Mengisahkan sosok Jamal si bocah biasa dari desa, namun akhirnya mampu meroket hingga kekancah dunia. Entah itu dunia nyata atau bahkan dunia imajinasi.
Dia dipilih menjadi murid pribadi Sang Pendekar Legenda. Dilatih berbagai ilmu tentang pendekar. Seperti jurus-jurus, alcemis, formasi, dan penempaan senjata.
Ada apakah? Mengapa demikian? Simak kisahnya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adib Mudzofar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Di Rumah Makan
Ling Tian kaget saat menyadari ditangannya ada sebuah lencana seperti lencana yang diberikan Pendekar Jibril dalam mimpinya.
'Tidak! Ini bukan mimpi! Ini nyata! Apa yang di katakan pria itu benar adanya? Apa didalam Hutan Gelap ada binatang suci naga dan pria yang dimaksudkan?' Berbagai pertanyaan timbul dibenak Ling Tian. Sebab hal itu, tumbuh rasa penasaran yang mencambuk semangatnya.
Ling Tian terus memikirkan ucapan pria yang hadir dimimpinya. Pesan dan tugas yang harus dia jalani. Entah tugas apa dia tidak tahu. Dan kata pria itu juga Ling Tian akan mengetahui dengan sendirinya disaat ingatan sejatinya kembali.
'Ah! Sudahlah! Lebih baik aku makan saja!' gumam Ling Tian.
Hari sudah pagi. Ling Tian bersiap untuk sarapan di restoran sebelah seperti yang dikatakan pelayan kemarin. Dia mandi dan mengganti pakaiannya. Selesai dengan kegiatan tersebut, Ling Tian segera turun kamar dan menuju restoran.
Sesampai direstoran, Ling Tian ingin mencoba makanan-makanan mahal. Pembawaannya yang elegan, pakaiannya yang cukup bagus, ditambah rupa wajahnya yang sangat tampan, Ling Tian tampak seperti Tuan Muda kaya raya yang orang tuanya menguasai sebuah kota. Ya! Memang Ling Tian saat ini benar-benar Tuan Muda kaya raya! Uang hasil jarahan dari para bandit sangatlah banyak didalam cincin penyimpanannya. Ling Tian menjadi pusat pandang saat melintasi lantai pertama dan kedua. Para wanita cantik dan nona-nona muda dari pemimpin klan banyak yang tertarik dan penasaran dengannya. Bisik-bisik terdengar di beberapa sudut ditempat itu. Ling Tian tak menghiraukan semua itu. Dia mengambil ruang di lantai tiga. Ruangan itu tampak sepi dan hanya beberapa orang saja. Ling Tian sengaja mengambil tempat duduk di pojok dekat dengan jendela.
'Kelihatannya cukup nyaman!' gumam Ling Tian.
"Tuan Muda! Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersenyum seperti umumnya.
"Bawakan saya makanan dan minuman terbaik disini!" jawab Ling Tian.
"Baik Tuan Muda!"
"Eh! Pelayan!" panggil Ling Tian.
"Saya Tuan Muda," sahut pelayan.
"Bawakan juga arak terbaik kalian!" ujar Ling Tian.
"Baik! Akan saya siapkan segera Tuan Muda!" jawab pelayan dengan yang masihbdengan senyum manisnya.
Ling Tian ingin mencoba bagaimana rasanya arak. Para Pendekar selalu meminum minuman itu disaat perayaan atau banyak hal. Tentu Ling Tian ingin mencobanya juga. Pelayan itu segera kembali kebelakang untuk menyiapkan pesanan Ling Tian.
Dua menit kemudian, pelayan itu datang lagi dengan membawa sebuah guci kecil dan gelas cantik.
"Ini arak terbaik kami Tuan Muda! Silakan anda coba! Dan untuk pesanan yang lain, saya harap Tuan Muda berkenan bersabar sebentar!" ucap lembut pelayan sembari mengisi gelas untuk Ling Tian.
"Santai saja!" singkat Ling Tian.
Gelas cantik sudah diraih tangan. Ling Tian mencoba mengendus bau minuman yang bernama arak itu. Memang agak memalukan untuk dilihat khalayak umum. Tapi bukan Ling Tian namanya jika tidak bersifat bodo amat!
'Hmm.. Baunya wangi?' gumam Ling Tian.
Gluk!
Dengan satu tegukan, isi gelas itu langsung ludes tanpa sisa.
"Ahhhh!" "Uhuk! Uhuk!" batuk Ling Tian.
"Tuan! Apa Tuan Muda tidak apa?" tanya si pelayan.
"Ahhh! Pahit sekali!" ucap Ling Tian agak keras.
"Hahaha!"
"Pemuda bodoh!"
"Iya! Dia benar-benar kelewat bodohnya!"
"Mungkin dia baru pertama minum arak!"
"Sangat disayangkan! Arak semahal itu dikonsumsi oleh orang yang salah! Andai aku jadi arak itu, aku pasti akan menangis!"
Para pengunjung mengomentari tindakan ceroboh Ling Tian.
"Cih! Arak-arakku! Terserah aku mau meminum model apa! Kenapa kalian yang berisik!" gerutu Ling Tian.
"Hahaha. kenapa harus ngegas Bocah! Santai lah! Santai!" ujar satu pengunjung dengan nada mengejek.
"Tch!" Ling Tian hanya mengutuk orang itu dalam hatinya. Dia tidak ingin memperpanjang masalah sepele seperti ini.
"Lihat! Ekspresi bocah itu! Benar-benar memprihatinkan" ujar pengunjung itu memprovokasi.
Ling Tian tidak membalasnya.
"Tuan Muda baik-baik saja?" tanya si pelayan lagi.
"Aku tidak apa-apa! Segeralah kamu bawa pesananku yang lain dan bawakan juga air putih sekarang! Tenggorokanku terasa sangat panas!" ucap Ling Tian lirih.
"Baik Tuan Muda! Tunggu sebentar!"
Pelayan langsung berlari dan mengambilkan air putih untuk Ling Tian. Setelah meminum air putih, tenggorokan Ling Tian berangsur membaik.
"Ini pesanannya Tuan Muda!" ucap pelayan yang membawa banyak makanan disajikan untuk Ling Tian.
"Selamat menikmati!" ujarnya lagi.
"Ya." singkat Ling Tian.
Belum sempat satu suap makanan masuk ke mulut Ling Tian. Tiba-tiba ada teriakan keras dari seseorang yang baru datang dengan rombongannya.
"Segera kosongkan tempat ini! Tuan Muda Lang akan makan dan sudah menyewa seluruh ruang ini!"
Hal itu benar-benar membuat Ling Tian tambah dongkol. Kesialan apa lagi yang akan dia terima fikirnya.
'Cih! Ada apa lagi ini!' decak Ling Tian dalam hatinya.
Para pengunjung yang mendengar teriakan orang tersebut yang menyebut nama Tuan Muda Lang tanpa menunggu lama langsung bubar dan keluar dari ruangan. Namun ada satu pengecualian, seorang pemuda tampan masih duduk santai dipojok ruang dekat jendela. Ya! Pemuda itu adalah Ling Tian.
Pengawal atau orang yang berteriak tadi wajahnya menjadi muram saat melihat pemuda itu masih ditempat seolah tidak mendengarkan ucapannya.
"Hei bocah! Apa kamu tidak mendengar ucapanku?" bentaknya dengan wajah memerah.
Ling Tian hanya melirik lalu kembali melanjutkan aktifitas makan mewahnya.
Brak!
Meja tempat makan Ling Tian hancur seketika digebrak si pengawal dan makanannya berhamburan kemana-mana termasuk sedikit menyiprat di wajah Ling Tian dan baju barunya.
"Bajingan! Apa kamu tidak tahu siapa Tuan Muda Lang?" bentak pengawal lagi. Sementara orang yang dimaksud pengawal itu atau Tuan Muda Lang hanya tersenyum sinis dan terkesan mengejek kearah Ling Tian.
Mood Ling Tian yang sedari awal masuk ke restoran sedang kurang baik, kini menjadi hancur sudah! Emosinya benar-benar memuncak di ujung kepalanya.
Plakk!
Bommm!
Tanpa basa-basi Ling Tian langsung menampar pengawal itu hingga terlempar menabrak tembok dan tak sadarkan diri.
"Kalian benar-benar menyebalkan! Persetan dengan siapapun kalian!" ucap Ling Tian dengan marah. Kemudian,
Swuushh
Plakk! Plakk! Plakk! Plakk!
Bunyi tamparan bergema di ruangan itu. Ling Tian melesat dengan cepat dan menampar seluruh rombongan sombong dan arogan itu. Tidak luput pula orang yang dipanggil Tuan Muda Lang juga terkena telapak tangan Ling Tian. Bahkan dengan sengaja Ling Tian mencengkram kerah baju pemuda dan terus menamparnya.
Pemilik rumah makan langsung bergegas disaat mendengar keributan di lantai tiga.
"Siapa yang beran-" teriaknya terpotong ketika telah sampai diruangan, matanya terpaku mendelik melihat pemandangan didepannya. Tubuhnya bergetar hebat! Mulutnya tidak kontrol berucap lirih sendiri,
"Tuan Muda Lang!"
Plak! Plakk! Plakkk!
Semuanya tidak berdaya dihadapan Ling Tian. Ling Tian tidak menghiraukan kehadiran pemilik restoran. Para pengawal itu berkekuatan Pendekar Tembaga Tahap Menengah dan mentok Pendekar Besi Tahap Awal, ditambah pemuda Lang yang masih ditampari Ling Tian hanya di tingkat Pendekar Kayu Tahap Menengah, umpama semut kecil berani melawan gajah.
"Tuan! Ampuni kami Tuan!" ucap salah satu pengawal yang masih sadarkan diri.
Plakk! Plakk! Plakk!
Ling Tian tidak menghentikan ayunan tangannya. Dia sengaja menampar dengan tidak terlalu kuat supaya bisa memuaskan dan menenangkan moodnya yang sedang hancur, juga supaya pemuda Lang yang sembrono itu bisa sedikit menerima pelajaran darinya. Sementara wajah pemuda Lang itu sudah tidak bisa lagi dikenali. Bahkan jika dihadapkan kepada orang tuanya, mereka akan ragu apa benar pemuda itu adalah anak mereka. Sungguh ironis!
Bruk!
Ling Tian yang sudah puas lalu melempar tubuh pemuda begitu saja. Beberapa pengawal yang sudah sadar langsung menuju dan melihat kondisi Tuan Muda mereka.
"Tuan! Maafkan kami Tuan! Tolong maafkan sikap kami! Kami punya mata namun tidak bisa melihat!" ucap pengawal sambil bersujud yang diikuti beberapa pengawal lainnya.
"Cih! Kalian semua! Dimana kesombongan kalian yang tadi itu!" ucap Ling Tian sambil tersenyum sinis. Para pengawal yang melihat senyuman Ling Tian itu langsung merinding seluruh bulu kuduknya. Senyuman yang seperti senyuman iblis pembantai.
"Kami tidak berani Tuan," jawab pengawal.
"Fiuuuh! Berhubung kalian semua telah merusak mood Tuan Muda tampan ini, kalian harus memberikan kompensasi yang sesuai dengan itu semua! Hehehe." ucap Ling Tian lalu duduk santai.
.
.
.
________________&&&&.
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"Gabut! Bete!" ....😑😑
"kenapa?" kata salah satu orang readers.
"Iya! Ini kan hari senin! Kudunya mereka ngsih vote dong? Eh malah cuman baca doang! Nggak like atau komen lagi! Hufth!" ucap Author malas.
"Eh! luu nyindir gua ya Thor?" kata si readers sambil melotot.
"Enggak juga! Bagi yg ngerasa aja!" jawab Author santuy.
"_&$@#-*#..."
Reader yang merasa agak kesindir dan dengan sedikit terpaksa, akhirnya ngasih vote, like dan komentarnya....😭🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
ngintip dong lobang pantatnya... 🤣
PEMALAS...!!!
ISI SATU JILID TAK SEBANDING DG IKLAN...
DASAR PENULIS MALAAAS...!!!
HARAM JADAH IKLAN NYA, SANGAT MENGGANGGU...!!!