Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Dewasa
Malam itu terasa berbeda, seolah dunia menahan nafasnya sendiri. langit menggantung rendah diselimuti awan hitam yang menutup cahaya rembulan.
Angin berhembus pelan, namun dinginnya menusuk hingga ke tulang, membawa aroma tanah basah bercampur dengan sesuatu yang asing. Bau lembab seperti rumah yang sudah lama tidak ditinggali.
Pranyoto membuka matanya, ia seolah bisa merasakan sesuatu yang gaib tengah mengintainya.
Lelaki paruh baya itu menyalakan rokok linting kemudian menghisapnya. Netranya menerawang mengawasi sekitar. Suara derit ranting-ranting pohon seolah membisikkan sesuatu padanya.
Ia mematikan rokoknya saat merasakan udara mulai terasa semakin berat. Tanpa alasan yang jelas tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, instingnya berteriak untuk segera pergi, meskipun tak ada siapapun yang terlihat.
Lampu jalanan berkedip tak stabil. Cahaya kuning redup memanjang di aspal basah. Membentuk bayangan yang bergerak dan seolah hidup. Setiap langkah terdengar lebih keras dari seharusnya, menggema di tengah malam sepi.
Tiba-tiba kobaran api melahap atap rumahnya, Pranyoto langsung duduk bersila. Tangannya di letakan di atas dada, dan matanya langsung terpejam. Sukmanya berusaha menghalau setiap serangan gaib yang mulai menyerbu kediamannya.
Sementara itu Joko yang terlelap mulai merasa gelisah. Hawa panas membuatnya terjaga. Netranya membelalak saat melihat kobaran api mengepung kamarnya.
Ia buru-buru bangun dan keluar mencari ayahnya.
"Bapak..., bapak!!" serunya panik
Ia menghentikan langkahnya saat melihat ayahnya duduk mematung di tengah kobaran api. Ia menerobos kobaran api dan berusaha membawanya pergi, namun pria tua itu tak bergeming. Tubuhnya kaku seperti mayat.
"Bapak, jangan tinggalin Joko!"
Ia terus mengguncang tubuh Pranyoto. Namun lelaki itu tak bergeming. Joko yang ketakutan menggunakan seluruh tenaganya untuk menggendong sang ayah dan membawanya pergi. Ajaib setiap, setia ia menerobos kobaran api seketika api itu padam dan menyala lagi saat ia sudah melewatinya.
Joko menurunkan ayahnya di halaman rumah. Ia kemudian merebahkan tubuhnya diatas rerumputan.
Tiba-tiba seorang pria tersenyum padanya.
"Bapak!"
Ia segera menoleh kearah Pranyoto yang ada di sampingnya. Lelaki itu masih dalam posisi yang sama, masih mematung, saat ia kembali menoleh pria yang mirip dengan ayahnya sudah menghilang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang??"
Joko terlihat kebingungan, rasa takut dan panik bercampur menjadi satu.
Saat ia hendak bangkit seseorang menarik tangannya. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat ia melihat sosok ayahnya berdiri tepat di sampingnya.
Sosok ayahnya masih duduk mematung dengan mata yang tertutup tapi di sebelahnya sesosok bayangan menyerupai ayahnya dengan wajah transparan menatapnya.
"Biarkan saja," ucapannya begitu tenang sama persis dengan nada bicara Pranyoto
"Bapak??"
Joko masih tak percaya melihat ayahnya ada dua.
Pranyoto tersenyum melihat raut wajah ketakutan Joko, "Kamu akan terbiasa nanti," ucapannya kemudian menghilang
Joko berusaha menghalau rasa takutnya, ini pertama kalinya ia melihat ruh dan itu adalah ayahnya sendiri.
Pikirannya kacau, "Apa Bapak sudah mati??"
Rasa sedih kini menderanya. Ia mengusap lembut wajah Pranyoto. Dingin, pucat dan tak bernafas. Air matanya bercucuran membasahi pipinya.
"Jangan pergi pak, aku belum siap kehilangan bapak," ucapnya pilu
Asap hitam masih menggantung di udara ketika Joko berdiri terpaku di depan puing-puing rumahnya. Api telah padam tetapi panasnya seakan menyengat dada, dinding yang penuh tawa kini hanya rangka arang yang rapuh.
Kakinya gemetar saat menyadari tak ada lagi tempat untuk tinggal apalagi saat mengetahui kenyataan ayahnya juga pergi meninggalkannya. Bayangan ayahnya kini tiba-tiba muncul dalam benaknya mengingatkan kembali betapa sayangnya pria tua itu padanya. Isaknya semakin kencang saat menatap wajah pucat Pranyoto.
Lututnya lemas tubuhnya jatuh ke tanah yang masih hangat oleh si bara, air mata yang mengalir tanpa bisa dihentikan membawa rasa sesak menyesakkan nafas.
Pagi datang perlahan seperti tangan lembut yang membuka tirai malam. Cahaya matahari merayap masuk menyentuh ujung-ujung atap dedaunan yang masih basah oleh embun. Udara terasa segar, dingin tipis menyelinap di kulit membawa aroma tanah dan rumput yang baru bangun dari tidur panjangnya.
Suara kicau burung membuat Joko membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat Pranyoto yang sedang menikmati rokok linting tak jauh darinya.
Ia bangun dan menatap sekelilingnya. Iya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukankah semalam rumah ini sudah habis terbakar, lalu kenapa sekarang rumah ini masih berdiri kokoh. Apa semalam itu cuma mimpi?" ucapnya lirih
Wajahnya semakin bingung seperti orang linglung apalagi saat melihat Pranyoto menghampirinya.
"Kok kaya orang linglung gitu le, memangnya ada apa toh??"
"Bapak??" Mata Joko berbinar
Ia mengusap wajah keriput Pranyoto untuk memastikan ia benar-benar nyata.
"Bapak masih hidup, ini beneran bapak kan??" ucapnya memastikan
"Ya iya toh, memangnya ada demit yang berani menyerupai aku??" jawab Pranyoto dengan nada sombong
Joko langsung memeluknya erat.
"Syukurlah, semalam hanya mimpi!" serunya
"Semalam itu memang benar le, kamu gak mimpi,_"
Joko tercengang, ia buru-buru melepaskan pelukannya.
"Jadi, benar rumah ini terbakar semalam, lalu bagaimana bisa utuh lagi??"
"Kamu lupa bapakmu ini siapa??"
Joko menggeleng, ia semakin bingung.
"Memang ada yang berusaha membunuh kita semalam dengan kekuatan gaib, membakar rumah kita, tapi bapak masih bisa mengatasinya,"
"Siapa pak, siapa yang berusaha menyerang kita??" jawab Joko dengan wajah meradang
"Itu tidak penting, yang penting kamu selamat itu sudah cukup,"
"Tapi pak,"
"Gak perlu, balas dendam itu hanya untuk orang lemah, kalau kamu ingin balas dendam maka tunjukkan dengan prestasi mu, bukan dengan otot mu!"
Joko mengepalkan tangannya. Ia tahu jika dirinya bukanlah orang yang pandai. Bahkan ia berada di bawah Agung dalam hal prestasi belajar.
Ia kemudian masuk ke kamarnya, merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.
Ia masih memikirkan ucapan sang ayah.
"Bagaimana bisa orang bodoh seperti aku mengalahkan Agung, gak ada kelebihan sedikit pun, lalu apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau terus-menerus di injak-injak olehnya. Tidak mungkin selamanya aku mengandalkan bapak, aku harus mandiri mulai sekarang!"
Joko merasa kesadarannya serasa ditarik perlahan, tubuhnya menjadi ringan. Suara-suara di sekelilingnya memudar digantikan dengung sunyi yang panjang. Ketika ia membuka mata, tanah di bawah kakinya bukan lagi tanah melainkan hamparan kabut pucat yang bergerak seperti nafas hidup.
Udara terasa dingin namun tidak menusuk hanya hampa tanpa aroma. Langit di atasnya berwarna kelabu keperakan tanpa matahari tanpa bayangan.
Dari kejauhan samar-samar terlihat sesosok bayangan berjalan tanpa suara, wajahnya yang tak jelas hanya bayangan yang melintas seperti kenangan yang hampir terlupa. Ia ingin memanggil seseorang, tapi suaranya tenggelam sebelum sempat keluar.
"Sugeng rawuh, cah bagus?"
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
lalu kamu mau apalagi lhooo Joko ???
kenapa kamu masih aja belum merasa puas👉👈
jaadiiii.... secara tak langsung Maryati juga ikutan menelan darah itu donk😱😱😱
selama 2 bulan, mata kanan Joko mengeluarkan darah lalu dokter juga udah memvonis jika matanya Joko membusuk😭😭😭
tentu aja hal ini yang membuat Maryati semakin sedih
kenapa mata kanan Joko terus-menerus mengeluarkan darah saat barusan dilahirkan 👉👈