ARE YOU A MERMAID? SEASON 2
Please don't SPAM!! Hargai sesama author.
Update : Di usahakan seminggu 3-4 kali Up.
Diharapkan untuk membaca cerita sebelumnya agar dapat memahami jalan ceritanya. Terima kasih 🙏
Sinopsis :
Namaku Deryne Mikaelson, kalian tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa takutku saat aku mengetahui takdirku yang sebenarnya!
Aku ditakdirkan mati di usia 18 tahun karena tidak bisa meminum darah kedua orangtuaku sesuai ritual yang sudah di tentukan oleh kakek buyut'ku...
Aku ingin merubah takdirku, merubah nasib buruk yang diberikan oleh gadis gila itu! Mampukah aku melewati ini semua? Apakah mereka akan percaya jika aku bilang aku ini putrinya? Sementara umur kita sama di tempat ini.
~
Jangan lupa LIKE!! dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIBUR PANJANG
Setelah pengumuman kelulusan waktu itu, semua murid disibukkan dengan keputusan mereka masing-masing untuk masuk ke universitas favorit.
Moa berhasil mengikuti ujian ulang berkat Mod kekasihnya, pria berambut pirang itu ingin sekali satu sekolah bersama Densha. Namun karena nilainya yang tak mencukupi pria itu jadi harus mengurungkan niatnya.
Libur panjang tanpa aktivitas apapun pasti akan membuat sebagian orang bosan. Tak terkecuali dengan duyung cantik di rumah Densha, gadis itu hanya rebahan di atas lantai sambil menatap langit-langit kamar.
"Haahhh....."
"......." Densha menoleh pada Fuu sebentar lalu kembali disibukkan dengan buku yang ada di tangannya.
"HAAHHHH...." Suara Fuu semakin keras.
"Ya Tuhan! Kau ini kenapa??" Densha meletakkan buku bacaannya, "Aku kaget tau!"
"Fuu lelah...."
"Lelah??" Densha mengangkat sebelah alisnya, "Aku tidak melihatmu melakukan apapun yang melelahkan tuh!"
"Justru itu!" Fuu bangun dari rebahannya, "Fuu lelah tidak ngapa-ngapain"
"Tidak ngapa-ngapain kau bilang lelah??"
"He'em" Fuu menganggukan kepala, gadis itu merangkak mendekati ranjang Densha. "Densha... Ayo jalan-jalan"
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?!"
"Memangnya Densha sibuk apa??"
"Aku harus belajar untuk ujian masuk universitas"
"Apa itu uni... Uni apa??"
"Universitas"
"Iya, apa itu??" Fuu mengedip-ngedipkan matanya, ia bertingkah imut agar Densha mau mengajaknya jalan-jalan.
"Itu sekolah yang lebih tinggi"
"Lebih tinggi?? Apa sekolah itu terletak di atas langit??"
"His!" Densha menyentil dahi Fuu pelan, "Bukan berarti sekolahnya di atas langit Fuu!"
"Lalu??"
"Di dunia manusia, ada lanjutan untuk menempuh pendidikan" ujar Densha menjelaskan, "Jika kau sudah lulus taman kanak-kanak, kau harus melanjutkannya di sekolah dasar lalu ke sekolah menengah pertama dan setelah itu ke sekolah menengah atas lalu ke universitas"
"Jadi Densha harus bersekolah lagi??"
"Benar!" Densha mengangguk.
"Kenapa? Apa Densha masih bodoh??"
"Hei, aku tidak bodoh ya??"
"Kan Densha sudah pintar, kenapa sekolah lagi ke Uni?"
"Hah..." Densha menghela nafas panjang, "Aku adalah satu-satunya pewaris perusahaan papa, sekolah sampai SMA saja tak cukup untukku bisa mengambil alih perusahaan itu"
"Begitu ya?"
"Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak pernah melihatmu belajar? Dengan nilai ujianmu yang bagus itu kau bisa masuk ke universitas yang sama denganku"
"Fuu tidak tertarik"
"Apa??"
"Fuu ingin di rumah saja, Fuu tidak mau sekolah lagi"
"Kenapa??"
"Sekolah itu tidak menyenangkan, Fuu takut akan hal-hal yang bisa membahayakan identitas Fuu"
"Wah, benar juga!"
"Tapi...." Wajah Fuu memerah.
"Apa??"
"Densha pernah bilang bahwa Densha tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang tidak berpendidikan kan??"
"Lalu??"
"Bagaimana kalau wanita itu hanya berpendidikan sampai SMA saja??"
Eh?? Apa dia sedang menyatakan perasaannya padaku?? - Densha.
"Kenapa kau menanyakan itu??"
"Tidak, bukan apa-apa" raut wajah Fuu menjadi sedih.
Tanpa sepengetahuan Fuu, Densha tersenyum tipis menatap gadis itu. Densha meraih kedua tangan Fuu dan menggenggamnya erat.
"Dengar ya? Identitasmu jauh lebih penting dari apapun" ucap Densha, "Jika suatu saat nanti aku jatuh cinta. Aku yakin aku tak akan memandang status orang yang kucintai"
Fuu menatap kedua mata Densha, rupanya ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Densha.
Aku menyukaimu Fuu, itu sebabnya aku tak ingin kau jauh dariku - Densha.
"Apa sekarang Densha belum jatuh cinta??"
"Aku ingin melihatmu merasakan rasa cinta terlebih dahulu"
"Ng...." Fuu terdiam sejenak, "Fuu sudah merasakannya..."
"Apa??"
"Rasa suka Fuu pada Densha ini terlalu berlebihan, bukankah itu cinta?"
"Benarkah??" Densha tersenyum senang.
"Uhm..."
"Kalau begitu, jangan pernah meninggalkanku!"
"Bagaimana dengan Densha??"
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Bukan, bukan itu..." Fuu berdiri dari duduknya.
"Eh?? Lalu apa??"
"Bagaimana dengan perasaan Densha?"
"Kalau aku bilang rahasia bagaimana??"
"Dih! Densha curang!!" Fuu memukul-mukul lengan Densha pelan.
"Hihihi..."
Andai saja ada sedikit kepintaran pada dirimu, mungkin kau akan tahu bahwa aku sudah mengatakan isi hatiku secara tak langsung - Densha.
_____________________________________________
Malam hari pun tiba...
Angin berhembus kencang disertai hujan deras menerjang kota tepi laut itu. Kapal-kapal nelayan di bibir pantai saling bertabrakan satu sama lain akibat gelombang air yang cukup tinggi.
Dari dalam rumah keluarga Roosevelt, Ryn nampak khawatir memandang luar jendela. Gadis itu termenung sambil menyentuh kaca jendela Mod yang terasa dingin akibat tetesan air hujan.
"Kenapa perasaanku tidak enak?"
KRIET!!
(Pintu terbuka)
"Ryn??"
"Mama??" Ryn menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Mau cokelat panas??" Mod membawa dua cangkir minuman yang masih mengeluarkan asap.
"Terima kasih mama!"
"Hujannya deras ya??"
"Iya... Anu, perasaanku tidak tenang" ungkap Ryn khawatir, "Bisakah mama menelpon kedua orangtuaku dan tanyakan kabar mereka??"
"Baiklah, aku akan menelpon Densha" Mod mengusap pipi Ryn lembut.
Gadis itu mengambil ponselnya dan menekan nomor Densha, ia menunggu Densha mengangkat telpon darinya sambil meniup cangkir cokelat panas di tangan kanannya.
Kring!
Kring!
Kring!
"Halo?"
"Eh! Fuu ini kau??"
"Mod?"
"Iya, ini aku Mod..."
"Ada apa??"
"Apa semuanya baik-baik saja? Tidak ada hal aneh yang terjadi kan??"
"Tidak ada, tapi..." Fuu terdengar begitu khawatir dari nada suaranya.
"Ada apa Fuu??"
Mendengar Mod yang nampaknya cemas, Ryn mendekati mama angkatnya dengan perasaan yang kacau.
"Perasaan Fuu tidak tenang, seperti akan terjadi sesuatu yang menimpa keluarga Fuu"
"Apa??"
"Apa Ryn baik-baik saja??"
"Iya, sekarang aku bersama dengan Ryn" jelas Mod, "Hei, jika terjadi sesuatu segera hubungi kami ya??"
"Oke, baik!" Fuu menutup telponnya.
Tap!
"Eh?? Langsung di tutup??"
"Apa?? Kenapa?? Mama Fuu bilang apa??" Ryn menghujani Mod dengan banyak pertanyaan.
"Fuu bilang, perasaannya juga sedang tidak enak. Dia juga menanyakan kabarmu"
"Ada yang tidak beres!" Ryn menyentuh kepalanya sendiri, "Kenapa mama juga memiliki firasat yang sama denganku?"
"Mungkin karena kalian keluarga!"
"Aku harus pergi ke rumah mama dan papa"
"Apa?! Kau kan tidak bisa terkena air??"
Ryn memejamkan kedua matanya, gadis bermata biru itu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.
"Cih! Sialan..."
"Tenanglah, saat hujannya reda nanti akan kutemani kau kesana"
"Baiklah mama" Ryn memandang keluar jendela lagi, berharap agar hujan segera reda.
***
Di permukaan laut yang luas, sebuah kapal terombang-ambing akibat terjangan ombak dahsyat.
Seorang pria berumur tiga puluh tahun sedang terjebak didalamnya, ia memegang sebuah botol minuman sambil terus berpegang kuat pada tiang kapal dengan satu tangannya yang lain.
Pria mabuk itu tengah berguman-gumam seorang diri. Sebelum ia memutuskan untuk mabuk, ia sudah menyerah dengan ke tidak berdayaannya karena tak bisa kembali ke kota. Ia terjebak dalam sebuah badai di tengah laut.
"Yah... Apa aku akan mati??"
Nama pria itu adalah Clarke, ia adalah seorang nelayan yang gemar sekali minum-minum. Di umurnya yang sudah dewasa, ia masih belum mempunyai istri.
Crang!
Crang!
Clarke membuka kedua matanya, ia mencoba berdiri pada permukaan kapal yang terombang-ambing tidak tenang itu. Pria tersebut berjalan keluar, mencoba mencari sumber suara.
"Apa jaring yang ku lempar menangkap ikan??"
Clarke terjatuh ketika ombak menghantam kapalnya dengan kuat, ia merangkak menuju tempat penarikan jaring. Seluruh pakaiannya basah akibat hujan dan air laut yang masuk ke dalam kapalnya.
"Uh... Aku rasa, aku sedang mabuk berat!"
Clarke memukuli kepalanya sendiri, mencoba mengembalikan kesadarannya.
Bersambung!!
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa Like, Komentar, Favorit, Follow dan Rating! 😘😉
baru tahu ad novel sebagus ini tentang mitologi..
kebetulan aku sangat suka mitologi..
maaf ya jarang meninggalkan kesan pd eps🙏
tp fiks aku suka...
tp yg manis2 saja...
tp berharap tdk ad katrina ke 2