Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 22
"Aku tidak tau kau bicara apa? yang jelas satu hal yang harus kau tau sampai mati pun aku tidak akan pernah membatalkan pernikahan kita,"
Narendra memeluk Helen yang menangis tersedu sedu tapi kali ini bukan menangisi kenyataan yang baru saja ia ketahui tapi perkataan Naren yang mampu menggetarkan hatinya dan ia akan berjanji pada dirinya sendiri jika mulai detik ini ia akan membuka hatinya untuk pria yang sangat tulus padanya.
"Naren, tapi aku anak haram anak yang hadir di luar pernikahan. Bagaimana jika ada yang tau aku takut itu akan mempermalukan mu dan juga keluarga mu," Isak Helen.
"Tidak, apapun perkataan orang lain di luar sana aku tidak peduli," Narendra menangkup wajah calon istrinya itu,"Lebih baik sekarang kau masuk ke dalam ganti bajumu di dalam ada ibu ku sekalian aku akan memperkenalkan mu," lanjut Narendra.
Naren membawa Helen masuk ke dalam. Dengan langkah beratnya Helen melangkah menuruti Naren dan di pertengahan ruangan seorang wanita paru baya sedang menatap keduanya membuat Helen sedikit terkejut menatap Naren yang mengangguk seakan memberitahu semua akan baik-baik saja.
"Malem Tante," sapa Helen.
"Malam," Jawab Mira.
"Nyonya, ini handuk dan baju yang nyonya minta," ucap pembantu.
"Terimakasih," Mira memberikan baju itu pada Helen dan menyuruhnya ke kamar tamu. Mira bukan diam karena tidak suka ia sudah mendengar pembicaraan Naren dan Helen saat mereka di luar.
"Kau ganti dulu aku tunggu di luar dan aku akan memberitahu om Danu kalau kau ada di sini," Helen mengangguk pelan.
Sembari berselancar di ponselnya Narendra datang kembali menghampiri Mira,"Kenapa kamu merahasiakan kekasihmu sama mama," cetus Mira.
"Ah, itu ... Itu, anu mah," gugup Narendra.
Mira menghela napas berat nya,"Apa kamu masih memikirkan perkataan mama waktu itu, Naren," tanya Mira dengan wajahnya yang berubah lesu.
Narendra langsung memeluk Mira karena ia sudah tau jika sikap sang ibu seperti itu ia pasti sedang merasa sedih.
"Bukan, mah. Aku hanya ingin fokus pada kesehatan mama dulu baru nanti Naren akan menceritakan tentang Helen," ujar Naren.
"Namanya Helen?" tanya Mira.
"Iya," singkat Narendra melepaskan pelukannya.
"Tidak perlu begitu jika kau bahagia bersamanya menikahlah jangan di tunda. Soal ucapan mama tentang kakak mu tidak perlu dipikirkan jika nanti kita ditakdirkan bertemu lagi pasti akan ada jalan untuk bertemu," terang Mira.
"Kita pasti akan menemukan kakak, mah. Naren sudah berjanji pada mama kan, sabar ya mah Naren sedang berusaha mencari kakak," ucap Narendra.
"Yasudah, mama mau istrahat suruh Helen makan dulu biarkan dia menginap beritahu orang tuanya jika besok kita akan mengantarkan Helen dan juga melamarnya," ujar Mira.
Ucapan sang mama membuat Narendra merasa bahagia tapi masih ada hal yang mengganjal di hati soal status Helen apa mama nya masih akan menerimanya sebagai menantu.
Naren terdiam sejenak lalu Mira mengelus punggung sang putra,"Mama sudah dengar semuanya, kamu tidak perlu khawatir kan itu mau apapun statusnya jika dia bisa membuat putra mama bahagia mama akan merestui kalian. Yasudah, mama pergi ke kamar dulu,"
Mira beranjak dari duduknya melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak di atas. Tidak lama Helen keluar dengan memakai stelan piyama tidur dengan wajah polosnya dan rambutnya yang masih basah terurai menghampiri Kenan.
Wanita itu celingukan mencari Mira,"Mama sudah ke kamar dia mau istrahat, sekarang kita makan dulu ya," ajak Narendra.
Dengan sangat telaten Narendra mempersiapkan makanan yang sudah disiapkan pembantunya. Ada ayo hangat serta telur goreng dan juga sambal.
Helen makan dengan lahap sesekali ia menyuapi Narendra, betapa bahagianya Narendra setelah bertahun tahun lamanya kini pencarian cintanya tidak sia-sia Helen pun kini akan segera menjadi miliknya.
"Andai kan ada kakak dan papa saat nanti aku menikah kebahagiaan ku terasa sangat sempurna," batin Narendra.
Dari kejauhan Mira melihat putranya ia juga merasakan bahagia sekaligus sedih karena salah satu putranya tidak dapat ia temukan padahal jika ada Mira pun sangat bahagia.
"Di mana kamu sayang, apa kamu juga sudah berkeluarga pasti aku sudah punya cucu iya kan," lirih Mira berusaha menahan tangisnya.
***
Ayumi menangis karena saat ini ia sudah bisa tengkurap tapi tidak bisa berbalik kembali. Kenan meledeknya dengan membiarkannya menangis.
plak
"Suka sekali menjahili anak sendiri," kesal Tiara.
Tiara langsung menggendong cucu kesayangannya, tetapi tatapan bayi itu tetap mengarah pada Kenan seperti ingin meminta sang Ayah untuk menggendong nya.
"Tuh kan mih tetap saja aku yang Ayumi inginkan untuk menggendongnya," ledek Kenan yang langsung membawa Ayumi kembali ke kamar.
Ceklek
"Di mana ibu mu? Kenapa di sini tidak ada?" tanya Kenan seolah berbicara pada Ayumi.
Ayumi hanya memainkan bibirnya yang terus saja mengecap sesekali ia memasukkan tangannya tapi lama kelamaan bayi itu menangis merasa kesal.
Tangisan terdengar jelas saat Arumi baru saja melangkah masuk ke dalam kamar,"Sini kan Mas, seperti dia haus," Arumi membaringkan Ayumi di atas ranjang lalu bersiap mengeluarkan nutrisinya buru-buru Kenan menutup pintunya.
"Kalau mau menyusui tutup dulu pintunya, kamu kebiasaan deh sayang," seru Kenan yang kini sedang bersiap untuk mandi.
Sembari memperhatikan Ayumi yang sedang menikmati nutrisinya Arumi masih tidak menyangka dengan kehidupan nya saat ini tiba-tiba dia kehilangan suaminya, tiba-tiba dia menikah dengan Kenan yang sama sekali tidak dikenalnya bahkan saat di sekolah pun ia tidak pernah tau keberadaan Kenan yang mengatakan jika ia sudah memperhatikan Arumi sejak lama.
Bersamaan dengan selesainya Kenan mandi Ayumi pun tertidur pulas dan nutrisinya pun terlepas buru-buru Arumi membenarkan bajunya karena Kenan sedang memperhatikan nya.
Pria itu pun tersenyum menyeringai membuat Arumi beranjak dari ranjang dan ingin pergi melangkah keluar tapi dengan cepat Kenan menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
"Mau ke mana, hmm," ucap Kenan sangat lembut.
"Mau ke dapur siapkan makan siang," ujar Arumi.
"Ada Nina dan Tina kenapa kau harus capek-capek ke dapur. Aku juga butuh di perhatikan loh," Rajuk Kenan.
"Aku kurang perhatian apa Mas, semua keperluan mu selalu aku siapkan trus mau diperhatikan bagaimana lagi," balas Arumi.
"Komunikasi, kita jarang mengobrol kau tak pernah banyak bicara padaku, tidak pernah meminta apapun atau bahkan sekedar minta tolong sama aku juga gak pernah," terang Kenan.
Bukan sekedar merajuk Kenan sebenarnya sudah mulai lelah karena mungkin ia baru tersadar hubungan yang di awali dengan paksaan tidak semudah dengan yang dijalaninya.
"Apa kau mulai lelah dengan sikap ku?" Kenan menggelengkan kepalanya lalu melepaskan pelukannya.
"Aku hanya ingin diperhatikan sebagai suami oleh istrinya. Aku ingin di antara kita jangan ada yang disembunyikan jika ada yang sedang kau rasakan ceritakan padaku. Bukan hanya kewajiban yang kau jalani aku juga ingin kau menggunakan hak mu sebagai istri,"
Suara lenguhan terdengar Ayumi sedikit terbangun lalu dengan cepat Arumi menenangkannya. Sementara Kenan menuju lemari lalu memakai pakaiannya berlalu keluar membawa ponselnya tanpa menghiraukan Arumi yang menatap kepergiannya.
"Apa aku sudah keterlaluan tapi meminta pisah pun ia tidak mau. Aku harus apa? Mencintai nya? Aku sudah tidak sanggup mencintai pria lain lagi karena bagiku saat aku sudah sangat mencintai nya nanti aku akan kembali kehilangan nya karena mungkin hadir nya diriku membuat Mas Natan tiada karena aku hanya akan membawa kesialan di kehidupan orang lain,"
Itulah perasaan Arumi yang sebenarnya ia memang tidak banyak bicara karena memang sifatnya seperti itu. Karena kebiasaannya hidup sendiri membuat dirinya selalu memendam apapun sendiri bahkan Natan pun tidak pernah tau apa yang ada di hati dan pikiran Arumi selama berhubungan dengannya.
*
*
Bersambung.