, namun hanya memberi kami penindasan. Tuan, jika kekuatan sebesar ini adalah milikmu, maka biarlah kami menjadi bayang-bayang di belakang langkahmu."
Satu per satu, prajurit yang sebelumnya menyerang kini meneriakkan sumpah setia. Mereka menanggalkan lencana naga merah mereka, menggantinya dengan janji untuk mengikuti sang "Mata Emas". Hari itu, sebuah legenda baru lahir; militer Chi Long tidak lagi melayani takhta yang korup, melainkan bersumpah menjadi pedang bagi Shang Zhi untuk mengguncang tatanan dunia.
Shang Zhi menyentuh hulu pedangnya yang tersembunyi di balik jubah biru. "Perjalanan ini belum berakhir. Dan aku tidak akan berhenti sampai dunia ini tahu bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka yang telah menghalangi jalan ku."
Dengan langkah mantap, sosok pengembara itu menghilang di balik kabut pagi, meninggalkan puing-puing satu kekaisaran di belakangnya, siap untuk mengguncang fondasi dunia sekali lagi.
...Bersambung.......