Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Siapa Pria Tampan itu??
***
Malam itu, Anlian melepas semua kegundahan jiwa si pemilik asli dengan minum-minum bersama para anggotanya di dalam ruang bawah rahasianya.
Tiga puluh kendi anggur terbaik dia keluarkan dari ruang ajaibnya, dan itu adalah kendi arak spiritual buatannya.
Arak beras itu dia fermentasi dengan air susu ajaib yang ada di ruangnya, dikombinasikan dengan dua buah merk alkohol dari zaman modern, disuling kembali sampai jernih, baru bisa dikonsumsi oleh manusia.
Anggap saja sebuah perayaan kecil, karena dia sudah memusnahkan dua orang dan saru keluarga musuh, yang tertulis di dalam list balas dendamnya.
♨
Anlian mengambil dua botol arak untuk dirinya sendiri, dan sisanya dia berikan kepada seluruh anggotanya.
"Yaoyao, kamu awasi dan jaga mereka disini. Aku ingin ke minum diatas menara pusat Ibukota. Jangan ikuti aku, oke? Aku ingin sendiri malam ini ..." ujar Anlian kepada Yaoyao.
"Baik, Nona ..." jawab Yaoyao, patuh.
Setelah memberikan tugas kepada Yaoyao, Anlian menggunakan 'Qinggong' untuk melesat keluar dari arah kediamannya, menuju ke atas menara Ibukota.
Di atas sebuah menara tertinggi, terlihat seorang wanita duduk sambil meminum arak dari kendinya.
Dia adalah Anlian ...
Jiwa modern yang terlempar ke dunia kuno, tanpa mengetahui alasannya.
"Aku jenius dan terkenal di dunia modern, kenapa bisa terlempar ke dunia ini? Apakah ada tugas khusus yang belum bisa aku temukan jawabannya?" gumam Anlian, bicara sendiri.
Dia meminum kembali arak itu dengan cepat, lalu menuang sedikit ke udara.
"Arak ini untuk Ibu dan jiwa si pemilik raga ... Aku sudah membalaskan dendam kalian, walau Kaisar an-jing itu belum mati. Tapi dia akan mati ... dia akan mati ..." ujar Anlian dengan tubuh goyah.
Karena tidak ada pegangan disana, hampir saja tubuhnya terjatuh ke bawah menara itu.
"Ups! Hampir saja aku mati kembali, karena terjatuh dari atas menara ... Hahahaha!"
"Gila! ... Aku sudah gila! Aku ingin hidup tenang, Tuhan! Aku ingin hidup nyaman dan merasakan bagaimana memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia!" ujar Anlian sambil menutup matanya.
Anlian membuka matanya, dan dunia dihadapannya buram serta berputar-putar seperti gasing.
Lalu dia mendudukkan kembali tubuhnya di pinggiran atap menara dengan kaki yang menjuntai kebawah, tangannya menggenggam kendi arak.
"Ah! Betapa bahagianya jika bisa hidup dengan nyaman di dunia ini, udaranya masih bersih dan terlihat indah ..." gumam Anlian.
Tanpa dia sadari, ada sosok pria tampan berwajah dingin dibelakangnya, yang mendengar semua ucapannya.
"Seorang wanita cantik yang pemberani ..."
"Kenapa kamu sendirian minum diatas atap menara kota?" tanya pria itu dengan nada rendah yang terdengar sangat magnetis.
Anlian langsung tersadar dari lamunannya, dan meraba wajahnya sendiri.
"Si-al! Aku lupa pakai topeng! Gawat!" maki Anlian dalam hatinya.
Dia menoleh ke arah Pria itu, wajahnya mengernyit tidak suka.
"Anda siapa? Apakah ada larangan untuk minum di atas atap menara kota sendirian?" tanya Anlian dengan nada datar.
Pria itu menyeringai, saat melihat wajah Anlian.
"Yag seharusnya bertanya itu, aku. Aku sering bermalam di menara ini, kebetulan menara ini milik temanku. Kamu siapa? Dan kenapa kamu bisa sampai di atap menara Jinxiang ini?" ujar pria itu, sambil bertanya kembali kepada Anlian.
"Menara Jinxiang? Tempat lelang terbesar di Ibukota?" tanya Anlian dengan wajah memerah karena mabuk.
Anlian sadar, jika toleransinya terhadap alkohol itu sangat rendah, namun dia nekat minum malam itu.
"Benar! Itu kamu tahu ..." jawab Pria itu sambil tersenyum.
"Oh, begitu ... Jika benar begitu, maka aku yang minta maaf kepadamu. Aku pinjam sebentar, oke? Aku sedang ingin menyendiri ..." ujar Anlian sambil tersenyum bo-doh.
"Hahahaha ... oke!" sahut pria itu sambil tertawa renyah.
Menurut pria itu, gadis yang ada didepannya ini sangat berbeda dengan para gadis bangsawan yang ada di Kekaisaran Zhang.
Dia cantik, tangguh, terlihat sedikit bo-doh saat mabuk, dan ... menarik.
"Sepertinya kamu sudah mabuk, ya?" tanya pria itu.
"Hum ... sedikit mabuk saja ..." jawab Anlian sambil menganggukkan kepalanya.
"Apakah kamu mempunyai masalah?" tanya pria itu sambil mendudukkan dirinya disebelah Anlian.
"Aku sangat merindukan ... Ibuku. Dan aku sudah menyelesaikan separuh dendam atas kematiannya ..." jawab Anlian sambil menenggak kembali araknya.
Pria itu merasa tertarik dengan Anlian, lalu dia mencoba untuk meminta sedikit arak yang Anlian pegang.
"Beri aku araknya ..." ujar pria itu kepada Anlian.
"Arak ini sudah terkena mulutku, apa kamu tidak merasa jijik?" tanya Anlian sambil melirik pria itu.
"Selama itu bekas kamu, aku tidak merasa keberatan ..." jawab pria itu.
Sementara itu di dalam kehampaan, pengawal bayangan itu terjungkal ke arah belakang, saat mendengar ucapan Tuan mereka.
Apa-apaan ini?!
Tuan mereka adalah makhluk anti wanita nomor satu di dataran Dongling!
Siapapun wanita yang mendekatinya, akan berakhir dengan sangat tragis keesokan harinya.
Walaupun terlihat tampan, namun dia adalah 'Dewa Kematian' untuk rakyat Dongling!
Kenapa bisa berubah dihadapan wanita itu?
Anlian menolehkan kepalanya, saat merasakan aura kuat dari arah belakangnya.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Aku merasakan dua aura kuat dari arah belakang, namun tidak ada apa-apa ... Aduh, sepertinya aku sudah mabuk berat!" jawab Anlian setengah mengeluh.
"Mungkin hanya angin malam saja ..." jawab pria itu sambil memberikan kode kepada anak buahnya agar mundur.
"Ya, sepertinya begitu ..." gumam Anlian.
Anlian menatap wajah pria itu dengan mata setengah tertutup.
"Ternyata, kamu sangat tampan ...." ujar Anlian.
(Anlian itu sangat lemah hatinya jika melihat pria tampan ya gaess. Di zaman modern, pacarnya banyak, tapi gak nikah-nikah sampai dia mokat ... hehehehe)
Pria itu terdiam sejenak, telinganya terlihat memerah seketika.
"I--itu ... terdengar sangat tiba-tiba ..." sahut pria itu sambil membuang wajahnya.
Anlian tertawa lepas, saat melihat pria 'Lugu' yang baru dia temui itu.
"Whuahahahaha! Kenapa malu begitu? Baru kali ini dipuji sama wanita cantik seperti aku, ya?" seloroh Anlian.
"Bukan begitu ... Aku jarang dipuji sama wanita cantik yang sedang mabuk! Rasanya aneh saja ..." sanggah pria itu dengan wajah memerah.
"Ya sudah! Anggap saja itu sebuah pujian yang jujur dari seorang wanita mabuk ..." ujar Anlian dengan wajah menggoda.
Angin berhembus semakin kencang diatas sana, membuat suasana semakin canggung.
"Siapa namamu?" tanya Anlian.
"Tidak bisa disebutkan ..." jawab pria itu sambil tersenyum misterius.
"Oh, baiklah ..." ujar Anlian sambil menenggak araknya kembali.
Setelah itu, mereka terdiam sambil saling menatap.
Ada sebuah perasaan familiar di dalam benak Anlian, saat menatap pria dihadapannya.
Namun, dia tidak bisa mengingatnya ...
"Apakah kamu tidak takut mabuk di dekat pria asing sepertiku?" tanya pria itu.
"Apa yang harus ditakutkan? Aku sendiri lebih berbahaya dari pada Iblis Neraka ..." sahut Anlian santai.
"Tsk! Percaya diri sekali ..." ujar pria itu sambil tersenyum samar.
"Aku juga suka cara matamu menatap aku ..." ujar Anlian.
"Terlihat berbahaya, ya?" tanya pria itu.
Anlian menggelengkan kepalanya ...
"Mata terlihat sangat indah dan mendominasi saat menatapku, dan itu terlihat sangat ... menggoda," jawab Anlian sambil tersenyum.
Pria itu tertawa pelan, suaranya terdengar dalam dan magnetis di telinga Anlian.
"Hahahaha ... jika benar begitu, maka aku harus hati-hati dalam menggunakan mataku nanti. Bisa-bisa, seluruh wanita cantik di dunia ini akan terpikat olehku ..."
"Hum ..." jawab Anlian sambil menganggukkan kepalanya.
♨
Beberapa saat kemudian, pria itu bertanya kembali kepada Anlian. Dia adalah pria 'dingin' terhadap wanita, namun entah mengapa ... di depan Anlian, dia merasa menjadi seorang sosok yang berbeda.
"Apa yang kamu minum?" tanya pria itu.
"Arak ..." jawab Anlian.
"Tsk! Aku tahu itu, tapi apa nama araknya?" tanya pria itu dengan wajah kesal.
"Oh, ini adalah arak beras spiritual. Arak beras yang aku modifikasi sendiri bahan-bahan di dalamnya. Sangat kuat dan enak ..." jawab Anlian, sambil meneguk kembali araknya.
"Beri aku satu tegukan saja ..." pinta pria itu.
"Jangan! Nanti kamu ikut mabuk!" sahut Anlian sambil memeluk erat guci araknya.
Pria itu sangat penasaran dengan rasanya, dan dia langsung merebut guci arak dari tangan Anlian.
Sreet!
"Eeeh—"
Namun terlambat ...
Arak tersebut sudah mengalir masuk ke dalam tenggorokan pria itu.
Gluk ... Gluk ... Gluk ...
"Hey! Katanya satu teguk! Itu tiga tegukan loh!" ujar Anlian dengan nada kesal.
"Aaah!"
Wajah pria itu terlihat mengernyit, saat merasakan rasanya.
"Wah! Arak yang sangat kuat dan enak!" ujar pria itu dengan wajah memerah.
Hanya tiga tegukan!
Tiga tegukan saja, pria itu sudah terlihat ... mabuk!
"Jika ada sisa, jual kepadaku. Aku akan membelinya dengan harga mahal ..." ujar pria itu.
"Sudah habis!" jawab Anlian.
Dia memang tidak berniat untuk menjualnya, ini adalah arak buatannya, khusus untuk dirinya sendiri dan para anggotanya.
Tanpa harus bekerja keras, Anlian sudah banyak harta di dalam ruang ajaibnya.
Buat apa susah-susah bekerja?
Tugas dia di dunia ini hanyalah membangun kekuatan absolut sendiri, dan menikmati hari-hari bersantai, serta mengumpulkan pahala dengan cara membantu rakyat yang menderita kesusahan.
"Pelit sekali!" ujar pria itu sambil mengerucutkan bibirnya.
Tiba-tiba, pria itu menggeliat ...
Dia merasa tidak nyaman di seluruh tubuhnya.
Ada rasa yang bergejolak dibagian bawah perutnya.
"Aduh! Rasanya panas sekali ..." keluh pria tampan itu gelisah.
"Eh!"
Anlian baru sadar, arak itu dia buat khusus bagi orang yang telah meminum serum kekuatan miliknya.
Bukan orang yang ada diluar anggotanya!
"Wah, gawat! Untuk orang luar, arak itu bisa berubah menjadi seperti obat perang-sang! Bagiamana ini?" gumam Anlian, panik.
"Kamu bandel sih! Sudah aku bilang jangan minum, malah diminum! Bikin repot saja, huh!" ujar Anlian dengan nada kesal.
Anlian memapah tubuh pria itu bangun, berniat untuk mengantarnya pulang.
Namun, pria itu bergumam ...
"Temani aku ... tolong selamatkan aku ... panas sekali dibawah sana ..."
"Duh! Merepotkan sekali! Niat ingin bersantai, malah terkena masalah begini ..." keluh Anlian.
"Baik! Aku akan menolongmu malam ini ... Hanya malam ini, oke?! Bawa aku ke dalam kamarmu!" ujar Anlian sambil mengeratkan kepalan tangannya.
Tidak masalah bukan?
Toh, dia juga bukan seorang perawan di dunia ini, jadi tidak akan ada masalah kedepannya.
Pria itu menyeringai tipis, sambil menundukkan kepalanya.
"Aku akan bertanggung jawab nanti ..."
"Tidak diperlukan! Aku seorang janda yang ditinggal mati, dan keluarga asalku sudah musnah ... Jadi, tidak perlu terbebani!" jawab Anlian.
Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di dalam kamar milik pria itu.
Tanpa banyak kata, Anlian melemparkan pria itu ke atas ranjang, melepaskan semua pakaiannya, dan mereka melalui malam penuh dengan ... musim semi.
♨
Pagi pun menjelang ...
Cahaya mentari menyelinap nakal ke dalam kamar yang ditinggalin oleh Anlian dan pria itu semalaman.
"Aduh, Gustiiii! Kepalaku sakit sekali!" keluh Anlian, sambil duduk dipinggir ranjang.
Dia menolehkan kepalanya, mencari-cari keberadaan pria tampan yang misterius itu.
Namun, dia tidak menemukan keberadaannya.
"Wah! Ternyata dia pergi tanpa pesan! Tsk ... Badjingan tampan itu sangat tidak sopan!"
Saat menoleh ke atas sebuah meja kecil di sampingnya, ada sebuah giok kualitas tinggi berwarna putih tergeletak disana.
Anlian mengambilnya, dan melihatnya dengan seksama.
Diatas giok itu terukir sebuah simbol unik, yaitu seekor Naga yang sedang melingkari bulan sabit.
[Giok Spiritual terdeteksi! Tuan, itu adalah simbol dari Kekaisaran Dongling!]
"Apakah pria itu ....???"
[Sepertinya iya, Tuan.]
Bibir Anlian tersenyum ...
"Badjingan tampan sia-lan! Ternyata kamu dari sana, ya? Baiklah, aku akan menemukanmu suatu hari nanti ..."
♨♨♨
Terima kasih atas dukungan kalian dengan membaca cerita ini. Jika kalian suka tolong bantu Author d4ngan komen, like, Subscribe, dan ratingnya oke? 😊🙏🏻
Terima kasih ...💖💖💖