Delavar sudah lama memendam rasa pada seorang wanita bernama Amartha. Tapi, Amartha selalu menolaknya karena alasan dia sudah hamil tanpa tahu siapa ayah bayi yang sedang dikandung.
Delavar yang mengetahui hal tersebut pun meminta Amartha untuk bercinta dengannya. Sebagai imbalan, Delavar akan mengakui bayi dalam kandungan Amartha sebagai anaknya.
Apakah Amartha bersedia menerima tawaran tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Selama dua hari ini Delavar dibuat sibuk oleh pekerjaan karena harus menggantikan Danesh melakukan perjalanan bisnis ke negara Belanda. Anak tertua di keluarga Dominique itu tak bisa meninggalkan anaknya yang sedang demam. Maka mau tak mau hanya Delavar yang bisa menggantikan, sebab Dariush memiliki urusan bisnis di German.
Selama kurun waktu tersebut Delavar tak bisa mencuri pandang dengan Amartha. Namun sosok cantik tersebut selalu menghiasi layar ponselnya. Cukup dengan memandang foto tersebut, dia sudah senang.
Delavar ingin menelepon atau hanya sekedar bertukar pesan dengan Amartha, tapi nomornya diblokir oleh wanita itu. Bahkan saat dia menghubungi menggunakan nomor baru pun tetap langsung diblokir.
“Apa kau sangat membenciku?” gumam Delavar yang saat ini sedang duduk manis di balkon hotel tempatnya menginap saat di Belanda.
Sorot mata Delavar terus memandang seraya mengusap foto Amartha. Namun wajah cantik tersebut hilang seketika saat ada seseorang yang meneleponnya.
Delavar segera mengangkat panggilan tersebut dan memposisikan ponselnya di telinga. “Ada apa, Roxy?” Matanya menatap langit gelap yang terbentang luas di atas sana.
“Saya sudah sampai di hotel tempat Anda menginap.” Roxy memang diperintahkan untuk menyusul Delavar ke Belanda karena anak ketiga keluarga Dominique itu belum bisa pulang ke Finlandia untuk mendengarkan laporan penyelidikannya secara langsung.
“Oke, langsung naik ke lantai sepuluh!” titah Delavar. Dia langsung memutuskan panggilan dan masuk kembali ke dalam kamar hotel.
Tak berselang lama, Delavar mendengar suara pintu diketuk dan dia segera membuka serta mempersilahkan Roxy masuk. Keduanya duduk berhadapan di sofa.
“Kau sudah mendapatkan orang yang aku cari?” Delavar langsung bertanya pada intinya tanpa berniat untuk basa-basi terlebih dahulu.
“Ya, Tuan.” Roxy memberikan sebuah iPad, di sana dia memperlihatkan beberapa foto seorang pria muda sedang berada di tempat casino. “Ini orang yang paling sering ditemui oleh Maxim Debora dan dia juga yang berinisiatif menawarkan hutang kepada Maxim.”
Delavar meraih iPad tersebut dan mencengkeram ujung benda berharga fantastis tersebut. Tahu betul siapa orang itu. “Apa motifnya sampai mau memberikan hutang? Dia terkenal kikir, mana mungkin tak ada maksud terselubung jika sampai mau memberikan uang dan hanya diganti dengan tubuh wanitaku,” tanyanya menyelidik. Dia ingin laporan yang lebih detail lagi.
“Bisa saya minta iPad itu lagi?” Roxy menengadahkan tangannya, mengambil alih benda canggih tersebut. Dia membuka foto lainnya dari hasil penyelidikan.
“Saya sudah melakukan penyelidikan untuk kurun waktu selama satu tahun terakhir, Tuan. Dan saya mendapatkan ini.” Roxy memperlihatkan lagi sebuah rekaman CCTV yang terletak di depan perusahaan tempat Delavar bekerja hingga seluruh lokasi yang didatangi oleh tuannya itu.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Delavar setelah selesai melihat video tersebut.
“Selama satu tahun terakhir dia sudah mengintai Anda, Tuan,” pungkas Roxy seraya mengambil alih iPadnya lagi.
Delavar menatap Roxy dengan mata memicing. “Untuk apa dia mengintaiku? Aku sepertinya tak memiliki masalah dengannya,” bingungnya.
“Saya tidak tahu apa motifnya.” Roxy mengeluarkan ponselnya seraya memperlihatkan nomor orang yang sedang mereka bicarakan. “Apakah perlu saya tanyakan pada orangnya langsung? Atau Anda ingin saya jadwalkan pertemuan dengannya?”
“Atur pertemuan saja dengannya, aku sendiri yang akan menanyakan padanya!” titah Delavar.
“Baik. Kapan Anda pulang ke Finlandia?”
“Dua hari lagi.”
“Saya akan atur pertemuan Anda saat sudah sampai ke Finlandia.”
Roxy pun pamit undur diri setelah selesai melaporkan semuanya. Dia segera bersiap untuk pulang lagi ke Finlandia karena tugasnya di Belanda hanya menyampaikan laporan saja.