Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AIGUO WU
Ranum memeriksa pistolnya, kedua pistolnya macet. Ranum mengembalikan pistolnya ke gun holster. Mengambil SCAR-L dari salah satu mayat body guard itu. melihat magasin SCAR tersebut, kemudian mengembalikannya. Ranum memasuki villa tersebut. Villa itu kembali lengang, hanya terdengar suara ombak dari pantai di sebelah villa tersebut. Ranum berjalan perlahan memeriksa setiap sudut ruangan, memeriksa setiap ruangan yang dia lewati. Kurang dari lima menit, Ranum sudah selesai memeriksa setiap sudut ruangan di lantai satu. Ranum mulai menaiki tangga, menuju lantai dua villa tersebut.
Di bagian lantai dua villa itu hanya terdapat dua buah kamar dan ruang santai yang cukup luas. Ranum membuka perlahan pintu kamar pertama, di kamar tersebut hanya terlihat beberapa wanita yang sedang meringkuk ketakutan dan beberapa pasang pakaian yang berhamburan di lantai. Ranum menutup kembali kamar tersebut, berjalan senyap menuju kamar terakhir. Ranum menjulurkan tangannya perlahan membuka pintu kamar itu, dengan segera Ranum menarik kembali tangannya. Hanya sepersekian detik dari saat Ranum menarik tangannya, suara tembakan memecah lengang. Ratusan peluru menghujani pintu kamar tersebut, membuat pintu kamar itu hancur tidak bersisa.
Satu menit berlalu, suara tembakan terhenti digantikan suara body guard yang mengganti magasin. Ranum melihat celah di sana. Segera Ranum menunjukkan diri, lalu melepaskan tembakan ke arah body guard yang berada di kamar tersebut. Lima body guard yang berada di kamar itu tewas seketika dengan banyak peluru tertanam di tubuh masing – masing orang. Dua orang sedang meringkuk ketakutan di atas ranjang.
“Aku tidak menyangka, sambutan yang aku dapat kali ini berbeda.” Ranum tersenyum sambil duduk di kursi yang ada di sudut kamar. “Nona, kamu boleh meninggalkan kamar ini. Ajak teman – temanmu yang lain untuk pergi dari tempat ini.” Lanjut Ranum berbicara dengan wanita yang sedang meringkuk di sebelah Aiguo Wu.
Perempuan itu segera bangkit, lalu berlari keluar dari kamar. Mengajak wanita yang lain pergi dari villa tersebut.
“Hei lihatlah aku.” Ranum menatap Aiguo Wu.
Aiguo Wu mengangkat kepalanya secara perlahan. Menatap Ranum jeri.
“Orang tuamu dan pembunuh bayaran yang kamu sewa menyambutku dengan sangat hangat. Kenapa kamu yang memasang kepalaku dengan harga 2 juta dollar hanya meringkuk di kasur?” Ranum sambil berjalan ke sebuah meja, mengisi dua buah gelas dengan whiskey lalu memberikan satu gelas ke Aiguo Wu. Aiguo Wu menerima gelas yang berisi whiskey itu dengan tangan gemetar.
“Apa, apa yang kau inginkan?” Aiguo Wu akhirnya bersuara, terbata – bata, ketakutan.
“Aku ingin istriku kembali. Apa kamu dapat melakukan itu?” Ranum membakar sebatang rokok.
“Bagaimana dengan ayahku, apa kamu juga bisa mengembalikannya?” Aiguo berkata lirih, bibirnya bergetar.
Ranum yang mendengar kalimat itu langsung menarik tubuh Aiguo Wu, mencekik tubuhnya di dinding kamar. “Jangan pernah berpikir nyawa istriku dan nyawa ayahmu memiliki harga yang sama!” Ranum menatap Aiguo Wu dengan buas. “Istriku jauh lebih berharga di banding ayahmu yang sudah mencuri dari keluargaku!” Ranum semakin kuat mencengkram leher Aiguo Wu semakin.
Aiguo Wu menepuk – nepuk tangan Ranum. Ranum melepaskan cengkramannya. Kembali menghisap rokok yang ada di tangan kanannya. “Cabut namaku dari daftar pembunuh bayaran.”
Aiguo Wu hanya mematung sambil memegangi lehernya.
“Sekarang!” Ranum berseru.
Aiguo Wu segera mengambil ponselnya. Kemudian menghubungi pihak pembunuh bayaran. Lima menit berlalu, Aiguo Wu mematikan ponselnya. “Sudah, sudah aku cabut namamu dari daftar itu.” Wajah Aiguo Wu sangat pucat.
Ranum menghisap panjang rokoknya, kemudian menghembuskan asap dari mulutnya. Dengan gesit Ranum menembak tempurung kaki dan pundak Aiguo Wu, membuatnya tersungkur ke lantai, menjerit kesakitan. Ranum mengambil sprei yang ada di kasur, merobek sprei itu menjadi potongan kecil sebanyak lima helai. Ranum menyeret tubuh Aiguo Wu, lalu mengikat tangan dan kaki Aiguo Wu di kursi. Satu helai potongan sprei lagi digunakan untuk mengikat mulut Aiguo Wu.
“Aku sangat suka bagian ini. Aku akan melakukannya secara perlahan – lahan.” Ranum menyeringai.
Ranum mangambil satu botol whiskey, Ranum menghantamkan botol itu ke kepala Aiguo Wu. Aiguo Wu menjerit – jerit tidak jelas karena mulutnya tersumpal kain sprei.
“Kita mulai dari kaki.” Ranum menyeringai sambil memegang pecahan botol whiskey.
Botol whiskey itu segera menyayat bagian punggung kaki kiri Aiguo wu, Ranum menarik perlahan botol itu ke arah atas, mulai menyayat kaki bagian bawah, kemudian melewati lutut dan berakhir di pinggang kiri. Ranum mengulangi hal yang sama di kaki kanan Aiguo Wu, tersayat perlahan hingga pinggang kanannya. Otot dan tulang di kedua kaki Aiguo Wu terlihat sangat jelas. Darah mengalir deras di kaki Aiguo Wu. Ranum kembali menyeringai menatap Aiguo Wu. Ranum mengambil satu botol whiskey lagi, menyiram sayatan itu menggunakan whiskey yang ada di dalam botol. Aiguo Wu menjerit – jerit tidak karuan. Dari matanya mengalir deras air mata yang tidak bisa di bendung lagi.
“Bukan jeritan itu yang aku inginkan.” Ranum menyeringai.
Ranum mengambil kembali pecahan botol yang ada di meja. “Kita lanjut ke tangan.” Ranum segera memotong ruas – ruas jari Aiguo Wu secara perlahan, hingga kedua tangan Aiguo Wu tidak memiliki jari lagi. Aiguo Wu masih menjerit – jerit sekuat tenaganya. Ranum hanya tersenyum menatap Aiguo Wu yang masih menjerit.
“Sepertinya ini masih kurang. Kita lanjur ke wajahmu yang tampan.” Ranum segera melepaskan ikatan yang berada di mulut Aiguo Wu. Dengan cepat Ranum menghantam mulut Aiguo Wu sebanyak tiga kali. Membuat seluruh gigi Aiguo Wu terlepas dari gusinya. Ranum mendongakkan kepala Aiguo Wu, memaksanya untuk menelan semua giginya itu. Setelah Ranum memastikan seluruh giginya tertelan. Ranum menepuk – nepuk kepala Aiguo Wu. Aiguo Wu terkulai lemas di kursi, sudah tidak bisa menjerit lagi.
“Sial! Kenapa secepat ini berhenti menjeritnya.” Ranum menggerutu. Setelah merasa tidak menyenangkan lagi, Ranum menembak belasan botol minuman beralkohol yang ada di meja kamar. Percikan api dari peluru menjadi besar karena terkena alkohol, api mulai menjalar ke karpet yang ada di kamar tersebut, perlahan melahap semua barang yang ada di kamar tersebut. Ranum berjalan santai keluar dari villa itu. kemudian pergi ke pinggir pantai. Di pantai itu terdapat satu buah kapal Dyna 63 yang terparkir di dermaga kecil. Di dermaga itu terlihat delapan orang wanita berdiri kebingungan. Ranum melewati wanita – wanita itu tanpa menoleh. Wanita - wanita itu melihat Ranum jeri.
“Naiklah, aku tahu kalian tidak bisa membawa kapal ini.” Ranum berseru dari atas kapal. “Tapi tunggu dulu, kalian mau kemana?” Lanjut Ranum bertanya.
“Kami ingin ke ibu kota tuan.” Salah seorang wanita menjawab dengan menunduk.
Ranum mengangguk. Kapal itu melesat cepat di laut Singapura. Kurang dari 10 menit kapal itu telah tiba di teluk Keppel. Wanita – wanita itu turun dari kapal. Satu wanita menunduk berdiri di depan Ranum.
“Terima kasih.” Wanita itu berkata.
Ranum mengangguk. Melangkah turun dari kapal. Tiba – tiba tangan wanita itu menggenggam tangan Ranum. Ranum menatap tajam wanita yang berusia 21 tahun itu. “Aku tidak tahu harus kemana.” Wanita yang mirip dengan JU Jingyi itu akhirnya berbicara.
“Pergilah kemanapun kamu mau, selalu ada tempat untuk pulang.” Ranum menarik tangannya dari genggaman wanita itu. Berjalan meninggalkan wanita itu.