Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan
Matahari pagi menyinari ruang makan dengan cahaya yang jernih, namun kehangatan itu tidak pernah benar-benar mampu menembus lapisan es yang menyelimuti hubungan antara penghuni kediaman Vance. Alana duduk sendirian di meja makan besar, perlahan-lahan menyuapkan potongan buah ke mulutnya. Kondisi fisiknya mulai membaik setelah insiden pendarahan tempo hari, meski rasa mual di pagi hari masih sering datang menyapa dengan kejam.
Pagi itu, Bibi Martha mendekat dengan wajah yang tampak sangat ragu. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet dan beberapa majalah gaya hidup kelas atas. Tangannya sedikit gemetar, dan ia terus melirik ke arah pintu seolah takut Brixton akan muncul secara tiba-tiba.
"Nyonya..." bisik Bibi Martha pelan. "Saya... saya tidak bermaksud lancang. Tapi saya rasa Nyonya perlu tahu apa yang sedang hangat dibicarakan di luar sana. Para pelayan lain mulai berbisik, dan saya tidak ingin Nyonya mendengarnya dari mulut yang salah."
Alana meletakkan garpunya. Ia menatap Bibi Martha dengan mata hijau zamrudnya yang kini tampak lebih tenang, seolah badai yang selama ini berkecamuk di dalamnya telah mereda menjadi sebuah danau yang membeku. "Ada apa, Bibi?"
Bibi Martha meletakkan tablet itu di depan Alana. Layar itu menampilkan foto-foto paparazzi yang sedikit buram namun cukup jelas untuk mengenali subjeknya. Di sana, di depan sebuah bar mewah yang dikenal sebagai tempat pelarian para miliarder, Brixton tertangkap kamera sedang merangkul seorang wanita berpakaian minim. Di foto lain, ia tampak sedang masuk ke dalam mobil dengan wanita yang berbeda. Judul beritanya mencolok: "Pewaris Vance International: Pernikahan Megah Hanya Kedok? Kembali ke Kehidupan Malam yang Liar."
Alana menatap foto-foto itu selama beberapa detik. Ia melihat suaminya, pria yang setiap malam berbagi atap dengannya, sedang mencari kehangatan di pelukan wanita-wanita yang ia beli dengan uang. Ia melihat rahang Brixton yang tegas, mata dinginnya yang menatap kamera dengan tantangan, dan tangan yang pernah menyakitinya kini sedang menyentuh wanita lain.
Bibi Martha menahan napas, bersiap jika Alana akan menangis histeris atau pingsan lagi. Namun, reaksi Alana sungguh di luar dugaan.
Alana hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang sangat tenang, hampir terlihat manis jika saja tidak ada sorot kepasrahan di dalamnya. Ia mengangguk pelan, lalu menggeser tablet itu kembali ke arah Bibi Martha.
"Begitu rupanya," ucap Alana singkat. suaranya stabil, tanpa getaran amarah atau kesedihan yang meledak.
"Nyonya tidak marah? Nyonya tidak ingin bicara pada Tuan?" tanya Bibi Martha terheran-heran.
"Untuk apa, Bibi?" Alana kembali meraih garpunya. "Setidaknya dengan begitu, dia tidak akan menyakitiku lagi di sini. Jika para wanita itu bisa memberikan apa yang dia butuhkan, maka aku dan bayi ini akan lebih aman. Biarkan saja dia mencari pelampiasannya di luar. Selama dia tidak membawanya ke dalam rumah ini, aku tidak punya alasan untuk protes."
Keputusan Alana untuk "menyerah" bukan berarti ia kalah. Sebaliknya, itu adalah cara pertahanan diri yang paling mutakhir. Ia telah mencapai titik di mana perilaku Brixton tidak lagi mampu menyentuh hatinya. Ia telah mengunci hatinya begitu rapat hingga tidak ada lagi ruang untuk rasa sakit yang baru.
Sejak hari itu, Alana mulai mengubah pola hidupnya. Ia berhenti menunggu kepulangan Brixton. Ia berhenti mengharapkan sapaan atau perhatian sekecil apa pun dari suaminya. Alana mulai membangun dunianya sendiri di dalam area luas kediaman Vance yang selama ini terasa seperti penjara.
Ia meminta izin kepada pengurus rumah untuk mengelola taman bunga di bagian belakang mansion yang selama ini hanya dirawat secara rutin oleh tukang kebun. Alana menghabiskan berjam-jam di sana, mengenakan topi jerami besar dan sarung tangan berkebun. Ia menanam mawar, lily, dan beberapa tanaman herbal.
Bagi Alana, tanaman-tanaman itu jauh lebih jujur daripada manusia. Jika ia memberi mereka air dan perhatian, mereka akan tumbuh dan mekar. Mereka tidak akan membalas kebaikannya dengan hinaan atau pemaksaan. Di antara aroma tanah basah dan wangi bunga, Alana menemukan kedamaian yang selama ini ia rindukan.
Seringkali, saat ia sedang asyik memangkas dahan, rasa mual yang hebat tiba-tiba menyerangnya. Ia akan segera meletakkan gunting kebunnya, berjalan perlahan menuju kursi taman, dan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak lagi memanggil pelayan atau berteriak mencari bantuan. Ia menangani semuanya sendiri. Ia akan memijat tengkuknya, meminum air jahe hangat yang selalu ia bawa di dalam botol termos, dan menunggu hingga dunianya berhenti berputar.
"Kita kuat, Nak," bisiknya sambil mengusap perutnya yang kini mulai menunjukkan tonjolan yang lebih nyata di balik gaun longgarnya. "Hanya ada kau dan Ibu. Kita tidak butuh siapa-siapa lagi."
Suatu siang, Alana merasakan keinginan yang sangat kuat untuk makan buah ceri segar dan es krim vanila tradisional dari sebuah kedai tua di pusat kota—sebuah keinginan khas wanita hamil atau yang biasa disebut ngidam.
Biasanya, seorang istri miliarder akan memerintahkan asisten atau pelayan untuk membelikannya. Namun, Alana memilih untuk pergi sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada fasilitas yang disediakan Brixton lebih dari yang diperlukan. Ia mengenakan gaun bunga-bunga yang sederhana, menutupi rambut merah jambunya dengan syal tipis, dan pergi menggunakan layanan transportasi daring, menghindari mobil jemputan resmi keluarga Vance.
Di pasar swalayan dan kedai es krim, Alana berjalan di antara kerumunan orang. Tidak ada yang mengenalinya sebagai Nyonya Vance yang misterius. Ia merasa bebas. Ia memilih sendiri buah cerinya, menimbang-nimbang kualitasnya, dan menikmati es krimnya sambil duduk di bangku taman kota yang sederhana.
Ia merasa hidup kembali. Meskipun ia sering merasa lemas dan kakinya cepat pegal karena kehamilannya, rasa mandiri itu memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Ia berbelanja beberapa perlengkapan merajut dan buku-buku tentang perawatan bayi, membayar semuanya dengan uang dari tabungan pribadinya yang tersisa, bukan dari kartu kredit yang diberikan Brixton.
Di sisi lain, Brixton mulai menyadari perubahan di rumahnya. Ia sering pulang dalam keadaan lelah dan sedikit mabuk setelah menghabiskan malam dengan wanita-wanita di bar, namun ia tidak lagi menemukan Alana yang menatapnya dengan wajah penuh luka atau harapan.
Setiap kali ia lewat di depan kamar Alana atau melihatnya di taman, Alana hanya akan mengangguk sopan seolah-olah Brixton adalah orang asing yang kebetulan lewat di jalan. Tidak ada lagi percakapan, tidak ada lagi perdebatan.
Suatu sore, Brixton berdiri di balkon atas, memperhatikan Alana yang sedang menyiram bunga di bawah sana. Alana tampak sedang bersenandung kecil, wajahnya tampak lebih segar meskipun masih pucat. Ada aura ketenangan yang terpancar dari istrinya, sesuatu yang tidak pernah Brixton lihat sebelumnya.
Brixton merasa terusik. Ia seharusnya merasa senang karena Alana tidak lagi mengganggunya atau menangis di depannya, namun kedinginan Alana justru membuatnya merasa gelisah. Ia merasa seperti kehilangan kendali. Selama ini, ia merasa berkuasa karena ia bisa menyakiti Alana. Sekarang, saat Alana tidak lagi merasa tersakiti olehnya, Brixton merasa dirinya tidak lagi memiliki arti bagi wanita itu.
Ia melangkah turun dan berjalan menuju taman. Langkah sepatunya yang keras di atas kerikil tidak membuat Alana menoleh.
"Kudengar kau pergi keluar sendirian tadi siang," ucap Brixton dengan nada menuduh, tangannya masuk ke saku celana.
Alana meletakkan penyiram bunganya, lalu berbalik dan memberikan anggukan kecil yang sangat formal. "Iya, aku butuh beberapa barang."
"Kau punya sopir. Kau punya pelayan. Kenapa kau bertindak seolah-olah aku tidak memberimu fasilitas?" Brixton mendekat, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya.
Alana menatap mata Brixton. Tidak ada lagi rasa takut di sana. Hanya ada kekosongan yang dalam. "Aku hanya ingin sedikit udara segar, Brixton. Dan aku tidak ingin merepotkan stafmu."
"Stafku? Mereka dibayar untuk melayani istriku," desis Brixton. Ia melirik perut Alana. "Bagaimana kabarnya? Apa dokter bilang sesuatu?"
"Dia baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya," jawab Alana singkat. Ia tidak memberikan detail apa pun, tidak memberitahu Brixton tentang bagaimana bayi itu mulai menendang kecil, atau bagaimana ia sering merasa pusing di malam hari. Ia menjaga semua informasi itu untuk dirinya sendiri.
Brixton merasa tembok yang dibangun Alana jauh lebih tinggi dan lebih kuat daripada tembok yang pernah ia bangun dulu. "Aku melihatmu tersenyum tadi. Kau tampak sangat menikmati hidupmu sementara aku harus bekerja keras dan menghadapi berita gosip di luar sana."
Alana tersenyum tipis—senyuman yang sama yang ia berikan saat melihat foto selingkuh Brixton. "Aku sudah melihat berita itu, Brixton. Kau tidak perlu merasa terbebani untuk menjelaskannya padaku. Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia di luar sana. Aku sudah memutuskan untuk mencari bahagiaku sendiri di sini."
Brixton tertegun. "Kau melihatnya? Dan kau tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah?" Alana melangkah mendekati sebuah tanaman mawar yang baru mekar. "Kita sudah sepakat bahwa pernikahan ini adalah luka, bukan? Kau mencari obat lukamu di luar, dan aku mencari obat lukaku di sini. Sejujurnya, aku lebih suka kau menghabiskan waktumu di bar daripada di kamarku. Itu membuat hidupku jauh lebih tenang."
Kata-kata itu menghantam Brixton lebih keras daripada tamparan mana pun. Ia merasa terhina. Ia pergi ke bar dan tidur dengan wanita lain untuk menyakiti Alana, untuk membuktikan bahwa ia tidak butuh Alana. Namun sekarang, Alana justru berterima kasih karena ia pergi. Ia merasa usahanya untuk membalas dendam pada takdir justru berbalik menyerang dirinya sendiri.
"Kau benar-benar sudah tidak peduli, ya?" suara Brixton meninggi.
"Aku peduli pada bayiku, Brixton. Selebihnya... aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dipedulikan," Alana kembali membelakangi Brixton dan melanjutkan kegiatannya menyiram bunga.
Brixton berdiri mematung di tengah taman. Ia merasa seperti orang bodoh. Ia ingin marah, ingin membentak, ingin memaksa Alana untuk menangis lagi agar ia merasa berkuasa kembali. Namun, saat ia melihat Alana yang begitu damai dengan dunianya sendiri, ia menyadari bahwa ia telah kehilangan akses ke jiwa wanita itu.
Malam itu, Brixton pergi ke bar lagi. Ia minum lebih banyak dari biasanya. Ia memesan wanita yang paling cantik di sana, namun saat wanita itu menyentuhnya, ia justru merasa muak. Ia terus terbayang pada tatapan kosong Alana di taman tadi. Ia teringat betapa Alana tidak lagi membutuhkannya.
Di rumah, Alana duduk di tempat tidurnya, merajut sepasang sepatu bayi mungil berwarna putih. Ia mengalami mual sesaat, namun ia dengan tenang menghirup aroma minyak esensial lemon yang ia siapkan sendiri. Ia tidak lagi merasa sedih saat mendengar suara mobil Brixton pergi.
Ia telah menemukan kemerdekaannya di dalam penjara. Ia tidak lagi menunggu monster itu berubah menjadi pangeran. Ia hanya menunggu hari di mana ia bisa memeluk bayinya dan pergi dari tempat ini, membawa sisa-sisa hatinya yang ia jahit sendiri di antara kesunyian dan aroma bunga-bunga di taman.
Sumpah di atas luka itu kini bukan lagi tentang siapa yang paling tersakiti, tapi tentang siapa yang paling cepat menyembuhkan diri. Dan malam itu, di tengah kemegahan kediaman Vance, Alana Clarissa adalah pemenangnya, meski ia harus menanggung lukanya sendirian dalam keheningan yang panjang.