Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Rupanya paul hanya pergi di sekitaran desa saja untuk menenangkan pikirannya, tak lama ia kembali ke kediaman Nathan dan istirahat di gudang.
Paul menghabiskan satu harian penuh membersihkan gudangnya dan memikirkan apa yang harus dilakukan terhadap Angel. Ia harus kembali dan berbicara dengan Nathan tentang Angel, Ia tidak bisa tinggal diam. Nathan berhak tahu tentang penipuan yang di lakukan Angel. Begitu Nathan tahu semua faktanya, Nathan pasti akan mengusirnya, seperti kucing.
Pernikahan itu bisa dibatalkan, terlebih pernikahan tersebut belum disucikan oleh pendeta, jadi toh itu tidak akan dihitung sebagai pernikahan. Dengan perkebunan yang seluas ini Nathan pasti akan menemukan wanita lain, yang akan membuatnya melupakan Angel.
Dari dalam gudang, Paul melihat Nathan memotong kayu bersama dengan Angel, mereka berdua tampak bergembira. Usai memotong kayu Nathan menghampiri adiknya. "Ayo makan," ajak Nathan
Paul lapar tapi ia tidak tahan memikirkan makan satu meja makan dengan Angel, ia hanya diam menanggapi ajakan kakaknya, hingga membuat Nathan kesal padanya. “Kamu telah menyakiti perasaan Mara.”
Paulus hampir tertawa. Terluka? Pelacur itu? Tidak mungkin. "Aku akan pergi besok," ia keluar dari gudang.
Paul menghampiri Angel yang tengah mengangkat selimut di jemuran. Angel berhenti dan menatap lurus ke arah Paul. "Kenapa kau tidak membantu kakakmu di perkebunan, ini sedang musim tanam, akan banyak pekerjaan di kebun."
"Oh mengapa tidak kamu saja yang melakukannya?"
“Aku sudah melakukan banyak pekerjaan. Mengurusi rumah, menyiapkan makanan dan pakaian serta kebun sayur di belakang.”
Paul mencibir, pela*ur manja. "Apa kamu mencintainya?" tanyanya. “Kau pikir kau bisa membuat kakakku bahagia? Cepat atau lambat, dia akan mengetahui siapa kamu sebenarnya."
Sambil mengangkat bahu, Angel berbalik. "Aku tidak peduli," ia berjalan ke rumah untuk menaruh selimutnya.
Paul ingin meraihnya dan mengayunkannya sehingga dia bisa meletakkan tinjunya ke wajah Angel yang terlihat sombong. "Kau hanya memanfaatkan kakakku." ia langsung pergi menuju ke sungai. Semua kekakuan keluar dari dirinya saat Angel memperhatikan Paul pergi.
...****************...
"Kamu datang tepat pada waktunya," ucap Nathan, menyeka keringat dari dahinya dengan punggung lengannya. “Tolong ambilkan pupuk itu.”
Paul membantunya mengambil satu karung pupuk kompos untuk stroberi yang tengah diurus Nathan. “Nathan, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengamu,” ucapnya dengan gerutuan. Nathan memberinya tatapan gelap yang tidak bisa dia pahami. "Ini menyangkut Mara."
Nathan menegakkan tubuhnya perlahan dan menatapnya. “Mara? Ada apa dengan Mara?”
"Nathan, dia bukan wanita yang seperti kamu bayangkan."
"Dia persis seperti yang kubayangkan." Ia membungkuk untuk pekerjaannya lagi.
Paulus marah, ia menendang ember berisi air hingga air itu tumpah. Paul melihat ke seberang kebun, ia melihat Mara tengah berdiri di ambang pintu rumah dengan menggunakan pakaian ibundanya.
Ingin rasanya Paul menghampiri Angel dan merobek pakaian ibundanya yang dikenakan Angel. Ia juga ingin memepukuli Angel dan mengusirnya dari perkebunan kakaknya. Paul menangkap lengan kakaknya. "Dengarkan aku, Nathan. Sebelum dia menjadi istrimu, dia adalah seorang pelac*r. Namanya Angel, bukan Mara. Dia bekerja di rumah bordil di Gang senggol Jakarta. Dia adalah merpati kotor dengan harga tertinggi di Jakarta.”
“Lepaskan tanganmu dari lenganku, Paul.”
Paulus melepaskannya. "Apakah kamu tidak akan mengatakan apa-apa?" ia belum pernah melihat Nathan sangat marah.
"Aku tahu semua tentang itu."
Paulus menatapnya. "Kamu tahu?"
"Ya." Nathan membungkuk untuk mengambil sekop kecil yang tadi terjatuh saat Paul menyambar lengannya. "Ambil satu karung pupuk lagi, masih banyak yang harus di pupuk."
Paulus melakukannya bahkan tanpa berpikir. “Apakah kamu mengetahui dia pelac*r sebelum atau sesudah kau memasangkan cincin di jarinya?" tanyanya sinis.
"Sebelum."
Paul menaruh pupuk kedua di hadapan Nathan. "Dan kau masih ingin menikahinya?"
Nathan menegakkan tubuh. “Ya, aku akan tetap menikahinya.” Pernyataan sederhana, disampaikan dengan tenang dan pelan, tetapi matanya terbakar oleh amarah.
Paul merasa seperti ditinju, keras. “Kau tergila-gila padanya, Nathan. Sehingga kau tidak sadar di tipu olehnya. Kau tidak pernah mengenal wanita, kau hanya melihat dia cantik, bermata biru, berkulit putih dan memiliki tubuh indah. Kau kehilangan akal karenanya. Dia tidak akan bisa menjadi istri yang baik untukmu karena sekali pelac*r tetap pela*ur."
Nathan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. “Berhenti menilai, Mara.”
"Jangan bodoh, Nathan"
“Diam, Paulus. Kamu tidak mengenalnya.”
Paul menertawakan Nathan. “Kamu yang tidak tahu apa-apa tentang wanita, kamu selalu melihat segalanya dan semua orang dengan prinsipmu sendiri, tapi dunia tidak seperti itu, Nathan. Dia tidak sebanding untukmu. Dengarkan aku, Nathan! Apakah kamu menginginkan seorang wanita yang telah bersama seratus pria menjadi ibu dari anak-anakmu?”
Nathan menatap adiknya. Apakah ini yang didapat Angel sepanjang hidupnya? Kecaman dan kebencian? "Aku pikir sebaiknya kamu berhenti berbicara, Paul." ucap Nathan dengan serius. Tetapi Paulus tidak mau. “Apa yang akan dikatakan saudar-saudara kita jika mereka tahu tentang dia? Apakah mereka akan setuju? Bagaimana dengan tetangga ketika mereka mulai berdatangan? Apa yang akan mereka pikirkan ketika mereka mengetahuinya istri kecilmu yang cantik adalah seorang pela*ur kelas kakap?”
Mata Nathan menggelap. “Akuntahu apa yang aku lakukan, dan aku tahu apa yang Tuhan mau. Lebih baik kau bercermin sebelum menilai seseorang, apakah kau merasa begitu suci sehingga kau mampu menilai orang lain? Kenyataannya tidak ada manusia suci, aku pun penuh dosa."
Paul menatapnya, merasa perih. Nathan tidak pernah menggunakan nada dan kalimat seperti itu. Nathan tidak pernah mencela dia sebelumnya, dan itu menyakitkan.
Tidak bisakah dia melihat jika aku hanya berusaha menyelamatkannya dari pelac*r itu? "Kau adalah satu-satunya saudara yang kupunya," ucapnya dengan penuh penekanan. " Aku tidak ingin melihatmu dihancurkan oleh penyihir licik yang akan membuat hatimu sakit. Kau tidak sadar jika sekarang kau berada di jurang masalah, Nathan."
"Terima kasih atas peringatannya, kau sudah mengatakan semuanya. Aku rasa itu sudah cukup, jadi berhenti-lah berbicara!" Di mata Paul, Mara hanyalah seorang pela*ur yang mengenakan pakaian Ibundanya.
"Nathan, dia hanyalah kotoran!"
Paul sama sekali tidak melihat sebuah pukulam datang, dia tidak tahu apa yang terjadi. Namun tiba-tiba saja rasa sakit menyebar di sepanjang rahangnya, dan ia berbaring telentang di bawah rimbunnya pohon stroberi. Sementara Nathan berdiri di atasnya dengan tinju terkepal dan wajahnya yang merah padam.
Nathan menangkapnya kerah kemejanya dan menariknya berdiri. Lalu mengguncang-guncangkannya seperti boneka. “Jika kamu manganggapku kakakmu, hormati keputusan yang telah aku ambil," ucap Nathan. "Dia adalah bagian dari diriku. Apakah kamu mengerti? Ketika kau mengatakan hal buruk tentangnya, sama artinya kau mengatakan hal buruk tentangku. Apa kamu mengerti?"
“Nathan—”
"Apa kau mengerti?"
Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya Paul takut pada kakaknya sendiri. "Saya mengerti."
"Bagus," ucap Nathan dan membiarkannya pergi. Nathan menjauh, membelakangi Paul, ia berusaha mengendalikan amarahnya.
Paul mengusap dagunya yang memar. Penyihir licik adalah penyebab perselisihan ini, dan Itu salahnya, Batin Paul.
Nathan menggosok bagian belakang lehernya dan menatap adiknya kembali. “Maaf, tadi aku memukulmu," ia menghela napas dan mendekat ke arah Paul. “Saya butuh bantuanmu untuk membangun perkebunan ini, bukan komentarmu mengenai Mara. Aku mencintainya, sangat mencintainya."
Paul hanya diam, ia tak sudi meminta maaf sebab menurutnya ininsemua salah Mara. "Sekali lagi aku minta maaf," ucap Nathan.
Mereka kembali bekerja, Paul mendukung penuh keinginan Nathan untuk memperbaiki perkebunan milik orang tua mereka menjadi lebih baik agar bisa di buka untuk umum, namun meski ia bekerja sepenuh hati untuk Nathan. Paul tak bisa berhenti memikirkan Angel. 'Aku harus bisa mengusir penyihir itu dari perkebunan ini, bagaimanapun caranya. Semakin cepat semakin baik,' batinnya.
Nathan memecah ketegangan. “Maukah kamu ke Jakarta untuk membeli bahan bangunan dan mengirim stroberi ini ke pabrik? Kemarin mereka menawarkan harga yang lebih tinggi dari harga yang kemarin aku jual, sebab mereka tak menemukan stroberi dengan kualitas seperti ini.”
"Boleh, tapi aku enggak punya uang buat ke sana."
"Kau pakai saja mobilku, nanti akan aku bekali makanan untuk perjalanannya dan kau bisa mengambil beberapa ratus ribu dari hasil penjualan stroberi itu sebagi upahmu."
Paulus merasa malu pada Nathan yang begitu baik padanya. "Baiklah, aku mau. Tapi aku tidak tahu alamat pabriknya dan aku harus bertemu siapa?"
"Gang Senggol. Kau bisa menemui Joseph sahabat baikku, katakan saja padanya jika kau adikku. Nanti aku akan buatkan surat agar Joseph lebih yakin."
Gang senggol? Ini adalah kesempatanku untuk bertemu dengan Madam, dia pasti menginginkan penyihir ini kembali dan aku bisa bekerja sama dengannya untuk mengusir penyihir ini dari perkebunan orang tuaku.
Nathan memegang bahu Paul. "Terima kasih ya, dek."
Paul tersenyum dan menganggukan kepala, mereka bekerja hingga sore menjelang malam.
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.