NovelToon NovelToon
Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Tamat / System / Militer
Popularitas:5.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Dyoka

Seno adalah seorang anak petani yang berkuliah di Kota. Ketika sudah di semester akhir, ia menerima kabar buruk. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus.

Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarganya, Seno lebih memilih menghentikan pendidikannya untuk mencari nafkah. Ia masih memiliki dua orang adik yang bersekolah dan membutuhkan biaya banyak.

Karena dirinya tidak memiliki ijasah, Seno tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Mengandalkan ijasah SMA-nya pun tidak jauh berbeda. Maka dari itu, Seno lebih memilih mengelola lahan yang ditinggalkan mendiang kedua orang tuanya.

Ketika Seno mulai menggarap ladang mereka, sebuah kejutan menantinya.

----

“Apa ini satu buah wortel dihargai tujuh puluh ribu.” Ucap seorang warganet.

“Mahal sekali, melon saja harga lima puluh ribu per gramnya. Ini bukan niat jualan namanya tapi merampok.” Ucap warganet yang lainnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PH 31 Kolonel Johan (2) (revisi)

“Baiklah, aku menerima hal itu. Sekarang, kita bahas masalah harga dari wortel ini. Berapa harga yang akan Kamu tetapkan untuk wortel ini?” Tanya Johan.

Meski sebelumnya Johan mengatakan bahwa dia akan membeli berapa pun harga yang akan Seno tetapkan, tetapi ia tidak bisa melakukan itu dengan mudah.

Jika itu untuk kepentingan pribadinya, Johan tidak masalah dengan hal itu. Tetapi ini adalah untuk kesatuannya. Ia tidak bisa semudah itu mengeluarkan uang banyak dengan dana kesatuannya.

Johan hanya berpangkat sebagai Kolonel sekarang. Meski dia bisa membuat keputusan besar mengenai keuangan di battalion pimpinannya, tetap saja ia perlu memberikan laporan mengenai hal ini kepada Jendral di kesatuannya. Johan juga berharap Seno memberikan keringanan untuk harga dari wortelnya ini.

“Karena Pakde Johan menggunakan wortel ini untuk kepentingan militer, juga Pakde mengambil wortel ini dalam jumlah besar, aku akan memberikan harga tujuh puluh ribu per wortelnya untuk Pakde Johan. Anggap saja ini bentuk kontribusiku sebagai warga negara yang baik.”

“Aku tidak bisa bergabung dengan militer untuk mempertahankan keamanan negeri ini. Tetapi dengan wortel yang aku jual ini, keamanan negeri kita semakin terjamin.” Jelas Seno.

Meski Seno bisa saja mendapatkan keuntungan lebih banyak jika menjual wortel itu melalui lelang, tetapi Seno tidak akan melakukannya. Seno sama sekali tidak mengalami kerugian dalam transaksi ini. lagi pula, Seno perlu membuat wortel miliknya terlihat langka agar harganya di lelang tetap mahal.

Dari awal menanam wortel hingga panen, modal yang Seno keluarkan hanyalah tenaganya. Sekarang pun ia memiliki asisten kelinci-kelinci cerdas yang bisa membantunya. Untuk bibit dan pupuk pun Seno memanfaatkan poin tanam untuk membelinya.

Jadi tidak ada kerugian yang Seno terima dalam transaksi ini. Malah ia akan menerima uang dalam jumlah besar pada satu waktu.

Johan cukup senang mendengar apa yang Seno katakan barusan. Meski bukan dari militer, tetapi rasa bela negara dalam diri Seno masih ada.

“Baiklah. Tidak masalah untukku jika segitu. Berapa banyak wortel yang Kamu miliki saat ini?” Tanya Johan.

“Aku memiliki seribu sembilan ratus wortel yang akan dikirim oleh pemasokku. Aku bisa menjual semua wortel itu kepada Pakde Johan. Wortel itu akan tiba empat hari lagi.” Jelas Seno.

Sebenarnya wortel itu sudah ada pada Seno. Tetapi, jika Seno mengatakan demikian, maka Johan pasti ingin membawa wortel itu sekarang. Jadi, dia mengatakan wortel itu siap dalam empat hari lagi.

Itu Seno lakukan karena ia ingin mefokuskan waktunya dua hari ini untuk menyelesaikan pesanan Danial. Setelah sayur pesanan Danial terkirim barulah Seno bisa mempersiapkan wortel khusus yang akan dibeli oleh Johan.

Johan terdiam sesaat untuk menghitung jumlah uang yang perlu ia persiapkan untuk membeli wortel sebanyak itu. Jika Seno menjual wortel itu dengan harga tujuh puluh ribu, maka Johan perlu memepersiapkan seratus tiga puluh tiga juta untuk membayarnya.

Angka yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu sedikit. Setelah ini, Johan akan melaporkan mengenai hal ini kepada Jendral di kesatuannya.

“Hem… baiklah tidak masalah untukku. Empat hari lagi aku akan datang lagi untuk mengambil semua wortel-wortel itu. Aku juga akan membayarnya nanti. Pokoknya persiapkan saja semuanya.” Jelas Johan.

Setelah membahas sedikit masalah teknis, Johan mengajak Miranda pulang dari rumah Seno.

“Kalau begitu kami pulang dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi mengenai hal ini.” Pamit Johan.

“Tentu Pakde.”

“Mas Seno aku pulang duluan ya.” Pamit Miranda. Sebenarnya Miranda masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Tetapi dia tidak bisa melakukannya.

Sekarang dirinya datang bersama dengan Johan tentu saja Pamannya itu tidak akan mengijinkannya berduaan bersama dengan Seno. Apalagi sekarang hari sudah mulai sore. Mau tidak mau Miranda harus pulang sekarang.

Dari sudut matanya, Johan melihat keengganan yang dialami keponakannya itu. Dari situ Johan tahu bahwa Miranda memiliki rasa kepada laki-laki bernama Seno tadi.

“Ayo Mir, sudah sore. Biar kita nanti nggak kemaleman di jalan.” Ucap Johan ketika melihat Miranda masih belum juga masuk ke mobil miliknya.

“Ehm… Iya Pakde aku datang.” Jawab Miranda.

….

“Kamu menyukai Seno ya?” Tanya Johan tiba-tiba ketika mobil yang mereka tumpangi sudah cukup jauh dari rumah Seno.

Mendengar pertanyaan Johan yang tiba-tiba itu membuat wajah Miranda berubah memerah karena malu. Jika saja hanya dirinya dan Johan saja yang ada di dalam mobil, maka Miranda tidak akan semalu ini.

Sayangnya di dalam mobil masih ada dua orang anak buah Johan. Hal itu membuat Miranda mengutuk pamannya dalam hati karena menanyakan hal tersebut tanpa kenal tempat. Tidak bisakah Johan menanyakan hal itu ketika hanya ada mereka berdua saja?

“Ish, apaan sih Pakde, siapa juga yang suka Mas Seno. Dia itu sudah ada pacar tahu.” Jelas Miranda dengan wajah yang masih memerah.

Dari kabar terakhir yang diketahui Miranda, Seno memang memiliki pacar. Miranda masih belum tahu jika pacar Seno sudah memutuskan laki-laki itu karena Seno lebih memilih memikul tanggung jawab besar daripada bersikap egois.

“Kalau Kamu emang nggak ada rasa sama dia, kenapa sekarang wajah Kamu memerah seperti itu? Kamu malu ya Pakde tanyain seperti ini.” Ucap Johan sembari menatap ke arah keponakannya. Bibirnya sekarang berhiaskan senyuman jenaka untuk Miranda.

“Tidak masalah jika di memang sudah memiliki pacar. Selagi dia belum memiliki istri atau tunangan, masih ada kesempatan bagi Kamu bersanding bersama dengan Seno. Dia itu laki-laki yang baik. Jadi, jika Kamu memang menyukai dia, perjuangkan saja perasaanmu itu.” Jelas Johan.

Asalkan tidak merebut suami atau tunangan orang lain, Johan masih mengijinkan keponakannya ini merebut pacar orang lain. Bagi Johan, mereka yang masih pacaran belum tentu benar-benar serius dengan hubungan mereka. Apa pun masih bisa terjadi. Jadi tidak ada salahnya Miranda mendekati Seno.

Meski baru bertemu sekali, tetapi dari pengamatannya Johan bisa tahu bahwa Seno adalah laki-laki baik. Tidak masalah jika dia bersama dengan Miranda. Lalu, Johan juga mendengar dari Miranda bahwa Seno lebih memilih cuti kuliah agar bisa bekerja menghidupi kedua adiknya setelah orang tuanya meninggal.

Padahal, Seno masih bisa bersikap egois dengan memakai semua uang asuransi orang tuanya untuk melanjutkan kuliahnya tanpa memperdulikan kedua adiknya. Di sini juga terlihat bahwa Seno adalah laki-laki yang bertanggung jawab.

Menurut Johan, latar belakang seseorang terutama hartanya tidak telalu penting. Yang terpenting adalah bagaimana sikap dan sifat mereka. Jadi, meski Seno dari keluarga biasa-biasa saja, johan merestui keponakannya ini.

“Mas Seno hanya menganggapku sebagai adiknya. Nggak lebih. Jadi, mana mungkin dia juga menyukaiku.” Ucap Miranda yang sekarang terlihat pasrah akan keadaan.

Dirinya sudah menyukai Seno sejak lama. Namun laki-laki itu tidak juga peka akan hal itu. Dia masih saja menganggap Miranda sebagai adiknya.

Meskipun Miranda sudah mencoba berbagai cara untuk terlihat sebagai perempuan yang menyukainya bukan adik temannya di mata Seno, tetapi tidak banyak perubahan yang terjadi. Alhasil sampai sekarang Miranda hanya bisa menyukai Seno dalam diam.

“Apakah Kamu pernah mencoba mengungkapkan perasaanmu kepada Seno?” Tanya Johan.

“Belum Pakde. Aku takut Mas Seno menolakku.”

“Heh.” Johan mendengus pelan. “Kamu belum juga mencoba, belum juga mengatakan perasaanmu. Jadi, bagaimana mungkin Kamu bisa tahu bahwa Seno akan menolakmu? Jangan pernah menyerah sebelum mencoba.”

“Kamu itu keponakannya Kolonel Johan Sebastian. Masak Kamu menjadi pengecut seperti itu. Kalau Kamu memang beneran suka Seno, ungkapkan saja perasaanmu itu. Perkara diterima atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting suda mencoba.”

Miranda terdiam sesaat setelah mendengar pejelasan dari Johan. Memang benar apa kata Johan, sebelum ia mencoba sama sekali, bagaimana dirinya bisa tahu bahwa Seno akan menolaknya?

Selama ini, mungkin saja dirinya kurang memperlihatkan rasa sukanya. Jadi, Seno tidak peka dengan hal itu. Ini berarti, Miranda perlu mencoba lebih keras lagi. Jika memang dirinya menyukai Seno, sudah seharusnya dia juga berjuang tidak hanya mengharap saja kepada Seno.

“Baiklah Pakde. Aku akan mencoba mengutarakan perasaanku.” Ucap Miranda.

“Nah itu baru keponakanku. Kamu harus percaya diri seperti itu. Lagipula, Kamu ini cantik, baik dan juga pintar. Laki-laki mana juga yang nggak mau sama Kamu. Kalau emang nantinya Kamu nggak bisa sama Seno, Pakde bakal cariin Kamu pacar yang nggak kalah hebatnya dari Seno.” Jelas Johan.

“Nggak usah Pakde. Aku akan memperjuangkan Mas Seno dulu.” Jawab Miranda.

1
Anonymous
Cerita konyolnya ini…mana ada dizaman hukum sudah berjalan orang bisa berbuat seenaknya….dasar author kotor otaknya….
Anonymous
Author begho taiklah….bikin cerita kok kek gini dasar
acid
lagi dan lagi.. kalimat yang paling kubenci...
Go Anang
Luar biasa
Khasna
sayangnya cuma Seno yang bisa mengalahkan inti dimensi itu.....🤭🤭
Pi Man
alah rj banyak bacot
Pi Man
alah bacot kau yuce
Pi Man
author peak atau gimana sih , ya kali kekuatan segitu gitu aja , padahal udh beberapa kali dapat poin kekuatan
Pi Man
jual lah brokoli ke militer
Pi Man
kalah sama kangkung wkwkwk
Khasna
siap² aja jadi tawanan 🤣🤣
Khasna
🤣🤣🤣 kecebong yang meresahkan...
Khasna
perjuangan Seno untuk calon keluarga SenDiRa (Seno Dina miRanda) 💪💪🥰🥰
S.NK.W❇️
bukannya kebun sama lebahnya level 7??....
Travel Diaryska
udah bagus2 cewe nya 1 dina aja, malah ditambahin mira hadehh
Elok Fauziah
Aduh ceroboh seno
Elok Fauziah
sebesar kalkun mungkin atau bahkan sebesar burung unta
Jai Nuri
Luar biasa
Elok Fauziah
buncis thor
Elok Fauziah
Cihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!