"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Tengah Malam
Alex secara perlahan mendorong tubuh Anita untuk menjauh darinya, bukan penolakan yang secara terang-terangan. Tapi Alex ingin memberikan penolakan yang tidak melukai harga diri wanita tersebut.
Karena apa?
Karena Anita adalah wanita yang dipilih oleh mamanya, segala urusan yang berhubungan dengan mamanya akan sulit nanti.
Jadi Alex hanya sedang berusaha menghindar dari masalah.
"Anita," panggil Alex dengan suaranya yang terdengar lebih lembut. "Kamu adalah wanita yang dipilih mamaku dan aku sangat menghormatimu," ucap Alex lagi.
Satu kata menghormati yang sudah mengartikan banyak hal, berarti bahwa Alex tak akan menyentuh Anita sebelum mereka resmi menjadi suami dan istri. Tak akan ada hubungan terlarang tersebut.
Dan mendengarnya Anita sangat kecewa, tapi bercampur haru juga. Entalah sekarang dia pun bingung apa yang dirasakannya. Karena sungguh Anita sangat ingin mencium bibir Alex, sudah membayangkan mereka saling menyentuh dengan ganas.
Sudah liar fantasinya hingga berkedut di bawah sana. Tapi penolakan Alex membuatnya tak berkutik.
"Tapi Lex, nanti kita akan menikah juga apa salahnya jika sekarang aku tidur di sini?" tanya Anita lirih, belum ingin menyerah.
"Tidak Anita, kita belum tentu menikah nanti. Sudah ku katakan sekarang kita hanya saling mengenal, aku menghargaimu karena keinginan mamaku," jelas Alex.
Anita tergugu, takut pembicaraan ini semakin panjang dan justru Alex mencampakkannya sekarang juga.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang jika itu maumu," ucap Anita yang tiba-tiba setuju. Karena dia tak ingin membuat Alex marah.
Anita bahkan langsung mundur satu langkah untuk menciptakan jarak diantara mereka berdua. lalu pura-pura sibuk merapikan rambutnya untuk membuat suasana menjadi lebih santai, tak terlalu tegang seperti beberapa saat lalu.
Sementara Alex segera merogoh ponselnya lagi dan menghubungi seorang sopir untuk mengantar Anita pulang.
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 09.00 malam, hujan di luar sana juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
setelah menghubungi sopir, Alex masih terus menatap layar ponselnya berharap ada panggilan masuk ataupun satu saja pesan yang dikirim oleh Dea, tapi dua hal itu benar-benar tak ada di ponselnya.
Anita juga menyadarinya jika sejak tadi Alex terlihat sangat fokus pada ponselnya tersebut, tapi dia tidak berpikir terlalu jauh, masih sangat percaya dengan ucapan Alex Jika semua itu terjadi karena pekerjaannya.
"Tadi siang Tante Sandra menelpon ku, beliau menanyakan tentang bagaimana pertemuan kita," ucap Anita, kini suaranya dia buat lebih ceria. Benar-benar ingin membuang ketegangan yang sempat tercipta.
"Lalu apa jawabmu?"
"Alex baik, memperlakukanku dengan sangat baik dan juga sangat tampan."
Alex terkekeh, jika wanita itu normal maka memang akan memperlakukannya seperti ini. Terus memujinya tanpa henti, lalu nanti akan sangat takut dia campakkan.
Tapi kenapa Dea tidak seperti itu? Justru Dea yang memintanya untuk memperlakukan Anita dengan baik.
Tiap kali ingat itu Alex kesal sekali bahkan berhasil membuat senyum di wajahnya hilang mendadak.
"Lalu bagaimana kesanmu saat pertama kali bertemu denganku?" tanya Anita pula, sejak tadi dia terus yang berusaha menciptakan obrolan diantara mereka berdua. Tapi Anita tidak merasa keberatan sedikitpun tentang hal ini karena baginya seperti ini saja sudah sangat menyenangkan, yaitu menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan Alex. Pria yang bahkan sudah dia kagumi sebelum ada perjodohan di antara mereka berdua.
"Cantik, kamu sangat cantik," jawab Alex, tidak sepenuhnya berbohong karena Anita memang cantik. Tapi tetap saja belum mampu mengalihkan pandangannya dari Dea.
"Benarkah? tapi sepertinya kamu kurang tertarik padaku."
"Kenapa? karena aku tidak menciummu?"
"Entalah," balas Anita dengan senyum dan wajah yang dimiringkan sedikit seperti gadis manja.
"Bukannya aku tidak mau, tapi aku sangat menghormatimu. Jadi jika hubungan kita nanti tidak berhasil maka Aku tidak akan terlalu menyakitimu."
Anita belum sempat menjawab lagi tapi sopir Yang ditelepon oleh Alex sudah tiba di apartemen. "Supirnya sudah datang, pergilah sekarang," ucap Alex kemudian dan Anita hanya bisa mengangguk patuh.
Dia juga harus bisa mengendalikan diri untuk bertahan di sisi Alex, jangan sampai membuat pria itu tidak nyaman dengan keberadaannya.
Setelah Anita keluar dari apartemen barulah Alex seperti bisa bernafas dengan lega, tidak membuang-buang waktu lagi dia pun segera mengambil kunci mobilnya dan pergi.
Tidak peduli sekarang waktu sudah menunjukkan jam berapa tapi alat keputuskan untuk kembali ke apartemen Dea. Bahkan malam ini hujannya terasa lebih deras saja tapi Alex sedikitpun Tidak peduli.
Rasanya malam akan jadi terasa berat jika dia tidak tidur bersama sekretarisnya tersebut.
"Aku yakin Dea juga sebenarnya juga menungguku," gumam Alex saat mobil yang dikendarainya berhenti di lampu merah.
Hujan membuat jalanan sedikit macet, perjalanan jadi lebih lama daripada biasanya.
Tiba di apartemen Alex sudah tidak peduli lagi dengan jam, dia masuk dan berpikir mungkin saja Dea masih menunggunya di ruang tengah dan menonton televisi.
Tapi ternyata di tempat itu juga tidak ada. Alex menghela nafas kecewa dan langsung menuju kamar, di sana dilihatnya Dea yang sudah tertidur pulas di bawah selimut.
'Astaga,' batin Alex, dia benar-benar seperti pria frustasi. Kacau dibuat sendiri, sementara Dea tengah benar-benar menikmati hidupnya.
Mungkin memang Dea adalah wanita yang materialistis, hanya butuh uang dan bukannya cinta.
Apa? Cinta? Bahkan saat memikirkannya sendiri kini Alex merasa jijik pada dirinya sendiri.
Setelah mengganti baju Alex naik ke ranjang dengan kasar, sampai Dea akhirnya terbangun. Mata Dea mengerjab dan melihat Alex yang sudah berbaring di sampingnya.
"Sudah pulang?" tanya Dea yang suaranya serak-serak basah.
Hanya hal sepele seperti itu saja terasa sangat seksi di telinga Alex.
"Hem," jawab Alex singkat, marah tapi tidak ingin menunjukkannya secara terang-terangan.
"Kenapa wajahmu terlihat tidak senang? apa pertemuannya tidak lancar?" tanya Dea lagi, lalu menguap karena merasa masih mengantuk.
"Lancar," jawab Alex singkat.
"Sudah mengantuk ya? Jawabnya singkat-singkat sekali," balas Dea yang juga tidak peka dengan laki-laki di hadapannya tersebut.
"Iya," jawab Alex makin singkat.
"Ya sudah ayo tidur. Huaa." Dea pun menguap lagi.
Dan rasanya kepala Alex ingin pecah. Dia benar-benar ingin melihat Dea cemburu, tapi yang didapatnya hanya Dea yang biasa saja.
"Dea," panggil Alex, padahal Dea sudah kembali memejamkan matanya. Tapi karena satu panggilan itu terpaksa dia kembali terbangun.
"Apa?"
"Anita benar-benar wanita yang tepat untukku, sepertinya pernikahan kami akan dipercepat," ucap Alex, ingin memprovokasi.
Dea terdiam sejenak, ternyata waktu kebersamaannya dengan Alex memang tidak lama lagi. Dan hal itu cukup membuat dunianya terasa seperti berhenti berputar untuk seperkian detik.
"Kamu ingin aku tetap jadi sekretarismu atau keluar?" tanya Dea.
Tiba-tiba pembicaraan berubah jadi serius di tengah malam.
udh pergi lah sejauh mungkin de...
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰