Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Detik berikutnya, ia menyatukan bibirnya dengan bibir Ayu.
Ayu tersentak, matanya membelalak lebar. Dunianya seolah meledak menjadi jutaan kepingan cahaya. Sentuhan itu awalnya terasa putus asa dan penuh luka, namun perlahan berubah menjadi lembut dan menuntut.
Tangan Arga yang tadinya di bahu, kini naik menyentuh pipi Ayu, ibu jarinya mengusap sudut bibir gadis itu dengan penuh perasaan yang tak sanggup ia katakan dengan kata-kata.
Ayu perlahan menutup matanya, tangannya yang kaku mulai meremas pelan kemeja Arga. Di tengah duka yang Arga rasakan, ia baru saja menemukan sebuah oase yang tidak pernah ia sangka.
Tepat saat suasana semakin dalam, sebuah lampu mobil dari kejauhan menyorot ke arah mereka, memecah bayangan gelap di sudut parkiran itu.
Cahaya lampu itu semakin terang, menyapu wajah keduanya yang masih terpaku dalam pagutan emosional. Suara deru mesin mobil yang halus namun berwibawa berhenti tepat beberapa meter di belakang mobil Arga.
Klik.
Pintu mobil terbuka. Sepatu pantofel mengkilap menginjak aspal dengan mantap.
"Sepertinya aku datang di waktu yang salah... atau justru di waktu yang sangat tepat?" sebuah suara bariton yang santai namun penuh selidik memecah keheningan.
Arga tersentak. Ia melepaskan ciumannya dengan gerakan yang kaku, napasnya masih memburu. Ia memalingkan wajah sejenak, berusaha menata kembali topeng "CEO Dingin" yang baru saja hancur berantakan.
Sementara itu, Ayu? Gadis itu merasa seolah seluruh oksigen di paru-parunya lenyap. Wajahnya memanas, merah padam hingga ke telinga. Ia nyaris melompat mundur satu meter, menunduk dalam-dalam seolah aspal di bawah kakinya adalah hal paling menarik di dunia. Tangannya gemetar hebat saat berusaha merapikan kemejanya yang sebenarnya tidak berantakan.
"Alvin?" desis Arga. Suaranya masih serak, ada sisa-sisa kerapuhan yang belum sempat ia sembunyikan.
Alvin berdiri bersandar pada pintu mobilnya, melipat tangan di dada dengan senyum miring yang penuh arti. Matanya beralih dari Arga yang tampak kacau ke arah Ayu yang tampak ingin menghilang ke dalam bumi.
"Aku ke sini karena khawatir.Tadi aku melihat mobilmu dan kelihatan terburu-buru."
"Ini tidak seperti yang Kau lihat," potong Arga cepat, suaranya kembali datar dan dingin, meski telinganya yang memerah mengkhianati ucapannya.
Alvin terkekeh pelan, melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depan Ayu, membuat gadis itu semakin mengecil. "Jadi bagaimana rasanya berciuman dengan CEO dingin itu,Yu?'
Ayu memberanikan diri sedikit mendongak, matanya berkedip panik. "S-saya... anu, Pak... itu tadi... ada debu di mata Pak Arga! Iya, debu! Saya cuma... membantu membersihkannya dengan... metode medis tertentu!" cerocos Ayu asal, suaranya melengking karena gugup.
Alvin tertawa lepas, suara tawa yang sangat kontras dengan suasana kelam sebelumnya. "Metode medis, ya? Menarik sekali. Arga, sepertinya kau butuh 'perawatan' lebih lanjut di rumah. Ayo pulang."
Arga tidak menjawab. Ia hanya melirik Ayu sekilas,tatapan yang kini tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan rasa bersalah sekaligus... sesuatu yang lebih dalam. Tanpa berkata-kata, Arga masuk ke kursi kemudi, meninggalkan Ayu yang masih mematung dengan jantung yang berdegup layaknya genderang perang.
**
"Pria es sialan! Berani-beraninya dia mencuri bibirku?!" gerutu Ayu tertahan di balik selimut tebalnya yang berantakan.
Kedua kakinya menendang-nendang udara dengan liar, membuat sprei tempat tidurnya tak lagi rapi. Sejak kepulangannya dari lokasi konstruksi tadi, Ayu kehilangan kemampuan bicara. Saking terkejutnya, ia bahkan tak sempat melayangkan protes atau setidaknya menampar bahu Arga yang sudah lancang mencuri ciuman pertamanya. Ciuman yang ia jaga selama puluhan tahun ini!
"Awas saja kau, Pria Es! Tidak akan kumaafkan! Aaaaaa!" Ayu menelungkupkan wajahnya ke bantal, menjerit tertahan sambil merutuki jantungnya yang masih saja berdegup kencang meski kejadian itu sudah lewat berjam-jam yang lalu.
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah jendela kamar yang luas dan minimalis. Di dalam kamar yang sunyi itu, Arga baru saja membuka mata.
Seharusnya, pagi ini ia terbangun dengan perasaan hancur lebur. Kenyataan pahit dari Hendrik bahwa Yura telah bahagia dengan pria lain seharusnya membuat dunianya runtuh berkeping-keping. Namun, ada yang aneh. Entah kenapa, setelah insiden di parkiran bersama Ayu semalam, beban di dadanya terasa sedikit... ringan. Napasnya tidak sesesak kemarin.
Apa itu artinya aku sudah mengikhlaskan Yura? Hanya karena satu ciuman dengan gadis cerewet itu, aku berpaling?
Arga segera bangkit dari ranjangnya, duduk di tepian kasur sambil meraup wajahnya kasar.
"Tidak, itu tidak mungkin," ucap Arga pada pantulan dirinya di cermin besar, mencoba menepis gejolak yang mengusik logikanya. "Aku sangat mencintainya. Bertahun-tahun aku hidup hanya untuk menunggunya kembali. Tidak mungkin aku menyerah semudah itu hanya karena sebuah... ketidaksengajaan."
Arga mengepalkan tangan, berusaha mengunci kembali pintu hatinya yang sempat terbuka sedikit oleh kehadiran Ayu. Ia tidak boleh goyah. Baginya, mencintai orang lain selain Yura adalah sebuah pengkhianatan terhadap penantian panjangnya.
Uap air hangat memenuhi kamar mandi yang mewah itu. Arga berdiri kaku di bawah kucuran shower yang menyala deras, membiarkan air menghujam tubuhnya yang tegap. Namun, pikiran Arga tidak berada di sana. Ia mematung, terjebak dalam perang besar antara logika yang keras dan hati yang mulai goyah.
"Yura sudah bahagia, Arga. Lupakan dia." Suara Hendrik semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, tumpang tindih dengan teguran Alvin yang menusuk tepat di ulu hati.
"Kamu tidak bisa menunggu seseorang yang tidak pasti! Bagaimana jika Yura memang benar-benar sudah bahagia dengan pria lain?"
Arga memejamkan mata erat-erat, namun bayangan ciumannya dengan Ayu semalam justru melintas tanpa permisi. Rasa hangat bibir gadis itu seolah masih tertinggal, menjadi kontradiksi yang menyakitkan di tengah dinginnya air yang menyiramnya.
Bagi Arga, merasakan kenyamanan dari wanita lain adalah sebuah dosa besar di tengah janji setianya pada Yura. Namun, kenyataan bahwa Yura telah pergi meninggalkannya dalam penderitaan sementara gadis itu sendiri bersenang-senang, membakar harga diri Arga hingga ke dasar.
"Sialan!" geram Arga pelan.
Brak!
Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju dinding marmer kamar mandi itu dengan telak. Suara hantaman itu teredam oleh deru air. Kulit bukunya pecah, menyisakan luka yang mengeluarkan cairan merah. Darah itu luruh, bercampur dengan aliran air shower, menciptakan aliran merah yang memudar di bawah kakinya.
Rasa perih di tangannya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Arga menyandarkan keningnya di dinding yang dingin, napasnya memburu. Ia benci kenyataan bahwa dunianya yang selama ini hanya berporos pada Yura, kini mulai terdistraksi oleh kehadiran seorang gadis fotografer yang bahkan baru dikenalnya.
"Yura... apa kamu benar-benar sudah bahagia dengan orang lain? lalu aku?"
Bersambung....
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it