NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gudang Tua Di Malam Yang Dingin

Misca berdiri di tengah gudang tua yang dingin. Debu beterbangan di bawah lampu neon yang berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak seperti hantu. Bau karat dan lumut memenuhi udara—bau kegagalan, bau waktu yang ditinggalkan.

Di tengah ruangan ada meja kayu bundar yang sudah retak di beberapa bagian, diapit empat kursi lipat yang berkarat. Sederhana. Fungsional. Tidak ada yang mewah di sini.

Jeka berdiri di sisi kanan Misca, berulang kali mengecek jam tangannya dengan ekspresi cemas. Vino di sisi kiri, membuang puntung rokoknya ke lantai beton dan menginjak-nginjaknya sampai mati. Wajah santainya kini berganti jadi kewaspadaan penuh.

Mereka bertiga mengenakan jaket denim yang sama—seragam tidak resmi, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka adalah unit, bukan individu yang terpisah.

"Mereka telat lima menit," desis Jeka tanpa menoleh, matanya masih tertuju pada pintu besar yang berkarat. "Aku rasa ini cara mereka meremehkan kita."

"Itu strategi," jawab Vino datar sambil menyalakan rokok baru. "Mereka mau bilang kalau mereka nggak butuh aturan kita. Mau bilang kalau waktu kita nggak berharga."

Misca tidak menyahut. Ia hanya menatap meja kosong itu dengan tatapan yang sulit dibaca. Sejujurnya, ia ingin sekali menghilang dari sini, pulang ke rumah, baca buku, tidur dengan tenang tanpa drama. Tapi demi janji pada Jeka dan Vino di kantin tadi—demi mereka—ia bertahan.

Kehadirannya adalah perisai. Dan perisai tidak boleh mundur.

Tiba-tiba, deru mesin memecah keheningan.

Enam motor sport meraung bersamaan—suara yang menggema di gedung kosong—dan berhenti mendadak di depan pintu dengan rem yang melengking. Asap knalpot mengepul sesaat sebelum disapu angin malam yang menusuk tulang.

Vino melirik Jeka. "Showtime."

Kedatangan Tiga Wilayah

Pintu besar terbuka dengan bunyi kreek yang menyayat telinga.

Yang masuk pertama kali adalah perwakilan Wilayah Timur, dipimpin oleh Tino—cowok berambut gondrong yang diikat asal-asalan dengan karet gelang. Wajahnya selalu dihiasi senyum cengengesan yang membuat orang bingung: dia ramah atau mengejek?

Dua pengikutnya yang gesit segera menyebar ke sudut ruangan dengan gerakan terlatih—mata mereka memindai setiap celah, setiap pintu darurat, setiap potensi bahaya.

"Wih, selamat malam, teman-teman Utara!" Tino melambai dengan terlalu antusias, suaranya ringan tapi matanya tidak tertawa. "Keren juga setup-nya. Meja bundar segala. Kayak mau rapat OSIS, bukan bahas nasib wilayah."

Ia berhenti di depan meja, mengetuk-ngetuk permukaannya dengan buku jari. "Gimana kalau kita ngopi dulu? Suasananya terlalu tegang nih. Aku bawa termos, loh."

Sebelum Jeka sempat membalas dengan sarkasme tajamnya, kelompok kedua muncul.

Raka dari Wilayah Barat masuk dengan gerak-gerik gelisah yang kontras dengan Tino. Ia kurus tinggi, tangannya tidak bisa diam—sibuk merapikan baju, menggaruk kepala, menarik-narik ujung kemeja.

"Tino, kamu lama banget!" seru Raka dengan nada frustasi yang genuine. "Aku sudah mau bicara dari tadi! Kenapa kursinya cuma empat? Kita kan bersembilan kalau dihitung semua!"

"Kami bawa perwakilan inti," jawab Jeka dengan nada dingin yang tidak mengundang debat lebih lanjut. "Hanya ketua yang bicara. Sisanya stand by."

"Kaku banget sih, Jek." Raka menggeleng-gelengkan kepala, lalu menoleh ke Misca dengan senyum yang terlalu lebar—senyum gugup. "Misca! Tumben banget kamu mau muncul! Biasanya kamu kan—"

Ia mencoba menepuk bahu Misca dengan gerakan bersahabat.

Tapi tangannya hanya mengenai udara kosong.

Misca bergerak—sangat halus, hampir tidak terlihat—hanya sedikit geseran tubuh yang membuat tangan Raka meleset tanpa sentuhan. Tidak agresif. Tidak kasar. Hanya... menghindari.

Raka terdiam. Senyumnya memudar sedikit, digantikan ekspresi bingung dan sedikit tersinggung.

Pesan diterima: Jangan sentuh aku tanpa izin.

Ketegangan memuncak saat pintu kembali berderit—kali ini lebih keras, seperti dipaksa terbuka dengan kekerasan.

Wilayah Selatan datang dipimpin oleh Nanda.

Badannya besar—bukan gendut, tapi berotot padat seperti petarung MMA yang sudah lama berkutat di ring. Langkahnya berat, setiap hentakan sepatu bootnya membuat lantai beton bergetar sedikit. Ia bahkan sempat menabrak tumpukan ban bekas di dekat pintu dengan bahu, tapi tidak peduli—terus berjalan seperti tidak ada yang terjadi.

Nanda tidak bicara. Tidak perlu. Aura dominasinya membuat ruangan terasa makin sesak, udara makin berat.

Tapi mata Vino tidak tertuju pada Nanda.

Ia menatap tajam salah satu pengikut Nanda di barisan belakang—Dian, pria bertubuh kecil tapi tatapannya tajam seperti elang yang mengunci mangsa. Gerakannya efisien, tidak ada yang berlebihan. Petarung sejati, pikir Vino.

Mereka beradu pandang dalam diam. Tidak ada kata. Tidak ada ancaman verbal. Hanya dua predator yang saling mengukur—siapa yang akan menyerang pertama jika situasi memburuk.

Garis ketegangan tidak terlihat terbentang di antara mereka.

Meja Perundingan

Empat perwakilan—Misca, Tino, Raka, dan Nanda—akhirnya duduk di kursi masing-masing. Anggota inti berdiri di belakang mereka, membentuk setengah lingkaran seperti saksi bisu yang siap bertindak kapan saja.

Jeka mengambil napas dalam, lalu memulai dengan suara yang lebih formal dari biasanya. "Baiklah, kita mulai—"

"Aku nggak butuh basa-basi, Jek." Nanda memotong dengan suara berat yang menggema di ruangan kosong. Ia bersandar di kursi yang berderit protes menahan beban tubuhnya. "Utara kirim orang paling kalem? Menarik."

Ia menatap Misca dengan tatapan meremehkan yang terang-terangan. "Tiga wilayah lain sudah sepakat—kami mau tahu cara pemilihannya. Tino, kamu duluan."

Tino mengangkat bahu dengan santai, senyum cengengesannya kembali muncul. "Gampang. Kalau mau cepat, ya adu kekuatan aja. Tapi kalau mau aman dan demokratis, ya voting."

Raka langsung menyela sebelum Tino selesai bicara, tangannya bergerak-gerak gelisah. "Voting?! Kamu gila, Tino?! Nanda, kamu mau terima itu? Voting itu bisa dimanipulasi! Harusnya duel! Tapi aku usul duel strategi—tes otak! Ketua harus yang paling cerdas, bukan yang paling berotot!"

"Tes otak?" Nanda menyeringai kasar, menunjukkan gigi yang tidak rata. ". Lihat badanku?" Ia memukul dadanya sendiri dengan bunyi thump yang keras. "Adu fisik itu cara paling jujur. Nggak ada tipu-tipu. Nggak ada diplomasi murahan. Yang kuat, yang menang. Sesederhana itu."

Tiga suara itu beradu—saling tumpang tindih, saling mempromosikan metode yang menguntungkan wilayah masing-masing. Volume meningkat. Nada semakin agresif.

Jeka mencoba menengahi dengan mengangkat tangan. "Dengar, kita—"

Tapi suaranya tenggelam dalam kekacauan.

Vino tetap siaga di belakang Misca, matanya sesekali melirik Dian—yang juga meliriknya balik dengan tatapan penuh perhitungan.

Serangan Verbal

Tiba-tiba, Tino mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan gerakan teatrikal, seperti guru yang ingin menghentikan keributan kelas.

"Stop, teman-teman!" Tino tersenyum lebar, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya—sesuatu yang lebih tajam, lebih berbahaya. "Kita harus jujur dulu sebelum ngomongin metode pemilihan."

Ia menoleh ke Misca dengan tatapan yang sengaja dibikin penuh tanya. "Siapa di antara kita yang paling... tidak cocok jadi ketua?"

Mereka bertiga—Tino, Raka, Nanda—serempak menoleh ke arah Misca.

Seperti sudah direncanakan. Seperti sudah didiskusikan sebelum mereka datang ke sini.

Nanda tertawa keras—tawa yang dibuat-buat, terlalu keras untuk ruangan sekecil ini. "Jelas si kalem ini! Dia bahkan belum buka mulut sejak tadi!"

Raka menimpali dengan nada yang lebih halus tapi tidak kalah menusuk. "Misca, serius. Kamu dari tadi diam saja. Kamu nggak punya usulan? Nggak punya pendapat? Jadi ketua itu harus bicara, bro. Kamu kayak patung manekin buat promosi jaket denim. Suaramu mana?"

Tino melipat tangan di dada dengan gaya sok santai. "Misca, jujur aja—aku rasa kamu nggak usah datang. Aku tahu kamu dipaksa Jeka dan Vino. Kamu terlalu... bersih. Urusan ini bukan buat anak rumahan yang suka ngopi sambil melamun. Ini dunia nyata, bukan kafe aesthetic."

Nanda memukul meja dengan kepalan tangan—bunyi BLAM yang keras membuat kursi Misca bergetar.

"Mending kamu pulang, adik manis." Nada Nanda mengejek, tapi ada ancaman nyata di sana. "Sayang kalau muka gantengmu itu harus hancur di arena. Mukamu terlalu mulus! Nggak ada bekas luka. Nggak ada bukti kamu pernah bertarung sungguhan. Kamu cuma boneka cantik yang dilindungi Jeka dan Vino."

Semua mata kini tertuju pada Misca.

Tiga pemimpin wilayah itu memajukan tubuh mereka—gerakan halus tapi penuh intimidasi. Mencoba menghancurkan mental Misca dengan ketenangannya sendiri. Memaksa dia bereaksi. Memaksa dia marah. Memaksa dia mundur.

Jeka mengepalkan tangannya di belakang—menahan diri untuk tidak maju dan membela Misca secara verbal.

Vino menatap Misca dengan tatapan khawatir yang jarang ia tunjukkan. Misca, jangan diam. Jangan biarkan mereka menang.

Tapi Misca tetap diam.

Rambut yang menutupi dahinya sedikit tersingkap.

Dan saat ia mengangkat kepalanya—

Tatapannya berubah.

Bukan lagi tatapan siswa bosan yang ingin pulang. Bukan lagi tatapan orang yang terpaksa hadir.

Ini tatapan predator yang baru saja menyadari bahwa mangsanya menginjak ekornya.

Dingin. Mematikan. Penuh dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Tangan Nanda yang tadi memukul meja tiba-tiba membeku di udara—otot-ototnya tegang, tapi tidak bergerak.

Senyum Tino memudar perlahan seperti lilin yang meleleh.

Raka yang cerewet mendadak bungkam, tangannya berhenti bergerak gelisah.

Keheningan kembali menyelimuti gudang—tapi kali ini terasa jauh lebih berat, jauh lebih menekan. Seperti udara sebelum petir menyambar.

Bahkan pengikut mereka yang berdiri di belakang merasakan perubahan atmosfer—beberapa secara refleks mundur setengah langkah.

Misca tidak berteriak. Tidak memukul meja. Tidak mengeluarkan ancaman verbal.

Ia hanya menatap.

Dan tatapan itu cukup.

Lalu, setelah keheningan yang terasa seperti berjam-jam—padahal baru lima detik—Misca akhirnya membuka mulutnya.

Suaranya sangat rendah, hampir seperti bisikan. Tapi di ruangan yang sunyi ini, terdengar lebih keras dari teriakan.

"Jadi... bagaimana?" Misca menatap mereka satu per satu—Tino, Raka, Nanda. "Kalian sudah selesai?"

Tidak ada yang menjawab.

Mereka baru menyadari—terlambat—bahwa mereka baru saja membangunkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka duga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!