IG : Isthiizty
Disarankan untuk membaca novel PERNIKAHAN RAHASIA SEPASANG ANAK SMA dan SHE'S MINE terlebih dahulu.
Apapun yang sudah di takdirkan menjadi milikmu, tidak akan meleset sedikitpun meski semua orang menghalanginya.
Begitupula jika memang tidak di takdirkan untuk menjadi milikmu, mau seluruh makhluk di dunia ini mendukungmu, sampai kapanpun tak akan pernah menjadi milikmu.
Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan. Karena jika dia memang ditakdirkan untukmu, pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klunting
Disepanjang jalan, Mike terus mengembangkan senyumannya. Dan alasan itu terjadi tidak lain dan tidak bukan karena gadis yang saat ini duduk di jok belakang motornya. Apalagi gadis yang saat ini sudah di klaim sebagai calon pendamping hidupnya itu, kini tengah menggenggam erat ujung jaketnya.
Rasanya Mike ingin bersorak sembari melompat setinggi-tingginya untuk meluapkan rasa bahagiannya saat ini. Namun dia mengurungkan semua itu agar tak membuat Floryn kembali merasa ilfeel karena tingkah kekanak-kanakannya.
Tangan mungil itu. Ah, Mike sangat ingin menarik tangan mungil itu agar bisa melingkar sempurna di perutnya. Namun lagi dan lagi, dia tak seberani itu melakukannya.
Mike tak ingin terburu-buru. Ralat, bukan tak ingin terburu-buru. Tapi dia takut dengan menarik tangan Floryn justru akan membuat gadisnya itu merasa risih.
Dari kejauhan, kampus Floryn sudah terlihat hingga hal itu membuat senyum Mike sedikit memudar.
Kenapa udah sampai sih? Apa gue bawa motornya kecepetan? Ah, enggak. Gue bawanya udah pelan-pelan. Tapi kampus Floryn emang terlalu deket. Bisa gak sih khusus hari ini kampusnya geser dikit. Sekilo atau dua kilo kek. Setidaknya kasih gue waktu dikit lagi, biar gue masih bisa boncengin dia.
"Mike sampe gerbang aja," ujar Floryn sembari menepuk pelan bahu pria di depannya.
"Hah? Kenapa Flo?" teriak Mike yang memang tak begitu mendengar ucapan Floryn.
"Sampe gerbang aja nganterinnya!" Floryn kembali mengulangi ucapannya sembari sedikit berteriak di dekat telinga Mike yang tertutup helm.
"Enggak-enggak. Gue anterin sampai parkiran aja ya. Biar kamu jalannya gak kejauhan." Biar gue juga bisa lebih lama lagi boncengin kamunya.
"Tapi Mike..."
"Udah gak pa-pa." Dan pada akhirnya tanpa persetujuan Floryn, Mike tetap melajukan kendaraannya hingga ke parkiran motor.
"Udah sampe," ucap Mike sesaat setelah menghentikan motornya.
"Makasih ya Mike." Floryn berterimakasih sembri mengulurkan helmnya ke arah Mike.
"Gak perlu makasih. Itu udah kewajibanku buat nganter kamu dan mastiin kamu selamet sampai kampus."
"Hah, maksudnya?" Floryn menatap Mike penuh tanda tanya.
"Nanti aku jemput ya. Pulang jam berapa?" Bukannya menjelaskan. Mike justru memilih mengalihkan pembicaraan.
"Ehh, gak usah Mike. Nanti ngrepotin. Lagi pula setelah pulang kampus aku mau langsung ke cafe," tolak Floryn sembari melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk penolakan.
"Aku gak terima penolakan Flo. Lagi pula kalau kamu tolak, aku bakalan tetep maksa buat jemput kamu. Mau abis ini kamu ke cafe atau ke bulan pun, aku bakalan tetep anterin. Jadi jangan nolak niat baik aku. Oke?"
"Tapi Mike...."
"Gak ada tapi-tapian. Lebih baik sekarang kamu masuk. Ini udah hampir terlambat," potong Mike sembari mendorong pelan Floryn agar segera masuk ke kelasnya.
Walaupun Mike masih ingin terus menatap gadisnya, tapi dia tak boleh egois. Karena pada kenyataannya pendidikan Floryn juga hal yang cukup penting. Bukan untuk saat ini saja tapi untuk masa depan gadis itu juga.
Setelah memastikan Floryn tak terlihat lagi, Mike justru memilih turun dari motornya. Dia yang awalnya berniat pulang dan langsung melanjutkan tidurnya, kini mengurungkan niatnya karena perutnya yang tiba-tiba berbunyi meminta untuk segera di isi.
Hingga mau tak mau Mike memilih untuk sarapan dulu di kampus tempat Floryn berkuliah.
Setelah memesan makanan, Mike duduk di salah satu kursi kantin. Dia melihat sekeliling dan tersenyum. Setidaknya kampus ini cukup bagus walaupun tak sebagus kampusnya.
"Makasih mas," ucap Mike setelah makanannya datang.
Baru beberapa suap memakan sarapannya, dari pintu kantin terlihat seorang pria berlari masuk dan memanggil seorang gadis yang juga tengah menikmati sarapannya.
"Nad, Nadia. Gawat!" ujar pria itu dengan napas yang masih terengah-engah akibat berlari. Bahkan pria itu berbicara cukup heboh hingga membuat beberapa mahasiswa yang berada di kantin ikut penasaran dengan apa yang terjadi, begitu juga dengan Mike.
"Tarik nafas, hembuskan. Tarik lagi, hembuskan lagi." Gadis bernama Nadia membimbing pria itu agar tenang dan bisa menyampaikan informasi yang ingin segera pria itu sampaikan.
"Alah, kelamaan Nad. Ini gawat banget," ujar pria itu yang mengabaikan ucapan Nadia agar mengatur napasnya lebih dulu.
"Emang kenapa sih?" Nadia terlihat santai. Bahkan dia kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya seakan informasi yang akan di sampaikan pria itu sangatlah tidak penting.
"Gladis Nad. Gladis sepupu lo."
Nadia mengerutkan dahinya. "Gladis? Kenapa sama anak itu?"
"Gladis ada di kampus!"
"Mana mungkin. Dia lagi honeymoon. Kan kemarin baru kawin," ujar Nadia masih dengan nada santainya, seolah tahu betul jika sepupunya itu sedang menikmati masa-masa pengantin baru.
"Ckk.. Dia ada di kampus. Tadi gue liat dia lagi adu mulut sama Floryn."
Klunting
Mike menjatuhkan sendok dan garpu di tangannya saat mendengar gadisnya disebutkan. Bahkan dia langsung bangkit dan meuju ke arah pria pemberi informasi.
"Dimana?" Pertanya yang keluar dari Mike membuat semua orang menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya. Apalagi pertanyaan Mike begitu tiba-tiba.
"Aku tanya dimana?" Mike kembali bertanya dengan menaikan nada bicaranya.
"Apanya yang dimana?" Pria pemberi informasi balik bertanya karena merasa Mike bertanya padanya. Apalagi tatapan tajam Mike terus tertuju padanya.
"Dimana mereka bertengkar?"
Ah, akhirnya pria itu mengerti apa yang sebenarnya di tanyakan Mike. Tapi tetap saja tatapan heran itu tak bisa lenyap begitu saja. "Ada di depan perpustakaan. Memang kenapa?"
"Dimana perpustakaannya?" tanya Mike lagi semakin tak sabar. Dia merasa orang di hadapannya terlalu mengulur waktu hanya untuk menjawab pertanyaannya yang bisa di bilang sangat sederhana.
"Disana!" Pria itu menunjuk ke arah pintu keluar kantin.
"Tunjukin." Tanpa permisi, Mike menarik pri itu keluar dari kantin.
Dia pikir akan semakin lama jika dia harus mencari sendiri dimana letak perpustakaan. Hingga cara paling cepat yang ada dia pikirkan hanya dengan menyuruh pria pemberi informasi untuk menunjukan dimana perpustakaan. Atau lebih tepatnya dimana tempat Floryn dan Gladis bertengkar. Karena Mike sendiri sebenarnya tak peduli mau ada dimanapun letak perpustakaan yang sebenarnya.
Rahang Mike mulai mengeras saat dari kejauhan melihat kumpulan mahasiswa yang membentuk lingkaran dan mengerumuni sesuatu yang Mike yakini adalah Floryn dan Gladis.
Dengan langkah lebar dan semakin cepat, Mike mulai mendekat dan membelah kerumunan.
"Minggir!" sentak Mike hingga membuat beberapa mahasiswa memberinya jalan agar bisa sampai ke titik tengah.
.
.
.
Maaf ya bestie agak lama up-nya. Udah lama gak ngehalu bikin jiwa haluku sedikit menghilang😌😌
Btw, makasih ya buat komentar dan support-nya. Maaf ya belum sempet bales satu-satu. Tapi yang pasti aku seneng banget karena kalian masih setia sama Babang Mike dan Mbak Floryn. Sekali lagi makasih & Lopyu semuanya❤❤❤❤
ada2 aja tingkah mreka...