Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Tak lama kemudian, pria itu kembali dan menghampiri Karina sambil membawa sebuah kotak obat. Saat itulah Karina akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Hugo…?”
Karina terkejut. Wajah pria yang baru saja menolongnya itu sangat mirip dengan Hugo, nyaris tak ada perbedaan. Hanya rambut mereka yang membedakan, Hugo dengan rambut hitam pekat, sementara pria di hadapannya memiliki rambut abu-abu pucat.
“Punggungmu terluka,” kata pria itu, mengabaikan pertanyaan Karina. Ia berjongkok di belakangnya dan membuka kotak obat dengan gerakan terukur. Bau antiseptik segera menyebar, menusuk hidung Karina hingga membuatnya sedikit mual.
“Bajumu harus dibuka,” katanya singkat.
Karina ragu sejenak, lalu mengangguk. Dengan tangan gemetar, ia menarik kain yang robek ke samping. Udara dingin menyentuh punggungnya, disusul rasa perih yang membuatnya meringis.
Pria itu membersihkan lukanya perlahan. Kapas dingin menyapu kulitnya; rasa perihnya tajam, membuat Karina menahan nafas sesaat.
“Kamu mirip Hugo,” ucap Karina lagi, tak bisa menahan diri. “Bukan sekadar mirip. Wajah kalian sama.”
Tangannya tak berhenti bekerja. “Diam,” katanya pelan.
“Tidak.” Karina menggeleng kecil. “Kamu siapa? Kenapa kamu ada disini? Kenapa kamu menolongku?”
Ia menuangkan cairan bening ke luka itu. Karina tersentak, menggigit bibirnya agar tidak berteriak.
“Karena kamu akan sekarat kalau aku tidak menolongmu,” jawabnya singkat.
“Itu bukan jawaban,” balas Karina cepat. “Kamu ada hubungannya dengan Hugo, kan? Saudara? Atau… kembar?”
Pria itu berhenti sejenak sebelum kembali mengoleskan salep. Keheningan menekan di antara mereka.
“Lebih baik kamu tidak tahu,” katanya akhirnya.
“Ranra juga bilang begitu,” suara Karina terdengar cemberut. Ia tidak mengerti mengapa semua orang mengatakan hal yang sama, padahal keinginannya untuk tahu begitu kuat. “Semua orang bilang aku lebih baik tidak mengingat apa pun. Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya aku lupakan?”
Pria itu membalut lukanya dengan kain bersih, mengikatnya rapi. Sentuhannya tegas namun sangat hati-hati, terlalu hati-hati untuk orang asing yang membuat Karina kembali merasakan keakraban yang tidak bisa ia jelaskan.
“Kamu muntah darah,” katanya, mengalihkan pembicaraan. “Sejak kapan?”
“Sejak pulang dari rumah sakit,” jawab Karina. “Dan itu bukan pertama kalinya malam ini.”
Ia menghela nafas pelan. “Itu artinya kamu sedang hamil.”
“Hamil?” Karina memaksa berbalik setengah badan meski punggungnya perih. “Orang hamil memang mual, tapi tidak muntah darah. Kenapa kamu bisa bilang aku hamil?”
Pria itu berdiri dan akhirnya menatapnya. Sorot matanya setenang Hugo, dan juga penuh kendali.
“Aku bukan siapa-siapa,” jawabnya singkat.
“Itu sama sekali tidak menjawab apa pun.”
Sudut bibirnya terangkat tipis saat ia menutup kembali kotak obat. “Kita harus pergi. Besok pagi mereka akan tahu kalau kamu kabur.”
“Kemana?” tanya Karina.
“Ke tempat yang sangat ingin kamu lupakan.”
Karina terdiam. Kalimat itu langsung menyeret pikirannya pada kenangan masa remajanya di desanya, tempat dimana sesuatu pernah terjadi, sesuatu yang membuatnya membenci tanah kelahirannya dan memilih pergi tanpa menoleh kembali.
“Jangan bilang desa—”
“Ya. Desa itu,” potong pria tersebut sebelum Karina menyelesaikan kalimatnya.
“Kenapa ke sana?”
Ia berhenti sejenak di ambang pintu sebelum menjawab, “Tempat itu yang paling kecil kemungkinannya akan mereka datangi.”
Karina hendak bertanya lagi, tetapi pria itu sudah menghilang di balik pintu.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Saat melihat sebuah sofa tak jauh darinya, Karina berjalan tertatih dan duduk di sana.
“Shit… sakit banget,” ringisnya saat rasa nyeri di punggungnya terasa semakin tajam begitu tubuhnya bersandar.
Sepuluh menit kemudian pintu itu kembali terbuka.
Pria berambut abu-abu itu muncul dengan ransel berukuran sedang tersampir di bahunya. Tanpa banyak bicara, ia melangkah mendekat, lalu memberi isyarat dengan anggukan singkat ke arah jendela yang tadi menjadi jalan masuk Karina.
“Lewat sana,” katanya pelan.
Karina bangkit dari sofa, menahan nyeri di punggungnya. “Kita keluar lagi lewat jendela?”
“Itu satu-satunya jalan keluar dari rumah ini,” jawabnya singkat.
Ia sudah lebih dulu berjalan ke arah jendela, memastikan keadaan di luar sebelum menoleh kembali. Dengan satu gerakan tangan, ia memberi tanda agar Karina segera mengikutinya.
Karina ragu sejenak, lalu melangkah mendekat. Tepat sebelum naik ke ambang jendela, ia menoleh padanya.
“Tunggu,” ucap Karina. “Kalau aku harus pergi denganmu, setidaknya beritahu aku namamu.”
Pria itu berhenti. Sesaat ia tampak berpikir, lalu menoleh dan menatap Karina.
“Damon,” katanya akhirnya.
Hanya satu kata, singkat, seolah nama itu bukan benar-benar miliknya atau setidaknya begitulah yang Karina rasakan saat mendengarnya.
Nama samaran…? Kedengarannya seperti itu.
“Damon…” Karina mengangguk pelan, mengulangnya dalam hati.
Pria bernama Damon itu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. “Sekarang ikut aku,” ujarnya. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Tanpa menunggu lagi, ia naik lebih dulu melewati jendela. Karina menarik napas dalam-dalam, lalu mengikutinya, melangkah ke kegelapan malam atau mungkin pada pagi yang sunyi, menuju tempat yang selama ini ingin ia lupakan.
...***...
...Like, komen dan vote...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor