NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Nikah Kontrak / Dokter / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: EvaNurul

ATMAJA FAMILY SERIES#1



"Bagaimana jika aku melunaskan saja semua biaya operasi ayahmu itu?" ucap dingin pria tinggi berwajah tampan.

Wanita yang berada dihadapannya itu menatapnya berbinar. "Beneran Dok? terimaksih Dokk terimakasih banyak."

"Tapi semua itu tidak gratis." Dokter itu menarik smrik-nya.

"Mak-maksud dokter?"

"Aku akan melunaskan semua biaya operasi ayahmu itu serta pengobatannya sampai dia sembuh dan bayarannya kau harus bersedia menikah dengan ku."

Bagaimana jadinya jika seorang dokter tampan tiba-tiba berbaik hati melunaskan pengobatan ayah dari gadis tak mampu seperti Elena tapi semua itu tidak gratis, Elena harus membayarnya dengan kehidupan dan masa depannya itu.

Apakah Elena menerima tawaran Dokter itu? bagaimana kelanjutannya?

SELAMAT MEMBACA❤



[ JANGAN LUPA DUKUNGAN NYA DENGAN LIKE, VOTE DAN KOMEN YA! JANGAN LUPA FOLLOW BIAR GAK KETINGGALAN UP ]



Cover by Pinterest.
Copyright 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EvaNurul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB31: Insiden di kamar mandi

HAPPY READING GUYS😽

Sinar matahari mulai masuk melalui sela-sela jendela mengenai wajah gadis cantik yang masih memejamkan matanya terlelap.

Elena mulai terusik ketika merasakan cahaya terang diwajahnya. Ia lantas membuka matanya perlahan dengan mulut yang sedikit menguap. Elena dengan cepat menormalkan matanya untuk melihat keadaan sekitar.

Loh kok?

Elena terdiam dengan posisi yang masih terbaring di sebuah tempat tidur. Ia meraba tempat tidur itu dengan mata yang menatap keatasnya, ia pun memegang sebuah selimut yang berada di tubuhnya.

Mata Elena membulat, ia lantas memiringkan wajahnya kearah samping.

"Aaaaa!" Elena seketika teriak ketika sadar jika disampingnya ada seorang pria yang masih tertidur.

"Ck! berisik sekali kau ini!"

"Dok-Dokter kok ada disini?" Elena segera mendudukan tubuhnya dan menatap Bryan yang masih asik memejamkan matanya.

"Ini kamarku." Bryan menjawab sembari masih memejamkan matanya. Entah lah pria itu tertidur atau tidak, Elena tidak tau.

Elena mengedarkan pandangan kesegala arah penjuru kamar ini. Iya ini kamar Bryan namun kenapa dirinya ada dikasur ini? bukannya kemarin?

Elena langsung menatap sofa yang berada jauh darinya. Bukannya ia tidur disana kemarin? tapi kenapa saat terbangun dirinya malah tidur disamping pria ini?

Pikirannya mulai negatif sekarang. Ia dengan cepat membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

Syukurlah

Helaan nafas terdengar dibibir Elena. Ia lega karna dirinya masih berpakaian lengkap seperti kemarin yang artinya Bryan tidak bermacam-macam dengannya.

"Sudah ku bilang aku tidak nafsu dengan tubuhmu itu jadi jangan berpikiran negatif padaku."

Mendengar itu membuat Elena menatap Bryan. Sedari tadi pria itu berbicara namun matanya tetap terpejam, bagaimana pria itu tau apa yang ia lakukan dan pikirkan?

Masih dengan posisi duduknya diatas kasur Elena mencoba untuk berpikir keras. Kemarin ia tidur disofa tapi sekarang dirinya malah terbangun disini?

Bryan sedikit membuka matanya untuk melihat gadis disampingnya ini. Sebenarnya dirinya sudah terbangun dari tadi tapi ketika melihat Elena akan terbangun ia lantas memejamkan matanya kembali.

"Bagaimana aku bisa disini?" gumam pelan Elena nyaris tak bisa didengar namun Bryan memiliki pendengaran yang tajam sehingga ia bisa mendengar suara kecil itu.

"Kemarin kau berjalan sendiri menuju kasur ini," Bryan mulai ikut terbangun dan duduk disamping Elena dengan punggung yang bersandar pada ujung kasur.

Elena menatap Bryan yang juga menatapnya. "Hah?"

"Iya, kau berjalan sambil memejamkan matamu lalu tidur disampingku."

"Jalan sambil tidur?" tanya Elena sekali lagi. Apa iya? saat berada dirumahnya dulu Elena tidak biasa jalan sambil tidur tapi kenapa disini dirinya malah bisa jalan sambil tidur?

"Hm."

Wajah bingung yang ditunjukan Elena membuat Bryan sedikit gemas. Melihat setiap perubahan diwajah Elena seperti candu baginya karna menurutnya setiap ekspresi Elena selalu membuatnya gemas.

"Sudah jangan banyak berpikir, aku takut otak mu itu rusak," Bryan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.

Elena hanya terdiam menatap kepergian Bryan. Apa pria itu yang memindahkannya kesini? Elena yakin pasti ulah Bryan karna Elena tidak mungkin tidur sambil berjalan.

Elena ikut bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju kearah balkon di kamar ini.

Ia menarik hordeng yang menutupi pintu balkon. Seketika cahaya menyeruak masuk melewati pantuan pintu kaca tersebut. Elena dengan segera membuka pintu itu dan berjalan maju kedepan untuk melihat keadaan sekitar sana.

Mata Elena membulat ketika melihat apa yang disuguhkan dari balkon tersebut.

"Indah nya." ucap Elena tersenyum. Ya, ternyata balkon ini menghadap langsung dengan taman belakang tempat dimana pesta kemarin diadakan. Pernak-pernik pesta kemarin memang sudah tiada namun keindahan taman belakang ini masih terlihat karna bunga-bunga yang ditanam disana.

"Seandainya Bapak ikut lihat ini pasti Bapak senang." Elena kembali dipikirkan dengan Dimas. Bagaimana keadaan Bapaknya itu dirumah sakit? mungkin nanti siang ia akan pergi menjenguk sang Bapak.

Karna mengingat dirinya belum mandi Elena pun segera berbalik dan masuk kedalam kamarnya lagi.

"Ya tuhan!" Elena segera menutup matanya rapat-rapat dengan kedua tangan kecil miliknya. Pandangan didepannya membuat dirinya terkejut.

"Kau kenapa?" sahut Bryan dengan berjalan menuju kearah lemari yang terletak di pinggir sofa.

Elena beristigfar didalam hati. Bagaimana ia tidak terkejut? tubuh milik Bryan terekspos sempurna di matanya, pria itu hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya hingga area bawah. Elena melihat perut milik Bryan yang nampak indah dan juga rambut Bryan yang sedikit basah membuat ketampanan pria itu bertambah.

"Gak boleh gak boleh." Elena menggelengkan kepalanya untuk menjauhkan pirkiran negatif yang mulai masuk kedalam otaknya.

"Apanya yang tidak boleh?" Bryan lagi-lagi dibuat heran dengan sikap gadisnya itu.

"Eh gapapa kok Dok." Elena lantas menurunkan tangannya dari wajahnya dan mulai berjalan menuju arah kamar mandi.

Ia akan mandi juga sekarang. Entah mandi apa Bryan hingga cepat sekali selesainya, namun Elena tidak peduli. Ia harus cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi untuk menjauhkan matanya dari tubuh milik Bryan.

Saat sampai kamar mandi Elena lagi-lagi kembali terhipnotis dengan tekstur indah ruangan itu.

Emang dasarnya Elena yang tidak pernah melihat ini alhasil sekali melihatnya ia langsung terkesima kagum. Dulu memang ia pernah bekerja menjadi ART disebuah rumah mewah namun dirinya hanya bekerja sampai di depan kamar milik majikannya tidak pernah masuk karna memang tidak diizinkan.

"Ini gimana cara pakainya?" Elena mengenggam sebuah shower di tangannya. Ia tau benda ini hanya saja dirinya tidak tau bagaimana cara menyalakannya.

Saat dirinya menyentuh tombol yang ada dibawah shower tersebut seketika air mulai bercucuran keluar melewati bintik-bintik diatas shower tersebut. Elena segera mematikan tombol tersebut lalu berjalan menuju bathtup yang terletak disamping shower tersebut.

"Remot ini buat apa?" gumam Elena dengan menggenggam sebuah remot berbentu persegi kecil dengan banyaknya tombol-tombol disana.

Karna penasaran Elena pun berjalan menuju pintu kamar mandi itu. Saat sudah disana Elena pun membuka pintu tersebut lalu mengeluarkan sedikit kepalanya menatap ruangan didepannya.

"Dokter?" panggil Elena ketika melihat Bryan yang sedang merapihkan dirinya didepan cermin.

"Hm." singkat Bryan tanpa mengalihkan tatapannya dari cermin didepannya.

"Anu- remot ini buat apa ya?" Elena tidak malu menanyakan itu karna memang dirinya penasaran dengan kegunaan remot tersebut.

Bryan lantas berbalik dan menatap wajah Elena dari sela-sela pintu kamar mandi. Ia segera melangkah mendekati Elena.

Elena segera melebarkan pintunya. Keduanya pun masuk kedalam kamar mandi.

"Kau ini memang tidak tau apa bagaimana?" tanya Bryan heran.

"Emang gak tau Dok." jawab Elena menatap Bryan didepannya.

Bryan melirik sekilas Elena lalu menatap bathtup didepannya. Ia menggenggam remot yang diberikan Elena tadi lalu menekan salah satu tombol disana.

Srrr!

Seketika air keluar dari kran yang terpasang dipinggir bathtup itu. Elena membukatkan mulutnya ber-oh.

"Tekan ini jika ingin air dingin." Bryan menunjukan setiap tombol tersebut didepan Elena. "Jika ingin air panas kau tinggal tekan ini juga."

Elena dengan cepat mengangguk lalu tersenyum. Ia lantas berjalan mendekat shower didepan Bryan.

"Kalo ini-" Elena membulatkan matanya ketika tak sengaja menekan tombol dibawah shower tersebut. Ia lalu menatap kearah depannya.

"Kau!"

"Ma-maap Dok, saya gak sengaja." Baju yang dipakai Bryan basah karna ulahnya. Elena tak sengaja menyalakan shower tersebut tapi sayangnya air yang dikeluarkan benda tersebut sudah mengenai kemeja yang dipakai Bryan.

Sebenarnya Elena ingin tertawa melihat Bryan namun melihat tatapan tajam dari Bryan membuat dirinya tidak jadi tertawa.

"Saya gak sengaja Dok, beneran." Elena memundurkan tubuhnya ketika melihat Bryan berjalan mendekatinya.

Punggung Elena sudah menyentuh tembok dibelakangnya namun Bryan masih berjalan mendekatinya.

Bryan menaikkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya itu ke tembok samping wajah Elena.

Posisi tubuh mereka sangat dekat sekarang. Mata Bryan sudah menatap tajam wajah Elena didepannya.

Elena menggigit bibir bawahnya takut sembari memejamkan matanya. Entah apa yang akan dilakukan Bryan padanya.

Shit!

Bryan mengumpat didalam hati ketika melihat bibir menggoda dari Elena. "Kau menggoda ku dengan bibir mu itu heh?"

Mendengar hal itu membuat Elena membuka matanya perlahan.

"Berhenti mengigit bibirmu atau-" ucap sekali lagi Bryan. "Aku yang akan mengigit bibirmu itu." lanjutnya dengan tersenyum miring.

Elena membulatkan matanya lebar-lebar. Lantas ia pun mendorong tubuh Bryan agar menjauhi tubuhnya.

"Makasih Dok, sa-saya mau mandi dulu jadi dokter silahkan keluar dulu." Elena mendorong cepat tubuh milik Bryan hingga sampai diluar kamar mandi.

Ketika sudah sampai diluar Elena segera masuk kembali dan menutup pintu kamar mandinya tak lupa juga ia mengunci pintu tersebut.

Bryan menatap diam pintu didepannya, gadis itu berani sekali padanya. Ribuan wanita diluar sana menginginkan berciuman denganya namun Elena malah terang-terangan menolak hal itu.

"Sialan!"

↔↔↔

Ditunggu ya kelanjutannya❤

Salam manis semuanya.

1
Rizka_Dwi
sepertinya bakal banyak perdebatan setlh mereka menikah, dan yg pasti Bryan akan kesal trus nntnya saat berdebat dengan elena🤣🤣
Rizka_Dwi
pintarnya Bryan, membuat pilihan yg dia tau pasti Elena bakal jawab iya demi bapaknya🤭🤣
Rizka_Dwi
dasar anak gak tau diri, tar kalk udah gak ada baru nyesel kamu putri😬
Rizka_Dwi
Di mna lh hati nurani surti ini, jadi manusia kok kejam banget, klk bpk nya yg kyk gtu mau gimna lh dia, tpi good untuk Elena, bagus lebih mentingkan keadaan orang tua dari hal apa pun👍👍Good girls 🥰
Rizka_Dwi
apakah Bryan akan sebucin papanya saat punya istri nnt.. wkwkwk🤭
Wulan Sari
critanya bagus banget semangat 💪 salam sehat selalu ya Thor 👍❤️🙂🙏
Runik Runma
seru
nissa
cuekin aja mereka na
nissa
tanda merah di leher elena kali
nissa
kasar banget sih mulut nya si brayn
nissa
aduh patah hati nanti si wilson nya
nissa
nah lho ketemu wilson
nissa
yo itu gengsi biasal lah orang kaya
nissa
saba2 elena, walaupun dongkol hati nya
nissa
pasti bahagia elena tenang saja
nissa
iya lama banget sih nikah nya
nissa
sirik aja lo put
nissa
haduh seperti nya brayen cemburu nih sama aiden
nissa
hm,papa sama adik nya brayen tu
nissa
ternyata ramah juga mama nya brayen sama adik nya bryen ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!