Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Mentari pagi masih malu-malu menembus dedaunan yang rimbun ketika Kyai Abdullah turun dari mobil tuanya dan membawa senyum hangat yang selalu membuat siapa pun merasa damai.
Di tangannya tergenggam sebuah tasbih kayu cendana terus bergerak pelan di antara jemarinya.
Di depan rumah besar bergaya jawa modern milik Haji Husein dan ia berdiri sejenak menghembuskan napas pelan sebelum mengetuk pintu.
Tak berselang lama Haji Husein membuka pintu dan memeluk sahabat lamanya dengan haru.
“Masya Allah, Kyai Abdullah. Sudah lama tak duduk satu sajadah dengan panjenengan,” ucap Abi Husein sambil mempersilakan masuk.
Kyai Abdullah duduk di hadapan Aji Husein sahabatnya.
“Hari ini saya datang bukan hanya untuk silaturahmi, Husein. Saya membawa niat baik. Anak saya, Yudiz, ingin melamar putrimu, Rani," jawab Kyai Abdullah tenang.
Haji Husein terdiam sejenak dan ekspresinya berubah dari ramah menjadi canggung.
Ia menoleh ke arah foto Rani yang tergantung di dinding.
Gadis itu tersenyum lebar di atas motor trail, dengan helm di tangan dan celana jeans robek di lutut.
“Rani bukan perempuan biasa, Kyai. Dia lebih akrab dengan suara knalpot daripada ayat-ayat cinta. Tapi kalau panjenengan yakin...”
“Saya yakin Husein dan Yudiz pun tak gentar memilih Rani. Mungkin Rani belum paham arah hidupnya sekarang, tapi siapa tahu ini jalan yang Allah pilih untuk mempertemukan dua dunia,” ujar Kyai Abdullah bijak.
Dua ayah tengah menyusun rencana pernikahan dan di tempat lain Rani justru sedang berada di tengah dentuman mesin di sirkuit balap daerah.
Dengan jaket kulit dan helm hitam yang membuatnya tampak lebih seperti pembalap profesional daripada seorang gadis biasa, ia mengelilingi lintasan dengan kecepatan memukau.
“Gas pol! Tinggal satu tikungan!” teriak seseorang dari tribun penonton.
Rani mengecoh lawannya di tikungan terakhir, lalu melesat menuju garis finis.
Ia berdiri di atas motor sambil mengangkat helmnya, senyumnya lebar dan penuh kebanggaan.
“Siapa bilang cewek nggak bisa juara?” serunya, disambut sorakan teman-temannya.
Rani dan semua temannya merayakan kemenangannya.
Sementara itu di rumah Rani dimana dua ayah sedang hangat di ruang tamu itu akhirnya berakhir dengan kesepakatan samar
Satu jam kemudian Kyai Abdullah berpamitan kepada Husein.
“Saya titip doa, Husein. Jika ini memang bukan jalannya, biar Allah yang membelokkan hati kami. Tapi jika ini bagian dari takdir, semoga Rani menerimanya dengan lapang dada.”
“Doa yang sama, Kyai. Rani memang tak mudah dijinakkan, tapi mungkin dia hanya belum bertemu jalan yang tepat.”
Tak lama setelah Kyai Abdullah pergi, suara knalpot motor menderu keras dari kejauhan, memecah keheningan pagi yang damai.
Umi Siti yang tengah menyapu teras langsung menghela napas panjang.
“Astagfirullah," desisnya sambil menghentikan sapunya.
Motor trail berwarna merah itu berhenti dengan rem mendadak di halaman rumah.
Debu beterbangan dan Rani membuka helmnya yang membuat rambut panjangnya terurai liar, peluh masih menempel di keningnya.
Ia tersenyum lebar seperti baru saja memenangkan dunia.
“Juara satu lagi, Mi!” serunya bangga, menggantungkan helm di setang motornya.
Namun tidak ada tepuk tangan dan tidak ada pelukan.
Yang ada hanyalah tatapan khawatir dari sang ibu dan suara pintu yang dibuka perlahan dari dalam.
“Rani, kemarilah nak. Abi mau ngobrol sebentar.”
Rani mengernyitkan keningnya saat mendengar suara ayahnya yang terdengar berbeda.
“Kenapa, Bi?” tanyanya santai sambil berjalan masuk, sepatu boots nya berbunyi keras di lantai marmer.
Di ruang keluarga, Abi Husein duduk dengan tangan bersedekap di pangkuan.
Rani duduk di seberangnya, kaki dilipat sembarangan.
Umi Siti berdiri di dekat pilar, menyandarkan tubuhnya, matanya tak lepas dari putri satu-satunya itu.
“Rani” suara ayahnya terdengar tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya yang menggantung.
“Abi dan Umi tahu kamu berbeda. Sejak kecil kamu memang tidak seperti gadis-gadis lain. Main mobil-mobilan, ikut panjat pohon, dan sekarang balapan motor. Abi tidak pernah melarangmu jadi dirimu sendiri.”
Rani diam mendengarkan perkataan dari ayahnya dengan tangannya memainkan gelang karet di pergelangan tangan.
Ia tahu kalimat semacam ini biasanya bukan pembuka kabar baik.
“Tapi nak, apa kamu akan terus seperti ini? Kapan kamu akan berubah?” tanya Abi Husein.
“Berubah jadi apa, Bi? Jadi perempuan anggun yang duduk manis dan rajin ikut pengajian? Itu bukan aku.” jawab Rani.
“Tapi kamu juga bukan anak kecil lagi, Rani,” potong Umi Siti pelan.
“Kamu sudah dewasa. Abi dan Umi punya tanggung jawab untuk masa depanmu. Kami tidak selamanya ada untuk membela atau menutupi segala sikapmu.”
“Umi, ini hidup Rani dan Rani nggak merugikan siapa-siapa.”
“Tapi kamu juga belum membanggakan siapa-siapa,” suara Abi Husein pelan namun tajam.
Kalimat itu membuat Rani terdiam dan bukan karena sakit hati, tapi karena sadar ayahnya mulai serius.
Ketika ayahnya serius, biasanya hidupnya akan berubah.
“Tadi Kyai Abdullah datang,” lanjut Abi
“Beliau datang membawa niat baik. Anak beliau, Yudiz ingin melamarmu.”
Rani langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Abi nya.
“Yudiz Bramasta? Yang punya pesantren itu? Yang jadi CEO itu? Astaga Abi, jangan bercanda." ucap Rani.
"Abi tidak bercanda,” jawab Abi datar.
“Kita bukan sedang bercanda, Rani. Ini tentang masa depanmu” sambung Umi.
“Kalian ingin menjodohkan aku dengan seorang ustadz? Yang kerjaannya ceramah dan ngaji tiap malam?”
“Dia juga memimpin perusahaan besar, Rani” ucap Abi tegas.
"Dia laki-laki yang punya akhlak. Bukan hanya harta.”
Rani melangkah keluar ruangan, mendadak dadanya sesak.
Ia menatap motornya yang tadi membuatnya bangga dan kini terasa sangat asing di tengah rumah yang penuh harap akan perubahan.
Dari balik pintu, Umi Siti menatap punggung anak gadisnya dengan mata yang sembab.
“Anak Umi, kapan kamu mau berubah?”
Rani masuk ke kamar dan tidak mengatakan apa-apa.
Ia menghabiskan sisa hari itu di kamar dan memutar lagu keras dari ponselnya.
Dunia luar tak penting dan semua omongan tentang lamaran dari seorang ustadz CEO bernama Yudiz, terlalu absurd untuk diproses oleh otaknya yang selama ini hanya fokus pada sirkuit dan mesin.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam dan di ruang keluarga Abi dan Umi duduk berdua.
Wajah Umi tampak lelah, matanya menatap jam dinding.
“Dia belum turun juga,” gumam Umi Siti.
“Biar Abi yang panggil,” ucap Abi Husein bangkit berdiri.
Abi berdiri di depan kamar Rani dan mengetuk pelan.
“Rani, Abi mau bicara sebentar. Turun, ya.”
Tak ada jawaban dan beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Rani muncul dengan hoodie besar dan wajah datar.
“Kalau ini masih soal lamaran itu, Aku nggak tertarik. Tolong jangan paksa, Bi.”
“Nak, ini bukan soal dipaksa. Ini soal pilihan hidup yang bisa mengangkat derajatmu—” ucap Abi sambil menghela nafasnya.
“Rani bisa angkat derajat sendiri, Bi! Lewat balapan, lewat kerja keras Rani sendiri. Bukan harus nikah sama orang yang bahkan Rani nggak kenal,” potong Rani cepat.
Umi Siti yang mendengar dari dapur mulai melangkah pelan ke ruang tamu dan suasana memanas.
“Kamu tahu, Abi dan Umi hanya ingin kamu punya pegangan. Yudiz itu laki-laki baik. Soleh, pintar dan mandiri."
“Lah, justru itu masalahnya! Dia terlalu sempurna. Dan Rani? Rani bukan perempuan model santri." jawab Rani.
Rani melangkah pergi dengan wajah kesal dan belum sempat ia benar-benar masuk ke kamarnya.
Brugh!
Ia mendengar suara gedebuk terdengar dari belakang.
Abi jatuh pingsan dan tasbihnya terlepas dari tangan.
Dengan nafasnya yang naik turun, matanya setengah tertutup.
“ABI!” teriak Umi panik sambil berlari ke arah suaminya.
Rani membalikkan badan dan terkejut ketika melihat Abi nya pingsan
Rani segera menghubungi ambulans agar segera datang ke rumah.
Tak berselang lama ambulans datang dan membawa Abi ke rumah sakit
Sesampainya di rumah sakit, Rani duduk gelisah di ruang tunggu.
Masih mengenakan hoodie yang sama dengan matanya yang sembab.
Dua puluh menit kemudian dokter keluar dan memanggil.
“Istri dan anak Haji Husein?”
“Bagaimana suami saya, Dok?” tanya Umi.
"Tenang, kondisi suami Ibu stabil dan tekanan darahnya sempat drop karena stres emosional.Tidak ada masalah serius dan sebaiknya beliau hindari tekanan berlebihan.” jawab Dokter
Umi memandang wajah Ranjang dan meminta Rani untuk tidak membuat Abi sakit.
Setelah itu dokter meminta Rani untuk masuk ke dalam ruang UGD.
Rani melihat Abi nya yang yang masih belum sadarkan diri.
Di balik pintu, Umi Siti hanya tersenyum karena ia tahu jika suaminya tidak benar-benar sakit.