NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: LANGKAH TANPA SUARA

Pagi itu, Dirgantara Group terasa berbeda.

Tidak ada pengumuman. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada pintu yang dibanting.

Namun udara di lantai eksekutif terasa lebih berat dari biasanya.

Aira menyadarinya sejak ia turun dari lift. Resepsionis yang biasanya ramah kini lebih banyak diam. Dua staf legal terlihat berbicara pelan dengan wajah tegang. Bahkan sistem internal yang ia buka sejak pukul tujuh pagi berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.

Ada sesuatu yang sedang terjadi.

Di dalam ruang CEO, Arlan Dirgantara duduk sendirian.

Jasnya tergantung rapi di sandaran kursi. Kemeja hitamnya tertutup sempurna, wajahnya tanpa ekspresi. Di layar laptopnya terpampang log akses sistem legal tiga hari terakhir.

Ia memutar ulang waktu.

Tanggal. Jam. IP address.

Pembatalan konfirmasi pembayaran ICU.

Arlan tidak mengernyit. Tidak mendesah. Tangannya hanya bergerak pelan di atas touchpad.

Terlalu rapi.

Jejaknya dibersihkan, tapi tidak sempurna.

“Akses eksternal,” gumamnya pelan.

Lima menit kemudian, telepon internalnya terangkat.

“Panggil Kepala IT. Sekarang.”

Singkat. Tanpa penjelasan.

Di luar, Aira mengetuk pintu ruangannya.

“Masuk.”

Ia melangkah masuk membawa jadwal revisi rapat mingguan. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang sudah berdiri di depan meja Arlan—Kepala IT perusahaan.

Suasana di dalam ruangan itu hening. Bukan hening canggung. Hening yang terkontrol.

“Aira,” ujar Arlan tanpa menoleh. “Tinggalkan jadwal di meja. Tutup pintu.”

Aira menurut, tapi sebelum keluar, ia sempat menangkap potongan kalimat.

“—siapa pun yang mengakses sistem tanpa otorisasi langsung laporkan ke saya. Tidak lewat divisi lain.”

Nada itu datar.

Justru itu yang membuatnya terasa tajam.

Pintu tertutup.

Aira berdiri beberapa detik di luar sebelum kembali ke mejanya. Jantungnya berdetak pelan. Ia tahu suara Arlan ketika marah.

Dan itu bukan suara tadi.

Yang tadi… lebih berbahaya.

Satu jam kemudian, email internal masuk ke seluruh jajaran manajer.

Subject: Audit Akses Sistem Legal – Efektif Hari Ini.

Aira membaca cepat.

Semua akses eksternal sementara dibekukan.

Penggunaan tanda tangan digital CEO harus melalui verifikasi dua langkah.

Divisi legal berada di bawah supervisi langsung kantor CEO sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Tangannya menegang di atas mouse.

Ini bukan kebetulan.

Ini langkah.

Siang harinya, ruang legal mendadak sunyi. Seorang staf senior terlihat keluar dengan wajah pucat, membawa map tipis dan kotak kecil berisi barang pribadi.

Nonaktif sementara.

Tanpa drama.

Tanpa penjelasan publik.

Hanya satu memo singkat: evaluasi internal.

Bisik-bisik mulai menyebar, tapi cepat mereda saat mengetahui siapa yang memerintahkan.

Arlan Dirgantara jarang bergerak.

Namun ketika ia bergerak, sesuatu pasti runtuh.

Sore menjelang ketika pintu ruang CEO kembali terbuka.

“Aira.”

Ia segera berdiri. “Iya, Pak?”

“Masuk.”

Di dalam, Arlan berdiri di dekat jendela, memandang gedung-gedung Jakarta yang menjulang. Pantulan dirinya samar di kaca.

“Semua jadwal eksternal minggu ini ditunda,” katanya tanpa menoleh.

“Termasuk makan malam keluarga Mahendra?”

Hening singkat.

“Terutama itu.”

Aira mencatat cepat. “Baik, Pak.”

Ia ragu beberapa detik sebelum bertanya, “Apakah ada yang perlu saya siapkan terkait audit?”

Arlan akhirnya menoleh. Tatapannya tenang. Terlalu tenang.

“Kau hanya perlu bekerja seperti biasa.”

Nada itu tidak keras. Tidak lembut.

“Dan Aira,” lanjutnya, “jangan menjawab siapa pun jika mereka menanyakan soal sistem.”

Ia menahan napas. “Baik, Pak.”

Beberapa detik berlalu sebelum ia berani bertanya pelan, “Apakah ini karena kemarin?”

Arlan tidak langsung menjawab.

Ia berjalan kembali ke meja, mengambil satu dokumen, lalu menutupnya perlahan.

“Dalam bisnis,” ucapnya datar, “kesalahan pertama masih bisa dianggap kebetulan.”

Tatapannya naik, tepat mengunci mata Aira.

“Kesalahan kedua berarti seseorang sedang mencoba.”

Dada Aira terasa mengencang.

Arlan melanjutkan, “Dan aku tidak suka ketika seseorang mencoba menyentuh yang berada di bawah kendaliku.”

Kata-kata itu terdengar formal.

Tapi maknanya jelas.

Ini bukan tentang perusahaan saja.

Di tempat lain, Clarissa Mahendra menatap layar tabletnya dengan alis terangkat.

Akses Legal Portal: Suspended.

Ia mencoba lagi.

Gagal.

Senyumnya tidak langsung hilang. Namun jari-jarinya berhenti bergerak.

Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari Arlan.

Audit internal. Jangan campuri urusan sistemku.

Singkat.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada nama disebut.

Clarissa terkekeh pelan. “Akhirnya bergerak juga.”

Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal—

Arlan tidak menyerang dengan emosi.

Ia memotong jalur.

Dan itu jauh lebih sulit dilawan.

Malam turun perlahan.

Di ruangannya, Arlan kembali duduk sendiri. Lampu redup. Kota berkilau di balik kaca.

Ia membuka kembali laporan medis yang sempat ia minta pagi tadi.

Kondisi ibu Aira: stabil.

Tatapannya berhenti di sana beberapa detik.

Lalu ia menutup layar.

“Permainan tidak pernah adil,” gumamnya pelan.

Tangannya terlipat di atas meja.

“Terutama jika kau menyentuh sesuatu yang bukan milikmu.”

Dan kali ini—

Langkahnya baru saja dimulai.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!