Saat suamimu merundungmu dan mengataimu hanya karena fisikmu yang berukuran XXL, bagaimanakah perasaanmu?
Kanaya Salsabilla, Penulis Novel Digital yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya merundungnya, melakukan kekerasan verbal, hingga bermain api dengan mantan terindahnya di depan matanya.
Darren Jaya Wardhana, Direktur Pemasaran Jaya Corp yang merupakan pria mapan dan gagal move on dari cinta masa lalunya itu, justru memperlakukan Kanaya sebagai istrinya dengan buruk.
Di satu sisi, ada Bisma Adi Pradana, seorang Dokter yang membantu Kanaya dan terus memotivasi gadis itu untuk mengubah penampilannya.
"Tidak ada yang lebih menyakitkan selain hidup seatap dengan suami yang terang-terangan terjebak dengan mantan terindanya." Kanaya Salsabilla.
"Aku menolakmu. Menikahi Kalkun Jelek sepertimu, justru membuatku mendapatkan kutukan." Darren Jaya Wardhana.
"Teruslah berusaha, karena pintu selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah." Bisma Adi Pr
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah Operasi Penyedotan Lemak?
Sering kali saat pikiran tengah buntu, di dalam otak kita terlintas beberapa hal yang membuat kita kalut dan berpikir untuk mendapatkan cara instans.
Seperti yang dialami oleh Kanaya saat ini. Seolah dirinya tak mampu lagi bertahan dengan semua cercaan dan bullyan yang selalu dilayangkan kepadanya. Gadis itu berjalan dengan gontai sembari teringat bagaimana di hadapannya Darren juga telah mengutarakan niatannya untuk melakukan pernikahan kedua atau poligami. Di dunia ini seolah semuanya suram. Kanaya ingin badai ini berlalu dan matanya bisa dengan puas menatap aneka warna pelangi yang tersenyum di langit yang biru.
Akan tetapi, semua itu sia-sia. Jangankan pelangi, sapa mentari pun seakan tidak pernah singgah dalam hidup Kanaya. Saat gadis itu berjalan gontai dan seakan tidak tahu arah, seorang pria lagi-lagi memanggil namanya dengan sangat familiar.
“Nay … kamu mau ke mana Nay?” dipanggilnyalah nama Kanaya.
Kanaya yang sedang kalut dan juga tidak fokus tidak menyadari bahwa namanya tengah dipanggil.
Sementara pria itu justru mempercepat langkahnya dan berusaha mengejar Kanaya.
“Nay … tunggu … kamu mau ke mana Nay?” panggil pria itu sembari satu tangannya terulur memegang bahu Kanaya.
Sentuhan di bahu yang membuat Kanaya menghentikan langkah kakinya. Perlahan, gadis itu membalikkan badannya dan mendapati sosok Dokter Bisma yang sedang berdiri dengan satu tangan yang berusaha memegang bahunya.
Dokter Bisma menatap Kanaya dengan tatapannya yang tajam. Pria itu melihat dengan jelas wajah penuh kesedihan dan kekalutan melalui air muka Kanaya.
“Kamu kenapa Nay?” tanyanya perlahan.
Enggan menjawab, mata yang sejak tadi terasa begitu perih dan memerah lantaran berusaha mengendalikan air matanya tidak semakin berderai, akhirnya tidak mampu lagi menahan. Linangan air mata jatuh begitu saja di pipi gadis.
Melihat Kanaya yang sedang kacau, Dokter Bisma segera merangkul bahu Kanaya dan membawa gadis itu memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka bertemu.
Tanpa bisa menolak atau pun mengelak, Kanaya hanya mengikuti langkah kaki Dokter Bisma. Menurut ke mana pria itu membawanya.
Begitu sampai di depan mobil, Dokter Bisma segera membukakan pintu bagi Kanaya dan mempersilakan gadis itu untuk segera masuk. Setelahnya dia memutari mobilnya, lalu mengambil duduk di kursi kemudi. Menyadari situasi dan kondisi Kanaya yang sedang tidak baik-baik saja, Bisma segera mengemudikan mobilnya. Membawa Kanaya untuk pergi.
Sepanjang jalan, air mata Kanaya masih saja terus berlinang. Suara di dalam mobil benar-benar hening, tidak ada suara musik, hanya hembusan napas keduanya yang memenuhi seisi mobil itu. Rupanya Bisma melajukan mobilnya hingga memasuki Pantai Ancol, salah satu pantai yang berada di Ibukota. Tempat yang dipikir Bisma sangat cocok bagi Kanaya untuk membuang jauh semua pikiran berat dan kekalutan yang saat ini tengah dia alami.
“Ayo … keluar Nay. Mungkin pantai dan angin yang bertiup segar ini bisa membuatmu sedikit refreshing.” ucap Bisma yang mengajak Kanaya untuk keluar dari mobil.
Keduanya lantas berjalan bersama-sama. Membiarkan angin pantai menyapa keduanya, dan deburan ombak menyapa indera pendengarannya. Sesekali kelopak mata Kanaya bergerak-gerak mengamati pemandangan di pantai itu yang begitu indah. Benar saja, tidak butuh waktu lama, air mata tidak lagi berlinang membasahi pipinya. Gadis itu terlihat lebih tenang.
Pantai Ria menjadi area yang dituju oleh Bisma dan Kanaya, kini keduanya berjalan di atas jembatan kayu yang sering kali disebut dengan Jembatan Dermaga Cinta. Meskipun keduanya sama-sama diam, tetapi siang yang sejuk ini mampu membuat keduanya mengambil waktu sejenaknya untuk diri mereka sendiri.
Setelah beberapa saat berdiri, Kanaya berdiri di atas jembatan kayu itu dengan tangan yang memegangi pembatas jembatan. Beberapa kali gadis itu nampak memejamkan matanya dan menghela napasnya yang terasa kian berat rasanya.
Dalam diam, Bisma pun memperhatikan setiap gerak-gerik Kanaya. Hingga akhirnya, setelah cukup lama diam dan merasa sudah memberi waktu untuk Kanaya, akhirnya Bisma kembali berdehem dan membuka suaranya.
“Ehem … Nay, bolehkah aku bertanya sesuatu?” izinnya sebelum memulai mengajukan berbagai pertanyaan yang memenuhi isi otaknya.
Perlahan Kanaya pun menganggukkan kepalanya. “Ya, silakan.” jawab gadis itu dengan singkat.
“Sebenarnya, apa yang terjadi Nay? Mengapa tadi kamu menangis?” satu pertanyaan pembuka dari Bisma. Pertanyaan yang dia harapkan akan terjawab, sehingga pria itu bisa lanjut memberikan pertanyaan yang lainnya.
Kanaya semula diam dan menggigit bibir bagian dalamnya. Gadis itu menimbang-nimbang haruskah dia mengatakan permasalahannya dengan Bisma?
“Apakah penampilan fisik itu begitu penting? Mengapa orang dirundung hanya karena penampilannya. Dinilai tidak layak dan direndahkan.” ucap Kanaya pada akhirnya.
Sementara Bisma hanya diam dan menyelami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Kanaya.
“Dokter, jika aku memilih melakukan operasi penyedotan lemak apakah berbahaya?” tanya Kanaya pada akhirnya kepada Bisma.
Di satu sisi Kanaya berpikir mungkin saat ini ada sedikit kebaikan dari Tuhan yang dia rasakan karena bisa bertemu dengan Bisma sehingga dia bisa menanyakan hal seperti ini tanpa harus berkonsultasi ke Rumah Sakit.
Bisma pun mengerjap dan berusaha mengumpulkan jawaban dan pandangannya.
“Apakah tidak bisa diatasi dengan diet rendah kalori dan Muay Thai? Apakah kedua cara tersebut belum cukup?” tanya Bisma perlahan.
Kanaya pun menggelengkan kepalanya. “Sejauh ini, tidak terlihat hasilnya. Mungkin hanya beberapa gram saja berat badanku turun. Tidak bisakah membuat semua lipatan lemak ini secara drastis?” tanya Kanaya dengan menatap Bisma.
“Bisa Nay … tetapi risikonya juga besar. Bahkan tidak menjamin semua lipatan lemak di badan kita hilang.” jawab Bisma pada akhirnya.
Pria yang berprofesi sebagai Dokter itu hanya berusaha mengemukakan bahwa melakukan operasi penyedotan lemak pun tidak menjamin semua lipatan lemak di tubuh kita hilang. Ada kalanya terdapat kegagalan saat melakukan operasi.
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Dok? Rasanya aku sudah cukup muak dengan menjadi bahan olok-olokan di luar sana. Bahkan hanya sekadar dengan menggunakan sedikit make up di wajahku saja, orang-orang tetap mengejek dan menghinaku. Apakah aku memang tidak layak untuk tampil cantik?” Kanaya kali ini berbicara dengan penuh emosional, gadis itu bahkan terisak mengingat kembali perlakuan dari orang-orang di sekitarnya yang sering kali merundungnya dan menertawakannya.
Bisma menatap Kanaya, berusaha memahami penderitaan dari teman SMA nya itu. Bisma pun tahu pasti krisis kepercayaan diri seorang wanita sering kali terjadi karena kondisi fisik mereka yang tidak cantik dan menarik. Saat ini, itulah yang sedang Kanaya rasakan hingga gadis itu ingin mencari jalan instans untuk membuang semua lipatan lemak di badannya.
“Sekali saja aku ingin tampil cantik, Dok … aku ingin mereka melihat bahwa usahaku berhasil. Aku tidak ingin terus-menerus menjadi olok-olokan.” pengakuan Kanaya pada akhirnya kepada Bisma.
Pengakuan yang bersumber dari lubuk hatinya yang terdalam akhirnya keluar dengan sendirinya. Ya, sekali saja Kanaya ingin tampil cantik dan tidak menjadi bahan olok-olokan oleh orang-orang di luar sana.
tubruk aja itu laki laki..hingga terjungkal
terimakasih thor atas ilmunya aku yg hanya tinggal baca novel dngan gratis , kadang suka ngeluh kalau nunggu lama up